Inilah Lockheed L-1011 TriStar, Pesawat yang Tak Laku Karena Terlalu Canggih

0
Lockheed L-1011 TriStar Air Atlanta dengan nomor registrasi TF-ABM saat tengah standby di salah satu bandara pada Agustus 1993. Foto: Ken Fielding via airlinereporter.com

Tahun depan akan menandai 50 tahun sejak pertama kali pesawat Lockheed L-1011 TriStar masuk ke layanan komersial bersama Eastern Airlines, April 1972. Meski bukanlah pesawat trijet pertama, tetapi pesawat tersebut merupakan pesawat trijet tercanggih di zamannya. Namun sayang, terlalu canggih justru membuatnya tak laku bahkan membuat Lockheed nyaris bangkrut, karena biaya pengembangan tak sebanding dengan pendapatan, sebelum akhirnya diselamatkan pemerintah Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Lockheed L-1011 TriStar, Pesawat dengan Kecanggihan Selangit yang Bikin Lockheed Nyaris Bangkrut

Catatan Aerotime Aero, sebagaimana dikutip dari Simple Flying, pengembangan Lockheed L-1011 TriStar tak terlepas dari peran American Airlines. Ketika itu, pada dekade akhir 60an, maskapai membutuhkan pesawat yang mampu membawa penumpang melintasi Atlantik dan Amerika Selatan dengan cepat, aman, dan nyaman.

American Airlines kemudian berbicara ke Boeing, Douglas, dan Lockheed. Boeing saat itu sedang sibuk dalam pengembangan pesawat 737 dan 747. Douglas saat itu baru menikmati keberhasilan pengembangan DC-10 yang berbasis DC-8.

Tinggallah Lockheed yang pada akhirnya menyetujui proposal tersebut hingga akhirnya lahirlah Lockheed L-1011 TriStar. Tentu juga didasari kebutuhan dari maskapai lain.

Lockheed L-1011 TriStar pertama kali terbang perdana pada 16 November 1970. Pesawat dengan kecepatan maksimal mencapai 973 km per jam dan jarak tempuh sejauh 7.410 km ini bisa mengangkut lebih banyak penumpang, sekitar 400 penumpang (20 lebih banyak dari DC-10), namun jauh lebih efisien dari pesaing utamanya itu. Hal itu berkat fitur S-duct yang menyuplai udara lebih banyak ke mesin Rolls-Royce RB211.

Namun, mesin tersebut pada prosesnya mengalami berbagai kegagalan mesin dan mempengaruhi desain pesawat secara keseluruhan. Dengan begitu, Lockheed mau tak mau harus mengeluarkan dana berlebih untuk pengembangan mesin, mengingat, Rolls-Royce kala itu sempat dinyatakan bangkrut sebelum diselamatkan oleh Pemerintah Inggris.

Selain lebih efisien dan menampung penumpang lebih banyak, pesawat dengan panjang 54 meter ini juga memiliki sistem avionik canggih di zamannya. Kala itu, AFCS (Avionic Flight Control system) dari Lockheed L-1011 TriStar sudah mencakup autopilot, kontrol kecepatan, fly-by-wire sistem kontrol penerbangan, sistem navigasi, sistem stabilitas, dan direct lift control system.

Yang paling spesial dari AFCS pesawat itu tentu sistem CAT-IIIB Autoland. Salah satu fitur penjualan utama Lockheed ini diklaim mampu mendaratkan pesawat secara otomatis, bahkan dalam kondisi cuaca buruk sekalipun. Cukup canggih, bukan?

Tak cukup sampai di situ, pada Mei 1972, Lockheed L-1011 TriStar juga dikabarkan berhasil menyelesaikan penerbangan yang sepenuhnya otomatis dari Palmdale, California, ke Washington Dulles, teknologi yang bahkan masih cukup canggih bila diaplikasikan pada pesawat di zaman ini.

Baca juga: Bernilai Sejarah, Keberadaan Lockheed JetStar Peninggalan Elvis Presley Masih Misterius

Berbagai maskapai pengguna pesawat ini pun memiliki kesan yang nyaris sempurna. Salah satunya Eastern Airlines. Oleh maskapai, Lockheed L-1011 TriStar dijuluki sebagai Whisperliner berkat kemampuan lepas landas yang tenang dan sedikitnya kebisingan di kabin penumpang. Trans World Airlines memuji pesawat sebagai salah satu yang teraman di dunia.

Sayang beribu sayang, ketika itu, tak semua maskapai membutuhkan fitur canggih tersebut. Asal aman, harga murah, dan efisien, maskapai senang. Terbukti, maskapai lebih memilih membeli DC-10 dibanding Lockheed L-1011 TriStar. Pesawat ini hanya mampu terjual sekitar 250 unit. Sedangkan kompetitor sejati mereka, DC-10, berhasil terjual sekitar 400 unit lebih.

LEAVE A REPLY