Japan Airlines Bingung Saat Orang Terberat di Dunia Naik Pesawat, 16 Kursi Jadi ‘Korban’

0
Seorang penumpang gemuk, sekalipun bukan yang tergemuk atau terbesar di dunia tampak menghalangi lorong dalam penerbangan American Airlines. Foto: Flight global

Hari ini, 35 tahun lalu, bertepatan dengan 6 Maret 1986, Japan Airlines bingung bukan kepalang saat melayani penumpang yang juga orang terberat di dunia ketika hendak ikut dalam penerbangan dari Frankfurt, Jerman. Demi penumpang asal Austria seberat 400 kg tersebut, Japan Airlines akhirnya harus mencopot setidaknya 16 kursi untuk memberikan ruang untuknya.

Baca juga: Punya Berat Badan Berlebih dan Maun Naik Pesawat? Cek Dulu Tips Ini!

Sebetulnya, informasi detail, mulai dari gate masuk, check in, boarding, menuju garbarata, melewati pintu pesawat yang sejatinya cukup kecil, sampai melewati lorong, duduk di kursi, dan melakukan hal serupa saat pesawat tiba di bandara tujuan, terkait peristiwa itu sangat sedikit sekali.

Tetapi, gambaran akan itu mungkin bisa dilihat dari pengalaman orang terberat di dunia lainnya -sekalipun tidak seberat penumpang Japan Airlines- ketika menjadi penumpang pesawat.

Disarikan dari berbagai sumber, pada bulan November tahun 2010 lalu, seorang penumpang salah satu maskapai Amerika Serikat (AS) pernah menyaksikan penumpang lainnya setinggi dua meter lebih dengan berat lebih dari 181 kg berada dalam penerbangan yang sama dengannya.

Dalam kesaksiannya, ia melihat bahwa penumpang terberat di dunia dalam penerbangan dari Denver ke Los Angeles, AS, tersebut berjalan miring selama di lorong pesawat. Tak hanya itu, tangannya juga diangkat seraya mata melirik kesana kemari memastikan agar tak membentur kursi apalagi orang lain yang sudah lebih dahulu duduk.

Menariknya, kesaksiannya itu mengingatkan ia pada masa-masa kelam dahulu ketika ia juga pernah memiliki bobot sebesar itu.

Dahulu, ketika ia masih menjadi orang terbesar di dunia dan ingin naik pesawat, sejak pertama kali memesan tiket, ia mengaku tidak pernah merasa nyaman. Ketika sampai di bandara pun, ia selalu sibuk tengok sana sini untuk memastikan adakah penumpang lain yang sebesar dirinya.

Hal itu terus dilakukan sampai di dalam kabin dan duduk di kursi. Sayangnya, tidak ada yang sebesar dirinya dan ia bisa dibilang menjadi penumpang terbesar atau tergemuk dalam penerbangan tersebut.

Menurutnya, memiliki badan besar akan sangat membantu ketika mendapat kursi di pojok dekat jendela atau pinggir dekat lorong. Bila mendapat kursi di tengah, sudah pasti itu akan menjadi pengalaman buruk buatnya dan penumpang lain.

Sepanjang perjalanan, ia mengaku hanya bisa bersandar ke belakang dan ke jendela atau sesekali berpegangan ke kursi sebelah dengan tambahan kaki kiri atau kanan menahan badan karena tak semua bokong mendapat dudukan ketika duduk di kursi pinggir dekat lorong. Silih berganti seperti itu. Tetapi, kakinya selalu keram karena leg room sempit dan kakinya juga terlalu panjang.

Saat makanan datang, ia sama sekali tidak bisa menurunkan meja baki karena terhalang perutnya. Tangannya juga tak bisa bersandar di armrest dan hanya bisa disilangkan di dada.

Baca juga: Pernah Minta Cebok Ke Pramugari, Pria Gemuk Ini Telah Meninggal Dunia

Sabuk pengaman sudah pasti tidak muat dan harus minta petugas memanjangkannya. Proses keluar kurang lebih sama ketika pertama kali masuk ke kabin dan tentu saja seluruh mata tertuju padanya; bahkan ketika hendak menumpangi taksi sekalipun.

Dengan bobot besar, seharusnya penumpang diminta untuk membeli dua kursi sekaligus. Maskapai pada umumnya memberlakukan kebijakan itu. Tetapi, ketika kursi di sebelahnya kosong, biaya untuk satu kursi itu akan dikembalikan. Beruntung, ia tak sampai dikenai biaya tambahan sekalipun ada penumpang lain di sebelahnya.

Leave a Reply