Jaringan Kereta Api Jepang; Modern Tapi Sistem Tiketnya Ribet!

Kereta Cepat Shinkansen, Jepang. Sumber: wikipedia

Tidak ada yang bisa memungkiri bahwa Jepang merupakan negara dengan jaringan perkeretaapian terbaik di dunia. Selain kehadiran si kereta peluru Shinkansen yang mendunia, kereta api di Negeri Sakura ini juga terkenal akan ketepatan waktunya yang sangat akurat. Sampai-sampai, jaringan kereta api di Jepang sudah dianggap seperti tulang punggung di sektor transportasi. Tapi tahukah Anda bahwa ternyata Jepang memiliki sistem tiket kereta yang sangat-sangat rumit?

Baca Juga: Istilah ‘Chikan’ Masuk Kamus Internasional Berkat Tingginya Angka Pelecehan Seksual di Kereta Jepang

Ya, banyaknya operator yang berkecimpung di dalamnya membuat Anda harus ‘mempelajari’ terlebih dahulu rute yang sekiranya hendak Anda lalui. Pada dasarnya seperti ini, masing-masing operator kereta di Jepang memiliki dua komponen tarif, yaitu tarif dasar dan surcharge.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman kaorinusantara.or.id, tarif dasar sendiri merupakan bea yang harus kita bayar sebelum menggunakan jasa layanan kereta apapun di Jepang – mulai dari komuter, kereta jarak jauh, hingga Shinkansen.

Ambil contoh Tokyo Metro yang punya tarif dasar senilai 170 yen atau yang kurang lebih setara dengan Rp23.000 untuk 1 sampai 6km pertama. Masing-masing operator punya perhitungan tarif dasar yang berbeda-beda dan biaya progresifnya pun tidak sama.

Lalu komponen kedua yang harus dibayar oleh penumpang adalah surcharge atau biaya tambahan. Namun bea ini hanya terdapat di kereta-kereta dengan kelas tinggi (ekspres) dan tidak banyak berhenti seperti kereta komuter. Nah, lagi-lagi tiap operator punya besaran surcharge yang berbeda-beda.

Dari sini, tarif kembali di pecah – ada tiket bernomor, tiket tanpa nomor alias berdiri, dan tiket green car atau yang akrab disebut kelas bisnis. Berbeda dengan di Indonesia, di Shinkansen Jepang hampir tidak ada bedanya antara tiket bernomor dan tiket tidka bernomor. Jika Anda melihat ada bangku kosong sedangkan Anda memegang tiket tanpa nomor, Anda diperkenankan duduk. Semisal penuh, Anda dipersilakan untuk berdiri di bordes – satu hal yang sudah hilang dari budaya kereta api Indonesia.

Baca Juga: Bukan Toko Serba Ada, Tapi Stasiun di Jepang ini Memenuhi Semua Kebutuhan Anda!

Melihat penjelasan di atas, Anda jangan langsung panik dan akhirnya mengurungkan niat untuk menggunakan kereta api selama di Jepang. Bagi Anda yang pertama kali ke Jepang dan ingin menjajal si ular besi khas Negeri Para Samurai ini, ada baiknya Anda mengunduh aplikasi Navitime di platform Android dan iOS.

Cara kerjanya cukup sederhana, cukup masukan destinasi awal dan akhir, lalu semua informasi terkait perjalanan tersebut akan tersaji untuk Anda – lengkap dengan besaran harga yang harus Anda bayarkan. Khusus bagi para Gaijin (pelancong), fitur dalam bahasa Inggris juga tersedia di dalam aplikasi ini.