Jelang Pembukaan Rute Baru, Inilah Sejumlah Tantangan Yang Menerpa Garuda Indonesia

Maskapai plat merah kebanggaan Ibu Pertiwi, Garuda Indonesia menyampaikan target pendapatannya tahun 2018 ini setelah sebelumnya sempat anjlok. Terlepas dari permasalahan internal yang tengah menderu, Flag Carrier Indonesia ini menargetkan pendapatan bersih sebesar $8,7 juta atau yang setara dengan Rp115,8 miliar.

Baca Juga: Mulai 29 Januari 2018, Garuda Indonesia Layani Rute Denpasar – Zhengzhou dan Denpasar – Xi’an

Guna mencapai target tersebut, Garuda Indonesia berencana untuk membuka beberapa rute baru yang dinilai potensial, walaupun langkah ini bisa dibilang tidak mudah mengingat minimnya SDM yang terintergrasi.

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, maskapai yang tergabung dalam Skyteam ini menemukan masalah yang cukup vital dalam merealisasikan rencana pembukaan rute baru mereka, Denpasar, Bali menuju Zhengzhou dan Xi’an, Cina. “Karena kami kekurangan penerbang, jadi kami negosiasi, boleh enggak kurangin dulu 1 hari lah (hari liburnya), misalnya dalam sebulan, tentunya dengan adanya kompensasi,” ujar Direktur Operasional Garuda Indonesia, Triyanto Moeharsono.

Pernyataan tersebut jelas menampik pemberitaan miring yang beredar belakangan ini terkait pengurangan jam istirahat pilot. Guna mengatasi solusi yang bersifat temporer tersebut, pihak Garuda berencana untuk menambah SDM baru. “Bakal ada penambahan SDM, kalau pengurangan jam terbang enggak ada,” imbuhnya.

Menurut Triyanto, untuk mempersiapkan satu penerbang butuh waktu pelatihan kurang lebih selama satu tahun, sehingga masalah kekurangan pilot tidak dapat diselesaikan dalam waktu cepat. Pada tahun ini, Garuda Indonesia akan menambah 122 penerbang baru.

Mantan Vice President (VP) Operation Planning & Control Garuda Indonesia ini membenarkan adanya penambahan jam kerja pilot, namun dirinya percaya bahwa para penerbang tidak ada masalah dan operasional hingga kini masih berjalan dengan lancar.

“Saya yakin teman-teman itu sangat profesional. Kalau kita lihat ontime performa (penerbangan) kami,” ungkap Triyanto. “Kami percaya apa yang dilakukan teman-teman dan manajamen adalah demi kebaikan Garuda Indonesia,” timbalnya.

Semakin tinggi pohon, maka semakin besar pula terpaan anginnya. Mungkin peribahasa ini tepat untuk menggambarkan situasi yang tengah dialami Garuda Indonesia saat ini. Merujuk pada pemberitaan miring yang sudah disinggung di atas, Triyanto mengatakan bahwa sudah ada diskusi yang dilakukan oleh pihak internal Garuda dengan Serikat Pekerja Garuda Indonesia (Sekarga) yang berujung pada lahirnya Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

“Apa yang diinginkan (Sekarga) sudah kita kembalikan sesuai aturannya dan ini butuh waktu. Artinya ini proses, enggak berapa lama lagi kami akan in line (selaras) dengan apa yang diharapkan (Sekarga),” terang Triyanto.

Baca Juga: Garuda Indonesia Sabet Posisi Empat di Best Economy Class Airlines

Selain masalah internal, faktor eksternal pun turut menghambat laju Garuda dalam mengimplementasikan rute barunya tersebut. Melonjaknya harga minyak bumi dan letusan Gunung Agung di Bali menjadi dua bayang kelam yang terus membuntuti Garuda. Walhasil, ‘tahap penyembuhan’ Garuda Indonesia masih terombang-ambing.

Sementara itu dikutip dari sumber terpisah, Helmi Imam Satriyono selaku Director of Finance and Risk Management Garuda Indonesia tetap optimis bahwa tahun ini Garuda dapat meningkatkan kinerja perusahaan secara signifikan. “Target peningkatan volume penumpang sebesar 9-10% per tahun. Ditambah dengan pembukaan rute baru dan peningkatan bisnis di sektor kargo,” tuturnya.