Joyce Lin, Pilot Pesawat yang Jatuh di Papua, Ternyata Ahli IT Lulusan Kampus Terbaik Dunia

0
Joyce Lin, pilot pesawat yang jatuh di Danau Sentani, Papua, rupanya bukan sembarang pilot. Foto: Missionary Aviation Fellowship (MAF)

Joyce Lin, pilot pesawat yang jatuh di Danau Sentani, Papua, rupanya bukan sembarang pilot. Mendiang pemilik nama lengkap Joyce Chaisin Lin itu rupanya juga seorang Sarjana Sains dan Magister Teknik lulusan kampus terbaik di dunia, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Apes! Keluar Hanya Beli Masker, Pilot AS Kena Penjara 4 Minggu Gegara Langgar Perintah Lockdown di Singapura

Dikutip dari christianitytoday.com, selain itu, ia juga disebut pantas digelari ahli IT. Di samping karena memang ia pernah mendapat gelar di bidang itu, wanita berkewarganegaraan AS ini juga pernah bekerja sebagai spesialis komputer (IT) selama lebih dari satu dekade hingga menjabat direktur teknis di perusahaan komersial.

Namun, karena ketertarikannya di dunia kemanusiaan, ia pun menanggalkan jabatan dan zona nyamannya untuk berpacu dengan maut sebagai pilot Mission Aviation Fellowship (MAF), sebuah lembaga penginjilan serta sosial kemanusiaan internasional yang bermarkas di AS, Inggris, dan Australia. Sekalipun ia bukanlah lulusan sekolah pilot, namun, tingginya minat di dunia penerbangan mendorong ia untuk memperoleh sertifikat pilot pribadi sekedar bersenang-senang selagi ia kuliah. Sertifikat itulah sebagai modalnya untuk bergelut di bidang tersebut.

Dibilang berpacu dengan maut mengingat Joyce telah memberanikan diri mengambil misi untuk membantu kehidupan orang-orang yang terisolasi dengan menyediakan penerbangan evakuasi medis di Papua.

Sebagaimana umum diketahui, dengan kondisi iklim yang kerap berubah dengan cepat, topografi wilayah berupa pegunungan, dan minimnya infrastruktur pendukung keselamatan dan keamanan terbang, Papua memang menjadi salah satu tempat paling menantang di Indonesia bagi para pilot dan Joyce memilih jalan itu demi kebahagiaan orang lain.

“Meskipun dia ada di sana hanya dua tahun–satu di Jawa Tengah untuk sekolah bahasa dan satu lagi di Sentani–dampaknya sangat signifikan. Berulang kali Joyce membagikan betapa dia dipenuhi sukacita dalam minggu-minggu sebelum dia pergi untuk bergabung dengan Tuhan,” kata pihak MAF.

“Dari saat penemuan pertama itu, Joyce telah memegang keyakinan kuat akan panggilan Tuhan agar dia bekerja untuk menjadi pilot misionaris. Dia memperoleh peringkat instrumen dan sertifikat komersial, dan bekerja sebagai instruktur penerbangan untuk memenuhi persyaratan pilot MAF,” lanjut MAF dalam sebuah tulisan.

Joyce dikenal sebagai sosok yang punya jiwa sosial tinggi. Sebagai pilot, Joyce ingin membantu mengubah kehidupan orang-orang yang terisolasi dengan menyediakan penerbangan evakuasi medis yang menyelamatkan jiwa. Dia juga memberikan pasokan untuk pengembangan masyarakat, mengangkut misionaris, guru, dan pekerja bantuan kemanusiaan ke lokasi yang tidak dapat diakses.

“Kalimat terakhir biografi Joyce MAF berbunyi, ‘Sementara Joyce akan selalu bersemangat untuk menerbangkan pesawat dan bekerja di komputer, ia paling bersemangat untuk berbagi kasih Yesus Kristus dengan membantu mengubah keputusasaan orang lain yang mendalam dan berkabung menjadi tarian dan kegembiraan’,” demikian MAF.

Jalan Joyce untuk menggeluti bidang itu bukanlah datang tanpa sebab. Awalnya, pilot 40 tahun itu sempat mendaftar di Seminari Teologi Gordon-Conwell sampai akhirnya lulus dengan gelar Master of Divinity. Saat di seminari, ia tahu penerbangan misi. Dari situ Joyce menemukan pekerjaan yang menggabungkan minat dalam komputer, penerbangan, dan pelayanan Kristen. Keinginannya untuk bekerja untuk orang lain pun menjadi semakin terasah hingga akhirnya memutuskan menjadi pilot MAF.

Sebelumnya, pesawat dengan kode penerbangan PK-MEC milik MAF jatuh sekitar pukul 06.27 WIT di Danau Sentani. Pesawat tersebut sedang dalam penerbangan menuju Mamit, Kabupaten Tolikara.

Bupati Tolikara Usman Wanimbo mengatakan kemungkinan besar pesawat MAF yang dikemudikan Joyce membawa buku-buku dan peralatan sekolah milik Yayasan Papua Harapan di Mamit. Hal senada disampaikan oleh Presiden GIDI.

Baca juga: Ada Pilot dan Helikopter Terbaik Dibalik Kecelakaan Kobe Bryant, Lantas Apa Sebabnya?

“Pesawat itu bawa alat-alat sekolah dan buku sekolah ke Mamit,” kata Presiden GIDI, Pendeta Dorman Wandikbo, dikutip dari Jubi.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal mengatakan pesawat tersebut telah berhasil dievakuasi. Tak ada penumpang dalam pesawat MAF. Ia menjelaskan pesawat itu hanya melakukan pengangkutan logistik berupa bahan sembako.

Leave a Reply