Perjalanan kereta api di Indonesia saat ini sudah semakin sering menarik rangkaian yang lebih besar. Seperti halnya pada angkutan logistik yaitu peti kemas yang tentu saja semakin banyak perusahaan yang melirik untuk menggunakan angkutan berbasis rel ini. Di samping itu pula, lokomotif penarik yang digunakan saat ini harus memenuhi kelayakan operasional dan tidak mengalami gangguan.
Saat ini sejumlah lokomotif yang dikelola PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) selalu melakukan tahap pengecekan sebelum dioperasionalkan. Pengecekan harian yang dilakukan tentu di setiap depo lokomotif di sejumlah wilayah Jawa dan Sumatra. Namun jika sudah waktunya untuk masa pemeliharaan terbesar tentu lokomotif tersebut dilakukan pengecekan bahkan penggantian suku cadang di balai yasa.
Beragam lokomotif yang menarik rangkaian kereta api baik angkutan barang maupun penumpang tentu berbeda-beda usianya. Bahkan ada pula lokomotif yang sudah berusia puluhan tahun masih tetap beroperasi hingga kini. Maka dari itu. PT KAI nantinya secara bertahap akan mengganti lokomotif-lokomotif yang sudah berdinas lama dengan lokomotif baru seperti CC201. KAI punya rencana untuk memesan unit lokomotif baru dengan spesifikasi dapat menerima bahan bakar Biodiesel dengan campuran 50 (B50) dari PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin mengatakan, kebutuhan regenerasi armada sudah mendesak mengingat usia lokomotif CC201 yang kini rata-rata mendekati setengah abad. Menurutnya, saat ini ada 151 lokomotif seri CC201 yang rata-rata dioperasikan sejak tahun 1977. Pada tahun tersebut B50 masih belum bisa diterima, karena teknologi biodiesel pada tahun 1977 belum ada.
Selain tidak dirancang untuk penggunaan bahan bakar biodiesel B50, lokomotif-lokomotif tersebut juga semakin sering mengalami gangguan operasional. Berbagai gangguan juga sudah sering dijumpai, sehingga KAI merencanakan melakukan penggantian dari 151 unit lokomotif ini. Bobby mengharapkan produksinya tersebut dihasilkan dari PT INKA.
KAI menargetkan, lokomotif pengganti memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibanding armada saat ini. Salah satunya melalui peningkatan beban gandar (axle load) dari 15 ton menjadi 18 ton. Dengan spesifikasi baru tersebut, kapasitas angkut lokomotif diproyeksikan meningkat signifikan.
Namun, peningkatan kapasitas lokomotif juga menuntut penguatan infrastruktur jalur kereta api. Karena itu, KAI menyiapkan program peningkatan jaringan rel dan struktur pendukung di berbagai wilayah di Pulau Jawa. Jika KAI melakukan upgrade terhadap jaringan kereta atau rel keretanya di 275 bangunan hikmat, estimasi biayanya sekitar Rp200 miliar yang sedang dikerjakan dari 2026 ini sampai dengan 2027. Sehingga nanti di tahun 2027, lokomotif baru yang axle load-nya 18 ton itu sudah bisa beroperasi di Jawa.
Sebelumnya, KAI aktif membeli lokomotif-lokomotif kereta api dari perusahaan Amerika Serikat. Misalnya Lokomotif CC206 produksi dari perusahaan General Electric (GE) Transportation, AS. Bukan hanya itu, KAI juga memesan CC205 yang memiliki identitas EMD GT38AC dari Progress Rail, Amerika Serikat.
Campuran Bahan Bakar Sawit ke Lokomotif dan Kereta Pembangkit Sudah Digunakan, Ternyata Ini Hasilnya
