Kasus Boeing 737 MAX: Joint Authorities Technical Review Lakukan Kritik Sertifikasi Pada FAA

(CNN.com)

Joint Authorities Technical Review (JATR) merilis laporan mengenai nasib Boeing 737 MAX dimata para investor. Laporan ini menghasilkan 71 halaman dengan 12 rekomendasi perbaikan yang berkaitan dengan Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) atau kelayakan sistem anti stall pada pesawat.

Baca juga: Benarkah Boeing Gadaikan Faktor Keselamatan 737 MAX Demi Kas Perusahaan?

JATR dalam laporannya jug mengkritik Federal Aviation Administration (FAA) dan Boeing dalam pemberian sertifikasi laik terbang pada pesawat jenis itu. Sehingga laporan ini menyarankan FAA untuk meninjau kepatuhan Boeing MAX dengan pedoman yang ada.

KabarPenumpang.com merangkum dari barrons.com (14/10/2019), JATR mengungkapkan FAA dan Boeing gagal menjamin kelayakan sistem anti stall atau MCAS saat proses sertifikasi pesawat Boeing 737 MAX. Sistem ini mengontrol posisi pesawat jika kehilangan daya angkat (stall).

Padahal seharusnya pihak Boeing maupun FAA memiliki antisipasi saat uji sertifikasi tentang apa yang harus dilakukan pilot jika sewaktu-waktu terjadi stall dan posisi pesawat terbalik. Masalah ini yang menjadi penyebab utama kecelakaan fatal pada Lion Air JT-610 pada Oktober 2018 dan Ethiopian Airlines ET-302 yang menewaskan 346 penumpang dan awak.

Sistem baru ini selain harus diuji secara menyeluruh juga awalnya didesain untuk memudahkan penerbangan. Sayangnya MCAS justru membingungkan pilot karena perubahan prosedur dan mekanisme yang berbeda dengan pesawat Boeing lainnya.

Adanya hal ini, Boeing berdalih dengan mengatakan sistem MCAS bukanlah sistem baru. Panelis juga menemukan tim penguji dari FAA tidak mempunyai kemampuan dan pengetahuan terkait sistem MCAS dan bisa dikatakan proses sertifikasi mengalami cacat.

“Seharusnya sebelum diajukan sertifikasi kepada FAA, Boeing merekrut pengawas eksternal untuk mengecek dan menguji sistem kontrol tersebut,” tulis JATR dalam laporan tersebut.

Panelis juga meminta FAA untuk lebih kritis dengan mendesak Boeing mengirimkan lebih dari satu skenario gagalnya sistem anti-stall sebagai pencegahan. Sebab analisis pencegahan terhadap satu kasus saja tidak cukup.

Menanggapi laporan tersebut, Pejabat FAA Steve Dickson menerima hasil kajian dan rekomendasi yang diberikan tim panelis demi keamanan penerbangan.

“Peristiwa yang terjadi di Indonesia dan Ethiopia menjadi pengingat bahwa FAA dan pihak regulator lainnya untuk bekerja lebih giat demi meningkatkan keamanan penerbangan,” ujar Steve.

Pada hari yang sama dengan dirilisnya laporan tim panel itu, Dewan Direksi Boeing juga mencopot jabatan chairman dari Dennis Muilenburg dan mengangkat pemimpin direksi independen, David Calhoun, sebagai non-executive chairman. Namun Muilenberg tetap menjabat sebagai CEO dan presiden perusahaan Boeing.

Penggantian itu, menurut Boeing, dilakukan untuk memperkuat “manajemen keamanan” perusahaan. Seorang chairman di sebuah perusahaan bisa mengawasi kebijakan yang diambil oleh CEO. Oleh karena itu rangkap jabatan chairman dan CEO biasanya berpeluang mengurangi transparansi dan akuntabilitas perusahaan.

Baca juga: Serupa Kasus Lion Air JT-610, Kuat Dugaan Sensor Angle-of-Attack Ethiopian Airlines ET-302 Juga Bermasalah

Diketahui saat proses sertifikasi Boeing hanya menyerahkan skenario terburuk jika sistem anti-stall gagal. Dalam skenario anti stall, sudut Angle of Attack (AOA) di satu sisi pesawat membesar, dan di sisi sayap lainnya salah. Karena dianggap skenario tersebut menjadi paling parah, Boeing tak mengirimkan skenario lain berikut pencegahannya.