Macron dan Angela Merkel Gelar ‘Rapat’ Bahas Masa Depan Airbus di Kabin A350

Sumber: Bloomberg

Presiden Perancis, Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman, Angela Dorothea Merkel dikabarkan melakukan pertemuan baru-baru ini guna membicarakan tentang konflik perdagangan transatlantik yang melibatkan bantuan ‘ilegal’ pemerintah terhadap pabrikan pesawat asal Eropa, Airbus. Pertemuan dua sosok penting ini terlihat intim, dimana keduanya melakukan perjalanan mengelilingi fasilitas pabrik Airbus SE yang ada di Toulouse, Perancis. Adapun tur ini merupakan simbol yang menunjukkan solidaritas kedua negara dalam menghadapi situasi yang tengah menegang.

Baca Juga: Konflik Industri Dirgantara AS vs Eropa, Cina Coba Curi Ceruk Pasar Lagi?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman bloomberg.com (16/10), tampak di sela pertemuannya, kedua tokoh negara ini kemudian masuk ke dalam salah satu varian wide body milik Airbus, A350 untuk menyantap penganan yang telah disediakan. Di dalam salah satu tangkapan lensa kamera, tampak Emmanuel Macron dan Angela Dorothea Merkel duduk berhadapan dengan dikawal oleh penjagaan yang cukup ketat di dalam pesawat.

Tampak juga pesawat sejatinya masih belum rampung sepenuhnya – terlihat dari dinding di dalam kabin yang masih dipenuhi dengan sejumlah kabel dan instrumen lain yang akan menunjang pengoperasiannya kelak.

Tentu saja hal ini menjadi menarik untuk dibahas mengingat jarang sekali pertemuan kepala negara dihelat di dalam sebuah pesawat yang masih dalam proses perakitan. Walaupun terkesan panas karena belum terlihatnya sistem pendingin di dalam kabin, namun sejatinya Emmanuel Macron tampak menikmati momen santap siang unik ini.

“Saya ingin bertemu lagi dengan Angela Merkel di Toulouse guna membicarakan masa depan dan mempertahankan industri kedirgantaraan (Airbus) yang tengah diselimuti oleh ketegangan ini,” tulis Emmanuel Macron dalam media sosial Twitter pribadinya (16/10).

Baca Juga: Borong 300 Pesawat dari Airbus, Inikah Strategi Cina Menangkan Perang Dagang dengan AS?

“Industri ini akan kami pertahankan, mengingat ada banyak orang hebat dibelakang nama besar Airbus yang telah menunjukkan kemampuannya untuk keberhasilan bersama,” sambung Sang Presiden.

Sebelumnya, situasi perang dagang yang terjalin antara Amerika Serikat dan Cina agaknya masih kurang greget bagi Negara Adikuasa, sehingga AS kini mencari rival baru, yaitu Uni Eropa. Rencananya, Presiden AS Donald Trump akan mengenakan tarif sebesar 10 persen pada produksian Airbus yang masuk ke Negeri Paman Sam. Bahkan, ide gila Trump ini disetujui oleh World Trade Organization (WTO) atas kasus pemberian subsidi ilegal pemerintah Uni Eropa terhadap Airbus.