Kenali Clear Air Turbulence yang Menghantam Emirates EK450 di Ketinggian 35.000 Kaki

0
Boeing 777-300ER milik Emirates. Sumber: The National

Kabar mengejutkan datang dari Pulau Dewata, dimana maskapai asal Timur Tengah, Emirates dengan nomor penerbangan EK450 yang melayani rute penerbangan Dubai – Auckland via Bali melakukan pendaratan darurat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali pada Selasa (1/9) kemarin sekira pukul 15.07 WITA. Diwartakan, Emirates EK450 yang menggunakan Boeing 777-300ER ini mengalami Clear Air Turbulence (CAT) ketika pesawat berada di ketinggian 35.000 kaki (10.668 meter) dan berada di atas Singapura.

Baca Juga: Terlihat Cantik, Ternyata Awan-Awan Ini Berbahaya

Menanggapi hal ini, Humas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali Arie Ahsan mengkonfirmasi kebenaran dari kejadian ini. Arie mengatakan, bahwa kapten penerbangan EK450 meminta first priority landing di bandara berkode DPS tersebut.

“Akibat insiden ini, 11 dari 326 penumpang mengalami cidera dan langsung mendapatkan penanganan medis,” terang Arie, dikutip KabarPenumpang.com dari laman bisnis.com (1/10).

“Lima ada di KKP, dua dirujuk ke Rumah Sakit BIMC Kuta, dan empat lainnya hanya mengalami cidera ringan,” tandasnya.

Ketika pesawat sudah berada di darat, ground handling Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan teknisi dari Emirates langsung memeriksa kondisi pesawat semisal ada kerusakan atau hal lain yang menghambat penerbangan selanjutnya.

“Untuk para penumpang dengan tujuan Denpasar – Auckland sempat mengalami keterlambatan karena ada beberapa pengecekan dan pembersihan di dalam pesawat oleh teknisi pesawat tersebut. Namun semua sudah diberangkatkan tadi sore dengan menggunakan pesawat yang sama sekira pukul 19.34 WITA ke Auckland,” katanya.

Clear Air Turbulence
Hingga saat ini, urusan turbulensi di dunia penerbangan memang masih menjadi momok yang menakutkan – tidak hanya bagi para penumpang, melainkan juga kepada para penerbang. Secara umum, ada beberapa jenis turbulensi yang lumrah terjadi di sektor kedirgantaraan. Namun untuk mempermudah pemahaman, turbulensi terbagi menjadi dua: ada yang bisa terdeteksi oleh radar, dan ada yang tidak.

Turbulensi yang bisa terdeteksi oleh radar merupakan turbulensi yang biasa Anda rasakan di dalam pesawat setelah kapten mengumumkan bahwa penerbangan memasuki cuaca buruk. Umumnya, turbulensi ini juga dapat diprediksi mengingat gumpalan awan yang terdeteksi oleh radar dan penglihatan pilot.

Sementara itu, turbluensi yang tidak terdeteksi oleh radar dan penglihatan pilot seperti CAT ini lah yang mengerikan, dimana pilot seolah dikejutkan oleh guncangan di dalam pesawat tanpa adanya ‘pemberitahuan’ terlebih dahulu.

Ada beberapa faktor yang dipercaya para ahli dapat meningkatkan terjadinya Clear Air Turbulence, seperti aliran jet, gradien suhu di udara, angin yang berhembus secara tiba-tiba (wind shear), mountain waves, hingga gravity wave wind shear.

Baca Juga: Terjadi Turbulensi? Tetap Tenang dan Jangan Panik

Nah, jika di dalam suatu penerbangan mengalami Clear Air Turbulence, adapaun tindakan yang harus dilakukan pilot melingkupi:

1. Mempertahankan kecepatan yang disarankan ketika melintasi turbulensi,
2. Mengubah ketinggian atau arah penerbangan,
3. Mengamati termometer untuk mengetahui posisi pesawat, apakah berada di atas atau di bawah aliran Clear Air Turbulence (hanya jika Clear Air Turbulence datang dari satu arah), dan mengarahkan pesawat jauh dari tropopause (lapisan yang membatasi troposfer dan stratosfer), dan
4. Mengeluarkan Pilot Report (PIREP), yang mencakup posisi pesawat (termasuk koordinat dan ketinggian), dan tingkat keparahan turbulensi. Hal ini ditujukan untuk memberitahu pesawat lain bahwa di lokasi tersebut ada Clear Air Turbulence.

Leave a Reply