Kesulitan Cari Utang Baru, Boeing Sebut Butuh Suntikan Modal Segera

0
Pabrik Boeing di Seattle (seattletimes.com)

Chief Financial Officer Boeing, Greg Smith, belum lama ini mengatakan bahwa industri kedirgantaraan AS sangat membutuhkan kredit untuk mengatasi pandemi virus corona. Celakanya, di saat genting seperti itu, pasar modal justru disebut malah tertutup untuk utang baru.

Baca juga: Kata Konsultan Penerbangan: Sebagian Besar Maskapai Global Akan Bangkrut Akhir Mei!

“Tidak sekarang. Pasar pada dasarnya ditutup (untuk utang baru). Maksudku, benar-benar tidak ada banyak kesempatan untuk mendapatkan utang tambahan. Itu salah satu tantangannya,” ujarnya, seperti dilansir reuters.com.

Selain itu, Smith, yang juga Wakil Presiden Eksekutif Boeing melanjutkan, bahwa sekalipun pihaknya tengah mengalami posisi sulit yang diakibatkan oleh berbagai hal, mulai dari tregedi 737 MAX dan turunannya hingga pandemi virus corona, Boeing melihat setidaknya ada secercah harapan di tengah keterpurukan. Harapan tersebut datang dari Cina, dimana, pandemi Covid-19 di Negeri Tirai Bambu tersebut sudah mulai memudar dan aktivitas perekonomian di sana bisa kembali berjalan normal.

Di samping itu, harapan lainnya juga datang dari komitmen pemerintah untuk memberikan suntikan dana ke Boeing. Pada hari Selasa lalu, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa ia tidak akan membiarkan produsen pesawat terbesar di dunia, Boeing, keluar dari persaingan bisnis di dunia penerbangan akibat gangguan keuangan yang disebabkan oleh wabah Covid-19.

Namun, setelah pernyataan tersebut, Boeing sempat sedikit terpojok setelah tersiar kabar bahwa perusahaan tersebut tidak masuk ke dalam daftar paket bailout Senat AS sebesar $17 miliar dolar atau sekitar Rp277 triliun (kurs Rp 16.457). Padahal, paket bailout tersebut disebut untuk mengamankan bisnis penting serta menjaga keamanan dan keutuhan nasional. Tentu saja Boeing seharusnya masuk dalam kriteria tersebut (bisnis penting nasional).

Tetapi kemudian, menurut surat kabar yang beredar, Boeing memang tidak masuk dalam paket bailout tersebut. Sebab, stimulus untuk Boeing dibuat terpisah dan perusahaan tersebut, menurut informasi dari sebuah sumber, akan menerima paket bailout sebesar senilai $2 miliar atau sekitar Rp 32 triliun (kurs Rp 16.457). Paket tersebut dilaporkan akan dirilis pada Rabu hari ini.

Sebetulnya, stok uang tunai yang masih dimiliki Boeing masih tergolong banyak. Pada hari Selasa lalu, CEO Boeing, Dave Calhoun, mengatakan kepada CNBC Internasional, bahwa perusahaan yang dipimpinnya, saat ini memiliki uang tunai sekitar $15 miliar dolar atau sekitar Rp244 triliun (kurs Rp 16.457).

Baca juga: Selamatkan Industri Penerbangan, APEX Serukan Pemerintahan Global Kucurkan ‘Bantuan’ Rp3.805 Triliun!

Meskipun demikian, Boeing memang tetap membutuhkan suntikan modal untuk membayar para pekerja dan mengamankan rantai pasokan agar tetap stabil. Selain itu, suntikan modal juga dibutuhkan Boeing untuk mengamankan pasar produsen pesawat global hingga persiapan untuk ‘berlari kencang’ ketika Covid-19 benar-benar telah berakhir. Dengan berbagai kebutuhan tersebut, CEO Boeing, Dave Calhoun, menyebut setidaknya perusahaan membutuhkan bantuan sebesar $60 miliar atau Rp978 triliun (kurs Rp 16.457).

Menariknya, di tengah posisi sulit seperti itu, Boeing justru tengah bersikukuh untuk mengakuisi produsen pesawat jet asal Brazil, Embraer, senilai $4,2 miliar atau sekitar Rp68 triliun. Angka tersebut $1 miliar lebih kecil dari spekulasi semula yang mencapai $5,2 miliar. Dana sebesar itu disebut akan mengukuhkan Boeing sebagai pemegang saham terbesar, mencapai 80 persen. Saat ini, pemerintah juga dianggap telah menyetujui opsi pembelian saham Embraer tersebut.

Leave a Reply