Tak Ditemukan Indikasi Suap, Tony Fernandes Kembali ke Pucuk Pimpinan AirAsia

0
CEO AirAsia, Tony Fernandes. Sumber: istimewa

AirAsia Group Berhad Malaysia belum lama ini menyebut bahwa penyelidikan internal terkait dugaan suap yang melibatkan pimpinan tertinggi perusahaan, Tony Fernandes, sudah selesai dilakukan. Hasilnya, Badan Penanganan Kasus Penipuan Berat Inggris atau Serious Fraud Office (SFO) yang dialamatkan pada Tony tidak benar.

Baca juga: Diduga Terima ‘Cashback’ dari Airbus, Tony Fernandes Mundur 2 Bulan dari AirAsia

Dikutip dari channelnewsasia.com, dalam penyelidikan internal tersebut, penyidik menemukan bahwa segala pengadaan pesawat dengan Airbus telah dilakukan dengan benar dan sesuai prosedur. Hal itu berarti, tuduhan terkait suap Airbus kepada Tony melalui skema sponsorship lewat sebuah klub sepak bola Inggris, karena jumlah pengadaan pesawat yang cukup besar, juga tidak benar.

“Sponsor tersebut menunjukkan manfaat yang dapat ditunjukkan kepada Grup AirAsia dan tidak terkait dengan keputusan pembelian oleh Dewan Direksi AirAsia Berhad,” kata seorang juru bicara perusahaan.

Selain melakukan penyelidikan internal, AirAsia Group Berhad Malaysia juga telah meminta investigator independen, BDO Governance Advisory, untuk melakukan penyelidikan. Hasilnya pun sama, mereka tidak menemukan adanya kejanggalan apapun, dalam hal ini terkait sponsorship yang selama ini diduga sarat bermuatan suap.

Oleh karenanya, dengan dua hasil penyelidikan tersebut, Dewan AirAsia pun memutuskan untuk memberikan kembali mandat Direktur Eksekutif AirAsia kepada Tony Fernandes. Di samping itu, posisi eksekutif lainnya juga telah kembali diberikan kepada kamarudin meranun. Keduanya diketahui telah menyatakan mundur dua bulan atau lebih sejak 4 Februari lalu akibat gaduh soal kasus suap tersebut.

Meski AirAsia sejak awal hingga saat ini terus membantah, nyatanya, Airbus telah terlanjur divonis bersalah oleh pengadilan. Jaksa Penuntut di Prancis, Jean-Francois Bohnert berujar bahwa Airbus telah melakukan praktik kecurangan untuk mempertahankan bisnisnya di banyak negara. Dengan begitu, Airbus dituntut membayar Rp54 triliun, dengan rincian €984 juta atau sekitar Rp14 triliun kepada otoritas Inggris, €525 juta atau Rp8 triliun untuk otoritas Amerika Serikat, dan €2,08 miliar atau Rp31 triliun untuk otoritas Perancis.

Sebelumnya, Selasa, (4/2) silam, jagat pemberitaan internasional dihebohkan dengan mundurnya Tony Fernades dari jabatannya sebagai Direktur Eksekutif AirAsia selama dalam jangka dua bulan atau lebih. Mundurnya Tony Fernades secara tiba-tiba diduga sebagai respon pria kelahiran Malaysia ini atas putusan Pengadilan Tinggi Perancis yang memvonis denda kepada Airbus sebesar €3.6 miliar atau sekitar Rp54 triliun (kurs Rp 15.139) pada akhir Januari lalu.

Baca juga: Panik Karena Corona, Pilot AirAsia Keluar Kokpit Lewat Emergency Sliding Window

Dalam catatan Badan Penanganan Kasus Penipuan Berat Inggris atau Serious Fraud Office (SFO), sejak 2005 hingga 2014, AirAsia dan AirAsia X telah memesan 406 pesawat Airbus. SFO yang sudah memantau Airbus sejak lama, menduga, dari sejumlah pesanan tersebut, Tony mendapatkan commitment fee yang disalurkan oleh dua anak perusahaan Airbus, tidak langsung ke rekening Tony, melainkan melalui rekening salah satu unit bisnis Tony lainnya, yakni klub sepak bola asal Inggris, Queens Park Rangers F.C. (QPR).

Lewat klub tersebut, commitment fee yang diduga sebesar US$50 juta untuk Tony Fernandes diberikan dengan menggunakan skema sponsorship. Atas dugaan tersebut, AirAsia sendiri mengatakan sponsor Airbus ke QPR merupakan hal yang wajar dan proses sponsorship ini sudah melalui penilaian internal sebagaimana mestinya.

Leave a Reply