Diduga Terima ‘Cashback’ dari Airbus, Tony Fernandes Mundur 2 Bulan dari AirAsia

0
CEO AirAsia, Tony Fernandes. Sumber: istimewa

Selasa, (4/2), suratkabar bisnis internasional asal Britania Raya, Financial Times, mengabarkan Tony Fernades mundur dari jabatannya sebagai Direktur Eksekutif AirAsia selama dalam jangka dua bulan atau lebih. Mundurnya Tony Fernades secara tiba-tiba diduga sebagai respon pria kelahiran Malaysia ini atas putusan Pengadilan Tinggi Perancis yang memvonis denda kepada Airbus sebesar €3.6 miliar atau sekitar Rp54 triliun (kurs Rp 15.139) pada akhir Januari lalu.

Baca juga: Mampu Menemukan Orang-orang Hebat, Inilah Rahasia Sukses Tony Fernandes

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, sekalipun Tony Fernandes belum memberikan alasan terkait pengunduran dirinya, namun, diketahui, hubungan Tony Fernandes (bersama AirAsia-nya) dengan Airbus memang bukan pertemanan biasa. Sejak membeli AirAsia dari pemerintah Malaysia dengan harga kurang dari US$1 pada 2001 dan menjadikannya sebagai salah satu maskapai terbesar dunia, Tony Fernandes memang memiliki kedekatan khusus dengan produsen pesawat asal Perancis tersebut.

Puncak dari hubungan ‘mesra’ Airbus dan Tony Fernandes mungkin bisa dilihat dari keputusan AirAsia yang menerapkan kebijakan single brand pada armadanya. Dengan kebijakan yang diterapakan pada 2012 tersebut, otomatis, AirAsia hanya mempunyai satu pesawat saja untuk mendukung operasionalnya dan pesawat tersebut adalah produk-produk Airbus, khususnya pada A320.

Meskipun kala itu AirAsia memberikan alasan yang logis, seperti terkait kecanggihan pesawat yang dinilai hemat bahan bakar hingga 15 persen, memiliki lorong yang lapang, pencahayaan baik, berteknologi canggih, memiliki kamera elektronik di kokpit, dan tingkat kebisingan rendah, namun, tetap saja, hal itu tidak menghilangkan kecurigaan investigator.

Dalam catatan Badan Penanganan Kasus Penipuan Berat Inggris atau Serious Fraud Office (SFO), sejak 2005 hingga 2014, AirAsia dan AirAsia X telah memesan 406 pesawat Airbus. SFO yang sudah memantau Airbus sejak lama, menduga, dari sejumlah pesanan tersebut, Tony mendapatkan commitment fee yang disalurkan oleh dua anak perusahaan Airbus, tidak langsung ke rekening Tony, melainkan melalui rekening salah satu unit bisnis Tony lainnya, yakni klub sepak bola asal Inggris, Queens Park Rangers F.C. (QPR).

Dikutip dari situs resminya, klub yang bermarkas di London tersebut saat ini dimiliki oleh empat orang, dengan porsi kepemilikan saham terbesar tercatat atas nama Tony Fernandes dan Kamarudin Bin Meranun –salah satu petinggi AirAsia yang juga mundur bersamaan dengan Tony Fernandes–.

Baca juga: Gunakan Satu Jenis Pesawat, Jadi Jurus AirAsia Tetap Efisien dengan Harga Tiket Terjangkau

Lewat klub tersebut, commitment fee yang diduga sebesar US$50 juta untuk Tony Fernandes diberikan dengan menggunakan skema sponsorship. Atas dugaan tersebut, AirAsia sendiri mengatakan sponsor Airbus ke QPR merupakan hal yang wajar dan proses sponsorship ini sudah melalui penilaian internal sebagaimana mestinya.

Akan tetapi, nasi telah menjadi bubur, Airbus telah terlanjur divonis bersalah oleh pengadilan. Jaksa Penuntut di Prancis, Jean-Francois Bohnert berujar bahwa Airbus telah melakukan praktik kecurangan untuk mempertahankan bisnisnya di banyak negara. Dengan begitu, Airbus dituntut membayar Rp54 triliun, dengan rincian €984 juta atau sekitar Rp14 triliun kepada otoritas Inggris, €525 juta atau Rp8 triliun untuk otoritas Amerika Serikat, dan €2,08 miliar atau Rp31 triliun untuk otoritas Perancis.

Leave a Reply