Ketika ‘Dihujani’ Pembatalan Pesanan, Akankah Berpengaruh Langsung Pada Finansial Manufaktur Pesawat?

0
Airbus A380. Sumber: The Independent

Satu hal yang harus sudah dipersiapkan dan melewati perhitungan matang oleh manufaktur-manufaktur di seluruh dunia adalah perihal pembatalan pesanan – tidak terkecuali pabrikan pesawat seperti Boeing dan Airbus.

Baca Juga: Stop Produksi di Awal 2019, Kapan Airbus A380 Pensiun Sepenuhnya?

Sebagaimana yang sudah santer diberitakan sejak beberapa bulan ke belakang, dimana salah satu raksasa maskapai berbiaya rendah Indonesia, Lion Air secara terang-terangan akan membatalkan pesanan sejumlah armada Boeing – pasca ketegangan yang terjadi antara dua belah pihak. Pertanyaannya adalah, apakah pihak manufaktur mengalami kerugian yang cukup signifikan terhadap pembatalan pesanan ini?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman seekingalpha.com, ternyata pembatalan pesanan dari pihak maskapai kepada pabrikan pesawat tidak mencerminkan berkurangnya daya tarik pesawat. Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, jika maskapai Emirates, Etihad, dan Qantas lebih memilih untuk membatalkan pesanan Airbus A380 karena dinilai kurang ekonomis dari segi pengoperasiannya – biaya pengoperasian tinggi, load factor tidak dapat mengimbangi, maka berbanding terbalik dengan British Airways yang malah ingin membeli Airbus A380 bekas dari maskapai lain.

Contoh di atas hanyalah gambaran sederhana terkait pembatalan pesanan pesawat tidak mencerminkan berkurangnya daya tarik pesawat.

Lalu bagaimana dengan pihak manufaktur? Apakah kerugian yang harus mereka tanggung akibat pembatalan pesanan ini berdampak signifikan terhadap kondisi kas perusahaan?

Sebuah data menyebutkan bahwa pada tahun 2018, manufaktur burung besi asal Amerika, Boeing menerima 1.090 pesanan pesawat. Di sisi lain, Dennis Muilenburg cs. menerima 197 pembatalan pesanan dari para konsumennya. Jika dihitung, maka tingkat pembatalan yang diterima Boeing berkisar di angka 18 persen – bukan angka yang sedikit. Angka tersebut mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2017 silam, dimana perusahaan menerima total 1.053 pesanan pesawat dan pembatalan pesanan berada di angka 141 – persentase pembatalan berada di angka 13 pesen.

Baca Juga: Semakin Terpuruk, Airbus Terima Pembatalan Pesanan A380 dari Qantas Airways

Jika dihitung-hitung, sudah jelas perusahaan akan mengalami kerugian dengan adanya pembatalan semacam ini, namun ketika dibandingkan dengan jumlah pesanan yang masuk, bukan tidak menutup kemungkinan jika manufaktur pesawat akan mampu untuk tetap ‘balik modal’.

Sebagai catatan tambahan, tidak melulu pembatalan pesanan ini berhubungan dengan pihak maskapai yang mengurungkan apa yang sebelumnya sudahh mereka pesan, tapi bisa juga mencakup perpindahan tangan dari pihak maskapai dengan lessor (pihak yang biasa menyewakan pesawat).

 

Leave a Reply