Ketimbang ‘Sepi Merana,’ Bandara Kertajati Bakal Disulap Jadi Pusat Bengkel Pesawat

0
Bandara Kertajati mulai beropersi 24 Mei 2018

Setelah resmi beroperasi pada 24 Mei 2018, boleh dikata denyut aktivitas di Bandara Internasional Kertajati tidak berjalan sesuai harapan. Padahal bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II dan telah menghabiskan kocek Rp2,6 triliun itu punya spesifikasi tinggi, sebut saja landas pacunya dapat didarati pesawat wide body sekelas Boeing 777.

Baca juga: Sepi Penumpang di Masa Pandemi, Bandara Kertajati Sewakan Area untuk Foto Prewedding

Namun, lain dari yang diharapkan oleh pemerintah, pelan-pelan maskapai mulai meninggalkan Bandara Kertajati, pangkal musababnya adalah rendahnya animo pengguna jasa yang naik dan turun di bandara yang berlokasi di Majalengka, Jawa Barat tersebut. Waktu tempuh yang relatif lama dari Kota Bandung, membuat pengguna jasa lebih memilih Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta.

Bagi maskapai, mereka justru lebih tertarik untuk kembali ke Bandara Husein Sastranegara di Bandung. Dari 11 rute pernerbangan yang didaftar, hanya satu yang beroperasi. Itu pun dipaksakan. Sisanya, dibatalkan oleh maskapai lantaran tingkat okupansi penumpang masih di bawah 30 persen. Maskapai pun enggan terbang dari Kertajati.

Sepinya Bandara Kertajati sudah terjadi sebelum era pandemi Covid-19 di Indonesia, dan bisa dibayangkan, semakin sepi lagi bandara yang punya runway 3.000 meter ini setelah ditimpa efek pandemi. Pengelola bandara pun dibuat kelimpungan, lantaran untuk mengoperasikan sebuah bandara tidaklah kecil. Setidaknya butuh Rp 6-7 miliar per bulan untuk biaya pengoperasian.

Saat pesawat Kepresiden mendarat perdana di Bandara Internasional Kertajati

Sebagai catatan, pada awal pandemi pengelola Bandara Kertajati sempat menyiasati untuk mencari pemasukan untuk biaya operasional dengan menawarkan jasa penyediaan tempat untuk foto prewedding. Tapi beragam upaya itu tak membuahkan hasil maksimal. Tetap saja, Kertajati sepi, plus pandemi menghantam, maka pudarlah pamor Bandara Kertajati.

Dikutip dari RM.id (31/3/2021), menghadapi persoalan di atas, Presiden Jokowi pada Senin lalu menggelar Rapat Kabinet membahas nasib Kertajati. Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi Sumadi, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, ikut hadir.

Hasilnya diputuskan, Bandara Kertajati akan difokuskan sebagai tempat Maintenance, Repair, Overhaul (MRO) atau bengkel pesawat. Ridwan Kamil memastikan, fungsi tersebut tidak menghilangkan peran komersialisasi angkutan penumpang dan layanan kargo. Ridwan Kamil menyebut, sepinya Bandara Kertajati salah satunya disebabkan belum berfungsinya Tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan). Rencananya jalur tol tersebut akan dibuka pada Desember 2021.

Baca juga: [Opini] Bandara Internasional Kertajati, Untuk Siapa?

Nantinya kawasan Bandara Kertajati bakal ramai, pasalnya Presiden Jokowi dalam amanatnya juga telah menginstruksikan pemindahan lokasi dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia dari Kota Bandung ke wilayah Kertajati.

Leave a Reply