Kisah Lockheed L-1049 Super Constellation, Pesawat Pembuka Jalan Penerbangan Nyaman

0
Pesawat Lockheed Super Constellation. Foto: Getty Images

Selain Wright bersaudara, Howard Hughes juga diakui sebagai salah satu tokoh penerbangan di dunia. Lewat tangan dinginnya, pilot, pebisnis, dan juga perancang pesawat ini menghasilkan gebrakan dan karya-karya monumental, salah satunya Lockheed Super Constellation.

Baca juga: Mengenal Howard Hughes, Pilot, Pebisnis dan Perancang Pesawat yang Ubah Dunia Penerbangan

Ide untuk membuat program pesawat yang juga disebut Connie tersebut dimulai saat Hughes menjadi pemilik baru maskapai Trans World Airlines (TWA) pada tahun 1939.

Ketika itu, Hughes bertemu dengan tokoh-tokoh kunci Lockheed Corporation, seperti chief engineer Hall Hibbard, chief research engineer Kelly Johnson, dan presiden Robert Gross, dan menyampaikan ide-idenya tentang pesawat masa depan untuk kebutuhan TWA. Keempatnya sepakat untuk membuat atau mengembangkan pesawat Super Constellation.

Keputusan Hughes bisa dibilang cukup berani, mengingat ia sempat didesak oleh para pilot untuk membeli pesawat Boeing Stratoliner, pesawat dengan kabin bertekanan pertama di dunia. Tujuannya, agar TWA bisa membawa penumpang terbang lebih tinggi untuk pengalaman terbang baru yang lebih mengesankan.

Mengingat pesawat Super Constellation adalah permintaan spesial darinya, Hughes meminta agar Lockheed tidak menjual pesawat itu ke maskapai lain sampai 35 unit pesawat diterima TWA.

Benar saja, bersama pesawat ini (usai diperkenalkan pada 1943 dan dioperasikan TWA sebagai maskapai komersial pertama dua tahun berselang), TWA perlahan mulai berkembang, seperti memulai layanan internasional terjadwal pada 5 Februari 1946 hingga memulai layanan kargo transatlantik terjadwal yang pertama pada 30 Oktober 1947.

Pesawat dengan empat mesin baling-baling Wright R-3350 ini disebut menjadi pembuka sejarah bagi penerbangan penumpang nyaman.

Pesawat Boeing Stratoliner boleh saja menjadi pesawat dengan kabin bertekanan pertama di dunia, tetapi, Super Constellation terbang lebih tinggi di atas cuaca buruk -lebih dari 12.500 kaki (3.810 m), pertama di dunia- sehingga pesawat terbang 90 persen lebih mulus dan 44 penumpang jadi jauh lebih nyaman.

Pesawat juga terbang lebih cepat mencapai 563 km per jam. Dengan begitu, maskapai bisa mengoperasikan penerbangan komersial nonstop pertama dari pantai ke pantai (dari timur ke barat atau sebaliknya).

Di dekade 60-an, seperti dikutip dari Simple Flying, Lockheed membeli model prototipe XC-69 Constellation dari Hughes Tool Company, melengkapi varian L-749 yang juga dibeli dari perusahaan itu. Tetapi, mereka memanjangkannya hingga 5,5 m untuk membentuk struktur pesawat L-1049 Super Constellation. Pesawat ini berhasil terbang perdana pada 14 Juli 1951.

Pesawat L-1049 Super Constellation akhirnya memasuki tahun layanan bersama Eastern Airlines pada 17 Desember 1951.

Secara keseluruhan, 579 dari jenis itu diproduksi antara tahun 1951 dan 1958. Maskapai penerbangan komersial menerbangkan 259 pesawat sementara militer mengoperasikan 320 unit.

Baca juga: Inilah Lockheed L-1011 TriStar, Pesawat yang Tak Laku Karena Terlalu Canggih

Berkat perpanjangan kabin, varian L-1049 Super Constellation bisa memuat penumpang antara 47 hingga 106 penumpang. Selama beberapa tahun, pesawat sempat merajai pasar.

Namun sayang, setelah kemunculan Boeing 707 dan Douglas DC-8 dengan mesin jetnya, Lockheed Super Constellation, termasuk varian L-1049 Super Constellation dan lainnya, harus berakhir. L-1049 Super Constellation melakukan penerbangan terakhir bersama Eastern Airlines, maskapai pertama yang mengoperasikannya, pada tahun 1993.