Komunitas LGBTI: Pelatihan Petugas Bandara Akan Mengembalikan Hak Transgender

Ilustrasi skrining keamanan. Sumber: Channel News Asia

Sebagai salah satu fase yang harus dilewati setiap penumpang sebelum mengudara, pemeriksaan keamanan di bandara memang ditujukan untuk menjamin keamanan para penumpang dan setidaknya untuk meminimalisir ancaman dengan benda-benda yang tergolong berbahaya yang disimpan di dalam hand-luggage. Namun terlepas dari fungsi dari pemeriksaan keamanan tersebut, akankah para petugas keamanan tetap bersikap ‘netral’ kepada pelancong transgender?

Baca Juga: Parah! Petugas Keamanan Bandara London Lakukan Pelecehan Seksual Pada Waria

Jika merunut dari regulasinya, sudah jelas bahwasanya para petugas keamanan harus berlaku ‘netral’ kepada setiap penumpang – apapun jenis kelaminnya. Namun di luar sana masih banyak saja intimidasi yang dilakukan oleh para oknum petugas terhadap transgender. Tentu saja, intimidasi di sini tidak berbau kekerasan – melainkan lebih kepada tindak pelecehan, namun di sini, para korban tidak sedikit yang mengalami trauma. Nah, teruntuk para oknum petugas ini, perlukah manajemen memberikan pelatihan khusus agar tidak mencoreng nama perusahaan karena sikap mereka?

Melansir dari laman airport-technology.com (15/1/2019), KabarPenumpang.com mendapati informasi bahwa Lesbian Internasional, Gay, Biseksual, Trans dan Intersex Association (ILGA) – sebuah organisasi yang menyatukan lebih dari 1.300 kelompok LGBTI di seluruh dunia – ada dua masalah utama muncul pada pemeriksaan keamanan bandara.

“Salah satunya adalah masalah sosial, persepsi budaya dan yang lainnya berkaitan dengan dokumen identitas hukum,” kata Zhan Chiam, koordinator Program Identitas dan Gender Expression Gender ILGA.

Masalah sosial di sini maksudnya adalah berkaitan dengan jenis kelamin seorang transgender – dimana hal tersebut akan mempengaruhi gaya berdandan mereka. Zhan Chiam menjelaskan bahwa di bawah hukum internasional, seharusnya hal ini tidak menjadi persyaratan bagi seorang petugas untuk mengidentifikasi atau diakui oleh identitas gender mereka.

“Namun, ketika seseorang menampilkan gender yang tidak dikenali orang sebagai milik biner perempuan atau laki-laki, pihak keamanan yang dapat mengajukan serangkaian pertanyaan dan interogasi guna memastikan jenis kelamin mereka, tentu saja dengan cara yang sopan,” tambah Zhan Chiam.

Kedua adalah berkaitan dengan dokumen identifikasi pribadi seperti KTP dan lain-lain. Ini akan menimbulkan kebingungan bagi sebagian petugas manakala data yang mereka dapatkan di dokumen identifikasi pribadi tersebut bertolak belakang dengan apa yang mereka lihat di lapangan – semisal di dokumen identifikasi pribadi tertera jenis kelamin pria, namun tampilan penumpang di lapangan adalah wanita.

Baca Juga: Setarakan Kaum Minoritas, Formulir Tiket Kereta di India Akan Tambah Kolom T Untuk Transgender

“Sangat penting bagi staf bandara untuk lebih memahami bahwa beberapa orang transgender mungkin tidak memiliki dokumentasi yang cocok dengan identitas gender mereka,” ungkap Bex Stinson, kepala Trans Inklusi di kelompok LGBTI yang berbasis di Inggris.

Guna mencari jalan keluar dari polemik ini, sejumlah bandara di Amerika Serikat berkolaborasi dengan komunitas LGBTI guna memberikan pelayanan yang lebih baik kepada penumpang.

“Memastikan staf bandara menerima pelatihan keberagaman dan inklusi adalah langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi penumpang trans. Setiap orang LGBTI harus bisa menjalani kehidupan sehari-hari mereka dengan perasaan aman dan bebas dari diskriminasi.” tutup Bex.