Maskapai dan Produsen Pesawat Rugi Besar, Produsen Cat Pesawat Justru Untung Besar

0
Pesawat Airbus A330-900 Neo dengan spesial livery bermasker. Foto: Istimewa

Di saat berbagai perusahaan di industri dirgantara dunia tengah terpuruk, perusahaan produsen cat pesawat justru meraup untung besar. Bagaimana bisa?

Baca juga: Melawan Lupa! Hanggar Narrow Body Terbesar di Dunia Ada di Indonesia

Sepanjang tahun lalu, utamanya di awal-awal sampai puncak pandemi virus Corona sekitar kuartal I-3 2020, Cirium, sebuah perusahaan riset terkait industri di dunia penerbangan, mencatat lebih dari 17 ribu pesawat nganggur atau digrounded di seluruh dunia, terendah sejak 26 tahun.

Setelah industri penerbangan penumpang dan kargo mulai membaik di kuartal IV tahun lalu sampai sekarang, sekalipun masih agak fluktuatif di beberapa negara, banyak pesawat mulai keluar dari peraduannya. Tetapi, hampir semua pesawat kondisinya berdebu dan warnanya tak lagi sesuai dengan yang diharapkan.

Dengan kondisi itu, sudah pasti seluruh armada dicat ulang agar lebih sedap dipandang mata sebelum mulai kembali menghiasi langit.

Di saat yang bersamaan, produsen pesawat dunia, semisal Boeing dan Airbus, juga terus menggenjot produksi mereka sekalipun kenyataannya tetaplah menurun. Sampai di sini, sudah pasti seluruh pesawat bakal dicat.

Selain dua kondisi itu, ada pula banyak maskapai start-up yang coba memanfaatkan peluang dimana harga pesawat sedang jatuh-sejatuh-jatuhnya.

Mereka membeli pesawat dengan harga murah untuk persiapan manakala kondisi industri penerbangan global sudah merangkak pulih. Perpindahan pesawat dari pemilik lama ke pemilik baru sudah pasti membutuhkan cat pesawat untuk livery baru.

Demikian juga dengan semakin dinamisnya penyewaan pesawat oleh lessor. Setiap mendapat klien baru untuk menyewa pesawat, sudah pasti pesawat bakal dicat sesuai livery yang diinginkan perusahaan.

Andaipun tak mendapat klien baru, lessor biasanya tetap mengecat pesawat lama dengan cat putih. Berbagai kondisi itulah yang pada akhirnya mendorong produsen cat pesawat dan perusahaan jasa pengecatan pesawat meraup untung besar di tengah pandemi Covid-19.

Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, CEO Akzo Nobel NZ, Thierry Vanlancker, berhasil mencapai penjualan di tingkat pra pandemi pada kuartal II 2021. Perusahaan cat pesawat terbesar di dunia itu sebelum memperkirakan ini baru akan terjadi pada 2023 mendatang.

“Ini adalah kejutan bagi kami. Kami pikir ini hanya akan terjadi pada tahun 2023,” jelasnya.

Baca juga: OMG! Salah Penulisan Livery Pesawat, Nama Cathay Pacific Menjadi ‘Cathay Paciic’

Akzo Nobel NZ, yang juga melayani jasa pengecatan pesawat, tentu bukan satu-satunya perusahaan cat yang meraup untung besar. PPG Industries, yang juga masuk dalam daftar perusahaan Fortune 500, juga berhasil mengalami lonjakan penjualan di kuratal II tahun ini.

Biaya pengecatan pesawat bisa dibilang agak mahal. Angka rincianya memang tak pernah diungkap ke publik. Tetapi, biasanya bisa mencapai US$175.000. Itu bisa lebih tinggi untuk pesawat widebody. Adapun untuk pesawat narrowbody, biaya jasa pengecetan pesawat hanya seharga US$50.000.