Mengapa Pesawat Buang Bahan Bakar Saat di Udara? Simak Penjelasannya

0
Airbus A340 saat sedang buang bahan bakar di udara. Foto: Bobmil42 via Wikimedia Commons

Di beberapa artikel sebelumnya, redaksi KabarPenumpang.com sedikit banyaknya telah menyinggung bagaimana sebuah penerbangan bekerja. Mulai dari persiapan pra penerbangan oleh pilot, pihak terkait, hingga berbagai tantangan saat di udara. Di antara tantangan yang dimaksud, pesawat lebih sering terancam kehabisan bahan bakar sebelum sampai di bandara tujuan.

Baca juga: Ini Nih Yang Perlu Diketahui Seputar Tangki Bahan Bakar Pesawat!

Akan tetapi, bagaimana bila sebaliknya, dimana pesawat justru masih memuat bahan bakar berlebih saat sebelum landing atau turun landas? Tentu pesawat harus membuang bahan bakar agar proses pendaratan lebih minim risiko. Itulah mengapa terkadang pesawat terlihat seperti ‘kencing’ saat di udara beberapa mil sebelum mendarat.

Sebagian dari orang awam mungkin akan berpikir, bila pesawat membuang bahan bakar saat di udara, yang notabene bahan bakar tersebut berbentuk cair, tentu daratan di bawahnya akan dihujani oleh avtur. Padahal, kenyataannya tak selalu seperti itu.

Dilansir Simple Flying, ritual pesawat membuang bahan bakar saat di udara, sesaat sebelum mendarat, tak dilakukan oleh seluruh pesawat. Pesawat narrowbody lebih condong terhindar dari hal demikian, sebaliknya, justru pesawat widebody atau berbadan lebarlah yang kerap kedapatan melakukan ritual tersebut.

Pilot pada dasarnya membuat skema penerbangan dengan memuat lebih banyak bahan bakar yang dibutuhkan dari perhitungan normal. Tentu faktor safety jadi alasan dibalik ini. Apalagi untuk rute jarak jauh. Namun, bila penerbangan berjalan normal tanpa ada kendala apapun, tentu bahan bakar akan tersisa banyak sesaat sebelum mendarat. Mau tak mau, pilot harus mengurangi beban berat pesawat dengan membuang bahan bakar.

Prosedur membuangnya pun tak asal-asalan. Petunjuk teknis dari Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA), pesawat tidak diizinkan membuang bahan bakar di bawah ketinggian 2.000 kaki, nyaris setara dengan lantai teratas (163 lantai) gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab, atau kurang lebih setinggi 610 meter.

Pasalnya, bila pesawat membuang bahan bakar di bawah itu, daratan akan dihujani bahan bakar pesawat setara ribuan liter. Tak terbayang berapa banyak rumah yang akan dibuat basah karenanya. Tak terbayang pula efek samping yang dialami masyarakat ketika terkena avtur sekalipun berupa kristal layaknya hujan rintik-rintik.

Namun, bila pesawat membuang bahan bakar di atas itu, bahan bakar akan menguap menjadi gas dan memuai di udara. Artinya, bahan bakar cair yang dibuang tak berbentuk utuh hingga menghujani daratan.

Di samping tak diizinkan melakukan hal tersebut di bawah ketinggian 2.000 kaki, pesawat juga dilarang untuk membuang bahan bakar di area perkotaan ataupun di atas lautan atau area perairan lainnya.

Usai bahan bakar dibuang sesuai dengan prosedur yang berlaku, melalui nozel di ujung kedua sayap, dimana efeknya terkadang terlihat seperti condensation trail (contrail) saat pesawat melintasi langit, proses pendaratan jadi lebih aman.

Lain cerita bila pesawat dalam keadaan tak normal. Seperti yang pernah dialami oleh Delta Airlines. Januari lalu, sebuah pesawat Boeing 777 Delta, dalam perjalanan dari Los Angeles, AS, ke Shanghai, Cina, tiba-tiba mengalami kerusakan pada salah satu mesin sesaat setelah lepas landas. Alhasil, pesawat harus go around atau putar balik dengan kondisi bahan bakar masih dalam keadaan full tank.

Baca juga: Mengapa Jendela Belakang Airbus A340 Miring ke Atas?

Dalam kondisi tersebut, tentu pilot tak ingin mengambil risiko, di samping pesawat memang dirancang untuk terbang dengan kondisi tidak normal di bawah aturan ETOPS. Jadi, tak perlu tergesa-gesa. Karenanya, pilot pun menyempat untuk membuang sekitar 15 ribu galon bahan bakar di ketinggian lebih dari 2.000 kaki, seperti pada video di atas.

Sayangnya, pesawat membuang bahan bakar di atas langit perkotaan. Proses pemuaian bahan bakar di udara juga tak berjalan maksimal. Alhasil, 50 orang mengeluh mata seperti terbakar, kulit gatal, dan beberapa di antaranya mengalami masalah pernapasan. Beruntung, efek dari itu tak terlalu serius dan tidak menimbulkan korban jiwa.

Leave a Reply