Mengenal Lawrence Sperry, Penemu Fitur Autopilot Pertama di Dunia

0
Lawrence Sperry mengukir sejarah ketika pesawatnya mendarat di alun-alun Capitol di Washington D.C. pada 22 Maret, menjadikannya pesawat pertama yang melakukan pendaratan semacam itu. Foto: Getty Images

Pernahkah terlintas di benak Anda apa yang dilakukan oleh pilot dan kopilot di kokpit saat pesawat tengah mengudara? Apakah mereka sama seperti pengemudi mobil, bus, truk, atau sepeda motor yang harus selalu mengemudikan kendaraannya hingga tiba di tujuan? Tentu saja tidak. Hal itu dimungkinkan berkat adanya fitur autopilot.

Baca juga: Auto Pilot – Sistem yang Mudahkan Pilot Atur Navigasi Selama Mengudara

Dikenal sebagai Automatic Flight Control System (AFCS), autopilot merupakan sebuah sistem mekanikal, elektrikal, atau hidraulik yang memandu sebuah kendaraan tanpa campur tangan dari manusia.

Selain sistem kontrol penerbangan, salah satu dari bagian avionik (peralatan elektronik penerbangan yang mencakup seluruh sistem elektronik di pesawat) ini juga berfungsi dalam komunikasi elektronik, navigasi, dan untuk mengetahui keadaan cuaca pada lintasan penerbangan.

Sistem autopilot pertama kali ditemukan oleh Lawrence Sperry, anak dari seorang penemu kenamaan dunia, Elmer Sperry, pada tahun 1912.

Dilansir Simple Flying, ketika itu, ia sebetulnya tengah membantu sang ayah menghubungkan indikator heading giroskopik ke kemudi dan elevator yang dioperasikan secara hidrolik dan berhasil membuat pesawat lebih stabil. Sadar temuannya akan berdampak besar, ia pun memamerkannya ke Eropa, tepatnya di ajang Paris Air Show pada 18 Juni 1914.

Di sela-sela gelaran tersebut, terdapat ajang Concours de la Securité en Aéroplane (Kompetisi Keselamatan Pesawat) di tepi sungai Seine. Ada 57 pesawat yang bersaing untuk memenangkan kompetisi tersebut, salah satunya pesawat biplane Curtiss C-2 yang digunakan Lawrence Sperry dan tim.

Sejak awal, pesawat biplane itu memang sudah menarik perhatian pengunjung. Sebab, pada kompetisi kali itu, Curtiss C-2 menjadi satu-satunya pesawat yang dilengkapi dengan gyroscopic stabilizer untuk meningkatkan stabilitas dan kontrol.

Benar saja, ketika giliran Lawrence Sperry dan tim tiba untuk beraksi bersama Curtiss C-2, penumpang dibuat kagum dan bersorak-sorai kegirangan atas apa yang mereka lihat, terutama, ketika Sperry mulai mengaktifkan fitur stabilisator dan melepaskan tangan dari kemudi.

Tak cukup sampai di situ, fitur autopilot temuan Lawrence Sperry juga mengundang decak kagum penumpang ketika salah satu dari tim merangkak ke atas sayap pesawat. Pesawat kemudian dibuat bergoyang dengan beberapa hentakan. Saat itu, Sperry tidak sedang mengontrol penuh pesawat. Menariknya, pesawat mampu kembali ke sikap semula secara otomatis berkat stabilisator yang dilengkapi giroskop.

Aksi Lawrence Sperry dan tim bersama Curtiss C-2 kemudian ditutup dengan adegan dimana Sperry dan salah satu dari tim, Cachin, berdiri di sayap. Tentu saja tidak ada kru yang mengemudikan pesawat. Namun, pesawat mampu melaju dengan stabil di udara dan tentu saja diiringi decak kagum penonton dan para juri. Saat itu, hampir mustahil pesawat bisa terus melaju tanpa dikontrol oleh pilot. Pemenangnya, sudah pasti diberikan kepada Lawrence Sperry.

Pasca aksi pamer inovasi cikal-bakal teknologi autopilot, Lawrence Sperry terus berinovasi. Ketika itu, autopilot gyroscopic pesawat Sperry ukurannya lebih kecil dibanding gyro stabilizer.

Sperry corporation, perusahaan yang didirikan Sperry, kemudian mengembangkan instrumen giroskopik lainnya, termasuk horizon buatan dan indikator heading. Sistem temuan ini masih dipasang di banyak pesawat saat ini, melengkapi 23 hak paten atau inovasi Sperry.


Seiring waktu berjalan, teknologi autopilot yang digunakan oleh kebanyakan pesawat dan dioperasikan maskapai penerbangan perlahan-lahan mulai disandingkan dengan otomatisasi lainnya yaitu Flight Management Sytstem (FMS). Begitu pilot memasuki rencana penerbangan, FMS menentukan cara paling efisien untuk mengikutinya.

Baca juga: Pertama di Dunia, Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas, Landing, dan Taxi Otomatis! Pilot Terancam?

Sistem komputerisasi mengandalkan jaringan sensor yang canggih di seluruh pesawat terbang untuk terus memantau dan menyesuaikan kecepatan, ketinggian saat mengudara, dan faktor lainnya. Dengan kata lain, sebenarnya pilot bisa bersantai dengan diaplikasikannya sistem semacam ini.

Selain itu, teknologi autopilot saat ini juga dikembangkan menjadi auto landing dan auto take off, yang di masa mendatang mungkin saja seluruh pesawat akan dilengkapi fitur tersebut.

LEAVE A REPLY