Mengenal Monumen Kenangan Hormat, Begini Sejarah Pembangunan dan Filosofi Bangunannya

0
Monumen Kenangan Hormat. Foto: Istimewa

Indonesia memiliki beberapa Monumen Kereta Api sebagai milestone perjalanan perkeretaapian negara. Salah satunya ialah Monumen Kenangan Hormat. Meski tak seperti monumen lain yang berhubungan langsung dengan perkeretaapian itu sendiri, tetapi Monumen Kenangan Hormat sarat makna, baik dari sejarah pendiriannya maupun filosofi bangunannya.

Baca juga: Mesin Perawatan Jalan VDM 800 GS Jadi Monumen di Cirebon

VP Public Relations KAI, Joni Martinus, menjabarkan, monumen yang berdiri tepat di depan pendopo Balai Besar Bandung (saat ini Kantor Pusat Bandung) ini awalnya merupakan Monumen Peringatan 50 Tahun perusahaan kereta api Negara, Staatssporwegen (SS) yang jatuh pada 6 April 1925.

Monumen beton yang dihias dua buah roda bersayap dari perunggu ini diresmikan pada 20 November 1926.

Setelah Kantor Pusat Bandung diambil alih oleh Pemerintah Indonesia dari tangan Jepang, Monumen Peringatan SS diubah. Melalui sayembara, POSHKA (Perkumpulan Olah raga dan Seni Hiburan Kereta Api) mengusulkan pembangunan Monumen Kenangan Hormat.

Alasannya sebagai bentuk persembahan bagi para pegawai yang telah gugur dalam menunaikan baktinya untuk nusa bangsa secara umum, dan kereta api pada khususnya.

Sebelum membahas lebih lanjut, ada yang runtutan yang hilang. Beberapa sumber mengungkapkan, Monumen Peringatan 50 Tahun SS sempat dihancurkan saat Jepang menginvasi Hindia Belanda pada Maret 1942-Agustus 1945. Itu sebab, monumen tersebut direvitalisasi sekaligus diubah filosofinya.

Monumen Kenangan Hormat diresmikan pada Jumat, 28 September 1962 bersamaan perayaan ulang tahun Djawatan Kereta Api (DKA) ke-17. Seremonial dibuka oleh Ir. Abu Prayitno selaku Kepala DKA yang dihadiri pula Gubernur Jawa Barat saat itu. Tak asal, monumen baru tersebut sarat akan makna.

Enam liang yang terdapat pada Monumen Kenangan Hormat menggambarkan adanya enam eksploitasi (Eksploitasi Timur, Tengah, Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Utara & Aceh) di Djawatan Kereta Api (DKA) yang keseluruhan ikut serta dalam menegakan Republik Indonesia.

Atap di atas tiang melukiskan Kantor Pusat Bandung memimpin setiap eksploitasi. Potret pejuang mengenangkan akan perjuangan tak kenal lelah mengahadapi serangan lawan meski hanya bersenjatakan bambu runcing sedangkan pemeriksa jalan kereta api melambangkan kewaspadaan. Lima buah anak tangga perlambang Pancasila.

Baca juga: Lokomotif Uap D1410, Kembali Beroperasi Jadi Kereta Wisata di Solo

Tulisan berwarna emas dengan warna dasar hitam di kanan-kiri monumen. Tulisan dikiri berbunyi: “Bunga Pudjaan …. Karena kematian adalah mati mulia …. Mati dalam menegakkan Negara. Engkaulah kirannja jang disebut orang: Bunga Pudjaan Bangsa” sedangkan tulisan di samping kanan berbunyi “Dipersembahkan kepada para Pahlawan DKA jang telah gugur untuk membela Nusa dan Bangsa”.

Saat ini. Monumen Kenangan Hormat masih kokoh berdiri di halaman Kantor Pusat Bandung. Monumen tersebut merupakan tanda penghormatan bagi perjuangan para pendahulu kita. Kini, saatnya kita melanjutkan tongkat estafet perjuangan yang telah dimulai para pendahulu kita, para pahlawan kita.