Menghilangkan Kopilot dari Dunia Penerbangan Sipil, Mungkinkah?

0
Ilustrasi pilot sebelum memutuskan landing atau divert. Sumber: 43airschool.com

Evolusi yang terjadi pada sektor transportasi memang tidak akan pernah berhenti. Mungkin Anda ssemua masih ingat tentang pemberdayaan autonomous land vehicle seperti mobil dan bus listrik, ada juga kereta api nirawak yang sudah mulai beroperasi di berbagai penjuru dunia. Namun dari sejumlah moda transportasi tersebut, muncul pesawat yang hingga kini masih saja dikemudikan oleh dua orang (pilot dan kopilot).

Baca Juga: Serba Otomatis dan Komputerisasi Turunkan ‘Kemampuan’ Pilot Ketika Mengudara

Kendati berbagai perusahaan dirgantara di luar sana tengah mengembangkan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau yang biasa disebut drone untuk mengangkut penumpang, mungkinkah peran kopilot yang ada di pesawat ditiadakan? Setidaknya, jalan pemikiran ini merupakan ‘jembatan’ menuju pengoperasian pesawat tanpa awak, maklum tekanan dunia akan efisiensi biaya operasional tengah mengemuka di segala sektor transportasi.

Dan dari sekian banyak evolusi yang sudah terjadi pada sektor transportasi, tampaknya nilai utama dari evolusi ini adalah pengurangan pengoperasian kendaraan oleh manusia. Dan apabila nilai tersebut diadopsi pada moda udara, jawabannya adalah tidak mungkin – setidaknya dalam waktu dekat ini. Air Line Pilots Association (ALPA) menyebutkan bahwa teknologi otomatisasi yang ada saat ini belum mampu mengalahkan kinerja manusia – dalam hal ini adalah seorang pilot atau kopilot.

“Sampai teknologi otomatis dapat memberikan tingkat kesadaran situasional, komunikasi, dan penilaian yang sama dengan manusia, dua pilot di dalam kokpit akan tetap menjadi kebutuhan utama dalam dunia penerbangan untuk mencapat keselamatan yang maksimal,” tulis ALPA, dikutip KabarPenumpang.com dari laman thepointsguy.co.uk (21/7).

Namun jika lebih peka lagi terhadap pemberitaan terkait sektor aviasi, keberadaan dua pilot ini bisa dibilang sudah paling ideal untuk mengoperasikan jalur udara – mengingat tugas ko-pilot yang didaulat sebagai ‘cadangan’ ketika sang pilot mengalami kesulitan atau kejadian di luar dugaan (sakit, hilang kesadaran, dll).

Itu baru dari segi teknis, belum lagi dari segi kenyamanan penumpang yang mungkin akan sedikit was-was ketika mendengar pesawat yang ditumpanginya itu hanya dioperasikan oleh satu pilot saja. Bukan tidak mungkin apabila stigma, “Nanti kalau pilotnya mengalami kendala, siapa yang akan mengendalikan pesawat?” seperti ini akan muncul di benak masing-masing penumpang.

Baca Juga: Kembangkan Teknologi Autopilot, Boeing Tawarkan Self Flying Plane

Maka dati itu, peran teknologi otomatisasi memang benar-benar harus dipatenkan agar dapat menghasilkan trust di setiap lini – baik dari pihak maskapai yang tidak perlu ragu lagi untuk mengoperasikan pesawat dengan satu pilot, hingga penumpang yang akan merasa nyaman ketika pesawat yang ditumpanginya dioperasikan hanya oleh satu orang saja.

Mungkin saja pesawat dengan kemudi satu orang beroperasi, namun dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan sistem otomatis yang lebih andal dari seorang ko-pilot.