Miris, Boeing dan Airbus Hanya Jual Satu Pesawat di Bulan Juni

0
Ilustrasi Boeing vs Airbus. Sumber: istimewa

Industri penerbangan global tampaknya masih bisa dibilang kirisis. Betapa tidak, dari sebelumnya (dalam keadaan normal), dua pabrikan asal Eropa dan Amerika Serikat (AS) itu bisa mendapat pesanan hingga puluhan pesawat setiap bulan, di bulan Juni lalu, mereka hanya bisa mendapat satu pesanan pesawat. Itupun bukan pesawat penumpang, melainkan pesawat kargo.

Baca juga: 4 Poin Head to Head Boeing vs Airbus, Mana Lebih Unggul?

Raksasa jasa pengiriman asal AS, FedEx, dikabarkan membeli pesawat kargo dari Boeing. Adapun Airbus dikabarkan bukan mendapat satu pesanan baru, melainkan mengeksekusi pesanan lama.

Dilansir euractiv.com, selain mencatat hasil negatif dari segi pesanan pesawat baru, Airbus juga diketahui mengirim pesawat jauh di bawah rata-rata dibanding periode yang sama di tahun lalu. Pada paruh pertama 2020, perusahaan hanya mampu mencetak 196 pengiriman, dengan rincian 14 pada April, 24 pada Mei, dan 36 pesawat komersial pada Juni. Bandingkan dengan paruh pertama 2019, dimana Airbus mampu mengirim hingga 389 pesawat.

Dari catatan di atas, khususnya pesanan baru di bulan Juni, secara substansial, Boeing bisa dibilang unggul dari Airbus. Namun, bila melihat total pesanan pesawat di tahun ini, Airbus masih lebih unggul. Boeing awalnya sempat selangkah di depan dari banyaknya pesanan salah satu pesawat anyar mereka, Boeing 737 MAX.

Akan tetapi, pasca sederet kecelakaan, 60 pesanan 737 MAX terpaksa dibatalkan serta 123 lainnya terpaksa dihapus dari backlog akibat keraguan maskapai terhadap pabrikan. Dengan begitu, Boeing total mendapat 323 pembatalan pesanan dan bertahan di angka 59. Sedangkan Airbus, sejauh ini masih memiliki 298 pesanan.

Boeing sebetulnya memiliki kans untuk balik menyalip Airbus dari segi pesanan bila Boeing 737 MAX mendapat restu kembali terbang secara komersial. Seperti diketahui, belum lama ini, regulator penerbangan sipil Amerika Serikat (FAA) resmi menyudahi proses sertifikasi ulang Boeing 737 MAX, kemarin. Dengan begitu, total Boeing 737 MAX 7, pendahulu MAX 8, sudah menjalani proses sertifikasi ulang -untuk memungkinkannya terbang lagi- selama 3 hari dan total terbang sebanyak 10 jam.

Baca juga: Meski Boeing Keok, Airbus Belum Bisa Salip Boeing dalam Urusan Produksi Pesawat

Saat ini administrator FAA masih mempelajari hasil pengujian. Tetapi, bila pun 737 MAX mampu melewati sertifikasi FAA dengan baik, hal itu tak lantas membawa mereka kembali ke langit dunia. Pasalnya, EASA atau Badan Keselamatan Penerbangan Eropa dikabarkan ngotot untuk melakukan sertifikasi sendiri terhadap Boeing 737 MAX.

Bila tidak, EASA mengancam tak akan mengizinkan MAX memasuki ruang udara mereka, hal yang sangat merugikan tentunya bagi seluruh maskapai jika mengoperasikan pesawat itu. Dengan demikian, mau tak mau Boeing harus mengikuti kemauan EASA, selain lobi-lobi politik tentunya, mengingat kedua perusahaan (Boeing dan Airbus) merupakan representatif dari dua kekuatan dunia, AS dan Eropa.

Leave a Reply