Miris, Ternyata Kehadiran 777 dan 787 Jadi Biang Kerok Boeing 767 Tak Laku Dipasaran

0
Boeing 767 Delta Airlines. Foto: v1images Aviation Media

Sepak terjang Boeing di pasar pesawat widebody melambung usai Boeing 747 beroperasi pada dekade 70an. Meski demikian, mereka tak lupa daratan dan ketika itu berencana mengembangkan pesawat widebody twinjet yang lebih kecil dari Queen of the Skies. Belakangan itu dikenal sebagai Boeing 767.

Baca juga: Hari Ini, 28 Tahun Lalu, Airbus A330 Sang Penantang Boeing 767 Terbang Perdana

Awalnya, kehadiran pesawat widebody dengan lebar pesawat terkecil itu cukup mentereng. Prediksi Boeing bahwa maskapai membutuhkan widebody yang lebih kecil benar adanya. Kiprah Boeing 767 terus mentereng sampai 1994 atau 13 tahun setelah terbang perdana.

Usut punya usut ternyata, penyebab kegagalan Boeing 767 bertahan lebih lama di pasaran lantaran kehadiran pesawat Boeing itu sendiri, yaitu Boeing 777. Hal itu kemudian diperparah dengan hadirnya Boeing 787 Dreamliner pada 2011. Mengapa demikian?

Dilansir Simple Flying, di awal ide pengembangan, pasar yang akan dimasuki Boeing 767 memang tak terlalu ramai. Bahkan bisa dibilang belum ada. Ketika itu, maskapai dihadapi dengan pilihan pesawat jumbo melalui Boeing 747 serta sedikit di bawahnya, yaitu Lockheed L-1011 ‘TriStar’ dan McDonnell Douglas DC-10.

Tak lama ide pengembangan Boeing 7×7, yang pada akhirnya dikenal sebagai Boeing 767, muncul, Airbus mulai menunjukkan taji pesawat Eropa lewat A300. Menariknya, segmen pasar yang dimasuki A300 merupakan segmen yang sama dengan yang akan dijajaki Boeing. Sampai di sini, tentu saja Boeing kalap. Terlebih, ketika itu, pabrikan pesawat Amerika Serikat itu juga mengembangkan Boeing 757.

Kendati demikian, Boeing 767-200, model pertama pesawat itu, akhirnya resmi melakukan penerbangan perdana pada 1981, dan segera mendapatkan banyak pesanan, salah satunya United Airlines. Tak lama berselang, Boeing mengembangkan varian yang lebih jauh, Boeing 767-200ER (salah satunya dioperasikan El Al), disusul varian 767-300 (dioperasikan Japan Airlines), 767-300ER, dan ditutup dengan peluncuran Boeing 767-400ER.

Bahkan, Boeing sempat ingin mengembangkan varian dengan jangkauan lebih jauh lagi melalui 767-400ERX. Sayangnya itu dibatalkan.

Sebagai gantinya, Boeing mengembangkan apa yang disebut sebagai 767-X. Ini pertama kali dilakukan pada tahun 1986, bersamaan dengan munculnya 767-300. Ketika itu, respon pasar, dalam hal ini maskapai, cukup bagus dan membuat Boeing lebih bersemangat dalam menyelesaikannya.

Dua tahun kemudian, Boeing mengubah desain 767-X menjadi jenis twinjet baru yang kemudian dikenal sebagai seri 777. Triple Seven tercatat melakoni penerbangan perdana pada 12 Juni 1994 dan memasuki tahun layanan bersama United Airlines setahun setelahnya. Dari sinilah gempita Boeing 767 mulai berkurang, terkukung oleh masa depan cerah seri 777.

Andai saja ketika itu Boeing tetap memperkenalkan pesawat baru itu dalam keluarga Boeing 767, mungkin ceritanya akan berbeda. Kondisi itu semakin diperparah dengan penerbangan perdana Boeing 787 Dreamliner pada 15 Desember 2009 dan diperkenalkan dua tahun setelahnya.

Baca juga: Boeing 767, Pesawat Widebody dengan Lebar ‘Terkecil’ di Dunia

Dreamliner dinilai memiliki banyak kemiripan dan memiliki kapasitas kursi yang sama dengan beberapa varian dari keluarga Boeing 767. Ini yang kemudian benar-benar membuat produksi keluarga 767 versi penumpang mentok diangka 1.200 unit. Sebuah pertanyaan besar tentunya mengapa Boeing meluncurkan pesawat baru yang bersaing dengan pesawat lain buatannya.

Meski begitu, produksi Boeing 767 masih terus berjalan, khususnya pada varian kargo. Bahkan, dari data backlog Boeing, ada sekitar 97 pesanan 767F atau Freighter yang belum dikirim Boeing. Selain itu, Boeing 767F yang ada juga selalu sibuk terbang ke seluruh dunia dengan rata-rata 10 jam per hari.

Leave a Reply