Backlog A320neo Buat Airbus Selamat dari Krisis Imbas Wabah Corona
Stasiun JIS Beroperasi Juni, Masyarakat Senang Punya Alternatif Akses Transportasi KRL
Stasiun Commuter Line saat ini tengah menjadi sorotan media dan publik. Apalagi sudah banyak yang mengabadikan momen khusus sebelum dioperasikan. Ya, berada di jalur rute Stasiun Tanjung Priok dan Stasiun Jakarta Kota stasiun ini digadang-gadang akan bermanfaat bagi masyarakat yang bisa turun dan naik di kawasan tersebut apalagi saat pertandingan atau acara khusus yang menggunakan stadion yang terbesar di Indonesia tersebut.
Stasiun Jakarta International Stadium atau lebih dikenal dengan singkatan JIS ini semakin viral di media sosial. Pasalnya pembangunan tersebut sedang tahap penyelesaian. Ini karena Stasiun JIS menargetkan akan beroperasi untuk masyarakat pada Juni 2026. Penampakan stasiun yang terdiri dari panjangnya peron untuk naik turun penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) terlihat, bahkan jembatan penghubung dari stasiun menuju area stadion pun sudah cukup rapi.
Dari informasi yang beredar bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta bersama PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) masih terus merampungkan pembangunan Stasiun KRL Jakarta International Stadium (JIS). Tentunya kehadiran Stasiun JIS ini pun disambut rasa senang oleh sejumlah masyarakat.
Selain itu, kehadiran Stasiun JIS yang melayani rute Tanjung Priok – Jakarta Kota maupun sebaliknya, membuat masyarakat memiliki banyak pilihan transportasi umum saat bepergian. Tak hanya itu akses yang mudah dan fasilitas sebagaimana stasiun KRL lainnya bisa dinikmati penumpang.
Stasiun yang berada di tepi ruas Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara, posisinya memang tepat bersebelahan dengan Stadion JIS. Berbagai akses untuk masuk dan keluar stasiun, bangunannya pun sudah berdiri utuh dengan atap dan tiang-tiang penyangga yang dibuat senada dengan warna abu-abu.
Pagar di bangunan akses masuk stasiun juga sudah terpasang. Sama halnya juga dengan akses tangga yang nanti akan langsung menghubungkan stasiun ini dengan Stadion JIS. Bagian atap tangga serta tiang pengamanan serta dinding besi sudah terpasang rapi.
Dari keterangan sebelumnya yang telah dikatakan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan pembangunan Stasiun JIS memasuki tahap akhir. Setelah dilakukan pembahasan bersama PT KAI, stasiun baru tersebut ditargetkan rampung pada Mei dan mulai beroperasi pada Juni 2026.
Menurut VP Corporate Secretary PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter), Karina Amanda menjelaskan Stasiun JIS saat ini masih terus dilakukan penyelesaian infrastruktur oleh Pemprov DKI dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA). KAI Commuter selaku operator sarana Commuterline akan terus mendukung operasional Stasiun JIS.
Menurutnya, pengembangan konektivitas menjadi kunci untuk mengatasi persoalan utama JIS, yakni kemacetan. Pasalnya, kata Pramono setiap kali digelar pertandingan sepak bola maupun konser berskala besar, JIS selalu dikeluhkan macet. Apalagi operasional Stasiun JIS bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) DKI Jakarta yang jatuh pada 22 Juni mendatang. Dengan demikian, masyarakat nantinya bisa menggunakan KRL untuk berpergian saat menghadiri acara yang digelar Pemprov DKI.
Stasiun JIS Bisa Beroperasi Juni 2026 Mendatang, Ini Manfaatnya
Menghindari Risiko Tertabrak Kereta, KAI Mulai Menutup Perlintasan Sebidang di ‘Red Line’
Kejadian yang nahas beberapa waktu lalu di perlintasan sebidang kawasan Jalan Ampera, Bekasi, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) khususnya Commuter terus memeriksa perlintasan sebidang yang kini telah diputuskan untuk dilakukan penutupan. Hal tersebut sudah dijalankan guna terhindar dari hal serupa yakni tertabrak kereta api di perlintasan yang tidak resmi maupun tidak dijaga. Bahkan beberapa lintasan kereta api di Jabodetabek tengah dilakukan penutupan salah satunya di Jalur Bogor atau jalur ‘red line’.
Adapun lokasi d jalur Bogor tersebut berada di area yang padat dengan masyarakat yang lalu lalang menyeberang rel kereta api, baik pejalan kaki maupun pengendara roda dua. Penutupan perlintasan sebidang liar tersebut berlokasi di kawasan RT 01 dan RT 03 antara Stasiun Cawang dan Stasiun Tebet. Penutupan ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api maupun warga sekitar.
Menurut Deputi 2 Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta Deddy Hendrady menjelaskan penutupan perlintasan liar memang menjadi program rutin KAI setiap tahun. Langkah itu diambil karena tingginya angka kecelakaan di lokasi perlintasan liar. KAI pun mendapat tugas dari pusat untuk menutup sekitar 40 perlintasan liar. Mayoritas perlintasan yang ditutup memiliki lebar kurang dari dua meter dan tidak dilengkapi penjaga.
Penutupan ini tentu demi menjaga keselamatan perjalanan kereta api dan masyarakat. Pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait penutupan perlintasan tersebut. Menurutnya, masyarakat mendukung langkah yang diambil dengan baik. Karena ramainya perjalanan kereta tiap hari di jalur tersebut cenderung khawatir jika ada insiden serupa yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan terganggunya perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL).
Selain lokasi antara Tebet – Cawang, masih di jalur yang sama rencana penutupan akan dilakukan di area Pasar Anyar, Bogor. Lokasi perlintasan ini berdekatan dengan Stasiun Bogor. Menurut pemerintah setempat, nantinya mematangkan rencana penutupan perlintasan KRL di Pasar Anyar, Bogor tersebut. Langkah ini disiapkan untuk meningkatkan keselamatan lalu lintas.
Rencana penutupan itu menjadi perhatian serius setelah terjadinya kecelakaan kendaraan yang tertabrak kereta api di salah satu lokasi perlintasan. Pemerintah menilai keberadaan lintasan sebidang di kawasan padat aktivitas memiliki tingkat risiko tinggi terhadap pengguna jalan maupun perjalanan kereta.
Hal ini membuat Wali Kota Bogor, Dedie Rachim menyampaikan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih aman dan tertib di Kota Bogor. Selain penutupan di perlintasan Pasar Anyar, lokasi selanjutnya berada di Perlintasan Kebon Pedes.
Selain faktor keselamatan, kebijakan ini juga diharapkan mampu memperbaiki kelancaran arus lalu lintas di pusat kota yang selama ini sering mengalami kepadatan saat kereta melintas. Sebagai solusi atas penutupan akses perlintasan, Pemerintah Kota Bogor telah menyiapkan sejumlah infrastruktur pendukung. Salah satunya adalah pembangunan jembatan khusus bagi pengendara sepeda motor dan pejalan kaki di kawasan Pasar Anyar.
Usai Tragedi Fatal Terjadi di Bekasi Timur, KAI Akhirnya Menutup 29 Perlintasan Sebidang di Jawa dan Sumatera, Ini Lokasinya
Uji Coba Palang Pintu Elektronik di Jalan Ampera, Petugas Masih Terus Berjaga di Lokasi Perlintasan
Jalan Ampera, Bekasi masih terus menjadi sorotan media dan masyarakat. Pasca insiden yang terjadi pada 27 April 2026 lalu membuat banyak komentar warga net yang berseliweran di media sosial, termasuk sorotan palang pintu perlintasan di jalan yang dekat dengan Stasiun Bekasi Timur tersebut.
Semula memang berbagai informasi yang diterima bahwa perlintasan Jalan Ampera hendak ditutup, namun keputusan itu sulit diambil lantaran membutuhkan pertimbangan matang terkait dampak sosial dan kelancaran arus lalu lintas di area tersebut. Apalagi jika ditutup, justru nanti jalan nasionalnya pastinya terganggu.
Dari hal tersebut, evaluasi tentu terus dilakukan hingga akhirnya perlintasan Ampera tetap digunakan dan kini menggunakan palang pintu elektronik yang sudah terpasang. Pemasangan palang otomatis itu bagian dari percepatan penanganan perlintasan sebidang yang juga dilakukan di daerah lain.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan percepatan penataan perlintasan saat ini menjadi bagian penting dalam penguatan sistem keselamatan transportasi berbasis risiko. Karena itu penanganannya perlu dilakukan lebih cepat, terukur, dan terintegrasi agar ruang keselamatan di lapangan semakin baik.
Palang pintu perlintasan baru yang saat ini masih dalam tahap penyempurnaan dan uji coba operasional sebagai bagian dari penguatan pengamanan perjalanan kereta api dan pengguna jalan. Sempat juga dilakukan percobaan perdana saat kereta api melintas, palang pintu tersebut dinyalakan mulai dari lampu, suara sirene, hingga palang yang bisa tertutup dan terbuka.
Selama proses penyempurnaan fasilitas di kawasan Ampera berlangsung, pengamanan perjalanan kereta api masih dilakukan menggunakan palang pintu lama yang tetap difungsikan. Selain itu, pengamanan sementara juga didukung melalui swadaya masyarakat sambil menunggu pembangunan pos jaga dan penempatan petugas resmi.
Anne menambahkan, kolaborasi di lapangan menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan selama proses peningkatan fasilitas berlangsung. Keberadaan fasilitas keselamatan juga perlu diikuti dengan disiplin pengguna jalan saat melintas di area perlintasan. Seperti halnya tidak menerobos palang pintu, berhenti sejenak, tengok kanan dan kiri, serta memastikan kondisi aman sebelum melanjutkan perjalanan.
Tentunya, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) bersama pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan di berbagai wilayah berupaya meningkatkan keamanan pengguna jalan di titik-titik perpotongan jalur rel dan jalan raya. Serta mengajak masyarakat berperan aktif dalam menjaga keselamatan di kawasan perlintasan kereta api dengan tidak membuat perlintasan liar karena dapat mengganggu jarak pandang masinis serta meningkatkan risiko kecelakaan.
Cegah Bahaya di Perlintasan Kereta Api, Yuk Simak Tips Aman Berikut Ini
Keliling Eropa Makin Gampang! Komisi Eropa Siapkan Aturan Tiket Kereta Terpadu Lintas Negara
Komisi Eropa secara resmi mengusulkan serangkaian aturan baru yang ambisius untuk menciptakan ekosistem perjalanan kereta api lintas batas yang lebih mulus dan terintegrasi di seluruh benua. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya besar untuk menjadikan kereta api sebagai moda transportasi pilihan utama yang mampu menyaingi efisiensi pesawat terbang, sekaligus mendukung target keberlanjutan lingkungan di Eropa.
Melalui proposal ini, hambatan administratif dan teknis yang selama ini menyulitkan penumpang saat berpindah antarnegara diharapkan dapat segera teratasi melalui standarisasi sistem yang lebih modern.
Salah satu poin utama dalam usulan ini adalah penyederhanaan sistem pemesanan tiket terpadu atau through-ticketing. Selama ini, penumpang kereta di Eropa sering kali harus membeli tiket terpisah dari operator yang berbeda saat melakukan perjalanan lintas negara, yang berisiko pada hilangnya hak penumpang jika terjadi keterlambatan pada salah satu koneksi.
Dengan aturan baru ini, Komisi Eropa mendorong adanya perlindungan penumpang yang lebih kuat dan transparansi data jadwal perjalanan secara real-time. Hal ini akan memungkinkan penumpang untuk membeli satu tiket tunggal untuk perjalanan jauh yang melintasi beberapa negara sekaligus dengan jaminan koneksi yang lebih pasti.
Selain aspek tiket, proposal ini juga menyoroti pentingnya standarisasi infrastruktur digital dan operasional di seluruh jaringan kereta api Eropa. Komisi Eropa menekankan bahwa sinkronisasi data antar operator sangat krusial untuk mengoptimalkan kapasitas lintas batas yang sering kali terhambat oleh perbedaan sistem teknis di tiap negara. Dengan adanya akses data terbuka yang lebih baik, penyedia layanan pihak ketiga atau aplikasi perjalanan dapat menawarkan rute yang lebih bervariasi dan kompetitif bagi pengguna jasa transportasi kereta api.
Inisiatif ini disambut baik sebagai langkah konkret dalam mewujudkan visi “Single European Railway Area”. Jika aturan ini disahkan, para penumpang tidak lagi perlu khawatir dengan kompleksitas birokrasi perjalanan internasional di Eropa. Transformasi ini diprediksi tidak hanya akan meningkatkan jumlah pengguna kereta api secara signifikan, tetapi juga mendorong persaingan sehat antar operator yang pada akhirnya akan memberikan keuntungan lebih bagi para penumpang dalam hal harga dan kualitas pelayanan.
Ujung Penantian Enam Tahun: Brand Asiana Airlines Resmi Berhenti Beroperasi pada Desember 2026
Industri penerbangan global segera menjadi saksi berakhirnya era salah satu maskapai full service terbaik asal Korea Selatan, Asiana Airlines. Setelah melalui proses negosiasi dan persetujuan regulator yang berlarut-larut selama hampir enam tahun, Korean Air secara resmi mengonfirmasi tanggal integrasi penuh kedua maskapai tersebut pada 17 Desember 2026.
Keputusan ini diambil setelah jajaran direksi kedua maskapai memberikan lampu hijau pada pertengahan Mei 2026. Integrasi ini menandai langkah final dari akuisisi yang pertama kali diumumkan pada tahun 2020 sebagai upaya menyelamatkan Asiana Airlines dari krisis finansial yang diperburuk oleh pandemi Covid-19.
Hilangnya Identitas “Red Arrow” Mulai Desember 2026, nama dan brand Asiana Airlines akan sepenuhnya dihapus. Hal ini mencakup perubahan identitas visual secara menyeluruh, mulai dari pengecatan ulang livery pesawat, penggantian logo di loket check-in bandara, hingga penyatuan sistem manajemen operasional di bawah bendera Korean Air.
Secara teknis, proses ini juga berarti Asiana Airlines akan meninggalkan aliansi Star Alliance untuk bergabung dengan SkyTeam, mengikuti jejak induknya. Para penumpang setia Asiana (Asiana Club) nantinya akan dialihkan ke program loyalitas milik Korean Air, yaitu SKYPASS.
Meski tanggal pernikahan kedua maskapai telah ditetapkan, perjalanan menuju integrasi penuh masih menyisakan beberapa “pekerjaan rumah”. Saat ini, serikat pilot dari kedua maskapai masih terus berdiskusi mengenai penyesuaian senioritas pilot, terutama bagi mereka yang memiliki latar belakang militer.
Selain itu, sebagai syarat persetujuan dari otoritas persaingan usaha di Eropa (UE) dan Amerika Serikat, Korean Air harus merelakan beberapa rute strategisnya di wilayah tersebut, termasuk menyerahkan divisi bisnis kargo Asiana Airlines kepada Air Incheon. Hal ini dilakukan guna mencegah monopoli pasar pada rute-rute gemuk menuju Eropa dan Amerika Utara.
Dengan penggabungan ini, Korean Air diprediksi akan menjadi maskapai terbesar ke-12 di dunia berdasarkan kapasitas internasional. Fokus utama dari entitas gabungan ini adalah memperkuat posisi Bandara Internasional Incheon sebagai hub transit global yang dominan di Asia Utara.
Selain maskapai utama, anak perusahaan bertarif rendah (LCC) milik kedua grup—yakni Jin Air, Air Busan, dan Air Seoul—juga direncanakan akan melebur menjadi satu entitas besar di bawah brand Jin Air pada awal tahun 2027.
Bagi para penumpang, integrasi ini menjanjikan efisiensi jadwal penerbangan dan konektivitas yang lebih luas melalui jaringan gabungan Korean Air dan mitra joint venture-nya seperti Delta Air Lines. Namun, di sisi lain, hilangnya kompetisi di pasar domestik Korea Selatan tetap menjadi perhatian bagi para pengamat industri terkait potensi kenaikan harga tiket di masa depan.
Akuisisi Asiana, Korean Air Tampilkan Corak dan Logo Baru
