Demam “Kiki Challenge” Landa Pengguna MRT Singapura

Demam Kiki Challenge terus berlanjut hingga kini, dimana untuk melakukan tantangan itu harus turun dari mobil yang bergerak dan menari mengikuti lagu In My Feelings dari single terbaru superstar Kanada. Namun challenge ini kemudian dibuat berbeda oleh salah seorang warga Singapura. Baca juga: Dua Pria Terlibat Duel Sengit di Gerbong SMRT, Kepolisian Masih Selidiki Penyebabnya KabarPenumpang.com melansir dari laman latestly.com (10/8/2018), bahwa pria tersebut melakukan hal berbeda dari pelaku challenge yang biasanya menggunakan mobil mereka. Tetapi tidak dengan pria muda tersebut yang menari dan mengikuti pergerakan MRT di Singapura. Thomas Blysk Kopankiewicz yang juga seorang pengguna Facebook, baru-baru ini mengunggah video dimana saat dirinya menari untuk mengikuti Kiki Challenge. Thomas saat itu turun di salah satu stasiun MRT Singapura, kemudian menari hingga pintu kereta tertutup dan ikut mengejar pergerakan kereta tersebut. Bahkan videonya sendiri sudah tayang 100 ribu kali hingga 10 Agustus 2018 ini di Facebook. Sayangnya karena di anggap membahayakan beberapa negara sudah melarang adanya Kiki Challenge tersebut, salah satunya di India. Tiga orang anak muda bernama Shyam Sharma, Dhruv dan Nishant diamankan karena melakukan Kiki Challenge saat kereta api India bergerak dan diamankan serta diberi hukuman membersihkan Stasiun Vasai atas hukuman yang diberikan oleh pengadilan di distrik Palghar Maharashtra. Seorang petugas Dinas Perlindungan Kereta Api mengatakan, ketiganya diamankan saat berada di Stasiun Vasai dan melakukan tantangan tersebut. Baca juga: Nyaris Celakakan 1.000 Penumpang, Tujuh Petugas Kereta Api India Diganjar Sanksi Berat! Penangkapan ketiganya tersebut adalah keputusan yang diambil pihak kepolisian India, karena ini bisa menjadi sebuah ancaman untuk keselamatan mereka. Bahkan pihak kepolisian India sendiri menulis di akun Twitter mereka “Bukan hanya risiko bagi Anda, tetapi tindakan Anda dapat membahayakan nyawa orang lain. Menolak dari gangguan publik atau menghadapi musik!” Bukan hanya itu, ternyata Kiki Challenge ini sudah menyebabkan terjadinya banyak kecelakaan. Belum lama ini, seorang komdiean yang terkenal di media sosia, Shiggy mengatakan, bahwa dia tidak mendukung orang-orang yang melompat keluar dari mobil dan bergerak untuk melakukan tantangan.

Marak Pelecehan Terhadap Wanita, Otoritas Panchkula Pasang Panic Button di Halte Bus

Maraknya tindakan pelecehan terhadap wanita yang terjadi di India – tepatnya di sarana transportasi bus, memaksa salah satu otoritas keamanan di Panchkula untuk memasang “Panic Button” di setiap halte bus di seluruh kota. Tidak hanya memasang fitur tersebut, namun badan sipil tersebut juga mengatakan akan merenovasi semua halte yang kondisinya amburadul sekarang. Dengan begitu, diharapkan tingkat pelecehan seperti ini dapat berkurang secara bertahap. Baca Juga: Tombol SOS Dinilai Tak Ampuh Entaskan Kejahatan di Transportasi Online Sesuai dengan namanya, “Panic Button” ini bisa ditekan oleh siapa saja manakala ada satu kondisi yang mengancam keselamatan mereka. Sebagaimana data yang berhasil dikumpulkan KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, nantinya tombol ini akan terhubung langsung dengan pos polisi setempat, “dan petugas bisa langsung mendatangi lokasi dimana tombol tersebut ditekan,” ungkap Komisaris Kota Panchkula, Rajesh Jogpal, dikutip dari laman indiatimes.com (8/8/2018). Tidak hanya “Panic Button” saja yang rencananya akan ada di halte senilai Rs5 lakh (Rp105,2 juta) ini, namun pemerintah juga akan memasangkan kamera CCTV agar setiap penumpang wanita dan anak-anak yang hendak naik bus dari halte tersebut akan merasa lebih diawasi oleh pihak berwajib. “Langkah ini diambil untuk membatasi aksi kejahatan seperti menggoda wanita di tempat umum. Ditambah peremajaan halt bus yang dalam beberapa tahun belakangan ini kerap diprotes oleh warga,” tutur Rajesh dalam sebuah pernyataan. “Setiap wanita atau anak-anak yang menjadi korban kejahatan dapat kapan saja menekan Panic Button, dan alarm di ruang kontrol polisi akan berbunyi. Dengan begitu memungkinkan polisi untuk bertindak cepat menindaklanjuti masalah tersebut. Ini akan membuat para pelaku kejahatan untuk berpikir dua kali sebelum melakukan aksinya, dan membuat kota lebih aman bagi Kaum Hawa,” imbuh Rajesh. Sementara itu peran dari CCTV, tambah Rajesh, akan memudahkan pihak kepolisian untuk mengindentifikasi pelaku kejahatan yang melarikan diri. Baca Juga: Terdesak Isu Rasisme, Wanita Ini ‘Terpaksa’ Tarik Tombol Darurat di Kereta Bawah Tanah Mendengar kabar tersebut, sejumlah wanita yang menjadi pelanggan setia layanan bus di India merasa diperhatikan dan dihargai oleh pemerintah setempat. “Sebagai penumpang wanita, saya sangat menyambut rencana pemerintah dalam pemasangan Panic Button,” tutur Manisha Jindal, salah seorang pelanggan setia layanan bus di sana. Senada dengan Manisha, seorang mahasiswi dari Government College for Girls, Panchkula, Rajni Bala mengatakan, “langkah ini (pemasangan Panic Button) akan menyelamatkan kami dari pria hidung belang yang selalu membuat kami resah.”  

KRL Jabodetabek Dulu dan Sekarang

Perubahan pada kereta rel listrik (KRL) terlihat sangat signifikan dan membuat penumpang lebih antusias menggunakannya. Namun, apakah masih ada yang mengingat saat generasi KRL ekonomi mengular di rel Jabodetabek dengan pedagang asongan hingga atapers? Baca juga: Atapers, Para Penantang Maut dari Atas Gerbong Sayangnya hal ini juga tak bisa dilupakan begitu saja, sebelum menjadi lebih baik seperti sekarang banyak sekali kenangan yang bisa di ingat tetapi sedikit menakutkan jika dikenang. KabarPenumpang.com mengingatkan pada para pembaca di masa jayanya dulu, untuk menaiki KRL ekonomi menggunakan karcis kertas dan disobek serta dikembalikan kepada petugas saat akan keluar dari stasiun. Kemudian peron yang penuh dengan asap rokok karena belum ada larangan merokok di dalam peron ataupun KRL. Tak hanya itu, penumpang pun bisa padat merayap di dalam gerbong bahkan bergelantungan dekat pintu. Para penumpang juga terkadang nekat memanjat gerbong melalui jendela untuk naik ke atap demi ikut kereta tersebut meski membahayakan nyawanya sendiri. Pedagang asongan pun tak kalah saing untuk menaiki kereta dan menjajakan dagangannya di dalam kereta meski berjejalan denga penumpang lain. Untungnya semakin lama KRL Jabodetabek semakin menjadi lebih baik dari kenyamanan dalam kereta hingga peron di stasiunnya. Fasilitasnya pun seperti toilet, gate atau gerbang dan loket serta mesin pembelian tiket tampak tertata dengan rapi. Tak hanya itu, percayalah, bila Anda ketahuan merokok di peron, maka petugas akan mendatangi dan menegur untuk segera mematikan rokok. PKD atau Petugas Keamanan Dalam pun selalu siap membantu penumpang baik itu menjaga keselamatan maupun menjadi tempat informasi tujuan keberangkatan kereta. Kini, wajah stasiun dan KRL sudah berubah jauh bahkan di KRL pun tak lagi terlihat para atapers dan pedagang asongan. Kereta yang digunakan juga sudah dilengkapi dengan pendingin udara. Untuk masuknya pun menggunakan kartu ataupun gelang yang sudah dimodifikasi sebagai alat pembayaran yang sah. Baca juga: Kereta Api Langsam, Punya Sebutan ‘Distributor’ Pupuk Hingga Go Green Memang lebih nyaman dan tak ada preman yang masuk dalam KRL masa kini, hanya saja masih berkeliaran beberapa copet. Sehingga para penumpang mau tak mau harus menjaga barang bawaan mereka masing-masing. Permasalah lainnya pun masih banyak kereta yang kurang untuk melayani beberapa relasi, bahkan ketepatan waktu kedatangan dan keberangkatan sering kali tak sesuai. Namun, meski begitu, Vice President of Corporate Communication PT KCI Eva Chairunisa menjamin terkait peningkatan kaasitas ataupun pelayanan KRL termasuk menambah jumlah gerbong untuk kenyamanan penumpang yang semakin hari semakin bertambah.

Guangshen’gang XRL Hubungkan Hong Kong – Guangzhou dengan Kecepatan 350 Km Per Jam

Kurang lebih satu bulan lagi, warga Cina akan kehadiran moda transportasi baru yang sudah semenjak lama dinantikan. Adalah jaringan kereta berkecepatan tinggi (Guangshen’gang XRL) yang akan menghubungkan Hong Kong dengan wilayah Cina daratan di Shenzhen dan Guangzhou. Baca Juga: Mau Melancong ke Hong Kong? Ada 8 Tips Penting untuk Pemula Rencananya kereta cepat ini akan mulai beroperasi pada 23 September mendatang. Usut punya usut, waktu tempuh antara dua kota tersebut akan menyusut menjadi 14 menit saja – kelak, ketika jaringan ini sudah mulai beroperasi. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thatsmags.com (9/8/2018), adapun wktu tempuh kedua kota saat ini adalah 48 menit, lebih cepat 1 jam 12 menit dari layanan terdahulunya. Jaringan kereta ini sendiri memiliki beberapa perhentian, seperti Stasiun Futian, Stasiun Shenzhen North, Stasiun Guangmingcheng di Shenzhen, Stasiun Humen di Dongguan, Stasiun Qingsheng dan Stasiun Guangzhou South di Distrik Panyu, Guangzhou. Hadirnya jaringan kereta cepat baru ini juga memungkinkan para penumpang untuk terkoneksi dengan jaringan kereta cepat Cina, dimana bagi mereka yang hendak bertolak menuju Wuhan, akan menghabiskan empat jam total waktu perjalanan dengan menggunakan kedua jaringan kereta cepat ini. Mengingat jarak antar kedua kota yang tidaklah dekat (Shenzhen – Guangzhou terbentang sekitar 143 km), maka banyak pihak yang memperkirakan harga dari jaringan kereta cepat baru ini cukup mahal. Berdasarkan laporan yang dirilis oleh pihak operator pada bulan Januari silam, tarif termahal dari kereta ini (Hong Kong South – Guangzhou) adalah HKD260 atau yang setara dengan Rp480.000. Sedangkan tarif dari Futian menuju Shenzhen North dijual dengan harga HKD80 atau berkisar Rp147.500. Sementara untuk perjalanan dari Humen – Hong Kong akan dikenakan tarif HKD210 atau berkisar Rp387.000. Baca Juga: Tembus Pegunungan Qinling, Cina Luncurkan Kereta Cepat Lintasi Wilayah Utara dan Selatan Sebenarnya, pengadaan jaringan kereta cepat ini sudah dicanangkan oleh Pemerintah Hong Kong sejak akhir tahun 1990. Lalu berkembang ke tahun 1994, dimana Regional Express Railway (RER) melakukan sebuah studi untuk mempertimbangkan sejumlah poin, diantaranya adalah unsur kelayakan dan perkiraan pertumbuhan jumlah penduduk dalam dua dekade ke depan. Namun karena satu dua hal, akhirnya sejumlah pihak terkait terpaksa menunda pembangunan karingan kereta cepat ini hingga pada tahun 2004 silam, pembangunan pun mulai digalakkan di jalur Wuhan – Guangzhou. Adapun kecepatan yang mampu ditempuh oleh kereta ini adalah 350 km per jam.    

Low Cost Carrier Terminal Akan Hadir di Terminal 1 dan 2 Bandara Soetta

Low Cost Carrier Terminal (LCCT) akankah hadir untuk maskapai berbiaya rendah di Indonesia? Belum lama ini, AirAsia Indonesia mendorong pemerintah untuk membuat atau mengadakan terminal khusus bagi maskapai berbiaya rendah agar airport tax atau Passenger Service Charge (PSC) bisa turun dan harga tiket lebih murah. Baca juga: Bandara Soekarno-Hatta Hadirkan “Hotel Kapsul” di Terminal 3 Domestik Sebab saat ini diketahui, PSC di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta Rp230 ribu. CEO AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan mengatakan, bila ada penurunan PSC dari Rp230 ribu menjadi Rp110 ribu biaya tersebut tidak dinikmati oleh maskapai melainkan penumpang. “Bila dengan acuan di Terminal 3 Bandara Soetta ada satu juta penumpang, jika PSC diturunkan menjadi Rp110 ribu maka kemungkinan akan ada tambahan penumpang sampai tiga juta. Lebih untung mana coba? Tentu itu akan win-win, praktis untuk pemerintah, airline, keuntungan buat pengelola AP II juga jadi lebih tinggi,” tutur Dendy yang dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com. Tak hanya menguntungkan dari tiket pesawat, bisnis non aeronautikal juga akan mendapatkannya. Dengan adanyaa dorongan dari AirAsia Indonesia, Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin angkat bicara dan memaparkan skema rencana untuk LCCT atau terminal khusus bagi maskapai berbiaya rendah di Bandara Soetta. Awaluddin mengatakan, LCCT akan berada di Terminal 1 dan 2 Bandara Soetta. “Prosesnya sekarang sudah dimulai, Terminal 1 jadi LCCT domestik, Terminal 2 jadi LCCT domestik dan internasional, lalu Terminal 3 jadi full service carrier domestik dan internasional.” Awalnya, AP II memang berencana untuk merevitalisasi Terminal 1 dan 2 dalam rangka menambah kapasitas penumpang per tahunnya. Tetapi belakangan melalui pemerintah dengan arahan Presiden Joko Widodo yang ingin meningkatkan industri pariwisata menugaskan AP II membuat LCCT. LCCT dinilai bisa meningkatkan jumlah wisatawan baik domestik maupun internasional, sebab harga tiket yang ditawarkan maskapai terbilang murah dan kompetitif. Sayangnya untuk mewujudkan itu semua, maskapai LCC membutuhkan terminal atau bandara khusus karena berpengaruh pada perhitungan harga tiket dengan salah satu didalamnya adalah PSC. “Kami asumsikan, (kapasitas penumpang per tahun) Terminal 1 dan Terminal 2 increase 100 persen jadi total 36 juta,” tutur Awaluddin. Baca juga: Tak Ada Pembagian Daerah, Angkasa Pura II Kini Kelola Bandara Banyuwangi Total anggaran yang dikeluarkan untuk membuat Terminal 1 dan 2 menjadi LCCT adalah Rp3,7 triliun, dengan rincian Rp1,9 triliun untuk Terminal 1 dan Rp1,8 triliun untuk Terminal 2. Semua biaya tersebut berasal dari internal AP II atau self financing. Rencananya, LCCT sudah bisa dioperasikan paling cepat akhir tahun ini dan paling lambat tahun 2019. Setelah membuat LCCT, AP II akan membangun Terminal 4 untuk mengakomodasi pertumbuhan pergerakan penumpang dan pesawat yang pertumbuhannya makin pesat.

Angkasa Pura I Bangun Base Ops dan Safe House di Lanud I Gusti Ngurah Rai

PT Angkasa Pura I dan TNI AU melaksanakan Penandatanganan Kesepakatan Bersama mengenai Pendayagunaan Aset Tetap Perusahaan untuk Pembangunan Relokasi Base Ops Lanud I Gusti Ngurah Rai serta Penandatanganan Perjanjian mengenai Penggunaan Bersama Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Pattimura Ambon sebagai Bandar Udara. Baca juga: Dongkrak Perekonomian Wilayah Purbalingga, Bandara JB Soedirman Siap Beroperasi di 2019 Pendatanganan Kesepakatan dan Perjanjian Kerjasama dilaksanakan oleh Direktur Sumber Daya Manusia & Umum PT AP I Adi Nugroho bersama Panglima Komando Operasi Angkatan Udara III Tamsil Gustari Malik di Ruang Rapat Novotel Bali Ngurah Rai Airport, Jumat (10/8) pagi. “Penandatangan kesepakatan bersama antara Angkasa Pura I dan TNI AU merupakan salah satu bentuk sinergi antar instansi yang dilandasi oleh semangat untuk meningkatkan sarana & prasarana di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali guna mendukung penyelenggaraan World Bank Group Annual Meeting 2018 yang dilaksanakan pada Oktober mendatang,” ujar Direktur SDM & Umum Angkasa Pura I, Adi Nugroho. Melalui Penandatanganan Kesepakatan Bersama ini Angkasa Pura I akan membangun bangunan Base Ops dan Safe House Lanud I Gusti Ngurah Rai sebagai bangunan pengganti Base Ops dan Safe House Lanud I Gusti Ngurah Rai yang terkena proyek pembangunan peningkatan kapasitas apron, yang terletak di sisi timur apron Bandara I Gusti Ngurah Rai. Adapun masa berlaku kesepakatan bersama ini adalah 2 (dua) tahun sejak ditandatangani. Operasi di Bandara Ngurah Rai kini telah berlangsung 24 jam, peningkatan kapasitas runway menjadi 33 penerbangan per jam dari yang semula 30 penerbangan, Rapid Exit Taxiway dari 3 menjadi 4. Selain itu Penandatanganan Perjanjian antara Angkasa Pura I dan TNI AU juga meliputi operasional penggunaan bersama Pangkalan TNI AU Patimura sebagai Bandar Udara dan Pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN) pada TNI AU di Pangkalan TNI AU Pattimura.

Mengintip Porsi dan Menu Sarapan di KM Dobonsolo

“Porsi nasinya banyak…,” demikian yang diutarakan Marco Ferrarese, seorang penulis wisata kenamaan asal Malaysia yang mengisahkan perjalanannya berlayar dari Makassar, Sulawesi Selatan menuju Sorong, Papua Barat dengan menumpangi kapal KM Dobonsolo milik PT Pelni. Baca juga: Pelni Hadirkan WiFi Gratis di 18 Armada Kapalnya Dalam tulisannya yang berjudul “Four Days, Three Night, 932 Miles and A Lot of Rice,” di roadsandkingdoms.com, Ferrarese dalam pelayaran empat hari tiga malam dengan menumpuh jarak 1.500 km menuju Raja Ampat, punya kesan tersendiri pada komposisi makanan pada saat sarapan, terlebih Ia berada di kelas ekonomi (wisata). Ferrarese menyebutkan, dalam tiket seharga Rp503.000, para penumpang kelas ekonomi mendapat tiga kali sehari makanan yang diberikan dalam kotak plastik yang sama. Komposisi makan terdiri dari nasi putih, sejumput sayuran berkuah, sepotong tempe, kepala ikan, sepotong biskuit crackers, dan segelas air mineral.
Marco Ferrarese
Yang paling berkesan adalah jumlah takaran nasi yang cukup banyak. Untuk makanan pun, penumpang kapal harus menunjukkan tiket mereka dan petugas akan memeriksa dan mencoretnya serta mengembalikan lagi tiket tersebut dengan kotak makanan. Jadwal makan pagi jam 6 pagi, makan siang jam 11, makan malam jam 5 sore. Dahulu, berlayar dengan kapal Pelni antre makan menggunakan piring kaleng ceper persegi panjang macam di penjara. Namun sekarang sudah menggunakan kemasan plastik semacam katering. Umumnya makanan yang diberikan terdiri dari menu ikan goreng, ikan kuah kuning dengan sayur kol atau bihun. Saat sarapan pagi, penumpang mendapatkan susu dan makan malam mendapat jus dalam botol. Baca juga: Garap Wisata Bahari, Pelni Canangkan Layanan Kapal Pesiar Di kelas ekonomi, penumpang tidur beramai-ramai dengan satu orang satu kasur dalam satu dek. Di bagian atas kasur ada tempat untuk menyimpan barang dan dua colokan untuk mengisi baterai alat elektronik.

PT MRT Jakarta Mulai Coba System Acceptance Test

Sebagai moda transportasi baru yang akan hadir di Jakarta pada 2019 mendatang PT MRT Jakarta tengah mempersiapkan diri sebaiknya. Tidak hanya meningkatkan mobilitas, tetapi PT MRT Jakarta juga akan memberikan manfaat tambahan bagi ibu kota. Baca juga: Listrik Telah Tersambung, MRT Jakarta Siap Uji Coba Wahana Selain menjadi solusi untuk mengatasi kemacetan dimana masyarakat melakukan perubahan gaya hidup dengan meninggalkan kendaraan pribadi dan menggunakan kendaraan umum, juga untuk memperbaiki kualitas udara. Apalagi belakangan kualitas udara ibu kota Jakarta buruk dan masuk dalam posisi lima besar dunia dengan kualitas udara terburuk. Kemarin, System Acceptance Test (SAT) mulai dicoba oleh PT MRT Jakarta menggunakan rangkaian kereta pertama yang kini sudah ada di Depo Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Uji coba pertama tesebut dilakukan untuk melihat sistem persinyalan kereta, telekomunikasi dan Overhead Catenary System (OCS) dengan menjalankan kereta MRT rangkaian pertama. Perjalanan kereta itu dimulai dari Depot Inspection Shed area, stabling track 1 hingga ke Depot Access Line (DAL). Uji coba ini sendiri juga dilakukan untuk melihat apakah pasokan listrik yang ada bekerja dengan baik. Uji coba yang dilakukan PT MRT Jakarta sendiri saat ini menggunakan mode Automatic Train Protection (ATP) dengan kendali manual oleh masini untuk track di area Depo. “Sore ini kita melihat kegiatan pengetesan SAT menggunakan rangkaian kereta pertama sekaligus mengecek pasokan listrik dan daya yang bekerja dengan baik. Uji coba ini telah sesuai dengan target MRT Jakarta bahwa 9 Agustus 2018 ini uji coba pertama dilakukan,” ujar Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar melalui keterangan pers yang diterima KabarPenumpang.com, Kamis (9/10/2018). Baca juga: Tidak Hanya dari Tiket, Inilah ‘Ladang-Ladang’ PT MRT Jakarta Raup Keuntungan Tak hanya itu, PT MRT Jakarta sendiri juga melakukan uji lanjutan lainnya yakni uji coba berkecepatan rendah, kecepatan medium dan kecepatan tinggi. Untuk pengoperasiannya kereta MRT Jakarta akan menggunakan sistem persinyalan Communication-based Train Control (CBTC) langsung dikendalikan dari ruang Operation Control Center (OCC) oleh Traffic Dispatcher. Kelebihan sistem persinyalan ini salah satunya memungkinkan pengaturan rentang waktu antarkereta di jalur utama diatur oleh Pusat Kendali Operasi atau OCC.

Banyak Pilihan Moda Transportasi, Mudahkan Melancong di Taiwan

Setiap mengunjungi suatu negara, kota ataupun pulau yang paling dipermasalahkan adalah transportasinya baik untuk menuju ke sana ataupun selama berada di sana. Namun berbeda dengan Taiwan, yang memiliki banyak pulau dengan ibu kotanya di Taipei. Baca juga: Disneyland Resort Line Hong Kong, Kereta Khusus dengan Nuansa Mickey Mouse KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Taiwan sendiri memiliki banyak moda transportasi yang bisa digunakan. Sehingga para pelancong yang berkunjung ke pulau Formosa ini tidak perlu takut saat menjelajahnya. Ya berikut ini ada beberapa moda transportasi darat yang bisa digunakan pelancong saat melakukan perjalanan di Taiwan selain menggunakan kendaraan sewaan atau taksi. 1. Taiwan High Speed Rail (THSR) Sistem kereta cepat ini sendiri menghubungkan sepuluh provinsi yang ada di Taiwan yakni dari utara ke selatan. THSR sendri populer dengan sebutan bullet train atau kereta peluru yang melintas di jalur sepanjang 345 km dan terus bertambah. Layanan kereta yang beroperasi pada Januari 2007 ini jalurnya bermula dari Nangnang dan melalui stasiun lainnya yakni Taipei-Banqiao-Taoyuan-Hsinchu-Miaoli-Taichung-Changhua-Yunlin-Chiayi-Tainan dan berhenti di stasiun Zhuoying Kaohsiung. Bila melakukan perjalanan dari Taipen menuju Kaohsiung dengan THSR ini hanya memakan waktu 1 jam 45 menit dari waktu normal 3-4 jam. 2. Mass Rapid Transit (MRT) Ketika pelancong berada di Taipei atau Kaohsiung, pilihan kereta lokal atau MRT adalah yang tepat. Pelancong bisa mendapatkan informasinya dengan mudah di stasiun, bandara atau toko 7-eleven. Tenang, bagi pelancong yang tidak bisa berbahasa Mandarin, mesin penjualan tiket, rambu dan peta juga tersedia dengan bahasa Inggris. Bila pelancong memilih untuk tinggal di Taipei sementara waktu bisa memiliki EasyCard untuk memudahkan dalam menggunakan angkutan umum yang bisa juga digunakan untuk bus dan taksi. 3.Taiwan Railway Administration (TRA) TRA sendiri memiliki tiga jakur utama yakni West Line, East Line dan South Link Line. West Line sendiri menghubungkan Pingtung-Kaohsiung-Taichung-Taipei dan Keelung. Eastern Line berangkat dari Shulin via Taipei dan Hualien menuju Taitung. Sementara South-Link Line menghubungkan Kaohsiung dan Taitung. Untuk TRA sendiri ada pilihan tiket yang bisa di beli oleh pelancong. Jika menggunakan keret Tze Chiang maka pilihan otomatis pada kelas eksekutif, kemudian Chua Kuang, kelas yang dipilih adalah bisnis. Sedangkan jika memilih kelas ekonomi adalah menggunakan Local Train. Baca juga: Bus Tanpa Awak Segera Beroperasi di Taiwan 4. Bus Selain kereta, di Taiwan pelancong juga bisa menggunakan bus yang siap melayani antar kota dan provinsi serta bus dalam kota. Armada bus yang melayani jarak jauh melewati kota-kota besar seperti Taipei, Taichung dan Kaohsiung. Bepergian dari Taipei ke Taichung bisa menggunakan Dragon Bus, U-Bus atau bus yang lainnya. Sedangkan perjalanan dari Taichung menuju Kaohsiung dapat ditempuh dengan Taichung Bus. Ada pula pilihan lain pada bus yang akan digunakan pelancong seperti bus wisata yang bisa dipilih namun harus memesan sebelum keberangkatan karena terkait dengan tempat penjemputan, rute serta jadwal yang di sesuaikan. Taipei Double Decker Hop-on Hop-off bus, untuk mendapat layanan bus ini, pelancong harus memesan e-tiket sebelum bepergian menggunakan bus tingkat satu ini. Layanan shuttle transportasi wisata juga memiliki jangkauan rute lebih luas, dengan total sekitar 40 rute. Beberapa rute paling diminati yaitu Yehliu Geopark, Jiufen, Nanzhuang, Sun Moon Lake, Alishan, dan Hengchun. Layanan ini berbasis eco-friendly, selain berwisata Anda pun dapat mendukung perlindungan alam. Jadwal dan tempat keberangkatan shuttle ini berbeda-beda sesuai paket dan rute yang diambil.

Berakhir Sebagai “Rumah Ikan,” Inilah Detik-Detik Dramatis Penenggelaman Kapal Ferry

Sebuah kapal ferry yang dioperasikan oleh Delaware River and Bay Authority (DRBA), Cape May-Lewes baru-baru ini menjadi sorotan publik dunia. Pasalnya kapal yang selama ini beroperasi di Teluk Delaware, Amerika Serikat tertangkap kamera kandas di sekitar Del-Jersey-Land Inshore Artificial Reef. Kapal ini sendiri diketahui karam pada Jumat (15/6/2018) kemarin. Baca Juga: Angkut 139 Penumpang dan Puluhan Kendaraan, KM Lestari Maju Tenggelam di Perairan Selayar Namun Anda jangan salah kaprah terlebih dahulu. Ternyata kapal ini memang sengaja ditenggelamkan untuk menciptakan karang buatan (artificial reef) di lokasi tersebut. Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, sejumlah pihak yakin bahwa Cape May-Lewes Ferry akan menyediakan habitat buatan untuk kehidupan mahkluk laut. Tidak hanya Motor Vessel (MV) seberat 2.100 ton ini saja yang ditenggelamkan di Del-Jersey-Land Inshore Artificial Reef. Sebelumnya, sudah ada dua kapal ferry lain yang juga telah menciptakan habitat buatan – pertama adalah USS Arthur W. Radford pada tahun 2011, yang disusul oleh kapal yang digunakan dalam perang Iwo Jima. “Diharapkan ini menjadi satu tambahan yang baik untuk kelangsungan ekosistem laut buatan di Del-Jersey-Land Inshore Artificial Reef. Dimana kelak ferry itu akan menambah keindahan yang bisa dilihat oleh para penyelam,” tutur salah satu pihak berwajib di sana. Seperti yang mungkin selama ini Anda pernah lihat di layar kaca, dimana sebuah kapal yang kandas lama kelamaan akan bertransformasi menjadi tempat tinggal para biota laut, seperti ikan, terumbu karang, dan lain-lain.
Dalam sebuah video yang diunggah ke laman Youtube, tampak ada tiga kapal kecil yang turut ‘mendampingi’ Cape May-Lewes Ferry sebelum dikandaskan. Kuat dugaan, kapal ini ditenggelamkan dengan menggunakan bahan peledak yang akan melubangi lambung kapal. Setelah itu air akan masuk memenuhi dek dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja sebelum kapal ini tenggelam dengan sendirinya. Baca Juga: Masalah Manifes, Bukti Carut Marutnya Layanan Pelayaran di Tanah Air Sebagai informasi tambahan, Cape May-Lewes Ferry sendiri mulai beroperasi pada 1 Juli 1964 dan menggantikan peran dari lima kapal uap yang beroperasi di Chesapeake Bay, yang menghubungkan Cape Charles dan Virginia Beach. Namun rute pengoperasoan dari kapal ferry ini digeser menuju Teluk Delaware seiring dengan pembukaan Chesapeake Bay Bridge-Tunnel.