Penumpang MRT Filipina ‘Kehujanan’ di Dalam Gerbong! Lho, Kok Bisa?

Jika kehujanan di ruang terbuka nampaknya sudah sangat biasa ya, namun apa jadinya Anda kehujanan di dalam kereta? Nah, gimana ceritanya? Ternyata pernyataan di atas baru-baru ini terjadi di Filipina, dimana penumpang prioritas layanan Metro Rail Transit Line 3 (MRT-3) terpaksa haurs menggunakan payung di dalam rangkaian kereta tersebut lantaran masalah pada bagian pendingin ruangan. Baca Juga: Jeepney, Angkot Khas Filipina Dengan Sejuta Ornamen Pelengkapnya Dilansir KabarPenumpang.com dari laman philstar.com (9/8/2018), kejadian ini terjadi di khusus wanita, anak-anak, orang tua, dan penyandang disabilitas. Kala itu, kereta tengah berada di antara stasiun MRT Boni di Mandaluyong dan Taft Avenue di Pasay. “Kendati kesal, namun beberapa diantara kami masih sempat mengolok-olok insiden konyol tersebut,” ujar salah satu penumpang di dalam rangkaian itu. Berita ini dengan cepat tersebar setelah salah seorang penumpang bernama Giselle Visitacion Tolosa yang kebetulan berada di dalam rangkaian tersebut mengabadikannya dalam bentuk video dan diunggah ke laman Facebook. Hingga berita ini diturunkan, video tersebut sudah ditonton lebih dari 654.000 kali dan dibagikan lebih dari 10.000 kali. Sampai-sampai, salah satu pengguna Facebook bernama Edgar Calbin Go mengatakan, “Inilah alasan kami lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi dan bermacet-macet ria ketimbang harus bepergian menggunakan layanan MRT,” Atas kejadian yang terjadi pada Selasa (7/8/2018) ini, Department of Transportation (DOTr) pun meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. “Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi akibat kebocoran pada sistem pendingin udara kami,” tutur Goddes Libiran, Communications Director di DOTr. Goddes beranggapan, kebocoran tersebut disebabkan oleh kondisi pendingin udara yang sudah termakan usia. “Terakhir, sistem pendingin udara di MRT diganti pada tahun 2008 silam, sebagai bagian dari perbaikan umum,” ujarnya dalam sebuah penyataan resmi. Baca Juga: Tak Angkut Penumpang, 500 Pengemudi Grab di Filipina Diganjar Sanksi Guna mencegah hal seperti ini terulang kembali, rangkaian yang disinyalir mengalami masalah pada bagian sistem pendingin udaranya ini lalu dibawa ke Depo MRT di Quezon City untuk diperbaiki. “42 dari 78 sistem pendingin udara yang dipesan oleh DOTr akan tiba pada bulan ini dengan nilai 116,5 juta Peso (Rp31,7 miliar).” tutupnya.  

Mudahkan Penumpang Penerbangan Internasional, Pemerintah Australia Izinkan Mobile Check In

Mobile check in kini dihadirkan pada penerbangan internasional oleh pemerintah Australia demi memudahkan penumpangnya. Kemudahan ini sendiri selain menghapus check in dan boarding pass fisik, juga untuk mengurangi waktu tunggu penumpang dalam antrian pemeriksaan baik imigrasi maupun gerbang keberangkatan. Baca juga: Gandeng Qantas Airways, Bandara Internasional Sydney Operasikan Fitur Face Recognition KabarPenumpang.com melansir dari laman airport-technology.com (7/8/2018), dengan adanya fasilitas mobile check in tersebut, maskapai penerbangan saat ini bisa mengeluarkan tiket boarding elektronik pada penerbangan internasional mereka. Sehingga penumpang saat akan melewati pemeriksaan gerbang dan imigrasi hanya tinggal menunjukkan e-boarding mereka yang ada di ponsel. Menteri Kewarganegaraan dan Urusan Multikultural Australia, Alan Tudge mengatakan, bahwa langkah tersebut diambil untuk menuju otomatisasi di perbatasan dan menjadi salah satu fokus utama bagi pemerintah. “Pada penghitungan keuangan akhir tahun lalu, lebih dari 21,4 juta wisatawan diberhentikan melalui perbatasan yang berangkat dari Bandara Internasional Australia. Jumlah ini juga akan terus meningkat. Peningkatan volume ini membuat kami selalu mencari cara untuk memudahkan pelancong secara efisien dan mencari yang menarik bagi penegak hukum,” ujar Tudge. Dia menambahkan dengan adanya perubahan seperti ini akan memotong atau mengurangi kebutuhan mengunjungi meja check in untuk menunjukkan paspor dan mengambil boarding pass. Sehingga langkah terbaru ini diatur untuk memungkinkan wisatawan bergerak melintasi perbatasan Australia dengan lebih lancar. Baca juga: Ikuti Tahapan Ini, Proses Check In dan Pemeriksaan Keamanan di Bandara Bakal Mulus Mobile boarding pass sendiri akan mendukung fasilitas lain, seperti SmartGates, yang menawarkan proses perbatasan yang lebih cepat dan lebih sederhana bagi para pelancong sambil menjaga keamanan perbatasan. Rata-rata, SmartGates menangani lebih dari 73 persen wisatawan yang berangkat dari Australia, sehingga mengurangi waktu pemrosesan dan mempromosikan kemudahan perjalanan. Baru-baru ini juga dilakukan beberapa uji coba yang sukses dilakukan oleh Departemen Dalam Negeri Australia dimana memungkinkan penumpang menggunakan boarding pass elektronik melalui ponsel mereka. Penumpang keberangkatan internasional pun kini disarankan untuk menghubungi maskapai yang mereka pilih terkait perubahan dan penerapan agar mendapat lebih banyak informasi.

Jelang Asian Games 2018, ASDP Operasikan Dermaga dan Layanan Ferry Eksekutif

Perhelatan olahraga se-Asia ke-18 yang akan berlangsung di Jakarta dan Palembang, membuat pemerintah pusat maupun daerah mempersiapkan yang terbaik seperti salah satunya moda transportasi dan fasilitasnya. Baru-baru ini Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno melakukan kunjungan ke Lampung dan meninjau dermaga eksekutif di Merak. Baca juga: Terombang-Ambing Selama Tujuh Jam, Penumpang Kapal Ferry ini Tidak Bisa Gunakan Toilet! Adanya kunjungan tersebut untuk memastikan layanan laut yang di lakukan PT ASDP Indonesia Ferry berjalan optimal untuk mendukung Asian Games 2018. “Saya terus memastikan bahwa BUMN pelayanan publik terus memberikan pelayanan optimal sebagai bentuk dukungan bagi penyelenggaraan Asian Games 2018,” ujar Rini yang dikutip KabarPenumpang.com dari liputan6.com, Rabu (8/8/2018). Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Ira Puspadewi mengatakan, diperkirakan akan ada peningkatan trafik selama pelaksanaan Asian Games 2018 pada lintasan Merak-Bakauheni yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera. Dengan adanya perhelatan besar se-Asia tersebut, pihaknya mendukung dengan membangun terminal eksekutif berkonsep modern yang kedepannya diharapkan mampu menunjang sektor pariwisata. “Di dalam terminal akan ada hotel, restoran, retail, perkantoran dan area komersial dengan desain interior yang megah. Kami juga menghadirkan layanan kapal eksekutif yang ditargetkan nantinya dapat melintasi Merak-Bakauheni dalam waktu satu jam saja,” kata Ira. Sehingga ASDP sendiri akan mengoptimalkan layanan kapal dan dermaga untuk memberikan layanan prima kepada pengguna jasanya. Ira mengatakan, pihaknya ingin orang-orang melihat wajah pelabuhan penyeberangan berubah dengan mengutamakan fasilitas yang mampu membuat penumpang nyaman. Baca juga: Sebelum Menyebrang ke Bakauheni, Yuk Main di Destinasi Ini! Dia mengatakan, hadirnya terminal ini diharapkan dapat lebih memanjakan para penumpang ferry yang akan menyeberang dari Merak ke Bakauheni. Sementara itu, pertengahan Agustus nanti juga akan dilakukan soft launching untuk keberangkatan kapal melalui dermaga eksekutif tersebut. “Begini, kita mulai tanggal 15 Agustus itu soft launch belum ada selebrasinya, tapi kan bangunan baru penumpang itu udah mulai jalan dan kapal eksekutif jalannya efektifnya per September. Ada empat armada (kapal),” kata Ira. Ira menambahkan, untuk kapal eksekutif, ASDP sendiri ‘mendandani’ interior sejumlah kapal yang beroperasi di Merak-Bakauheni menjadi kapal yang memiliki nuansa berbeda dengan kapal ferry pada umumnya, baik dari segi fasilitas maupun kenyamanan yang lebih baik. Jenis yang dioperasikan adalah kapal Roro (roll on roll off) dengan ukuran 13 ribu GT dan 15 ribu GT dan kapasitas penumpang 200 ribu orang.

Pelni Hadirkan WiFi Gratis di 18 Armada Kapalnya

Layanan WiFi gratis kini bisa dinikmati para penumpang yang bepergian dengan kapal laut. Pasalnya PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) sudah menyediakan WiFi gratis untuk semua penumpang di 18 armada kapalnya. Pelayanan ini sendiri ternyata sudah ada sejak kapal-kapal tersebut mengangkut para pemudik dari 8 Juni hingga 1 Juli 2018 kemarin. Baca juga: Toyota Meluncur di Air dengan Kapal Balap Bertenaga Hidrogen Tetapi setelah 1 Juli 2018 WiFi gratis hanya bisa digunakan penumpang hingga 5 MB dan jika ingin menggunakan di luar kapasitas tersebut bisa membeli layanan berbayar berupa kupon atau voucher di dalam kapal. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa pengadaan internet ini merupakan upaya Pelni untuk meningkatkan layanan pada pelanggan. Dalam membangun komunikasi kapal, sistem informasi di kapal hingga pemasangan WiFi, Pelni bekerja sama dengan PT Len Industri. Hal ini dikarenakan sistem Komunikasi Kapal perlu ditingatkan agar pelayanan penumpang dan kru kapal semakin mudah dalam berkomunikasi di atas kapal di lokasi yang tidak ada jaringan komunikasinya. Sehigga solusi ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan akan jaringan komunikasi dan internet agar mendukung visi Pelni menjadi Perusahaan Pelayaran yang Tangguh dan Pilihan Utama Pelanggan Manajer Humas dan CSR dari Pelni Akhmad Sujadi mengatakan pada 11 Mei 2018 lalu, keduanya telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman di Bandung sebagai bentuk sinergi antar BUMN. “Pelaksanaan Memorandum of Understanding antara Pelni dan Len diikuti dengan penandatanganan perjanjian kerjasama antara anak perusahaan, PT Pelita Indonesia Djaya Corporation (PIDC), dan PT Len Industri,” katanya. PIDC dan mitranya mulai memasang peralatan telekomunikasi pada 18 kapal Pelni yang beroperasi di seluruh nusantara dengan memasang terminal aperture yang sangat kecil atau very small aperture terminal (VSAT). VSAT sendiri adalah stasiun penerima sinyal satelit dengan antena berbentuk piringan dengan diameter kurang dari tiga meter. Baca juga: Rolls-Royce Rilis Intelligent Awareness, Bantu Pelaut Tingkatkan Kesadaran Situasional Fungsi utama VSAT adalah mengirim dan menerima data ke satelit, sehingga WiFi diaktifkan. Selain bermanfaat bagi penumpang, manajemen juga dapat memantau operasi kapal di ruang direktur utama, sehingga kegiatan operasional kapal dapat dipantau selama 24 jam. Pemantauan kapal juga tersedia dari aplikasi seluler, Patrakom Vis. Sebenarnya untuk layanan WiFi ini sendiri akan dipasang pada 26 kapal secara bertahap dengan dimulai dengan 18 kapal pertama kemudian di area anjungan, kantor kapal dan mini market milik Pelni.

Dukung Asian Games 2018, Garuda Indonesia ‘Upgrade’ Armada Jakarta-Palembang

Flag Carrier Garuda Indonesia mulai ambil ancang-ancang demi mencegah terjadinya lonjakan penumpang selama perhelatan Asian Games 2018 yang rencananya akan dimulai pada 18 Agustus 2018 mendatang. Alih-alih menambah jadwal penerbangan antara Jakarta Palembang – dua kota tempat diadakannya Asian Games 2018, maskapai plat merah ini lebih memilih untuk mengganti jenis pesawat yang digunakan. Baca Juga: Jelang Asian Games 2018, PT MRT Jakarta Siap ‘Pulihkan’ Kondisi Sudirman-Thamrin Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Senior Manager Public Relation Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan mengatakan bahwa pergantian jenis pesawat ini hanya berlaku untuk sementara waktu – tepatnya selama perhelatan Asian Games berlansung. “Kami mengganti pesawat untuk satu flight GA 104 (Jakarta – Palembang) yang pagi. Dari pesawat CRJ-1000 berkapasitas 97 penumpang menjadi Boeing 737-800NG berkapasitas 160 penumpang,” ujar Ikhsan, dikutip dari laman bisnis.com. Sementara itu Direktur Operasi Garuda Indonesia, Triyanto Moeharsono mengatakan bahwa pergantian jenis pesawat ini berlaku, “Mulai tanggal 7 Agustus hingga 4 September 2018. Total ada 26 penerbangan rute Jakarta – Palembang yang diganti armadanya,” Semisal dikalkulasikan, berarti pihak Garuda Indonesia menyediakan 4.510 bangku tambahan selama periode tersebut. Tidak hanya sekedar mengganti armadanya saja, Full Service Airlines (FSA) kebanggaan Tanah Air ini juga mengaku siap seandainya jasa mereka dibutuhkan untuk mengangkut beragam peralatan olahraga para atlet yang akan berlaga di Asian Games 2018. Dilansir dari laman sumber lain, Direktur Utama Garuda Indonesia, Pahala N Mansury mengatakan akan ada beberapa penambahan lainnya, termasuk dari Padang ke Palembang dan dari Palembang ke Bandar Lampung. Tidak hanya Garuda Indonesia, anak perusahaannya – Citilink pun akan menambah sekitar 23 frekuensi penerbangan, termasuk penambahan penerbangan dua kali ke Bandara Halim Perdanakusuma dan dua kali ke Bandara Soekarno Hatta per hari. Baca Juga: Sekilas Mirip Layanan LCC, Garuda Indonesia Rilis Subclass Eco-Basic “Itu yang kita tambahan untuk bisa memastikan bahwa tambahan kapasitas kita itu bisa memadai. Jadi itu hal-hal yang memang kita lakukan, termasuk adanya rute-rute baru yang kita kembangkan,” ungkap Pahala. Sejumlah penambahan penerbangan ini dirasa perlu karena dalam kurun waktu sekitar satu bulan penyelenggaraan Asian Games 2018, diperkirakan akan ada lebih dari 25 ribu tamu dari 60 negara Asia dan non Asia sebagai pemantau.  

Inggris Berdayakan Drone Untuk Pantau Para Pelanggar dan Inspeksi Jalur Kereta

Menyusul India yang sebelumnya telah menggunakan teknologi drone untuk memantau kondisi trek kereta, kini Inggris pun diketahui telah menerapkan kebijakan serupa – namun untuk tujuan yang berbeda. Tidak bisa dipungkiri, hadirnya Unmanned Aerial Vehicles atau yang biasa disingkat UAV ini membawa dampak yang cukup besar bagi kehidupan manusia. Tidak hanya digunakan untuk mengambil foto atau video dari ketinggian, namun juga bisa digunakan untuk kepentingan lain, seperti mengantar hasil laboratorium (Swiss), dan memantau kondisi trek kereta (India). Baca Juga: Indian Railways Bakal Gunakan Drone Untuk Tunjang Pelayanan di Berbagai Aspek Nah, kali ini negara yang dipimpin oleh seorang Ratu ini akan menggunakan drone untuk memantau para pelanggar yang pada akhirnya akan berdampak positif terhadap peningkatan keselamatan. Diwartakan KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (6/8/2018), drone ini akan ditempatkan di titik-titik yang rawan terjadi pelanggaran. Drone ini sendiri akan dilengkapi dengan kamera 4K berteknologi tinggi. Kamera tersebut pun memiliki sensitifitas yang cukup tinggi terhadap panas yang mampu mendeteksi perubahan suhu dan mengidentifikasi potensi kerusakan pada infrastruktur. Drone berkamera ini akan merekam semua tindak pelanggaran yang terjadi dan mengirimkannya kepada British Transport Police (BTP) untuk ditindaklanjuti. Menurut pihak Network Rail, drone ini mampu terbang hingga ketinggian 120m dan menempuh kecepatan hingga 50 mph (80,5 km per jam). “Jarak maksimal antara drone dan pengendalinya bisa sampai 500 meter, tergantung kondisi cuaca,” jelas salah salah satu juru bicara dari Network Rail. Drone ini sendiri telah terlebih dahulu diuji coba pada harii Jumat (3/8/2018) kemarin, dengan Peter Atkins sebagai pengendali pertamanya. Peter sendiri merupakan seorang petugas dari Network Rail’s Mobile Incident. Kala itu, Peter menerbangkan drone ini di sekitaran Bournemouth, salah satu lokasi yang disinyalir banyak terjadi pelanggaran. “Saya senang mengoperasikan penerbangan kereta api pertama di wilayah ini. Pelatihannya sangat teliti dan menantang,” ujar Peter. “Tidak hanya untuk memantau para pelanggar, penggunaan drone juga memungkinkan kami untuk menginspeksi jalur via udara, jadi tidak harus menutup jalur,” imbuhnya. Semisal digali lebih dalam, penggunaan drone ini akan mengurangi jumlah petugas yang harus turun ke lapangan untuk melakukan inspeksi. Baca Juga: Cegah Kecelakaan di Perlintasan Sebidang, Indian Railways Adopsi Teknologi Satelit Direktur pelaksana South Western Railway, Andy Mellors mengatakan menyambut baik penggunaan drone ini, “Selama itu dapat meningkatkan keselamatan dan kinerja,” Memang, menerobos area terlarang di sepanjang jalur kereta memang dapat berimbas pada penundaan keberangkatan kereta yang seharusnya tidak perlu. “Saya berharap penggunaan teknologi drone ini bisa meminimalisir pelanggaran tersebut.” tutup Andy.

Sepenggal Cerita dari Loko Coffee Shop Yogyakarta

Di persimpangan langkahku terhenti Ramai kaki lima Menjajakan sajian khas berselera Orang duduk bersila Musisi jalanan mulai beraksi..” Begitulah kira-kira penggalan lirik lagu berjudul “Yogyakarta” yang dipopulerkan oleh Kla Project. Ngomong-ngomong soal Yogyakarta, daerah yang dipimpin oleh seorang Sultan ini memang selalu meninggalkan kesan sarat makna yang membuat setiap orang ingin kembali lagi ke sana sesegera mungkin. Tidak hanya kaya akan budaya, namun dunia kulinernya pun menarik untuk ditelusuri. Baca Juga: Hadirkan “Super Lounge,” Disinilah Lokasi Starbucks Terbesar! Nah, semisal Anda yang berencana untuk pergi ke Yogyakarta dengan menggunakan kereta api, silakan turun di Stasiun Tugu dan Anda akan menemukan sebuah cafe berkonsep unik yang terletak persis di samping Stasiun Tugu. Ya, Loko Coffee Shop! Kesan pertama yang mungkin muncul benak Anda ketika pertama kali melihat cafe ini adalah kental akan nuansa perkeretaapiannya. Bagaimana tidak, selain ditunjang oleh lokasi yang sangat strategis (di ujung jalan Malioboro), beberapa ornamen khas kereta api juga dapat Anda temui di sini. Cafe yang mengambil konsep pujasera ini menawarkan dua pilihan tempat duduk – ada yang indoor, ada juga yang outdoor. Ternyata, ini merupakan salah satu bisnis yang digeluti oleh PT Reska Multi Usaha, anak perusahaan dari PT KAI. “Ketertarikan masyarakat terhadap kopi membuat kami tergerak untuk membuka coffee shop ini,” kata Direktur Utama PT Reska Multi Usaha, M. Sahli, dikutip KabarPenumpang.com dari laman wartaekonomi.co.id (24/6/2018). M. Sahli melanjutkan, untuk menguatkan nuansa perkeretaapian di Loko Coffee Shop, pihaknya sengaja mendesain bangku dan meja yang ada di sana dari kayu bekas bantalan rel. Di sisi lain, Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro mengatakan bahwa di awal kemunculannya, Loko Coffee Shop in ditujukan bagi para calon penumpang yang hendak mengular dari Stasiun Tugu. “Semoga tema Medang, Madang, Jagongan atau Minum, Makan, Nongkrong Loko Coffee Shop bisa dinikmati masyarakat, seperti lagu Kla Project, Yogyakarta,” tutur Edi. Sebelumnya, PT Reska Multi Usaha sudah memiliki usaha Loko Cafe yang dibuka di empat stasiun, yaitu Stasiun Tugu, Stasiun Lempuyangan, Stasiun Gubeng Surabaya, dan Stasiun Gambir Jakarta. Lain cerita dengan apa yang dialami oleh seorang barista di Loko Coffee Shop, Bagas. Ia mengaku bahwa Loko Coffee ini sendiri terdiri dari beberapa barista pilihan yang sebelumnya tergabung di dalam Komunitas Kopi Nusantara (KKN). “Nah Direktur Reska ini salah satu member di komunitas, lalu mereka tawarkan kerja sama dengan KKN untuk pengadaan bean kopi, penyeduh, dll,” ujar sang barista khusus manual brew yang juga pemilik Nyonthong Coffee ketika dihubungi KabarPenumpang.com. Baca Juga: Kopi dengan Cita Rasa Tinggi Kini Hadir Dalam Penerbangan “Saya ditunjuk berdasarkan kriteria, skill, komunikatif, dan edukatif,” tandasnya sembari memberitahu beberapa poin yang menjadi penilaian PT Reska Multi Usaha dalam menyaring para barista Kota Gudeg ini. Jadi, bagi Anda yang kebetulan tengah berada di Yogyakarta, silakan mampir ke Loko Coffee Shop dan nikmati seduhan kopi kualitas bintang lima, dengan harga kaki lima. “Bikin kopi tuh dari hati. Saat hati happy, maka kopinya akan happy pula. Maka dari itu, buatlah kopi dengan senang, bukan karena besarnya gaji.” Ujar Bagas menutup perbincangan.      

Obsesi PT KAI Hadirkan Kereta Bertingkat, Akankah Terealisasi?

Setelah sukses dengan sleeper trainnya, PT Kereta Api Indonesia (KAI) berencana mengoperasikan kereta  tingkat atau double decker. Bahkan tercuat ide kereta bertingkat sendiri karena melihat tren masyarakat yang meningkat untuk bepergian menggunakan kereta api. Baca juga: Adopsi Gerbong Bertingkat dan Tarif Lebih dari Rp900 Ribu, Inilah Kereta Sleeper PT KAI KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa PT KAI yang diwakili Agus Komarudin sebagai Kepala Humasnya, mengatakan, pihaknya melihat tren kebutuhan penumpang yang terus meningkat terhadap layanan transportasi kereta api pada kelas-kelas khusus. Hal ini terlihat dimana kelas prioritas pada beberapa rangkaian kereta Agro selalu habis dikarenakan banyaknya peminat. Dia mengatakan ini menjadi peluang pasar yang baru yang bisa direspon oleh PT KAI. Namun meski begitu, untuk kereta bertingkat saat ini PT KAI tengah melakukan pengkajian infrastruktur seperti rute kereta api dan jalur yang akan dilalui. “Untuk kereta tingkat saat ini masih rencana, kedepannya sendiri detailnya masih belum bisa disampaikan,” ujar Agus yang dihubungi KabarPenumpang.com, Rabu (8/8/2018) Ide pembuatan kereta double decker sendiri dicetuskan KAI saat melakukan pertemuan dengan PT Industri Kereta Api (INKA) pada Maret 2018 kemarin. Meski baru pembahasan dan belum ada kontrak yang dilaksanakaan, tetapi PT INKA menyanggupi untuk membuat kereta bertingkat tersebut. Direktur Utama PT INKA Budi Noviantoro menargetkan untuk kereta bertingkat ini selesai pada 2020 medatang. Tetapi dirinya mengakui masih ada kendala untuk mengoperasikan kereta yang memiliki tingkat karena berbeda dari kereta pada umumnya. Baca juga: Siap-Siap! PT KAI Akan Jual Tiket Sleepers Train 10 Juni Mendatang “Bentuknya seperti bus tingkat. Kalau di luar negeri sudah biasa dan di Eropa juga banyak. Tetapi, rel (di sana) lebih lebar 14,35 sementara kita hanya 10,47,” ujar Budi. Budi menambahkan, secara teknis PT INKA sanggup memproduksi kereta double decker sesuai pesanan PT KAI. Namun, sebelum pesanan ini diproduksi, prasarana seperti rel, jembatan dan perlintasan harus dipastikan bisa dilewati kereta tersebut. Lain dari itu, yang perhatian adalah keberadaan terowongan kereta, tentu hadirnya kereta bertingkat harus memperhitungkan hal tersebut. “Kalau dari sarana kami siap. Tapi dari prasarana harus dilihat karena jalur lurus bisa kecepatan 160 kilometer per jam, tetapi tidak bisa di lengkungan,” tutur Budi.

AVE, 26 Tahun Beroperasi, Inilah Jaringan Kereta Cepat Terpanjang di Benua Biru

Dua puluh enam tahun sudah warga Spanyol akrab dengan yang namanya Alta Velocidad Española (AVE). Ya, jaringan kereta cepat tersebut mulai dibangun sejak 1992, dan hingga kini masih terus beroperasi. Dengan panjang trek lebih dari 3.200 km, menjadikan AVE sebagai jaringan kereta cepat terpanjang di seantero Eropa. Kesuksesan AVE dalam meraih predikat tersebut disokong oleh 500 armada kereta cepat yang kemudian berimbas pada angka 36,5 juta penumpang setiap tahunnya. Baca Juga: Whoosh! Inilah Lima Kereta Tercepat di Dunia, Proyek di Indonesia Ada di Peringkat Berapa Ya? Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com, operator infrastruktur kereta api Spanyol, ADIF telah mendeklarasikan diri sebagai salah satu ahli di bidang kereta berkecepatan tinggi pada tahun 2005 silam. Maka tidak heran jika banyak negara yang ingin bekerja sama dengan sang operator. Tidak hanya ahli, ADIF pun mematok standar tinggi bagi kelancaran operasi kereta. “Kereta yang molor 5 menit dari jadwal itu sudah masuk kategori sangat terlambat. Itu standar kami,” tutur salah satu juru bicara dari ADIF. Nah, keberlangsungan pengoperasian AVE ini didukung oleh Albacete’s Control and Regulation Centre (CRC), salah satu dari empat ‘pusat saraf’ yang bertugas menjaga jaringan kereta cepat ini tetap berjalan dengan aman. Seperti yang bisa Anda lihat pada gambar di atas, nampak sebuah layar besar yang menampilkan keseluruhan jaringan AVE. Terdapat pula beberapa petugas yang tidak pernah absen memantau pengoperasian dari jaringan kereta cepat ini. “Kami mengontrol lalu lintas 1.500 kereta per bulan saat mereka melakukan perjalanan sepanjang 607 km di jalur yang menghubungkan Madrid, Valencia dan Alicante. Dan semuanya real-time,” ujar salah satu petugas. Albacete CRC sendiri berfungsi untuk menunjukkan keefektifan sejumlah teknologi mutakhir yang diterapkan pada jalur kereta berkecepatan tinggi. Adapun salah satu teknologi mutakhir tersebut mampu mendeteksi objek di sepanjang trek dan memantau kondisi cuaca di sepanjang jalur. Terkecuali di jalur Madrid – Seville, European Rail Traffic Management Systems (ERTMS) ditempatkan di sepanjang jaringan AVE, dimana hal tersebut memungkinkan pertukaran data antara kereta api dan infrastruktur melalui balises atau gelombang GSMR. Baca Juga: TGV, Masih Jadi Lambang Supremasi Kereta Cepat Eropa Diketahui, ADIF telah menandatangani perjanjian kerjasama dengan pemilik infrastruktur kereta api dari berbagai negara, termasuk AS, Turki, Polandia, Rusia, dan Maroko. “Kami juga tidak segan untuk saling bertukar pengetahuan dengan operator lain, termasuk di bidang perbaikan, manajemen, konstruksi, dan kontrol jalur kecepatan tinggi,” ungkap pihak ADIF dalam sebuah pernyataan. Ternyata, dibalik hebatnya sistem AVE yang nampak, ada regu hebat yang bekerja keras untuk melancarkan pengoperasiannya!

London North Eastern Railway Nantikan Sistem Sensor Bangku Karya McLaren

Operator kereta api asal Tanah Britania yang mengoperasikan waralaba InterCity East Coast, London North Eastern Railway (LNER) tengah menguji sistem sensor yang diharapkan dapat mengatasi masalah ketersediaan tempat duduk. Teknologi ini nantinya dapat mengetahui apakah bangku di kereta masih kosong atau sudah ditempati penumpang. Hebatnya lagi, sensor yang kelak akan ditempatkan di atas bangku ini juga dapat membedakan antara barang bawaan (koper dan tas) dan manusia. Baca Juga: Azuma Virgin, Kereta Cepat Ramah Lingkungan di Inggris, Mengular di 2018 Tingginya sensitifitas dari sensor inilah yang akhirnya menjadi daya jual dari McLaren Applied Technologies, sang pengembang. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman smartrailworld.com (7/8/2018), pihak McLaren akan terus melakukan uji coba sepanjang bulan Agustus ini, sebelum akhirnya diluncurkan pada musim gugur mendatang. Sementara itu, pihak LNER berharap teknologi ini mampu mengatasi masalah ketersediaan bangku yang sering dikeluhkan penumpang yang datang tanpa melakukan reservasi sebelumnya. “Mungkin nantinya teknologi ini akan terintegrasi dengan aplikasi di smartphone, jadi penumpang dapat mengecek ketersediaan bangku melalui aplikasi tersebut,” tutur salah satu juru bicara dari LNER. Sebelumnya, teknologi yang hampir serupa sudah diterapkan di kereta api antar kota di Jerman, dimana para penumpang dapat melihat ketersediaan kursi melalui sebuah layar elektronik. Namun sensitifitas dari teknologi yang digunakan oleh Jerman ini tidaklah semutakhir yang kelak akan digunakan oleh LNER. Menanggapi teknologi yang tengah dikembangkan oleh McLaren ini, seorang juru bicara dari LNER mengatakan bahwa ini merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap penumpang yang diprioritaskan untuk mendapatkan pelayanan maksimal. “Kami mengetahui betapa menyebalkannya jiika Anda tidak mendapatkan bangku ketika hendak pergi menggunakan kereta, dan karena alasan itulah kami bersemangat untuk menghadirkan teknologi sensor ini,” tukasnya. Sensor ini adalah bagian dari sistem reservasi tempat duduk baru yang akan memungkinkan pelanggan untuk menemukan tempat duduk jauh lebih mudah dan lebih cepat. ” tandasnya. Baca Juga: Lokomotif Uap Teranyar Inggris Tembus Kecepatan 161 Km Per Jam Jika dikaitkan dengan kondisi perkeretaapian di Indonesia, khususnya Commuter Line Jabodetabek, nampaknya sistem sensor seperti ini akan sangat berguna bagi penumpang. Tidak perlu sama persis seperti yang diadopsi oleh Inggris, namun cukup dengan memaparkan apakah kondisi di dalam kereta masih memungkinkan penumpang untuk naik atau tidak. Dengan begitu, penumpang yang berada di dalam rangkaian pun akan merasa lebih nyaman karena tidak harus berdesak-desakan – terutama ketika peak hours.