Obsesi PT KAI Hadirkan Kereta Bertingkat, Akankah Terealisasi?

ilustrasi kereta tingkat

Setelah sukses dengan sleeper trainnya, PT Kereta Api Indonesia (KAI) berencana mengoperasikan kereta  tingkat atau double decker. Bahkan tercuat ide kereta bertingkat sendiri karena melihat tren masyarakat yang meningkat untuk bepergian menggunakan kereta api.

Baca juga: Adopsi Gerbong Bertingkat dan Tarif Lebih dari Rp900 Ribu, Inilah Kereta Sleeper PT KAI

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa PT KAI yang diwakili Agus Komarudin sebagai Kepala Humasnya, mengatakan, pihaknya melihat tren kebutuhan penumpang yang terus meningkat terhadap layanan transportasi kereta api pada kelas-kelas khusus. Hal ini terlihat dimana kelas prioritas pada beberapa rangkaian kereta Agro selalu habis dikarenakan banyaknya peminat.

Dia mengatakan ini menjadi peluang pasar yang baru yang bisa direspon oleh PT KAI. Namun meski begitu, untuk kereta bertingkat saat ini PT KAI tengah melakukan pengkajian infrastruktur seperti rute kereta api dan jalur yang akan dilalui.

“Untuk kereta tingkat saat ini masih rencana, kedepannya sendiri detailnya masih belum bisa disampaikan,” ujar Agus yang dihubungi KabarPenumpang.com, Rabu (8/8/2018)

Ide pembuatan kereta double decker sendiri dicetuskan KAI saat melakukan pertemuan dengan PT Industri Kereta Api (INKA) pada Maret 2018 kemarin. Meski baru pembahasan dan belum ada kontrak yang dilaksanakaan, tetapi PT INKA menyanggupi untuk membuat kereta bertingkat tersebut.

Direktur Utama PT INKA Budi Noviantoro menargetkan untuk kereta bertingkat ini selesai pada 2020 medatang. Tetapi dirinya mengakui masih ada kendala untuk mengoperasikan kereta yang memiliki tingkat karena berbeda dari kereta pada umumnya.

Baca juga: Siap-Siap! PT KAI Akan Jual Tiket Sleepers Train 10 Juni Mendatang

“Bentuknya seperti bus tingkat. Kalau di luar negeri sudah biasa dan di Eropa juga banyak. Tetapi, rel (di sana) lebih lebar 14,35 sementara kita hanya 10,47,” ujar Budi.

Budi menambahkan, secara teknis PT INKA sanggup memproduksi kereta double decker sesuai pesanan PT KAI. Namun, sebelum pesanan ini diproduksi, prasarana seperti rel, jembatan dan perlintasan harus dipastikan bisa dilewati kereta tersebut. Lain dari itu, yang perhatian adalah keberadaan terowongan kereta, tentu hadirnya kereta bertingkat harus memperhitungkan hal tersebut.

“Kalau dari sarana kami siap. Tapi dari prasarana harus dilihat karena jalur lurus bisa kecepatan 160 kilometer per jam, tetapi tidak bisa di lengkungan,” tutur Budi.