Pilot dan Ribuan Karyawan Garuda Indonesia Pastikan Mogok Kerja, Ini Dia Tanggapan Pihak Manajemen

Menjelang Mudik Lebaran lalu publik sempat dibuat kaget dengan rencana aksi pemogokan kerja dari pilot dan karyawan Garuda Indonesia. Kaget dan khawatir tampak mengemuka, tak hanya pada pengguna jasa, pemerintah pusat pun akhirnya turun tangan langsung, lantaran jumlah pilot Garuda Indonesia mencapai 1.370 orang. Baca juga: Pengamat: Pilot TNI AU Butuh Waktu Transisi Untuk Menerbangkan Pesawat Garuda Indonesia Untungnya, lewat dukungan negosiasi dari Menko Maritim Luhut B Panjaitan, rencana mogok ribuan pilot dan karyawan Garuda Indonesia akhirnya dapat diurungkan. Dan pengguna jasa Garuda Indonesia dapat melewati musim Mudik Lebaran 2018 dengan aman tanpa kendala di layanan, bahkan tingkat OTP (On Time Performance) Garuda Indonesia semasa Musim Mudik 2018 justru mencapai level tertinggi 95,8 persen Namun, apa yang diupayakan Menko Maritim ternyata hanya bersifat penundaan aksi mogok. Dikutip Kompas.com (3/7/2018), disebutkan bahwa Asosiasi Pilot Garuda Indonesia (APG) dan Serikat Karyawan Garuda Indonesia (Sekarga) memastikan sikap mereka untuk tetap melakukan aksi mogok terbang awal Juli 2018. Sikap ini diambil lantaran perwakilan para pilot tidak puas dengan hasil mediasi antara mereka dengan manajemen Garuda Indonesia. Namun lebih jauh, Ketua APG Captain Bintang Hardiono, tidak menyebutkan alasan detail tentang ketidakpuasan dari hasil mediasi tersebut. Pihak manajemen Garuda Indonesia beberapa waktu lalu telah berupaya melakukan negosiasi dengan APG dan Sekarga, diantaranya lebih dari 90 persen aspirasi tuntutan karyawan kepada perusahaan telah dipenuhi oleh manajemen. Ancaman aksi mogok dari pilot dan karyawan Garuda Indonesia didasari atas protes terhadap kondisi perusahaan saat ini. Ketua umum Serikat Karyawan Garuda (Sekarga) Ahmad Irfan Nasution menjelaskan, kondisi keuangan Garuda semakin menurun dilihat dari net profit loss atau rugi bersih 2017 yang naik signifikan yakni US$213,38 juta dollar dari tahun sebelumnya yang hanya US$9,36 juta. Menurut Sekarga, hal tersebut diakibatkan kegagalan manajemen PT Garuda Indonesia di antaranya dalam penjadwalan kru. Sehingga adanya pembatalan dan penundaan penerbangan, serta adanya jabatan direktur kargo yang tidak dibutuhkan. Menanggapi situasi yang berkembang, lewat siaran pers (4/7/2018), pihak manajemen Garuda Indonesia tetap memastikan bahwa seluruh layanan penerbangan Garuda Indonesia tetap beroperasi dengan normal. “Sejalan dengan rencana aksi mogok yang disampaikan oleh Sekarga dan APG, manajemen kembali menegaskan bahwa Garuda Indonesia selalu membuka ruang diskusi atas masukan dan aspirasi yang disampaikan oleh rekan-rekan serikat dan APG tersebut, khususnya dalam menyelaraskan aspirasi APG dan Sekarga dengan upaya peningkatan kinerja operasional perusahaan,” ujar Hengki Heriandono, VP Corporate Secretary Garuda Indonesia. Baca juga: Menko Maritim Turun Tangan, Rencana Mogok Pilot dan Karyawan Garuda Indonesia Pun Batal Langkah mitigasi telah direncanakan sedari awal untuk menghadapi ancaman mogok, seperti menggandeng pihak TNI AU untuk menyiapkan pilot pengganti sementara. Langkah mitigasi Garuda Indonesia dan kesiapan TNI AU tentu layak diapresiasi, namun apakah penerbang TNI AU bisa langsung mengawaki armada pesawat Garuda Indonesia? Dan apakah jumlah pilot dari TNI AU mencukupi untuk mengawaki puluhan armada pesawat Garuda Indonesia? Tentu biarkan waktu yang menjawabnya.

Tingkat Kecelakaan Trem Meningkat, Praha Gelar Kampanye Keselamatan di Jalan

Perkara kecelakaan lalu lintas yang marak terjadi, kesalahan tidak bisa sepenuhnya dilimpahkan kepada yang menabrak saja. Karena tidak menutup kemungkinan yang ditabraknya lah yang lebih teledor sehingga terjadi sebuah kecelakaan. Seperti yang terjadi di Praha, Republik Ceko, dimana jumlah kecelakaan pejalan kaki tertabrak trem mengalami peningkatan. Kalau masinis trem telah berhati-hati, mungkin si pejalan kakinya lah yang kurang waspada terhadap sekitar. Baca Juga: Kampanye “Wonderful Indonesia” Meriahkan Transportasi di Paris Maka dari itu, Department of the Prague Public Transit Company (DPP) meluncurkan kampanye yang ditujukan kepada para pengguna jalan untuk lebih waspada terhadap sekitar, tidak terkecuali trem. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman prague.tv, meningkatnya jumlah kecelakaan pada bulan Mei 2018 kemarin merupakan salah satu tanda para pejalan kaki kurang waspada terhadap hadirnya trem. Lima kasus kecelakaan pada bulan Mei tersebut diduga karena para pengguna jalan lebih sering berjalan sambil memainkan gadget. Tidak hanya itu, penggunaan headset dan memutar musik dalam volume yang keras pun kerap kali dijadikan salah satu alasan dibalik tabrakan yang terjadi antara pejalan kaki dan trem. “Trem tidak bisa langsung berhenti ketika melakukan pengereman, layaknya seperti kereta,” ungkap Kepala DPP, Martin Doubek. Dengan adanya kampanye seperti ini, maka diharapkan para pejalan kaki bisa lebih sadar akan bahaya. “Orang tidak menyadari risiko dan bahaya. Kami tidak bermaksud untuk menakut-nakuti para pejalan kaki, tapi sebaliknya, kita ingin mereka lebih menghormati pengguna jalan lain, salah satunya adalah trem,” tandas Martin. Sebuah aturan tidak tertulis dasar seperti lihat kanan kiri sebelum menyeberang dewasa ini sudah jarang dipraktekkan oleh banyak orang. Pandangan mereka hanya terfokus pada gadget yang melekat di tangan mereka. Seperti yang kita ketahui bersama, kebiasaan untuk melihat kanan kiri sebelum menyeberang merupakan hal sederhana yang dapat berimbas besar. Baca Juga: Jadi Ajang Kampanye Produk, Pegangan Tangan di Angkutan Umum Dibuat Unik “Ketika saya melihat lintasan, saya melihat ke kanan dan ke kiri. Saya khawatir banyak orang tidak mengikuti kebiasaan ini lagi hari ini,” tutur Martin. “Bahkan ketika saya berjalan sambil memandang ponsel, saya otomatis merasa kurang aman dan fokus terhadap sekitar jadi sangat berkurang,” imbuhnya. “Adapun inti dari kampanye ini adalah kami ingin warga Praha lebih sadar akan pentingnya fokus terhadap jalanan.” Tutup Martin. Jalur trem yang umumnya menyatu dengan badan jalan, ditambah pembatas yang minim, memang kerap mengundang bahaya tabrakan, baik antara trem dengan pejalan kaki, maupun trem dengan kendaraan lain.  

Meski Membosankan, Demo Keselamatan Penerbangan Jangan Dilupakan!

Sebagian dari Anda mungkin sudah merasa bosan melihat demo peragaan keselamatan penerbangan oleh awak kabin. Selain sudah terlalu rutin bagi yang kerap naik pesawat, kadang demo terasa hambar bila melihat pramugari yang memperagakan dengan kesan ‘ogah-ogahan’ dan bersikap cuek. Terkhusus itu mungkin dialami oleh jasa penerbangan murah (LCC) yang pada bangkunya tak dilengkapi dengan monitor. Baca juga: Peragaan Alat Keselamatan Penerbangan, Masih Efektifkah? Tapi tahukan Anda sebenarnya meski membosankan, penjelasan ini salah satu terpenting dalam keselamatan setiap penumpang pesawat. Mungkin beberapa waktu lalu seperti penerbangan American Airlines tahun 2016 yang mana penumpangnya membawa koper saat pesawat terbakar hingga kegagalan mesin dalam penerbangan serta masker oksigen yang tidak terpasang dengan benar. Ini menjelaskan bahwa banyak penumpang yang tidak peduli dengan keselamatan mereka bahkan mungkin meski mendengar hanya lewat di kuping dan hilang tanpa terekam di pikiran. KabarPenumpang.com merangkum dari washingtonpost.com (27/6/2018), pejelasan keselamatan di dalam kabin hadir tahun 1965 lalu menurut Federal Aviation Administration (FAA). Saat itu hanya pengarahan lisan dimana letak pintu darurat dan cara pengoperasiannya. Tahun 1972, FAA kemudian menambah pengarahan yang mencakup sabuk pengaman, kompartemen penyimpanan, perlindungan kebakaran, proses evakuasi darurat dan lainnya. Hingga tahun 2007 FAA menyempurnakan penjelasan keselamatan tersebut dan tahun 2013 lalu saat FAA mengizinkan penggunaan perangkat elektronik selama penerbangan. Sayangnya karena diperbolehkannya perangkat elektronik digunakan, banyak penumpang yang semakin tidak peduli dengan penjelasan keselamatan dalam penerbangan. Beberapa penumpang bahkan mengatakan, mereka tidak peduli dengan pengumuman meski hal itu penting untuk keselamatan hidup. “Saya tahu mereka ada di sana untuk memberi tahu saya tentang menyelamatkan hidup saya. Tapi hampir selalu, mereka membosankan dan saya telah melihat mereka lebih dari seribu kali sekarang,” ujar Monika Bashin seorang owner jejaring sosial dii Los Angeles. Bahkan ada yang dengan percaya dirinya mereka mengatakan pasti ada yang membantu saaat keadaan darurat. Hal tersebut membuat mantan kapten American Airlines, Clyde Romero mengatakan, pernah ada kupon penerbangan gratis di kartu keselamatan, tetapi setelah selesai penerbangan dan mengeceknya kupon tersebut masih tertempel rapi. Meski membosankan, ternyata banyak juga penumpang yang peduli dengan keselamat diri mereka dan menyimak dengan baik penjelasan tersebut meski sudah berkali-kali mendengarnya. Rose Ditmore seorang peneliti mengatakan, dirinya terkadang sulit mendengar penjelasan petugas karena penumpang lain sibuk sendiri dan tertawa. Baca juga: Pentingnya Pelampung Untuk Keselamatan Penerbangan “Setelah bertemu korban kecelakaan udara dan keluarga yang kehilangan orang yang dicintai dalam bencana, saya belajar bahwa keselamatan sangat penting untuk kelangsungan hidup dan bahwa pengarahan keselamatan pramugari adalah langkah pertama untuk mempersiapkan penerbangan,” ujar Plaxe seorang direktur dari Security Consulting Alliance. Meski masih banyak awak kabin yang menjelaskan secara manual, beberapa maskapai kini telah menggunakan monitor di depan kursi penumpang dan menghadirkan video tentang keselamatan sebelum lepas landas. Dengan adanya ini menjadi sebuah inovasi baru dan diharapkan penumpang bisa mengikuti dan mendengar penjelasan tersebut.

“See Say Airport,” Aplikasi Bandara Denver untuk Keselamatan dan Keamanan Penumpang

Semakin banyak bandara yang menghadirkan aplikasi untuk memudahkan penumpangnya, seperti mencari tempat makan, lounge, toilet bahkan untuk melakukan boarding pass. Tapi ada yang berbeda dengan aplikasi milik Bandara Internasional Denver (DEN). Baca juga: Aira, Aplikasi Pembantu Penyandang Tuna Netra di Bandara Dimana bandara yang ada di Amerika Serikat tersebut meluncurkan aplikasi yang bisa langsung melaporkan masalah keselamatan dan keamanan kepada pihak keamanan bandara. Dilansir KabarPenumpang.com dari passengerterminaltoday.com (28/6//2018), aplikasi milik Bandara Denver ini bernama See Say Airport. Dalam aplikasi ini, semua penumpang yang menggunakannya bisa berbagi informasi tentang segala hal yang terlihat di bandara seperti kecurigaan orang atau aktivitas. Kemudian bagasi tanpa pengawasan, tumpahan makanan atau minuman hingga toilet yang kotor. Dengan aplikasi tersebut, penumpang dimungkinkan untuk mengirim, foto, video, pesan teks dan informasi lokasi dengan GPS ke operasi bandara untuk mendapat bantuan. Nantinya, laporan yang masuk tersebut akan diselidiki dan ototritas bandara bisa saja melakukan komunikasi kembali kepada pengirim laporan dengan pertanyaan atau informasi lanjutan. Bahkan laporan tersebut juga bisa dikirim secara anonim. “Kami senang bekerja dengan Bandara Internasional Denver saat mereka mengambil langkah berikutnya menuju keamanan dan keselamatan bandara yang lebih baik. Kampanye Department of Homeland Security (DHS) See Something Say Something memberi perhatian pada pentingnya melaporkan aktivitas yang mencurigakan kepada penegak hukum negara bagian dan lokal, tetapi dibuat sebelum ponsel adalah aksesori sehari-hari untuk hampir semua orang,” kata Ed English, CEO Elerts. Menurutnya menggabungkan upaya kampanye dengan aplikasi See Say Airport, akan memudahkan siapa saja di bandara untuk melaporkan perilaku mencurigakan atau kegiatan yang dipertanyakan. Karena semua menjadi kombinasi yang kuat dan membawa insiatif keamanan di abad 21 ini. DEN adalah bandara pertama di negara yang memanfaatkan Elerts, dimana ini merupakan aplikasi komunikasi keselamatan publik, untuk memasyarakatkan pelaporan masalah keselamatan dan keamanan. Elerts mengembangkan platform komunikasi See Something Say Something terkemuka untuk bandara, kota dan agen transit. Baca juga: Bandara Kuala Lumpur Hadirkan “MYairports” untuk Mudahkan Penumpang Sistem manajemen insidennya diberdayakan oleh pelaporan masalah keamanan dan keselamatan yang didukung oleh crowdsourced. Kim Day, CEO di DEN, menambahkan, keselamatan adalah prioritas nomor satu dan dengan mengunduh serta melaporkan masalah melalui aplikasi See Say Airport, publik dapat mengambil peran aktif dalam menjaga bandara seaman mungkin. “Kami mendorong siapa pun yang mengunjungi bandara secara teratur untuk mengunduh aplikasi dan menggunakannya untuk berkomunikasi dengan otoritas bandara secara langsung mengenai masalah keselamatan dan keamanan,” ujar Day.

Angkut 139 Penumpang dan Puluhan Kendaraan, KM Lestari Maju Tenggelam di Perairan Selayar

Masih hangat dalam ingatan, musibah tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Sumatera Utara pada 18 Juni lalu. Dan hari ini, Selasa (3/7/2018) pukul 14.30 WITA, kembali tersiar kabar tenggelamnya kapal di Perairan Selayar, Sulawesi Selatan. Yang tenggelam bukan kapal ukuran kecil, melainkan KM (Kapal motor) Lestari Maju, jenis kapal ferry dengan kapasitas 200 penumpang, dan mampu membawa 20 kendaraan roda empat dan 30 unit kendaraan roda enam. Baca juga: Di Balik Tragedi Danau Toba, Inilah Profil KM Sinar Bangun Dikutip KabarPenumpang dari Humas BNPB, disebutkan KM Lestari Maju tenggelam saat berlayar dari Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba ke Pelabuhan Pamatata, Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan. Untuk penyebab tenggelamnya kapal, diperkirakan karena adanya kebocoran di lambung kiri kapal. Sebagai upaya pertolongan, Tim Basarnas Selayar dan personel Polres Selaya telah menuju Tempat Kejadian Peristiwa (TKP). Saat tenggelam, KM Lestari Maju mengangkut 139 penumpang dan 48 unit kendaraan. 48 unit kendaraan yang diangkut KM Lestari Maju terbagi dalam empat golongan yaitu 18 unit kendaraan golongan II, 14 unit kendaraan golongan IV, delapan unit kendaraan golongan V atau bus dan truk, serta delapan unit kendaraan golongan VI atau bus dan truk. Sebanyak empat orang dilaporkan meninggal karena kecelakaan KM Lestari Maju di perairan Kepulauan Selayar ini. Data tersebut merupakan data sementara yang dihimpun Polda Sulawesi Selatan atas peristiwa yang terjadi sekitar pukul 14.30 WITA tersebut. Baca juga: Sedia Payung Sebelum Hujan, Sedia “OneUp” Sebelum Tenggelam! Sebelumnya, KM Lestari Maju beberapa kali diketahui mengalami kerusakan, seperti pada awal April 2018 disebutkan mengalami kerusakan mesin. Dalam tenggelamnya KM Lestari Maju terlihat beberapa momen dramatis, diantaranya detik-detik tenggelamnya kapal dan hanyutnya beberapa kendaraan. KM Lestari Maju diketaui dimiliki oleh PT Pelayaran Spectra Tirtasegara Line.

“Belt and Road Initiative” dari Cina, Ibarat Madu dan Racun Bagi Negara Berkembang

Tahun 2013, kampanye Belt and Road Initiative China resmi diluncurkan, dan kawasan Asia Tenggara dijadikan prioritas utama proyek investasi infrastruktur tersebut. Salah yang dikenal publik adalah rencana pembangunan kereta api berkecepatan tinggi baru dari  Kunming, Ibu Kota Provinsi Yunnan di Selatan Cina ke Laos. Baca juga: Terkendala Utang, Mahathir Tinjau Berbagai Proyek Kereta di Malaysia Tak hanya itu jalur kereta api berkecepatan tinggi juga dibuat Beijing untuk menghubungkan Kuala Lumpur dan Singapura, serta beberapa proyek lainnya. KabarPenumpang.com merangkum dari cfr.org (15/6/2018), Pemerintah Laos mendorong negaranya maju melalui jalur kereta api dengan nilai investasi mencapai US$5,8 miliar, atau setara dengan Rp83 triliun. Dengan jalur kereta api tersebut, dipercaya akan mengubah Laos menjadi pusat transportasi bagi kawasan itu. Apalagi Laos adalah negara yang hanya mempunyau akses daratan, maka dengan jalur kereta api di harapkan akan meningkatkan pariwisata mereka. Perdana Menteri Laos, Thongloun Sisoulith menyebutkan, proyek kereta api sangat penting bagi pembangunan negara. Hal ini juga menurunkan kekhawatiran yang dikemukakan beberapa lembaga keuangan terkait potensi kereta api sebagai beban hutang. Tak hanya Laos, Filipina pun terus mendekatkan diri untuk mendapatkan proyek Belt and Road tersebut. Bahkan Presiden Indonesia, Joko Widodo juga melihat investasi dan pembiayaan infrastruktur Cina sebagai bagian penting untuk meningkatkan infrastruktur di Indonesia. Namun hal lain terungkap beberapa bulan terakhir, dimana para pemimpin dan masyarakat negara Asia Tenggara khawatir terkait potensi kerugian Belt and Road. Mereka menyadari hal tersebut setelah Sri Lanka tahun lalu akhirnya semakin bergantung pada pembiayaan Cina dan akhirnya memberikan Cina sewa Pelabuhan Hambantota selama 99 tahun demi mengurangi utang. Kepala Dana Moneter Internasional, Christine Lagarde memperingatkan pada bulan April bahwa proyek Belt and Road sebagian besar merupakan pinjaman dan bukan hibah, sehingga bisa menyesatkan dan membebani negara-negara berkembang penerima. Hal ini bisa membuat negara tersebut terperangkap utang dan tidak bisa membayar kembali pada perusahaan Cina atau pemberi pinjaman. Hingga akhirnya pun Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad mengambl pandangan baru untuk mengkaji ulang apakah proyek yang didukung Cina di Malaysia seperti salah satunya jalur kereta cepat Kuala Lumpur-Singapura. Meski beberapa proyek di kaji kembali bahkan ada beberapa yang dibatalkan, tetapi Malaysia tetap berhubungan baik dengan Cina. Sedangkan Thailand pun juga melakukan pengkajian kembali terhadap nilai proyek Belt and Road tersebut. Tetapi Thailand berjanji untuk menghubungkan proyek pembangunan pesisir timurnya dengan inisiatif Belt and Road serta menyambut jalur kereta berkecepatan tinggi. Tetapi masalah-masalah utang Belt and Road pada negara-negara lain, dan potensi biaya tinggi serta utang tinggi yang terkait dengan jalur kereta api, bisa membuat pemerintah was-was terhadap prakarsa Cina ini. Konstruksi akhirnya dimulai di jalur kereta api melalui Thailand, tetapi bulan ini pemerintah Thailand mengumumkan bahwa mempertimbangkan peluncuran dana investasi regional. Baca juga: Cina Kembali Tunggangi Proyek Kereta Cepat, Kali Ini Garap Skandinavia Negara-negara terkecil di kawasan itu, seperti Laos, telah menjadi sangat bergantung pada Cina sehingga mereka mungkin merasa tidak punya pilihan selain menerima proyek Belt and Road.

Anda Pecinta Harry Potter? Kudu Lamar Kerjaan yang Ditawarkan Oleh Operator Kereta Heritage Inggris Ini!

Siapa sih yang tidak kenal dengan tiga bersahabat Harry, Ron, dan Hermione di film Harry Potter? Ya, karakter-karakter penyihir muda yang bersekolah di Hogwarts ini memang memiliki penggemar fanatiknya sendiri, padahal sequel terakhir dari keseluruhan film ini sudah dirilis sejak 7 Juli 2011 yang lalu. Kendati demikian, segala hal yang berbau Harry Potter hingga kini masih digandrungi oleh sejumlah kalangan. Baca Juga: Glenfinnan Viaduct! Jembatan Harry Potter Yang Pernah Selamatkan Keluarga Kecil Bagi Anda yang juga merupakan salah satu penggemar Harry Potter, tentu nama Hogwarts Express sudah tidak asing lagi di telinga. Ya, ini merupakan kereta yang akan membawa para siswa menuju Hogwarts melalui Peron 9 ¾ di Kings Cross Station, London. Nah, bagi Anda yang mengaku sebagai Potterhead (penggemar Harry Potter), jangan lewatkan kesempatan yang ditawarkan oleh North Yorkshire Moors Historical Railway Trust. Pasalnya, operator kereta heritage asal Inggris ini tengah mencari ‘bibit-bibit penyihir’ muda yang akan ditempatkan di sejumlah titik pengoperasian, salah satunya adalah Hogsmeade Station, stasiun terakhir di film Harry Potter. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman travelandleisure.com (28/6/2018), ada sejumlah syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh North Yorkshire Moors Historical Railway Trust, salah satunya adalah dapat bekerja pada hari kerja (tidak mengganggu kegiatan sekolah). Selain itu, sang operator pun menetapkan bahwa yang diutamakan adalah seorang penggemar Harry Potter, karena dalam pekerjaannya nanti, para penyihir cilik ini akan ditugaskan untuk menerangkan sejarah kereta api dan menghubungkannya dengan cerita Harry Potter. Baca Juga: Ini Dia! 10 Perjalanan Kereta Terbaik di Eropa Layanan kereta heritage ini sendiri akan berangkat dari Whitby Station dan mengular melewati beberapa titik yang muncul di film Harry Potter, seperti Hogsmeade Station atau yang memiliki nama asli Goathland Station. Layanan kereta ini sendiri akan berakhir di Pickering Station, North Yorkshire. Tapi sayang sekali, bagi Anda yang mengaku sebagai salah satu fans dari film yang dibintang oleh Daniel Radcliffe, Emma Watson, dan Rupert Grint ini, dan berniat untuk mencoba melamar, pendaftaran penyihir cilik ini sudah ditutup sejak 30 Juni yang lalu. Jangan kelewatan lain waktu, ya!

Bukan Toko Serba Ada, Tapi Stasiun di Jepang ini Memenuhi Semua Kebutuhan Anda!

Menyandang predikat sebagai Negara Adikuasa, nampaknya Amerika Serikat selalu ingin menjadi yang terdepan dalam semua aspek, tidak terkecuali dari segi infrastruktur transportasinya. Namun untuk urusan stasiun kereta api yang satu ini, mungkin Negeri Paman Sam harus gigit jari karena salah satu kompetitor terberatnya, Jepang, disinyalir memiliki stasiun kereta paling megah di dunia. Dapatkah Anda bayangkan sebuah stasiun kereta yang memiliki 15 lantai? Hampir mirip seperti pusat perbelanjaan yang bersanding dengan apartemen di Jakarta, ya! Baca Juga: Beragam Alasan Mengapa Orang Jepang Fanatik Pada Sosok Kereta Ya, seperti yang dirangkum KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, Nagoya Station JR Gate Tower disebut-sebut sebagai stasiun paling keren, paling megah, dan paling menawan di dunia. Bayangkan saja, Anda bisa makan malam di rooftop stasiun 15 lantai ini dan tetap terkoneksi dengan jaringan kereta api Jepang tanpa harus keluar dari lingkungan gedung. Tidak hanya fancy dinner yang dapat Anda jajal, gerai kopi terkemuka Starbucks di sini pun digalang-galang sebagai yang paling keren di dunia. Bagaimana tidak, Anda dapat dengan santai menikmati segelas kopi sambil melihat pemandangan kota Nagoya. Dijamin ini akan menjadi salah satu pengalaman ngopi yang tidak akan pernah Anda lupakan. Lengkap. Mungkin satu kata sederhana tersebut mewakili keseluruhan dari Nagoya Station JR Gate Tower. Mulai dari cafe, beer house, pusat perbelanjaan, hotel, hingga sentra cemilan bawah tanah semuanya ada di gedung ini. Mungkin awal pengadaan dari stasiun serba ada ini dilatarbelakangi oleh kebanyakan stasiun transit yang ada di Jepang hanyalah berbentuk stasiun saja – kurang lengkap. Bisa saja orang-orang Amerika melewatkan ide brilian yang satu ini, dimana operator jaringan kereta api harus bisa membuat penumpangnya merasakan kenyamananyang maksimal. Tapi tetap saja, berbicara soal jaringan perkeretaapian di Amerika Serikat memang tidak sebanding dengan di Jepang sana. Ketika Jepang menjadikan kereta api sebagai tulang punggung dan primadona di sektor transportasinya, maka Amerika tidak. Baca Juga: 5 Stasiun Tersibuk di Dunia, Semua Ada Di Jepang! “Ini (Nagoya Station JR Gate Tower) menciptakan peluang komersial – Dimana lokasi ini memiliki potensi dihampiri oleh banyak orang yang sangat besar. Tapi saya juga berpikir itu akan mengubah karakter perjalanan dan tata kota,” ungkap Norman Garrick, profesor teknik sipil dan lingkungan di Connecticut University. Jangan lupa memanjakan diri di Nagoya Station JR Gate Tower semisal Anda tengah berada di Negeri Matahari Terbit ya!

Enel Raksasa Energi Italia, Rencanakan Pemasangan Baterai 10 MW di Jaringan Kereta Rusia

Raksasa energi Italia Enel baru-baru ini merencanakan memasang baterai dengan kekuatan 10 megawatt di jaringan kereta api Rusia. Pemasangan baterai ini gunanya untuk membantu kereta bergerak lebih cepat di sepanjang jaringan kereta. Baca juga: Nanyang University Punya Bus Kampus Elektrik? Unpad dan UI Juga Punya Tapi… CEO dan General manajer Enel, Frencesco Starace pada bulan lalu menandatangani kesepakatan terkait proyek tersebut dengan direktur utama kereta api Rusia Belozerov Oleg Valentinovich. “Kami akan bekerja sama terutama untuk pengembangan sistem penyimpanan energi inovatif yang akan dipasang di seluruh jaringan kereta api negara tersebut. Ini merupakan pertamakalinya teknologi jenis baterai digunkana di sektor perkeretaapian,” ujar keterangan tertulis dari Enel yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman greentechmedia.com (13/6/2018). Proyek baterai ini sendiri akan disampaikan melalui divisi lanjutan Enel, Enel X dan RusEnergoSbytserta pemasok jaringan listrik kereta api yang dimiliki Enel dan ESN grup dan perusahaan energi milik direktur kereta api RUsia Grigory Berezkin. Starace mengatakan, proyek tersebut akan dilakukan diversifikasi dalam portofolio penyimpanan Enel yang akan memberi solusi dan disesuaikan dengan kebutuhan spesifik pelanggan dan pasar. Sayangnya, pada proyek ini, tidak ada informasi lain dan komentar yang diberikan oleh pihak Enel. Mereka juga menolak memberikan informasi lebih lanjut. Namun, proyek yang menggunakan baterai lithium-ion tersebut dari kabar yang beredar akan dicoba dengan tes selama tiga bulan di laboratorium RZhD pada akhir tahun ini. Tes ini nantinya akan menggunakan baterai tunggal yang aman dan sistem dengan perangkat lunak Enel X untuk memantau permintaan energi tertentu di jaringan kereta api yakni sepanjang 27 ribu mil atau sepanjang 43.452 km yang di aliri listrik di Rusia. Nantinya sistem akan beralih ke baterai ketika daya yang diambil dari kereta melebihi kapasitas pasokan listrik. Hal ini untuk membantu menjaga layanan tetap berjalan bahkan selama periode puncak dan dengan frekuensi layanan kereta api yang lebih tinggi. Baca juga: Wujudkan Mimpi, Pemilik Resor di Australia Hadirkan Kereta Bertenaga Sel Surya Setelah dikonfirmasi pemasangan baterai tersebut, pihak Enel mengatakan, akan memasangnya di dekat rel kereta bukan di kereta apinya. Tujuannya adalah untuk menangkap dan menyimpan daya pengereman regeneratif meski perangkat lunak kontrol telah di kembangkan dalam Enel X. Namun, tidak diketahui secara jelas apakah sistem ini akan berdasar dari yang didapat Enel dalam beberapa tahun. Pihak Enel sendiri sampai saat ini belum mengungkapkan perangkat lunak untuk jaringan kereta api Rusia tersebut akan dari satu atau kombinasi hasil akuisisi atau dari sumber berbeda yang sepenuhnya.

Alipay, Platform Pembayaran Bagi Pelancong Cina Pertama di Jepang

Jepang, negara maju yang menjadi salah satu tujuan wisata pelancong dunia, baik dari Eropa hingga kawasan Asia sendiri. Salah satunya adalah pelancong asal Cina, yang menyumbang 25,6 persen pengunjung asing pada 2017 lalu ke Jepang. Baca juga: Tap Ponsel Pintar, Satu Detik Masuk Stasiun Tanpa Antri Tiket Dengan jumlah pelancong Cina yang datang ke Jepang cukup banyak, maka sistem monorail Okinawa dibuat mudah oleh Urban Monorail Inc. Dimana perusahaan ini melakukan uji coba pembayaran ongkos kereta dengan platform berbasis kode Quick Respons (QR) yang dibuat oleh Alipay yang merupakan anak perusahaan China’s Alibaba Group. KabarPenumpang.com melansir dari laman japantimes.co.jp (21/6/2018), Hadirnya platform Alipay dengan kode QR nantinya bisa memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi pelancong asal Cina. Percobaan dilakukan pada Jumat (20/6/2018) di Yui Rail Okinawa yang dimana penumpang saat melalui gerbang hanya menunjukkan kode QR tersebut pada layar ponsel mereka. Sehingga para pelancong Cina akan dimudahkan tanpa harus lagi membeli tiket kertas. Hadirnya Alipay sendiri merupakan kerjasama Alibaba affiliate Ant Financial Japan dan empat perusahaan lainnya untuk membuat Okinawa Urban ini menjadi sistem gerbang kereta api Jepang pertama yang menggunakan sistem pembayaran elektronik dari luar negeri. “Monorail yang menghubungkan Bandara Naha di Okinawa dengan pusat kota saat ini sudah memiliki sistem gerbang yang bisa membaca kode QR. Ini yang membuat uji coba lebih mudah dilakukan,” ujar juru bicara Orix Corp yang akan menjadi operator Alipay di Jepang. Seorang pejabat Ant Financial Jepang mengatakan, percobaan ini sendiri hanya akan menargetkan pada pelancong Cina. Diketahui, hingga kini lebih dari 50 ribu toko di Jepang sudah menggunakan Alipay yang menerima pembayaran mobile dengan keterkaitan rekening Bank di Cina. Baca juga: Tingkatkan Keselamatan, Jepang Luncurkan Pemindai QR Code di Peron Kereta Bawah Tanah “Akun Alipay pelancong Cina yang menggunakan kereta api Okinawa hanya ada satu persen,” ujar Penanggung Jawab Proyek Urban Monororail di Okinawa, Masaki Oshiro. Oshiro menambahkan, ada baiknya untuk kedepan, Jepang  memiliki berbagai metode pembayaran seperti Alipay. Sebab ini bisa memudahkan pelancong dan tidak harus memaksa mereka untuk menukar mata uang tunai dan membeli tiket.