Hadirnya wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, membawa keuntungan tersendiri pada sebuah negara. Sebagai salah satu gerbang masuknya para wisatawan tersebut, wajar adanya jika bandara, stasiun, hingga pelabuhan berlomba-lomba untuk memperindah infrastukturnya.Tujuannya hanya satu, yaitu untuk meninggalkan impresi yang berkesan pada siapapun yang menginjakkan kaki di sana. Namun, apakah itu semua berjalan sesuai dengan rencana? Belum tentu, karena semua itu kembali terhadap penilaian masing-masing pelancong.
Baca Juga: Bandara Kuala Lumpur Hadirkan “MYairports” untuk Mudahkan Penumpang
Sebagai seorang pelancong, terutama yang datang ke sebuah negara dengan menggunakan visa wisata, padahal tujuan sampingannya adalah untuk ‘berbisnis’, tentu mereka punya standar keamanan yang sedikit lebih tinggi ketimbang pelancong backpacker. Maka tidak heran jika sebuah survei yang dilakukan oleh CWT Solutions Group (konsultan perjalanan bisnis), menunjukkan bahwa para pelancong tersebut merasa lebih aman ketika berada di sebuah bandara, ketimbang stasiun kereta.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman eturbonews.com (28/6/2018), sebanyak 50 persen dari sejumlah pelancong bisnis yang wawancara mengaku khawatir ketika mereka berada di stasiun kereta api atau stasiun kereta bawah tanah. Angka tersebut merupakan yang tertinggi ketimbang beberapa opsi perjalanan lainnya, seperti berjalan kaki (42 persen), bus (39 persen), dan taksi (36 persen).
Namun beberapa tempat seperti bandara dan hotel muncul di deretan belakang tempat yang dikhawatirkan oleh para pelancong bisnis. Survei tersebut pun mengerucutkan bahwa pelancong bisnis yang berdomisili di Amerika Serikat paling khawatir ketika harus berada di jaringan kereta bawah tanah atau stasiun kereta, sedangkan para pelancong bisnis asal Kanada menunjukkan angka yang sebaliknya.
“Travel manager harus memfokuskan program tentang apa yang ditakuti oleh para pelancong bisnis tersebut. Apakah itu dari segi keamanan, atau yang lainnya,” ungkap Christophe Renard, Wakil Presiden CWT Solutions Group. “Kehadiran sejumlah instruksi yang jelas untuk keluar dari bandara (exit sign) dapat berpengaruh besar terhadap impresi seorang pelancong bisnis,” tandasnya.
Baca Juga: Terungkap! Banyak Belokan Ke Kiri, Buat Calon Penumpang Lebih Banyak Belanja di Bandara
Selain soal adanya instrumen tambahan seperti exit sign tersebut, mungkin soal keamanan merupakan aspek utama yang melatarbelakangi ketakutan para pelancong bisnis untuk berlama-lama di stasiun bawah tanah atau stasiun biasa. Ya, nilai keamanan merupakan aspek terpenting yang tidak boleh dikesampingkan oleh para operator infrastruktur transportasi. Karena sebagus apapun hiasan yang dipajang di dalamnya, namun apabila tidak aman, ya wajar saja kalau pelancong jadi kurang betah berlama-lama di sana.
Selain mengemban tugas untuk menerbangkan penumpang hingga sampai di tujuan dengan selamat dan sesuai prosedur, tugas lain yang juga bersandar di bahu seorang pilot adalah memastikan keseluruhan aspek pra-penerbangan sudah sesuai dengan pengarahan sebelumnya. Lalu bagaimana jika sang pilot salah menginput salah satu persiapan pra-penerbangan? Inilah yang terjadi pada maskapai AirAsia penerbangan dari Perth ke Denpasar, Bali.
Baca Juga: Dianggap Seronok, Soal Kostum Pramugari AirAsia Diadukan Ke Pejabat Malaysia
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman perthnow.com.au (29/6/2018), seorang pilot asal Indonesia dikabarkan salah memasukkan koordinat landasan ke dalam komputer pesawat. Akibatnya, pesawat berbelok arah secara mendadak tidak lama setelah take off. Kejadian ini sendiri terjadi pada tanggal 24 November 2017 silam, namun pihak Australia Transport Safety Bureau (ATSB) baru merilis penyebab insiden tersebut terjadi tadi pagi.
Kejadian ini bermula ketika sang pilot mendaftarkan PK-AZE yang dioperasikan oleh AirAsia Indonesia sebagai penerbangan bernomor QZ535, dengan rute Perth menuju Denpasar. Ketika melakukan persiapan pra-penerbangan, sang pilot memasukkan rencana penerbangan ke dalam Flight Management Guidance Computer (FMGC). “Sang pilot percaya bahwa akan lepas landas dari runway 3,” tulis laporan yang dirilis ATSB.
Namun pilot yang berkebangsaan Indonesia tersebut mendengar dari Automatic Terminal Information Service (ATIS) bahwa sebenarnya runway yang harus digunakan adalah runway 21 – landasan yang sama, namun dengan arah yang berbeda. Akhirnya sang pilot memasukkan runway 21 sebagai landasan untuk take off, dan sialnya itu merupakan arah yang salah.
Ketika pesawat baru saja take off dari runway 21, pesawat lalu berbelok arah di ketinggian 260mdpl, ketinggian yang belum aman untuk melakukan sebuah manuver. Kendati begitu, pesawat bisa kembali ke jalurnya dan melanjutkan penerbangan menuju Pulau Dewata.
Baca Juga: Urat Malu Putus, Penumpang AirAsia Ini Kekeh Pindah Ke Bangku Premium
Dapat Anda bayangkan betapa bahayanya keteledoran semacam itu, dimana rute penerbangan yang sudah ditentukan dan diatur sebelumnya, tidak menutup kemungkinan terjadi tabrakan semisal ada pesawat yang berada di lintasan QZ535 yang salah tersebut.
Karena dianggap telah menyalahi aturan yang berlaku, maka sejumlah otoritas penerbangan tengah melakukan investigasi lebih lanjut terhadap perkembangan kasus yang nyaris merenggut ratusan nyawa penumpang tersebut.
Semisal di Indonesia ada Damri yang menjadi salah satu tulang punggung penyedia jasa layanan transportasi bus, maka Negeri Bavaria Jerman punya FlixBus. Perusahaan ini sendiri meluncurkan layanan perdananya pada tahun 2013, mengikuti deregulasi pasar bus Jeman. Sama halnya seperti penyedia jasa layanan bus di belahan negara lain, tujuan hadirnya FlixBus adalah untuk disandingkan dengan sarana tranportasi lain di Jeman, seperti layanan ride-sharing dan Deutsche Bahn.
Baca Juga: 10 Halte Bus Ini Jelas Tidak Biasa
Diprakarsai oleh Daniel Krauss, Jochen Engert, André Schwämmlein, FlixBus lalu berkembang menjadi model bisnis yang unik – sebuah startup, layanan online, dan bisnis di sektor transportasi. Selayaknya Uber, FlixBus pun lama kelamaan berkembang menjadi sebuah perusahaan besar yang punya pasarnya tersendiri. Tidak hanya di Jerman, layanan FlixBus pun dewasa ini mulai berkembang di negara-negara Eropa lainnya.
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman total-croatia-news.com, layanan FlixBus yang bisa dibilang menjadi salah satu inovasi jasa transportasi bus berbasis online pun menjadi primadona baru di Kroasia pada awal kemunculannya di sekitar tahun 2016 silam. Perkembangannya yang cukup signifikan lalu menjaring ratusan perusahaan kecil untuk turut berbaur ke dalam perusahaan yang berbasis di Berlin ini.
Layanan Flixbus sendiri bekerja sama dengan sejumlah perusahaan bus regional dari seluruh Eropa. Mitra lokal bertanggung jawab atas rute pengoperasian sehari-hari, sementara Flixbus bertanggung jawab atas otorisasi resmi yang diperlukan untuk mengoperasikan jaringan jarak jauh. Flixbus menangani perencanaan jaringan, pemasaran, penetapan harga, manajemen mutu, dan layanan pelanggan. Model bisnis seperti ini memungkinkan perusahaan untuk berkembang dengan cepat. Di sisi lain, kualitas bus tergantung pada armada yang tersedia di setiap sub kontraktor.
Baca Juga: Volvo Rilis Dua Model Bus Terbaru Untuk Wisata dan Perjalanan Jarak Jauh
Dengan beredarnya bus ini di Jerman dan Kroasia, sudah barang tentu mereka membuka koneksi baru dengan menghubungkan sejumlah kota di Benua Biru. Tidak hanya di Eropa, pada tanggal 15 Mei 2018 kemarin, FlixBus baru saja mengembangkan sayap bisnisnya hingga ke Negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Dengan menjadikan Los Angeles sebagai hub utamanya, rencananya perusahaan ini akan menghubungkan beberapa kota penting di sana, seperti Las Vegas, San Diego, Tucson, dan Phoenix.
Di Kroasia sendiri, salah satu negara dengan penyebaran Flixbus terbesar, layanan ini telah mengkoneksikan lebih dari 20 kota di Ktoasia dengan sekitar 40 kota lain di Eropa, termasuk Slovenia, Austria, Italia, Jerman, dan Swiss.
Bersepeda merupakan salah satu olahraga yang paling menyenangkan. Sebab sembari berolahraga, menghirup udara segar saat pagi hari dengan bersepeda adalah hal yang paling baik.
Baca juga: Lima Poin ini Siap Ubah Persepsi dan Jadikan Anda Seorang Komuter Sepeda!
Tapi apa jadinya, jika saat sedang bersepeda untuk berolahraga di jalan besar dan sudah berada di lajurnya, kemudian diganggu pengemudi kendaraan lainnya bahkan membuat cedera atau yang lebih parah lagi meninggal? Baru-baru ini dilansir KabarPenumpang.com dari laman somersetlive.co.uk (28/6/2018), seorang pria pengendara sepeda di dorong penumpang mobil yang mendahuluinya hingga terpental ke semak-semak.
Dari video yang tersebar, di dalam mobil tersebut setidaknya ada tiga orang di dalam mobil dan mendorong pengendara sepeda tersebut di jalanan umum. Video tersebut diambil oleh penumpang yang dududk dibagian belakang mobil dan pelaku pendorong terlihat berdiri dan bersandar di jendela mobil.
Kemudian, pria pelaku pendorongan menarik pengendara sepeda dan melemparkannya ke rerumputan pas di pinggir jalan yang mereka laluinya. Dalam video, pengendara sepeda terpental dan terguling ke semak-semak.
Sayangnya tidak diketahui bagaimana kondisi pengendara sepeda tersebut. Video yang diposting di grup Facebook dengan caption Idiot Drivers Exposed ini telah dilihat sebanyak 280 ribu kali saat pertama kali diunggah pada 27 Juni 2018 kemarin.
Banyak warganet yang mengomentari kejadian tersebut, salah seorangnya adalah Shjeel Ahmed yang mengatakan, pengendara sepeda itu mungkin telah meninggal atau mengalami cedera berat.
“Dia dilemparkan dari sepeda seperti itu dengan kecepatan goes yang cukup tinggi,” tulis Ahmed.
Lain lagi dengan Jennifer Ann Bracegirdle yang melihat hal tersebut dan mengatakan sangat tidak baik perlakuan penumpang mobil.
Baca juga: Israel Railways Hadirkan Sepeda di Stasiun untuk Mudahkan Akses Penumpang
“Pengendara ini bisa terluka parah bahkan meninggal. Dia jelas pengendara sepeda yang benar karena menggoes dengan cepat dan berada di pinggir jalan bahkan tidak mengganggu lalu lintas lainnya. Kekerasan yang dilakukan ini tanpa berpikir dan ini sama seperti melempar seseorang kedepan bus,” tulisnya.
“Jika Anda pernah menerima sesuatu yang begitu jahat seperti ini, itu menakutkan dan tidak sedikit lucu. Orang tolol ini harus dituntut dengan percobaan pembunuhan! Tindakannya di sini adalah nekat untuk membahayakan hidup dengan niat,” tulis Mark A Leavesley.
Beragam fasilitas pendukung yang disediakan oleh penyedia layanan kereta api di berbagai negara semata-mata ditujukan untuk meningkatkan pengalaman penumpang dan memanjakan mobilitas mereka. Seperti di India, tepatnya di Stasiun Dadar, operator kereta menyewakan mobil golf yang biasa digunakan oleh orang-orang tua atau penyandang disabilitas. Namun apa jadinya jika fasilitas pendukung seperti ini malah menimbulkan masalah baru bagi stasiun terkait?
Baca Juga: Stasiun Kereta ‘Rasa Bandara Internasional’ Siap Hadir di India
Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman indiatimes.com (26/6/2018), alih-alih mengangkut penyandang disabilitas atau orang tua, mobil listrik bertenaga baterai ini malah tergelincir di salah satu peron Stasiun Dadar. Untungnya, mobil tersebut tengah tidak melakukan operasi, sehingga tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Anant Sudrik yang berperan sebagai pengemudi mobil nahas ini pun hanya menderita luka ringan.
Sumber: indiatimes.com
Kepada media setempat, Anant mengaku kehilangan kemudi ketika dirinya tengah tergesa-gesa di salah satu peron selepas mengantarkan salah seorang tua ke dalam kereta. “Kejadian ini sendiri terjadi pada pukul 14.30 waktu setempat, mobil golf jatuh ke rel yang berdekatan dengan peron 7, yang khusus untuk melayani perjalanan jarak jauh eksklusif,” terang salah satu pejabat di Central Railway.
“Kendati tidak ada kerusakan pada infrastuktur (rel), namun pengemudi tersebut dianggap lalai dan akan dikenai denda sebesar Rs5.000 (sekitar Rp1.000.000),” tandas narasumber yang enggan membongkar identitasnya tersebut. Tidak hanya menjadi seseorang yang berada di balik insiden ini, Anant pun dinilai lalai karena telah memasuki zona yang bukan menjadi daerah operasinya.
Baca Juga: Lukisan Dinding Ramaikan 100 Stasiun di India
“Mobil golf sebenarnya tidak diperbolehkan masuk ke peron 5 dan 6, karena itu terlalu berresiko,” ujar sang narasumber. Seharusnya, ia menambahkan, para penyandang disabilitas atau orang tua bisa menggunakan layanan kursi roda yang disediakan oleh pihak stasiun jika hendak masuk ke peron 5 dan 6.
Tuduhan kelalaian Anant semakin diperparah ketika dikaitkan dengan kecepatan maksimal dari si mobil golf sendiri yang hanya mencapai kecepatan kurang dari 10km/jam. Tidak heran jika banyak pihak yang lalu mempertanyakan faktor keselamatan dari fasilitas penunjang stasiun tersebut. Duh, ada-ada saja, ya!
Nampaknya kalimat “Buku Adalah Jendela Dunia” tidak akan lekang oleh waktu, kendati perkembangan jaman sudah membawa banyak kemudahan bagi siapa saja yang hendak mencari informasi. Kuatnya jargon tersebut sampai-sampai mendorong sejumlah kreatif untuk memberdayakan moda transportasi sebagai perpustakaan berjalan. Semisal di Indonesia ada Kereta Pustaka, maka lain halnya dengan yang ada di Negeri Paman Sam.
Baca Juga: Kereta Pustaka Indonesia – Cerdaskan Bangsa di Usianya yang Senja
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dnj.com (1/6/2018), sekolah bernama Murfreesboro City School meluncurkan bus yang dialihfungsikan menjadi sebuah perpustakaan berjalan bernama Books On a Bus (BOB) pada Kamis (31/5/2018) kemarin. Sebelumnya, bus dengan kapasitas 86 penumpang ini dioperasikan sebagai moda untuk mengangkut anak-anak sekolah pada tahun 2017 yang lalu.
Sumber: dnj.com
Bermodalkan dana sebesar US$40.000 atau yang setara dengan Rp565,6 juta, salah satu direksi dari Murfreesboro City School Linda Gilbert lalu mentransformasikan bus ini menjadi sebuah perpustakaan keliling dalam jangka waktu dua setengah bulan saja.
Mengusung visi untuk menjangkau para pembaca, BOB lalu tidak hanya diam saja di satu titik dan menunggu para peminat baca datang menghampirinya, melainkan bus ini terus melakukan mobilitas setiap harinya dan melakukan sejumlah pemberhentian. Diketahui bus perpustakaan ini melakukan pemberhentian 15 kali dalam seminggu di komplek-komplek dan apartemen di beberapa kota dengan penghasilan warganya yang bisa dibilang rendah.
Sekitar 1000 buku dipamerkan dalam bus ini, mulai dari buku untuk anak berusia dua tahun hingga kelas 6 SD dapat ditemukan di sini. Uniknya, para pengunjung tidak hanya dapat membacanya ditempat, melainkan dapat membawanya pulang.
Baca Juga: Nunggu Bus di Halte ini Bisa Bikin Tambah Pintar, Lho!
Pihak penyedia layanan mengatakan bahwa musim panas merupakan waktu yang krusial bagi para pelajar, terutama bagi mereka yang tidak mengambil program pendidikan semasa waktu liburan panjang tersebut. Sebuah studi menunjukkan bahwa libur musim panas merupakan celah bagi setiap pelajar untuk menurunkan kebiasaan ‘bersentuhan’ dengan dunia akademis, dan hal tersebutlah yang coba diberantas oleh bus perpustakaan BOB ini. Inspiratif ya!
Ketika teknologi dunia perkeretaapian semakin canggih, Swedia juga tak mau kalah untuk mengembangka fitur pada basis sistem transportasinya tersebut. Baru-baru ini, di Stockholm, Swedia, dihadirkan Augmented Reality (AR) untuk menavigasi penumpang saat berada di stasiun tersibuknya yakni Stockholm Central.
Baca juga: Mudahkan Calon Penumpang, Bandara Gatwick Adopsi Augmented RealityKabarPenumpang.com merangkum dari laman railway-technology.com (27/6/2018), bahwa inisiatif baru ini dihadirkan dalam bentuk JS Labs oleh operator kereta penumpang Statens Järnvägar (SJ) yang mana kereta apinya melayani Stockholm Central. Ini merupakan aplikasi interaktif yang menggunakan AR untuk membantu penumpang menavigasi menuju platform keberangkatan mereka.
Penumpang nantinya hanya mengunduh aplikasi dan memindai kode QR kemudian memasukkan tujuan platform yang diinginkan. Selanjutnya penumpang membuka kamera pada ponsel cerdas mereka dan melalui kamera tersebut akan menunjukkan sejumlah petunjuk digital untuk membimbing penumpang sampai tujuan serta tambahan kunci sepanjang jalan.
Fitur AR sendiri kini masih dalam tahap uji coba dan kemungkinan peluncurannya pada musim gugur ini. SJ sendiri berharap fitur AR mampu membuktikannya kepada penumpang dan pengembang bahwa teknologi ini bisa membantu.
Apalagi pada musim panas di Stockholm, akan ada pemeliharaan ekstensif di rute alternatif stasiun Stockholm Central. Direktur pengembangan bisnis dan transformasi digital aplikasi Claes Lidholtz mengatakan, teknologi AR ini merupakan strategi perusahaan untuk menarik umpan balik dari para penumpang untuk meningkatkan layanan utama.
“SJ Labs sendiri merupakan sebuah konsep dimana kami mencoba mengembangkan layanan baru untuk pelanggan kami, bersama dengan pelanggan kami, dan kami cenderung beralih dari ide untuk diluncurkan dalam waktu delapan minggu,” jelas Lindholtz.
Dia mengatakan, ini adalah bagian penting dari penilitian konstan pihaknya dalam menemukan cara dan inovatif untuk memudahkan pelanggan melakukan perjalanan dengan kereta api dan melibatkan dalam proses pengembangan. Lindholtz menambahkan pemilihan Stockholm Central dalam uji coba fitur AR ini sendiri dikarenakan sebagai tujuan wisata terbesar di Swedia dan stasiun kereta api tersibuk di seluruh Skandinavia yang menyambut 200 ribu penumpang setiap harinya.
Baca juga: Sukses Curi Hati Penyandang Disabilitas, Swiss Federal Railways Rajai Perkeretaapian di Eropa!
“Fitur tersebut nantinya akan diluncurkan secara permanen, jika pelanggan menganggap ini adalah layanan yang baik dan benar-benar membantu mereka serta hasil pengujian juga memutuskan hal tersebut. Sebab kami berada diantaranya dan pada musim gugur ini pelanggan akan tahu apakah akan diluncurkan atau tidaknya fitur AR dari SJ Labs,” jelasnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab PT MRT Jakarta (PT MRTJ) kepada masyarakat DKI Jakarta, perusahaan yang dikepalai oleh William P Sabandar ini terus memberikan informasi perkembangan terkait pembangunan jaringan transportasi baru di Ibu Kota tersebut. Dalam acara Forum Jurnalis dan Blogger yang diadakan di Wisma Nusantara, markas MRTJ, William menyampaikan perkembangan di sektor pembangunan infrastruktur tetap berjalan sesuai skema awal.
Baca Juga: JR East Pasang Safety Guards, Apa Sih Bedanya Dengan Platform Screen Doors?
“Kami terus melakukan interaksi dengan masyarakat, supaya masyarkat tahu lebih banyak tentang (progress) MRT. Secara keseluruhan, progress fase 1 telah mencapai angka 94,62 persen,” terang William di hadapan sejumlah awak media, Rabu (28/6/2018). Ia juga menambahkan bahwa progress tersebut terbagi ke dalam dua cabang, pengerjaan depo dan elevated section dan underground section.
Untuk pengerjaan depo dan elevated section, lanjut William, sudah mencapai angka 92,4 persen. Sedangkan untuk underground section telah mencapai 96,87 persen pengerjaan. ‘Rupa’ dari beberapa stasiun yang membentang dari Lebak Bulus – Bunderan HI pun sudah semakin terlihat, baik yang elevated maupun yang underground. Bahkan beberapa di antaranya sudah ada yang dipasangi Platform Screen Doors.
Hampir mirip dengan stasiun-stasiun Commuter Line Jabodetabek, nantinya stasiun elevated section MRT Jakarta tidak akan menggunakan teknologi Air Conditioning (AC). “Untuk yang underground akan pakai AC, sedangkan untuk yang elevated tidak. Kami akan menggunakan sistem sirkulasi udara, karena konsepnya (elevated section) ramah lingkungan,” jelas William.
Selain itu, lulusan University of Canterbury, Selandia Baru ini telah menentukan sejumlah target yang harus dicapai oleh PT MRTJ sebelum pengoperasian penuh pada April 2019 mendatang. “Jadi kita akan gelar sejumlah uji coba, sepeti 23 Juli besok kita akan tes sistem persinyalan dijalur utama tanpa kereta,” ujar William.
Tidak hanya sistem persinyalan yang diuji coba, dua rolling stock yang sudah mejeng di Depo Lebak Bulus sejak beberapa waktu yang lalu pun akan diuji coba dalam waktu dekat. “10 September kita akan tes uji pergerakan kereta di jalur utama, dan uji coba kereta ke dua sampai ke 16 akan mulai bergulir sejak 8 Desember nanti,” ujarnya.
Baca Juga: Tingkatkan Keamanan di Peron, Stasiun MRT Jakarta Akan Dilengkapi Platform Screen Doors
Menyadari rencana tersebut sifatnya tentatif karena kemungkinan banyaknya hambatan faktor eksternal, maka William mengatakan bahwa dirinya dan jajaran lain di PT MRTJ akan mengupayakan momentum yang ada secara maksimal. “Kenyataannya di lapangan memang tidak semudah membacakan rencana tersebut, ada banyak tantangan,” tandas William.
Gunung Agung yang kembali erupsi pada Kamis (26/6/2018) kemarin membuat Direktorat Navigasi Penerbangan mengeluarkan NOTAM (Notice to Airmen) penutupan bandara. Penutupan yang berlangsung pada hari ini, 29 April 2018 dilaksanakan selama 16 jam sejak pukul 03.00 WITA hingga 19.00 WITA.
Baca juga: Gunung Agung Erupsi, Citilink Batalkan Seluruh Penerbangan dari dan Menuju Denpasar
Bukan hanya Bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar, Bali yang ditutup, semua maskapai yang memiliki rute penerbangan dari dan ke Pulau Dewata ini juga harus membatalkannya. Salah satu diantara maskapai yang membatalkan penerbangannya adalah AirAsia.
Dikabarkan maskapai berbiaya hemat (LCC) ini membatalkan 22 penerbangannya setelah erupsi Gunung Agung. Dilansir KabarPenumpang.com dari thejakartapost.com, AirAsia mengatakan, karena letusan Gunung Agung baru-baru ini di Bali, beberapa penerbangan mereka yang dijadwalkan tiba dan berangkat dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Denpasar ikut terpengaruh.
Penerbangan yang terkena dampak termasuk salah satunya dari kota-kota populer di Indonesia dan negara tetangga seperti dari Kuala Lumpur, Malaysia. Dari Kuala Lumpur sendiri ada lima penerbangan yakni AK 370, AK 317, AK 378, AK 379, QZ 555.
Penerbangan Bali dan Singapura ada tiga dengan nomor QZ 507, QZ 508, QZ 509, penerbangan Bali dan Perth ada dua, yakni QZ 536, QZ 537. Sedangkan Bali dan Jakarta ada delapan penerbangan QZ 7533, QZ 7534, XT 7516, XT 7517, XT 7518, XT 7519, XT 7522, XT 7523, Penerbangan Bali dan Surabaya ada dua XT 7624, XT 7625 serta Bali dan Manila ada dua dengan nomor Z 2231 dan Z 2232.
Baca juga: Ini Dia Serba-Serbi NOTAM, Pemberitahuan Yang Terkesan “Menakutkan”
Sedangkan penerbangan FD 398 dan FD 399 antara Bali dan Bangkok, Thailand, serta penerbangan Perth ke Bali QZ 545 dan penerbangan Kuala Lumpur ke Bali QZ 557 telah ditunda. Maskapai AirAsia mengatakan, penumpang akan diberitahu tentang status penerbangan mereka melalui email dan pesan teks dan menyarankan para penumpang untuk memperbaharui semua rincian kontak di situs web AirAsia untuk memastikan mereka menerima pemberitahuan.
Dikarenakan adanya pembatalan, pihak maskapai juga memberitahukan kepada penumpang dan memberikan pilihan menjadwal ulang penerbangan, mengubah rute perjalanan atau menerima pengembalian uang atau kredit.
Bukan United Airlines namanya jika tidak bertengger di puncak pemberitaan global. Selalu ada saja pemberitaan yang bisa diangkat dari salah satu maskapai kebanggaan Negeri Paman Sam ini. Tapi tunggu dulu, Anda jangan dulu naik pitam, karena kali ini bukan kejadian kekerasan seperti yang menimpa David Dao atau beragam kasus United yang sebelum-sebelumnya. Kali ini, salah satu penumpang dari maskapai yang kerap kali dianggap sebagai Flag Carrier Amerika ini meninggal ketika pesawat tengah mengudara.
Baca Juga: Hendak Mengudara? Jangan Konsumsi Obat-Obatan Jenis Ini, Berbahaya!
Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan oleh KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, kejadian ini sendiri terjadi pada Selasa (26/6/2018) malam, ketika pesawat tengah bertolak dari bush Intercontinental Airport di Houston menuju Boston. Diduga, penumpang tersebut meninggal karena darurat medis.
Karena kejadian ini, si burung besi yang semula bertolak menuju Logan Airport di Boston, terpaksa dialihkan dan melakukan pendaratan darurat di Washington-Dulles, Virgina setelah pesawat mengudara kurang lebih sekitar dua jam lamanya.
Insiden ini berawal ketika seorang pramugari di penerbangan 1888 tersebut mendapati salah satu seorang penumpang prianya menunjukkan gerak-gerik yang mencurigakan, seperti kesakitan. Panik akan kondisi tersebut, sang pramugari langsung memberitakan apa yang ia lihat kepada kapten penerbangan dan akhirnya sang kapten memutuskan untuk melakukan pendaratan darurat.
Pria yang disinyalir berusia 40 tahunan tersebut sempat membuat panik dan takut seluruh penumpang yang berada di dalam kabin. Selama menunggu pesawat mendarat, para penumpang lain pun mencoba untuk memberikan sejumlah pertolongan, namun semuanya sia-sia. Sesampainya pesawat di Bandara Washington-Dulles, Virgina, pria tersebut langsung mendapatkan penanganan medis. Sayangnya, nyawa pria malang tersebut tidak tertolong. Kuat dugaan, sang penumpang terkena serangan jantung ketika pesawat tengah mengudara.
Baca Juga: Pengemudi Grab Antar Penumpang Serangan Jantung ke Rumah Sakit, Keluarga Berterimakasih
Atas kejadian tersebut, pihak United Airlines melalui juru bicaranya menyampaikan rasa belasungkawa terhadap keluarga korban. “Kami turut berduka mengetahui salah satu penumpang kami meninggal dunia,” ujar sang Jubir. “Kami menyampaikan ucapan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban,” tandasnya.
Sementara itu, para penumpang yang penerbangannya ikut tertunda akibat kejadian ini, dialihkan menuju penerbangan lainnya di hari yang sama.