Singapura Hadirkan “Kota Mini” dengan Kendaraan Otonom
Singapura kembali membuat negaranya dimudahkan dengan segala hal teknologi salah satunya membuat kota mini dengan berisi kendaraan tanpa pengemudi. Kota ini hanya sebesar dua hektar dan akan dibuka pada November 2018 mendatang.
Baca juga: Kendati Futuristik, Namun Masih Banyak yang Meragukan Pod Otonom
Dalam kompleks ini nantinya akan ada bukit kecil yang memeriksa cara kerja sensor kendaraan saat tidak bisa melihat jalanan yang ada didepanya. Gedung pencakar langit untuk membuat tiruan gangguan radio dan mesin pembuat hujan buatan yang sering terjadi di Singapura.
KabarPenumpang.com melansir dari laman thejakartapost.com (6/6/2018), Singapura dengan hadirnya ini membantu membangun basis data informasi yang tak tertandingi terkait tantangan dan solusi dimana memungkinkan pemerintah untuk memperkenalkan teknologi dengan aman.
“Kami mungkin satu-satunya negara yang melihat ini dengan cara yang proaktif dan sistematis. Apa yang kami lihat sebenarnya adalah penerapan peraturan,” ujar Mantan Wakil Sekretaris di Kementerian Transportas, Lee Chuan Teck.
Lee mengatakan data yang dikumpulkan harus memungkinkan pemerintah membuat peraturan kendaraan otonom pada tahun kedua. Saat ini diketahui ada sepuluh perusahaan yang menguji kendaraan otonom buatan Nanyang Technological University.
Direktur Program Future Mobility Solution, Niels de Boer mengatakan, dua bus dari Volvo AB akan bergabung dengan mereka awal tahun depan dan akan ada banyak lagi yang datang. Nantinya kecepatan berjalannya kendaraan otonom hanya 20-25 km per jam.
“Kami akan lihat lingkungan yang terkendali meski banyak hambatan,” ujarnya.
Pada kota ini ada tujuh kamera 360 derajat yang menghadirkan video secara langsung ke Land Transport Authority’s Intelligent Transport Systems Centre. Bersama dengan informasi yang dikumpulkan dari kendaraan, pemerintah sedang membangun basis data yang memungkinkan untuk mengevaluasi apakah EV siap untuk jalan umum dan bagaimana mereka harus dikerahkan.
Nanyang Technological University sedang menguji sebuah minibus tanpa sopir 15 penumpang yang dibangun oleh perusahaan Perancis Navya SAS, dimana peneliti dapat beroperasi menggunakan perangkat lunak otonom atau secara manual melalui handset gaya video game. Bus menavigasi jalur, berhenti di depan pejalan kaki yang tersesat di jalan dan berhenti di halte bus untuk mengumpulkan dan mengantarkan penumpang, meskipun beberapa fungsi, seperti bergerak di lampu lalu lintas masih harus dimulai secara manual.
Satu-satunya tempat bus tidak akan berjalan adalah ke tempat dengan simulator karena bus sempat rusak terkena badai petir belum lama ini. Sebab sejauh ini, kendaraan yang diuji di tempat yang ada mesin hujan buatan tidak bekerja dengan baik.
Sekitar 70 persennya sensor pada kendaraan tidak berjalan dengan baik saat hujan lebat. Bus uji universitas mungkin bukan kendaraan otonom eksperimental paling canggih yang digunakan, tetapi itu menunjukkan bahwa kendaraan tanpa pengemudi masih memiliki banyak rintangan untuk diatasi.
Baca juga: Hino Motors Kembangkan Bus Mini Otonom di Bandara Haneda
Sementara penggunaan AI berarti bahwa mesin akan belajar dengan cepat dari kesalahan mereka, pelajaran nyata dari taman uji adalah kebutuhan akan infrastruktur canggih di luar kendaraan.
“Infrastruktur akan menjadi lebih penting. Tidak cukup untuk mengetahui di mana kendaraan itu berada,” kata de Boer.
Operator dan petugas lalu lintas juga harus memantau banyak kejadian lain yang mungkin penumpang tua yang jatuh di dalam bus, antrian yang luar biasa besar di halte bus, kerusakan dan kejadian lainnya.
Siap-Siap! PT KAI Akan Jual Tiket Sleepers Train 10 Juni Mendatang
Ada kabar baik bagi para railfans – sebutan untuk para pecinta kereta api – di seluruh Indonesia, PT KAI kini tengah melakukan ‘sentuhan’ terakhir agar layanan terbarunya, Sleepers Train, dpat beroperaasi pada Senin (11/6/2018) mendatang. Semisal terwujud, maka asa bagi para pemudik yang tidak kebagian tiket pulang ke kampung halaman masing-masing pun akan turut meningkat seiring dengan rencana penjualan tiket yang rencananya akan mulai dijual sehari sebelum pengoperasian (Minggu, 10/6/2018).
Baca Juga: Tak Lagi Gunakan Format Bilik, PT KAI Siap Luncurkan Layanan Sleepers Train Lebaran 2018 Mendatang!
Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro mengatakan bahwa dirinya kini tengah menantikan izin pengoperasian dari pihak Kementerian Perhubungan (Kemenhub). “Ya kalau nanti memang keluar izinnya tanggal 10 ya kita jual tanggal 10. Ekspektasi saya tanggal 11 Juni ini sudah bisa dioperasikan,” ujarnya, dilansir dari laman inews.id (7/6/2018).
Selain masih menunggu keputusan dari Kemenhub soal perizinan, PT KAI sendiri pun hingga kini masih belum menentukan tarif yang akan dikenakan kepada para penumpang layanan Sleepers Train. “Kurang lebih Rp1 juta. Tapi barangkali karena ini percobaan saya mau kasih yang jauh lebih murah,” tandas Edi. Harga tersebut berlaku untuk satu-satunya rute yang dilayani oleh kereta bernuansa First Class di moda udara ini, yaitu Jakarta – Surabaya.
Edi menyiratkan bahwa rute dan harga dari layanan Sleepers Train ini merupakan salah satu ajang uji coba PT KAI untuk melihat respon pasar. Pasalnya, KA Argo Parahyangan yang mengoperasikan Priority Class (satu tingkat di atas kelas eksekutif) saja, penumpang merasa tidak keberatan dengan harga tiket yang melambung di atas kelas eksekutif, yaitu berkisar Rp300.000.
Belum lagi soal rute yang dioperasikan, tentu PT KAI akan memaksimalkan efisiensi dan keefektifan rute Jakarta – Surabaya, karena nilai jual utama dari layanan Sleepers Train adalah perjalanan yang memakan waktu lama. “Nanti dipertimbangkan ada yang menuju ke Yogyakarta atau Solo, ini kan lagi dicoba kira-kira minatnya ada tidak,” terang Edi.
Menyinggung soal armada Sleepers Train sendiri, Direktur Administrasi dan Operasi PT KA Pariwisata, Sunarjo mengatakan bahwa hingga saat ini ada empat gerbong yang siap beroperasi. “Saat ini, kami memiliki empat gerbong yang dapat digabungkan dengan kereta api yang ada seperti Gajayana (Malang) dan Argo Anggrek (Surabaya),” tuturnya.
Baca Juga: Hadirkan Sleeper Train, Siapkah PT KAI Hapus Bayangan “Masalah” Sosial KA Bima?
Kendati begitu, PT KAI hanya akan mengoperasikan tiga dari empat gerbong yang ada. “KAI investasinya empat gerbong, rencananya di Bromo Anggrek ada dua perjalanan, satu untuk Gajayana, satu lagi untuk cadangan,” ungkap Presiden Direktur PT KA Pariwisata, Totok Suryono, dilansir dari laman sumber terpisah.
Canangkan Integrasi dengan Jasa Transportasi Online, MRT Jakarta Bangun Aplikasi Sendiri
Belum lama melakukan tanda tangan nota kesepahaman dengn GoJek Indonesia, PT MRT Jakarta hari ini (8/6/2018), kembali melakukan hal yang sama dengan Grab Indonesia. Penandatanganan ini sendiri dilakukan untuk menghadirkan sinergi dalam sistem transportasi ibu kota yang semakin hari semakin padat dengan kendaraan pribadi.
Baca juga: MRT Jakarta Gandeng GoJek Kembangkan Bisnis dan Mobile Payment via Aplikasi
Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, pihaknya saat ini tengah melakukan pembuatan aplikasi untuk MRT yang akan bersinergi dengan GoJek dan Grab. Namun, akan seperti apanya saat ini pihak MRT masih terus melakukan perumusan dan pembicaraan yang tepat untuk ini.
“Kita buat sendiri aplikasinya, nanti sinerginya dengan aplikasi-aplikasi sistem lain seperti GoJek dan Grab. Yang jelas semuanya akan terintegrasi nantinya,” Jelas William kepada KabarPenumpang.com di kantor MRT Jakarta, Jumat (8/6/2018).
William menambahkan, untuk pembaruan aplikasi baik untuk GoJek maupun Grab masih dibicarakan secara teknis. Tak hanya itu, meski bekerja sama dengan platform online, MRT Jakarta tak melupakan TransJakarta dan Kereta commuterline (KRL) untuk tetap bersinergi.
Selain kerja sama untuk sinergi pengangkutan penumpang dari first mile-last mile, sistem pembayaran pun akan disinergikan melalui aplikasi tersebut. Managing Director Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata mengatakan, akan lebih mudah bagi pengguna Grab baik GrabBike maupun GrabCar.
“Karena pengguna Grab di Jakarta khususnya cukup signifikan, dengan seamless konetivitas melalui teknologi dan operasional kami bisa memudahkan pembayaran. Bersama denagn OVO sebagai mitra payment nantinya pembayaran dengan Grab dan MRT akan bisa lebih mudah,” ujar Ridzki.
Tak hanya terkait dengan aplikasi dan mitra payment yang akan bersinergi, William juga menambahkan terkait progres MRT saat ini. Pada 4-5 Juni 2018 kemarin, pihak MRT Jakarta sudah melakukan uji sinyal dan hasil yang didapat ialah persinyalan berjalan dengan baik.
“Saat uji sinyal evaluasi kita saat ini dua kereta yang ada kita uji dan sinyalnya berjalan baik,” jelas William.
Baca juga: Jelang April 2019, Inilah Beragam Strategi PT MRT Jakarta Agar Kondisi Sekitar Stasiun Kondusif
Setelah uji coba persinyalan, William mengatakan, akan menyipkan kedatangan kereta-kereta selanjutnya kemudian akan melakukan tes di line utama. Untuk tiket MRT yang akan beroperasi pada Maret 2019 mendatang, sampai saat ini kisaran tarif belum turun dari pemerintah.
“Kalau hasil dari studi konsultan kita kisaran Rp8500 untuk tiket rata-rata 130 penumpang,” jelas Wiliam.
Singapore Airlines Buka (Kembali) Penerbangan Langsung Singapura – Newark
Nampaknya dunia aviasi global harus merevisi nama Qantas Airways sebagai maskapai yang melayani penerbangan terlama dan terjauh, karena baru-baru ini Singapore Airlines baru saja menetaskan argumen yang mengatakan bahwa flag carrier negara tetangga tersebut akan membuka rute penerbangan dari Newark Liberty International Airport (EWR) di New Jersey menuju ke Singapore Changi Airport (SIN) pada bulan Oktober mendatang.
Baca Juga: Qantas Selipkan Cerita Unik di Balik Penerbangan Jarak Jauh Non-Stop Perdananya
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman latimes.com (31/5/2018), penerbangan ini akan menjadikannya sebagai rute penerbangan komersial terpanjang di dunia, dengan total jarak 10.376 mil atau yang setara dengan 16.699 km. Untuk modanya sendiri, Singapore Airlines akan menggunakan armada Airbus A350-900 dengan kapasitas 67 kursi di kelas bisnis dan 94 kursi di kelas ekonomi premium.
Seperti yang sudah diperhitungkan sebelumnnya, nantinya perjalanan antar benua ini akan memakan waktu 18 jam 45 menit nonstop dan beroperasi tiga kali dalam seminggu. Selepas tanggal 19 Oktober, pihak Singapore Airlines mengatakan bahwa pengoperasian rute ini akan berjalan setiap hari.
Tentu saja, dengan hadirnya rute penerbangan ini akan mengalahkan sejumlah rute dengan catatan waktu perjalanan terlama lainnya, seperti Emirates yang menghubungkan Dubai dengan Auckland (17 jam 15 menit), Qatar Airways yang menghubungkan Doha dan Auckland dengan waktu perjalanan 16 jam 30 menit, dan Qantas Airways yang menghubungkan Perth Airport dan Heathrow International Airport dengan waktu tempuh 17 jam 2 menit.
Sebagai informasi tambahan, sebenarnya rute penerbangan Singapura – Amerika yang dilayani oleh Singapore Airlines ini bukanlah rute baru, melainkan sudah ada sejak tahun 2013 silam. Namun karena pihak Airbus selaku penyedia armada melakukan sejumlah peningkatan kinerja armada, mulai dari jarak langit-langit kabin yang lebih tinggi, jendela yang lebih besar, badan pesawat yang esktra lebar, hingga tata pencahayaan yang dirancang untuk mengurangi efek jet lag, maka pengoperasian rute tersebut pun sempat dibekukan sementara.
Baca Juga: April 2018, Qantas Buka Penerbangan Langsung Perth – London
Sesuai dengan agenda yang telah disusun, Singapore Airlines sendiri akan membuka rute penerbangan dari Los Angeles menuju Singapura, namun pihak perusahaan belum mau membocorkan kapan layanan ini akan mengudara. Selain membawa efek positif bagi penumpang yang mengincar waktu tempuh singkat, adapun dampak negatif dari penerbangan langsung jarak jauh semacam ini adalah daya tahan penumpang dalam mengarungi angkasa dalam waktu yang bisa dibilang tidak sebentar ini.
Promosikan Tiket Online Lebaran, ASDP Ferry Gelar Undian Berhadiah
Dalam momentum Angkutan Lebaran 2018, ASDP menggelar program apresiasi bertajuk “Mudik Asyik Tanpa Antre” yang ditujukan kepada pengguna jasa yang membeli tiket secara online. Para pemudik yang beruntung, akan mendapatkan undian grand prize 2 unit sepeda motor dan hadiah menarik lainnya.
Baca juga: Sistem Tiket di Pelabuhan Ferry Merak-Bakauheni Resmi Berganti, Inilah Perbedaannya!
Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Ira Puspadewi dalam siaran pers (7/8) mengatakan, pengaturan jadwal perjalanan dengan kapal ferry penting dilakukan agar perjalanan arus mudik maupun balik berjalan lancar sehingga pemudik dapat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1438 H bersama keluarga. Untuk itu, kami menghimbau agar pemudik memilih perjalanan di siang hari demi keselamatan serta membeli tiket online agar dapat mengatur keberangkatannya dengan baik, yaitu menyeberang sebelum waktu puncak arus mudik sehingga dapat menghindari kepadatan saat arus puncak.
Demi kelancaran dan kenyamanan di perjalanan, pemudik pejalan kaki, dan yang membawa sepeda motor atau mobil pribadi, Ira mendorong agar melakukan pembelian tiket berjadwal secara online yang dapat diakses selama 24 jam melalui http://tiket.indonesiaferry.co.id Pembelian tiket secara online berlaku untuk pemesanan maksimal H-1 keberangkatan. Adapun layanan penjualan tiket penyeberangan berjadwal secara online saat ini berlaku bagi penumpang, kendaraan roda 2, kendaraan roda 4 (pribadi, pick-up, box barang) dan mobil travel jenis Elf. Masa berlaku tiket maksimal 4 jam setelah jam keberangkatan, dan waktu check in (masuk ke pelabuhan) mulai dibuka 3 jam sebelum keberangkatan.
“Tidak hanya dapat mengurangi antrian pembelian tiket di pelabuhan, pemudik yang membeli tiket online dapat menikmati jalur khusus di pelabuhan dengan waktu scan barcode (yang diterima setelah membayar tiket) lebih singkat, sehingga dapat lebih cepat menuju kapal. Selain itu, data pemudik secara otomatis telah tercatat dalam manifest penumpang karena telah didaftarkan langsung saat proses online. Ini tentunya demi keselamatan penumpang,” tutur Ira.
Saat ini ada 16 lintasan penyeberangan yang pembelian tiketnya dapat diakses melalui online, yakni Merak-Bakauheni, Bakauheni-Merak, Ketapang-Gilimanuk, Gilimanuk-Ketapang, Padangbai-Lembar, Lembar-Padangbai, Kayangan-Pototano, Pototano-Kayangan, Bitung-Ternate, Ternate-Bitung, Muara Angke-Pulau Pramuka, Pulau Pramuka-Muara Angke, Muara Angke-Untung Jawa, Untung Jawa-Muara Angke, Muara Angke-Pulau Kelapa, serta Pulau Kelapa-Muara Angke.
Baca juga: Mudik Lebaran 2018, ASDP Siapkan 217 Kapal di Tujuh Lintasan
Selain menerapkan layanan penjualan tiket online, ASDP juga membuka loket penjualan di luar area pelabuhan (buffer zone) untuk layanan go-show, baik di jalur tol maupun non-tol. Untuk akses menuju Pelabuhan Merak, lokasi buffer zone berada di rest area KM 43 dan Hotel Mangku Putra-Merak. Selanjutnya, untuk lokasi buffer zone menuju Pelabuhan Gilimanuk berada di lahan parkir Pemda Jembrana, Cekik.
KA Kertajaya, Ternyata Kereta Terpanjang dengan 16 Rangkaian Gerbong
Kereta api terpanjang di Indonesia yakni kereta Kertajaya kini menjadi salah satu andalan utama masyarakat dari Pantai Utara Jawa yang akan menuju ke Ibu kota Jakarta. Ya, kereta api Kertajaya yang memiliki relasi Pasar Senen-Surabaya Pasar Turi ini memiliki 16 gerbong kereta.
Baca juga: KA Porong, Mencoba Bertahan di Tengah ‘Kepungan’ Lumpur Lapindo
Ke-16 gerbong tersebut ini terdiri dari 14 rangkaian kereta kelas ekonomi AC, satu kereta makan, satu pembangkit dan sebuah lokomotif untuk menarik kereta ini. KA Kertjaya sendiri dulu memiliki ciri khas gerbong bagasi berwarna biru.
Sayangnya setelah terjadi kebakaran gerbong bagasi KA Kertajaya menggunakan gerbong mirip dengan KA Sri Tanjung. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, awal tahun 2013 lalu, semua rangkaian KA Kertajaya menggunakan rangkaian gerbong ekonomi AC seiring peningkatan pelayanan seluruh KA ekonomi.
Sebelumnya KA Kertajaya hanya membawa dua sampai tiga gerbong ekonomi AC. Hingga akhirnya pada 4 Desember 2015, PT KAI menyediakan KA Kertajaya Tambahan dengan rangkaian panjang 14 untuk K3 per rangkaian dengan kapasitas lebih dari 1484 kursi.
Namun pada 1 April 2016, KA Kertajaya Tambahan dihentikan dan rangkaian panjang selama ini yang digunakan untuk penambahan kereta tersebut dialihkan menjadi KA Kertajaya reguler sebagai salah satu rangkaian kereta penumpang terpanjang di Indonesia. Dengan rangkaian sepanjang 16 kereta ini, pada 1 Mei 2016, pemberhentian KA Kertejaya dialihkan dari stasiun Jatinegara ke stasiun Bekasi.
Sebab peron stasiun Jatinegara tidak cukup untuk kapasitas dengan 16 rangkaian kereta. Selain itu rangkaian sepanjang ini juga menutupi wesel dan PJL 50 yang ada di dekat stasiun Jatinegara.
Baca juga: Adopsi Gerbong Bertingkat dan Tarif Lebih dari Rp900 Ribu, Inilah Kereta Sleeper PT KAI
Tak hanya memiliki perjalanan panjang sekitar 11 jam, kereta terpanjang ini berangkat dari Pasar Senen menuju Surabaya Pasar Turi setiap hari pukul 14.00 WIB. Sedangkan keberangkatan dari Surabaya Pasar Turi meunuju Pasar Senen pukul 21.00 WIB.
Tiket KA Kertajaya pun cukup terjangkau yakni Rp165 ribu baik keberangkatan dari Jakarta maupun Surabaya. Ternyata insiden yang pernah terjadi pada KA Kertajaya tak hanya gerbong bagasi pada 27 November 2013 lalu, tetapi pada 25 Agustus 2016 satu gerbong ekonomi AC dan kereta makan juga pernag terbakar.
Tas Terkena Minyak dan Barang Hilang, AirAsia Hanya Ganti Rungi Rp103 Ribu
Bagasi rusak, kehilangan barang atau tas tidak ditemukan? Ini kerap terjadi saat melakukan perjalanan dengan pesawat terbang baik menuju satu daerah maupun ke negara lain untuk berbisnis atau berlibur. Biasanya bila hal ini terjadi, perjalanan akan terganggu dan membuat sebagian besar rencana tertunda bahkan tak bisa menikmati liburan meski sudah melaporkannya ke bagasi klaim di bandara.
Baca juga: Bandara King Abdulaziz Miliki Penanganan Bagasi Canggih Sepanjang 34,6 Kilometer
KabarPenumpang.com melansir dari laman punemirror.indiatimes.com (6/6/2018), baru-baru ini penumpang AirAsia menemukan tasnya tersiram minyak dan beberapa barang hilang. Namun, setelah melapor kepihak maskpai di bandara, seakan laporan tersebut tak digubris bahkan menganggapnya seperti masalah sepele.
Kejadian tersebut dirasakan Harsh Chowdhary bersama temannya Ankota Kothari yang tiba di Bandara Pune dari Delhi pada malam tanggal 4 Juni 2018 kemarin.
“Setelah kami menerima bagasi, kondisinya sangat menyedihkan. Kami menghubungi staf lapangan AirAsia dan harus menunggu selama satu jam,” ujar Chowdhary.
Bahkan setelah lama menunggu saat berbicara dengan Fernandez dan Priya, Chowdhary mengaku mereka tidak memberikan jalan keluar dan justru menertawakan. Chowdhary bahkan menjelaskan bahwa ritsleting tas temannya terbuka dan ada barang-barang seperti pengering rambun dan lainnya hilang.
Sayangnya, setelah berdebat dengan pejabat dan staf lapangan AirAsia, mereka menawarkan penggantian Rs500 atau setara dengan Rp103 ribu atas kerusakan yang terjadi. Atas kejadian ini, pihak AirAsia sendiri belum memberikan tanggapan apapun.
Diketahui, kasus seperti ini telah meningkat beberapa waktu terakhir yang terbang dari dan ke Bandara Pune dan beberapa staf maskapai enggan menangani keluhan tersebut. Dalam 20 hari terakhir, sekitar lima kasus seperti itu telah dilaporkan di mana penumpang mengalami kerugian karena kecerobohan oleh beberapa maskapai penerbangan yang bereputasi.
Baca juga: Koper Anda Hilang atau Tertukar? Baggage Claim Jadi Solusinya
Ternyata, kejadian seperti ini tidak hanya terjadi pada maskapai AirAsia. Sebab satu minggu yang lalu, bagasi penumpang IndiGo salah diletakkan oleh petugas.
Tetapi pejabat yang berwenang tidak menerima komplain dengan segera dan bersikeras tas tidak bisa ditemukan. Namun, tas yang hilang tersebut ditemukan oleh anggota Central Industrial Security Force (CISF) di kantor belakang IndiGo setelah dua minggu kemudian.
Klasik, Ini Dia Rentetan Alasan Delay di Dunia Penerbangan
Membaca tulisan delayed di papan informasi jadwal pesawat memang sangat menyebalkan, bukan? Belum lagi waktu tunggunya cukup lama sehingga Anda kebingungan harus berbuat apa. Main games di gadget nampaknya akan terlalu menghabiskan baterai, pun dengan menonton film yang sudah Anda unduh terlebih dahulu. Selain pertanyaan, “Apa yang harus dilakukan selama menunggu waktu delay?” tersebut, pertanyaan lain yang kerap kali muncul adalah “Kok pesawatnya bisa delay?”
Baca Juga: Hadapi Delay di Bandara, Anda Bisa ‘Survive’ Tanpa Smartphone
Beragam spekulasi bermunculan, namun kita tidak pernah mengetahui pasti apa yang melatarbelakangi sebuah penerbangan mengalami delay, walaupun pihak maskapai telah memberitahu. Tapi apakah itu benar? Tidak ada yang tahu! Nah, maka dari itu, KabarPenumpang.com akan sarikan beberapa poin yang kerap kali membuat sebuah penerbangan mengalami delay, dikutip dari laman claimcompass.eu.
Lalu Lintas Udara Padat
Pertumbuhan lalu lintas udara terus mengalami peningkatan terhitung sejak tahun 1980-an, terlebih di beberapa kota tersibuk dunia seperti New York, London, dan Paris. Belum lagi maskapai penerbangan jarak jauh yang juga ikut nimbrung dengan sejumlah peraturan yang membelitnya. Tentu hadirnya peraturan tersebut, maka akan berdampak pada keseluruhan lalu lintas udara. Belum lagi ada maskapai yang mengganti jadwal penerbangan mereka beberapa waktu sebelum mengudara (last minutes), sedikit banyaknya itu akan mempengaruhi waktu tunggu Anda juga, lho!
Masalah Teknis
Poin nomor dua ini kerap kali dijadikan senjata pamungkas para maskapai ketika layanan mereka mengalami delay. Namun tidak sedikit pula maskapai yang benar-benar mengalami masalah teknis beberapa saat sebelum mengudara. Karena tidak mau ambil resiko, maka pihak maskapai akan mencoba untuk mengatasi masalah tersebut. Semisal gagal, refund tiket penumpang merupakan salah satu opsi terakhiryang harus dihadapi.
Syarat Istirahat Awak Penerbangan
Selain memastikan moda yang hendak ditunggangi sudah laik beroperasi, satu hal yang terpenting adalah kondisi awak kabin sendiri – dalam kasus ini pilot dan pramugari/pramugara. Karena regulasi yang berlaku sangatlah ketat, sampai-sampai jam istirahat mereka pun diatur. Semisal ada yang kurang dan mereka bisa memanfaatkan waktu delay yang ada, maka para awak kabin tersebut akan menggunakan waktu tersebut untuk beristirahat.
Penumpang
Selain dari segi penyedia jasa, penumpang pun kerap kali menjadi faktor utama penyebab delay di beberapa penerbangan. Tidak lekang dari ingatan ketika seorang pria paruh baya bernama Dr. David Dao menerima perlakuan kasar dari kru United Airlines, atau sejumlah perkelahian di dalam kabin menjadi beberapa poin penting yang mengacaukan jadwal penerbangan sebuah maskapai.
Di Indonesia, tren delay yang sedang mengemuka adalah terkait candaan tentang bom. Kasus yang menimpa beberapa penerbangan Lion Air dan Batik Air bisa menjadi contoh delay akibat perbuatan penumpang.
Baca Juga: Lion Air, Punya Citra Buruk Soal Keterlambatan Jadwal Penerbangan
Cuaca
Untuk urusan yang satu ini, memang tidak ada tandingannya. Cuaca buruk atau ekstrem sekalipun bukanlah lawan yang setimpal bagi si burung besi. Lain bandara, lain pula kebijakan yang berlaku untuk menangani penumpang yang terjebak delay akibat cuaca buruk. Mungkin sebagian maskapai memiliki kebijakan untuk membagikan makanan ringan atau berat sekalipun, tapi bukan tidak mungkin jika mereka tidak memberlakukan aturan yang sudah mereka setujui tersebut.
(Lagi) Gajah Tewas Tertabrak Kereta Api di India
Gajah di India semakin hari kian berkurang populasinya, salah satu sebabnya karena banyak yang tewas akibat tertabrak kereta api. Baru-baru ini tepatnya pada 4 Juni 2018 kemarin, dua anak gajah harus tewas tertabrak kereta api di Yedakumeri di Shiradi Ghats, Sakleshpur Taluk.
Baca juga: Di India, Ratusan Gajah Mati Ditabrak Kereta Api
Dilansir oleh KabarPenumpang.com dari newindianexpress.com (6/6/2018), kematian gajah karena tertabrak kereta api ini memicu ke khawatiran di Karnataka. Hal ini membuat pihak konservasi satwa liar menyerukan tindakan tegas terhadap otoritas South Western Railway (SWR) setelah meningkatnya insiden kematian gajah di rel kereta api.
Mereka mengatakan, bahwa SWR sendiri belum menerapkan langkah-langkah mitigasi atau pedoman yang diberikan Dewan Kereta Api untuk beroperasi di kawasan hutan.
“Tindakan harus diambil terhadap departemen kereta api dan melarang adanya jalur kereta api di Ghats Barat. Di Karnatakan, mematikan kereta api menjadi hal yang biasa ketika departemen kehutanan tampaknya benar-benar tidak berdaya dalam mengambil tindakan apapun terhadap kereta api,” ujar aktivis margasatwa G Veeresh.
Diketahui, jalur kereta api Hospet-Tinnaighat dan Miraj-Londa telah menjadi perangkap kematian yang nyata bagi satwa liar. Tak hanya itu jalur Sakleshpur-Mangaluru juga sangat berbahaya bagi gajah dan satwa liar lainnya.
Sedangkan Yedakumeri sendiri merupakan koridor gajah yang penting dan hampir 30 gajah tinggal di sini dengan induk dan anak mereka. Adapun koridor gajah untuk berkembang biak lainnya yakni hutan Bisle, Kaginere dan Kenchana Kumbri.
Namun tujuh desa seperti Bisle, Mavinoor, Boranamane, Yathahalla, Bajemane, Kaginere dan Balehalla juga menjadi tempat tinggal gajah. Selain itu semua penduduk telah memberikan izin untuk mengosongkan rumah mereka dan memberikan gajah-gajah tersebut jalan.
Baca juga: Halau Rusa di Jalur Kereta, Peneliti Jepang Pasang Klakson Suara Anjing Melolong di Lokomotif
Menurut Hassan Wildlife Society, Ketua Menteri H D Kumaraswamy telah berjanji kepada para petani tentang relokasi permanen mereka selama kampanye pemilihannya. Adanya masalah ini juga membuat para pejabat kehutanan pun akan melakukan pertemuan bersama otoritas kereta api untu mengatasi masalah tewasnya gajah-gajah itu.
Kematian gajah tidak hanya di satu kota, April 2018 kemarin, empat gajah tewas tertabrak kereta api di Jharsuguda, Odisha dan dari 2009-2017 sebanyak 120 gajah tewas tertabrak kereta api di India.
