Diskon 50 Persen di Sabtu-Minggu, Akankah Kereta Bandara Soekarno-Hatta Makin Diminati?

Dalam periode tiga bulan, angka 100 ribu penumpang dirasa cukup besar, meski acap kali terlihat rangkaian gerbong kereta bandara Soekarno-Hatta sepi penumpang. Dan dengan dalih promosi wisata di hari Sabtu dan Minggu, kini PT Railink selaku operator kereta memberikan diskon tarif khusus sampai 50 persen di akhir pekan. Baca juga: Belum Genap Satu Bulan Beroperasi, KA Bandara Soekarno-Hatta Angkut 75 Ribu Penumpang Pemberian diskon ini dikatakan Railink adalah bentuk apresiasi terhadap antusiasme masyarakat yang berwisata dengan kereta Bandara. Diskon 50 persen ini sudah mulai dijual sejak 10 Maret 2018 kemarin dan berakhir pada 27 Mei 2018 mendatang. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber dan akun Twitter milik Railink KA Bandara, promo diskon ini berlaku untuk semua jadwal dan stasiun keberangkatan KA Bandara. Mulai dari Stasiun BNI City (SDB), Batu Ceper (BPR) dan Bandara Soekarno-Hatta (SHIA).
Promo diskon tiket KA Bandara Soetta Sabtu-Minggu (Twitter PT Railink)
Penumpang berangkat dari BNI City hingga ke SHIA atau sebaliknya, biasa tarif yang dikenakan Rp70 ribu dan kini menjadi Rp35 ribu. Sedangkan dari BPR menuju SHIA atau sebaliknya yang tadinya Rp35 ribu menjadi Rp17500. Untuk pembelian tiket ini sama seperti pembelian tiket biasanya, penumpang bisa melakukan pemesanan tiket Pro Sami (Promo Sabtu Minggu) melalui internet booking di website Railink yakni reservation.railink.co.id atau melalui aplikasi mobile Railink. Sedangkan untuk pembalian di hari yang sama, penumpang bisa membelinya melalui vencing machine di stasiun. Namun, setelah adanya pemesanan atau pembelian tiket Pro Sami ini, penumpang tidak bisa menunda ataupun membatalkan tiketnya. “Diharapkan dengan diberlakukan promo diskon 50 persen ini, KA Bandara Soekarno-Hatta bisa menambah alternatif liburan keluarga di akhir pekan sekaligus bisa mengedukasi anak-anak dan generasi muda untuk mencintai kereta api”, kata Direktur Utama Railink Heru Kuswanto dalam keterangannya. Baca juga: PT Railink Rilis Jadwal Perjalanan KA Bandara Soekarno Hatta-Stasiun Sudirman Baru Heru menambahkan, KA Bandara Soekarno-Hatta bukan hanya sebagai pengantar penumpang ke bandara melainkan sebagai destinasi wisata bagi keluarga. Dengan adanya diskon ini tidak menutup kemungkinan pihak Railink akan memperpanjangnya, jika antusiasme masyarakat terhadap KA Bandara terus meningkat dengan bertambahnya jumlah perjalanan pada Arpil 2018 mendatang.

Yakin, Uber Mau Rajai Operasional Bus Inggris?

Perusahaan bus di Inggris kini sedang berada di titik terendahnya selama 28 tahun meski perusahaan teknologi sudah melakukan langkah baru dalam sistem angkutan masalnya. Namun, pihak perusahaan teknologi ini juga memiliki risiko kerugian lebih besar. Baca juga: Uber Eats, Serasa Tak Percaya Diri Masuk ke Pasar Indonesia Hal ini membuat Uber ingin menjalankan sistemnya pada bus kota London. Tetapi izin Ubers sebagai angkutan berbasis aplikasi kini tengah dalam banding setelah sempat dicabut untuk tidak beroperasi lagi di London, Inggris oleh Transportation for London (TfL). KabarPenumpang.com merangkum dari laman wired.co.uk (19/2/2018), bahwa jika pemerintah pusat dan daerah tidak menginvestasikan lebih banyak pada angkutan umum hal ini bisa disampaikan kepada pihak Uber untuk membantu. CEO Uber, Dara Khosrowshahi mengatakan, dirinya ingin Uber menjadi pilihan pasar transportasi. Sebab kini Uber tidak hanya hadir dengan mobil biasa saja melainkan sepeda, pengiriman makanan dan berkendara secara bersama atau sharing dengan penumpang lainnya. “Saya ingin menjalankan sistem bus untuk sebuah kota. Ingin membawa Uber ke dekat jaringan bawah tanah untuk memudahkan penumpang mendapatkan kendaraan lainnya untuk berpindah,” ujarnya. Saat ini yang sudah berjalan selain mobil adalah UberEats yang merupakan layanan pesan antar makanan. Kemudian uji coba sepeda di San Francisco dan layanan bus melalui UberHOP yang sudah tak lagi berfungsi saat ini. Sebenarnya Uber juga bekerja sama dengan kota-kota di Amerika serikat dan memberikan diskon pada penumpang yang tinggal di daerah dengan transportasi buruk. Tak hanya itu, di Kanada pihaknya sudah menjadi transportasi alternatif yang lebih murah dan berada di jaringan bus. Menurunnya penggunaan bus dalam 28 tahun belakangan ini sebanyak delapan persen. Hal ini juga dikarenakan London sebagai ibu kota Inggris yang macet sehingga jalan bus pun menjadi lamban dan membuat penurunan pendapatan sebesar £25 juta atau sekitar Rp477 miliar. Ternyata, adanya masalah penurunan penumpang ini, Uber dan berbagai transportasi basis aplikasi sudah dilirik untuk menjadi solusi dalam perbaikan layanan publik tersebut. Menteri Transportasi Chris Grayling, mengatakan, tahun lalu Uber Style bisa menggantikan layanan bus tradisional. Dalam membantu peningkatan pelayanan, Uber dan Lyft yang disediakan untuk membantu menyelesaikan masalah ini pada tahun 2017 lalu, terlihat cukup sukses dan tidak mengherankan ketika biaya sebelum uji coba $45 per perjalanan dikurangi sekitar 18 persen. Hal ini menunjukkan bahwa cara baik menggunakan aplikasi untuk menopang transportasi umum sehingga pengguna hanya perlu memastikan menggunakannya dengan benar. Selain Uber dan Lyft, Chariot serta Ford juga menjalankan bus komuter di lima kota AS dan melakukan uji coba empat jalurnya di London. Sedangkan Citymapper juga menguji coba busnya di London Timur setelah data menunjukkan rute yang di layaninya. Uber, Chariot, Citymapper dan angkutan basis aplikasi lainnya harus digunakan untuk menopang angkutan umum hanya jika memang masuk akal dalam jalurnya. Sama seperti Boston menemukan penggunaan aplikasi yang mengendarai sepeda untuk membantu penumpang yang cacat serta bus yang sesuai permintaan bisa berguna untuk menawarkan layanan kereta api pada malam hari bahkan bagi penumpang yang pulang setelah konser atau pertandingan sepak bola, kata Dr Junfeng Jiao, asisten profesor dalam perencanaan masyarakat di University of Texas. Tapi Uber tidak perlu memasok kendaraan karena otoritas publik dapat meminjam berdasarkan permintaan dan menjalankannya sendiri. Memang, pemerintah tidak perlu bergantung pada Uber untuk mengatasi tantangan ini sebab ada pilihan lain. Bridget Fox, juru kampanye transportasi yang lestari di Campaign for Better Transport, mengatakan, “mungkin ada daerah dimana pembagian perjalanan dapat berperan dalam melengkapi layanan bus, namun ini mungkin tidak layak secara finansial di wilayah yang sangat kekurangan dan masyarakat membutuhkan layanan bus. Kebanyakan komunitas berpenghasilan minim atau rendah.” Baca juga: Anda Ingin Diberi Rating 5 oleh Pengemudi Uber? Ikuti Tips Ini! Bus yang dikelola masyarakat mengangkut sekitar penumpang di West Dales di Inggris dan Jerman bahkan ada kereta independen yang memiliki jalan bebas hambatan yang berada di samping Deutsche Bahn. Tapi terlepas dari siapa yang menyediakan bus yang lebih baik maka dibutuhkan dana yang cukup menunjang. “Jika kita tidak menjaga infrastruktur kita dengan baik itu akan menyakiti hidup kita. Kita seharusnya tidak menganggap bus akan selalu ada di sana,” kata Jiao.

Duh! Terlalu Sering Gunakan GPS Bisa Turunkan Kinerja Otak

Tidak ada yang bisa memungkiri bahwa kehadiran Global Positioning System atau yang akrab disingkat GPS ini sudah membantu jutaan umat manusia ketika mereka berkendara. Di awal kemunculannya, aplikasi berbasis peta virtual ini memang belum secanggih sekarang yang sudah bisa menunjukkan jalur tercepat untuk sampai di tujuan. Belum lagi fitur penghitung estimasi perjalanan dan voice direction yang akan memudahkan perjalanan Anda. Baca Juga: Fake GPS, Jurus Pengemudi Online Akali Order Pelanggan Dengan segala kelebihan yang dimilikinya, kehadiran fitur GPS ini masih menjadi perdebatan di Indonesia lantaran dianggap mengganggu konsentrasi dalam berkendara. Namun, tahukah Anda bahwa GPS dapat berbahaya bagi kesehatan, terutama otak Anda? Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, sejumlah pakar kesehatan dunia menyebutkan bahwa kebiasaan mengandalkan navigator GPS ini bisa menurunkan kinerja otak. Pakar kesehatan dari University College London menelurkan sebuah hipotesa yang berisikan bahwa saat kita mengandalkan navigator ini, otak ternyata cenderung menjadi lebih malas. Hal yang berbeda terjadi jika otak harus mengingat atau memilih jalan secara langsung sehingga menjadi lebih aktif. Guna membuktikan hipotesa tersebut, para pakar tersebut melakukan sebuah penelitian terhadap partisipan yang kerap mengandalkan GPS ketika berkendara. Ternyata, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa bagian otak yang berperan besar dalam perencanaan dan pengambilan keputusan, hippocampus, memiliki aktifitas yang berbeda antara partisipan yang berkendara dengan menggunakan GPS dengan yang tidak. Aktifitas otak ketika berkendara dengan menggunakan GPS cenderung datar-datar saja. Sedangkan ketika partisipan ditempatkan di daerah yang cenderung baru tanpa kehadiran GPS, aktifitas otak terlihat mengingkat. Hal ini menunjukkan bahwa hippocampus  dan korteks prefontal pada otak bekerja dengan baik karena otak dipaksa untuk mengambil keputusan (memilih jalan). Seorang pakar kesehatan bernama Dr. Hugo Spiers menyebutkan bahwa jika otak tidak banyak digunakan untuk berpikir, maka lambat laun otak akan kehilangan kekuatannya. Amat disayangkan, navigasi GPS yang bisa memberikan arahan pada kita secara jelas untuk menentukan jalan, bisa memberikan dampak yang sama, yaitu membuat otak lama kelamaan akan kehilangan kekuatannya. Baca juga: 1 April 2018, India Wajibkan Penggunaan GPS di Angkutan Umum, Indonesia Bagaimana? Sementara itu, pakar kesehatan lainnya dari University of Cardiff, Wales, Dr. Dean Burnett juga menyarankan kita untuk tidak terlalu sering menggunakan GPS saat berkendara, agar kekuatan otak kita dapat terus terlatih dan tidak kehilangan kekuatannya.

Vanithashree, Kisah Masinis Wanita Sukses dari Mangaluru

Wanita tak hanya saja sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga bisa menjadi seorang pekerja yang tak lupa mengurus rumah. Mungkin pekerjaan seorang wanita hanya duduk di kantor menyelesaikan berkas, namun apa jadinya jika seorang wanita menjadi masinis atau asisten masinis lokomotif kereta? Baca juga: Mau Jadi Masinis PT KAI, Baca Dulu Beberapa Persyaratannya! Ini adalah hal yang bukan baru lagi memang, tetapi di negara dengan jaringan kereta terluas ternyata masinis wanita juga sudah banyak. KabarPenumpang.com merangkum dari laman thehindu.com (8/3/2018), Vanithashree salah masinis lokomotif kereta di India seakan menghancurkan benteng dimana hanya pria yang bisa mengerjakan hal tersebut. Hal ini dikarenakan dirinya menjadi satu dari beberapa orang yang bergabung dengan perkeretaapian India sebagai asisten masinis lokomotif pada tahun 2006 lalu. Vanithashree sendiri kini menjadi seorang masinis lokomotif yang berangkat dari stasiun Mangaluru Junction. Dia merupakan ibu dari dua orang anak laki-laki dan pernah menempuh studi di Teknik Automobile, Politeknik Karnataka di Mangaluru. Sebelum menjadi seorang masinis, Vanithashree terpilih sebagai Assistant Pilot Loco (APLs) setelah melakukan tes kliring yang dilakukan oleh Railway Recruitment Board (RRB), Thiruvananthapuram dengan uji coba menjalankan lokomotif dari Erode dan Uttukkuli setelah menjalani pelatihan enam bulan. Kemudian menjadi seorang masinis utuh sejak tahun 2010 dan menjalankan lokomotif tunggal di Divisi Palakkad Southern Railway yang memiliki rekor 12 tahun layanan tanpa kecelakaan. Vanithashree mengatakan, bekerja di lingkungan yang dominan pria sangat sulit sebenarnya, tetapi mengingat dukungan dari masinis lokomotif Babu di Mangaluru Central dia tetap menjalankannya. Diketahui, keinginan dirinya untuk menjadi masinis awalnya di dorong oleh orang tuanya kemudian oleh suami Vanithashree yang merupakan seorang kepala polisi di Kankanadi. Saat ini dia mampu menjalankan lokomotif diesel maupun listrik dan mampu menanganinya sendiri. Kini di divisi tempatnya bekerja ada enam perempuan sebagai APLs. Vanithashree sendiri pernah menerima penghargaan Manager Operasional Divisi dan Chief Operation Manager. Baca juga: Indonesian Train Simulator, Rasakan Sensasi Menjadi Masinis Kereta Indonesia Tak hanya Vanithashree, tetapi di South Western Railway yang mengoperasikan Sangamitra Express dari Bengaluru menuju Patna para krunya semua wanita setiap hari Kamis. Selain di India, ternyata Indonesia juga memiliki masinis perempuan. Ada sekitar sembilan orang wanita tangguh yang kini menjadi masinis kereta rel listrik (KRL) atau commuter di Indonesia. Namun, untuk kereta jarak jauh belum terlihat adanya masinis perempuan. Apakah nantinya di Indonesia juga semakin berkembang masinis-masinis wanita?

English Electric Balloon, Tulang Punggung Sistem Trem di Blackpool

Bagi Anda para pecinta film Harry Potter, tentu Anda akan familiar dengan bentuk dari moda ini. Di salah satu adegan di film Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, Harry menggunakan Knight Bus ketika dirinya hendak bertolak menuju Leaky Cauldron. Ya, kendaraan sihir yang ditunggangi Harry dan rombongan penyihir lainnya memiliki bentuk mirip dengan trem English Electric Balloon. Bedanya hanya terdapat pada desain bagian depan, jalur yang digunakan, dan jumlah tingkatnya saja. Baca Juga: Ternyata, Tidak Hanya Bus yang Bertingkat, Trem Juga!  Walaupun tidak sama, namun desain Knight Bus di seri ketiga Harry Potter ini dan trem English Electric Balloon sangatlah mirip, terutama pada bagian lekuk dari kedua moda ini. Nah, seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, English Electric Balloon merupakan jenis Double-Decker Tram yang dioperasikan oleh Blackpool Tramway. Memulai operasi pertamanya pada 10 Desember 1934, moda ini menjelma menjadi tulang punggung jaringan trem di Blackpool seiring berjalannya waktu. Lambat laun, English Electric Balloon pun makin banyak diminati oleh warga Blackpool sehingga pada tahun 2012 kemarin, otoritas setempat mengkonversi moda ini menjadi light rail network yang modern. Sama seperti kehadiran sarana transportasi publik dewasa ini, di awal kemunculannya, English Electric Balloon ditujukan untuk menggantikan peran dari mobil-mobil pribadi seperti Dreadnought yang berseliweran di Blackpool kala itu.
Millennium Cars. Sumber: wikimedia
Dari total 27 armada yang beroperasi di awal kemunculannya, 13 trem ini memiliki desain atap yang terbuka, sedangkan sisanya beratap tertutup. Hampir keseluruhan moda yang mampu menampung penumpang hingga 94 orang ini memiliki satu buah pintu masuk yang langsung terkoneksi dengan tangga menuju dek atas. Di Blackpool sendiri, rute masing-masing moda ini ditandai dengan nomor yang tertera di badan trem, semisal 226, 712, 714, dan seterusnya. Seiring berjalannya waktu, modernisasi pun terus dilakukan agar moda ini tetap mengikuti tren yang berkembang.
Jubilee Cars. Sumber: istimewa
Sebut saja Jubilee Cars, hasil peremajaan dari English Electric Balloon pada periode 70-an. Perombakkan ini terjadi karena otoritas transportasi setempat melihat bahwa pengaplikasian One-Man Operated (OMO) dapat mempengaruhi jumlah penumpang di dalamnya. Tidak bisa dipungkiri, jumlah penumpang dari moda yang mampu melesat hingga kecepatan 69 km/jam ini terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Baca Juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda Menyusul Jubilee Cars, ada Millennium Cars yang mengalami peremajaan direntang waktu 1998 hingga 2004. Perubahan dari moda ini terlihat dari bentuknya yang lebih memanjang sehingga dapat menampun lebih banyak penumpang di dalamnya. Di balik semua peremajaan yang dilakukan oleh operator English Electric Balloon, ada beberapa armada ayng dipertahankan keasliannya untuk berperan sebagai Heritage Cars. Bagi Anda yang tertarik untuk mendalami sejarah dari berbagai jenis trem yang popular di Tanah Britania, Anda bisa mengunjungi National Tramway Museum yang terletak di Derbyshire, Inggris.

1 April 2018, India Wajibkan Penggunaan GPS di Angkutan Umum, Indonesia Bagaimana?

Beberapa hari ke belakang, santer beredar kabar bahwa Kepolisian Republik Indonesia melalui Kasubdit Bin Gakkum Polda Metro Jaya, AKBP Budiyanto mengatakan bahwa penggunaan Global Positioning System (GPS) ketika berkendara merupakan sebuah tindakan yang dapat mengurangi konsentrasi ketika berkendara. Baca Juga: Demi Aman dan Nyaman, Bus di India Ini Gunakan Teknologi Pemindai Wajah Pernyataan AKBP Budiyanto tersebut merujuk pada Pasal 106 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) yang menyebutkan bahwa setiap pengendara kendaraan bermotor harus berlaku wajar, penuh konsentrasi. “Bermain handphone (termasuk menggunakan GPS), terpengaruh alkohol, konsumsi narkotika termasuk melihat video DVD itu tidak boleh. Itu melanggar Pasal 283 juncto Pasal 106 ayat (1),” ujar AKBP Budiyanto ketika dikonfirmasi wartawan, Jumat (2/3/2018). Namun hal tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Dirlantas Polda Metro Jaya, Kombes Halim Pagarra yang mengatakan bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan larangan pengemudi untuk menggunakan GPS. “Kami tidak pernah melarang penggunaan aplikasi GPS di ponsel sebagai petunjuk arah saat berkendara,” ujarnya, dikutip dari laman Kompas.com (6/3/2018). Dengan catatan, pengemudi menggunakan aplikasi penunjuk arah tersebut secara bijaksana dan tidak menyalahi aturan, dimana kondisi tersebut bisa saja menurunkan konsentrasi pengemudi. “Misalkan saja menggunakan aplikasi GPS sambil dipegang tangan kiri, lalu tangan kanan menyetir atau memegang stang motor. Lalu selama berkendara melihat ke layar ponsel, itu yang berbahaya,”  paparnya. Tapi, terlepas dari polemik yang terjadi di Indonesia tentang penggunaan GPS selama berkendara, pemerintah India ternyata melakukan hal yang sebaliknya. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman indiatimes.com (15/2/2018), pemerintah India tengah mempersiapkan segala kebutuhan demi merealisasikan  program pemasangan GPS di semua angkutan umum yang rencananya akan diberlakukan mulai tanggal 1 April 2018 mendatang. Pelaksanaan program ini dilandaskan pada upaya pemerintah untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan penumpang yang menggunakan sarana transportasi umum. Tidak hanya GPS, otoritas berwenang India juga menghimbau untuk melengkapi setiap sarana transportasi umum dengan sistem tombol darurat otomatis dan tampilan rincian pengemudi di dalam moda tersebut. Dalam upayanya untuk merealisasikan program tersebut, pemerintah India mempercayakan teknologi milik Center for Development of Advanced Computing (C-DAC), dimana teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan ini mampu menampilkan, melacak, menemukan ribuan kendaraan secara real-time. Baca Juga: SafeDrive, Bantu Anda Hadapi Kondisi Darurat Selama Berkendara Pemerintah negara bagian telah mengubah Peraturan Kendaraan Bermotor Kerala 1989 untuk memasukkan peraturan 151A untuk memasukkan rekomendasi pemasangan GPS tersebut, dan ketentuan yang diubah akan mulai berlaku mulai per tanggal 1 April 2018. Guna melancarkan keberlangsungan kerja sama di antara dua belah pihak, C-DAC pun mengambil langkah untuk meminta spesifikasi teknis dari teknologi GPS tersebut. Walau dideru sejumlah masalah yang mampu menghambat peluncuran program peningkatan keselamatan dan keamanan penumpang tersebut, namun kedua belah pihak optimis bahwa rencana ini dapat terrealisasi tepat waktu dan sasaran.

India Lakukan Survei Stasiun Terbersih, Indonesia Kapan?

Dengan jumlah penduduk lebih dari 1,3 miliar jiwa, urusan kebersihan pada fasilitas umum sampai saat ini masih jadi momok tersendiri di sebagian besar wilayah India. Selain beragam terobosan yang telah digadang para teknokrat dari Negeri Anak Benua, cara lain dengan pemberian peringkat kebersihan pada stasiun bisa menjadi upaya untuk mendorong upaya kebersihan di pra sarana transportasi. Baca juga: Stasiun Gorakhpur, Punya Peron Terpanjang di Dunia Awal Januari 2018 ini, Ixigo salah satu lembaga survei di India melakukan penilaian terhadap kebersihan stasiun-stasiun yang tersebar di seluruh India. KabarPenumpang.com merangkum dari laman thenewsminute.com (16/1/2018), bahwa hasil survei didapatkan 40 persen atau nilai tertinggi berada pada stasiun di India bagian selatan. Dari nilai 5 stasiun Kozhikode di Kerala mendapat nilai 4,4 dan menjadi stasiun terbersih di India. Sedangkan stasiun Hazrat Nizammudin di Delhi mendapat nilai terendah pada hasil survei. Survei yang dilakukan hasilnya berdasarkan penilaian dari para pengguna kereta api. “Swarna Jayanti Rajdhani telah diberi nilai kereta terbersih, sementara Karnataka Express mendapat peringkat terendah,” kata hasil survei tersebut. Ixigo mengklaim sekitar 40 persen dari stasiun kereta apai di India, nilai tertinggi untuk kebersihan berada di India bagian selatan, 20 persen India bagian Tengah, 20 persen di Barat dan sisanya di Utara. Untuk stasiun yang dinilai tidak terlalu bersih berada di Uttar Praseh, Delhi dan Rajasthan. Stasiun terbersih lainnya yang berada di bawah peringkat Kozhikode adalah Hubli Junction di Benggala Barat, Davangere di Karnataka, Dhanbad Junction di Jharkhand, Jabalpur di Madhya Pradesh, Bilaspur Junction di Chhattisagarh, Vadodara dan Rajkot di Gujarat, Falna di Rajasthan, dan Vijayawada Junction di Andhra Pradesh. Sedangkan stasiun lainnya yang berada di peringkat terndah adalah Muzaffarpur dan Gaya Junctions di Bihar, Mathura dan Varanasi Junctions di Uttar Pradesh, Ajmer Junction di Rajasthan, dan Bhusaval Junction di Maharashtra. “Kereta api India telah tumbuh sebesar 6,58 persen selama beberapa bulan terakhir di tahun 2017 saja,” Ujar Aloke Bajpai, CEO dan  co-founder Ixigo. Meski kini perkeretaapian India telah melakukan upaya untuk meningkatkan kualitas perjalanan dengan membuat stasiun kereta lebih bersih, tetapi masih ada banyak yang harus di perbaiki. Ixigo bekerja sama dengan Indian Railway Catering and Tourism Corporation untuk memfasilitasi pemesanan tiket kereta api untuk lebih dari tujuh juta pengguna di aplikasi ini. Pada bulan Mei tahun lalu, Perkeretaapian mengumumkan stasiun Beas sebagai yang terbersih, diikuti oleh Vishakhapatnam dan Khammam, dari 407 stasiun di India. Daftar stasiun terbersih dilepaskan berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kereta Api. Baca juga: Stasiun Kachiguda di India, 100 Persen Lakukan Efisiensi Energi Stasiun di Jogbani, Madhubani dan Sagauli – semua di Bihar – adalah yang paling kotor di peringkat keseluruhan. Di antara stasiun yang paling sibuk, Darbhanga di Bihar adalah yang paling kotor, diikuti oleh Bhopal di Madhya Pradesh, dan Ambala di Haryana. India menjadi negara dengan jaringan kereta terluas sudah mampu mensurvei, Indonesia yang tak jauh berbeda apakah akan melakukan hal yang sama dan kapan lembaga survei akan menilai stasiun kereta terbersih?

Ternyata, Tidak Hanya Bus yang Bertingkat, Trem Juga!

Pada periode 80-an hingga 90-an, terdapat moda transportasi di Ibukota yang mampu menampung penumpang melebihi kapasitas bus normal, dan moda ini sempat menjadi tulang punggung transportasi Jakarta di kala masa jayanya. Ya, bus tingkat. Hadirnya bus ini terbukti ampuh untuk ‘menjaring’ penumpang lebih banyak dengan harga murah. Namun seiring berjalannya waktu, moda ini terpaksa memasuki masa pensiun setelah dianggap tidak lagi berterima di Ibukota. Baca Juga: Si Jangkung Merah dari Inggris Pernah Jadi Primadona Transportasi Jakarta Berbicara soal moda darat bertingkat, ternyata tidak hanya bus saja lho yang bertingkat. Ada moda darat lain yang memiliki deck tambahan pada bagian atasnya, walaupun moda ini tidak bisa kita temui di Indonesia.
Double-Decker Tram di Alexandria. Sumber: wikipedia
Ya, moda yang dimaksud adalah Double-Decker Tram. Sesuai dengan namanya, ini merupakan sebuah trem yang memiliki dua tingkat. Dilihat dari segi penampilannya, Double-Decker Tram ini sendiri terbagi ke dalam dua jenis, ada yang bagian atasnya tertutup, ada juga yang terbuka.
Double-Decker Tram di Dubai. Sumber: wikipedia
Double-Decker Tram sendiri sempat populer di beberapa kota di Benua biru, seperti Berlin, London, dan beberapa Negara Persemakmuran, termasuk Auckland, Christchurcasmania di Australia, dan beberapa negara lainnya di kawasan Asia. Namun beberapa kota seperti Hong Kong, Alexandria, Dubai, dan Blackpool masih tetap mengoperasikan Double-Decker Tram ini.
Double-Decker Tram di Hong Kong. Sumber: wikipedia
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman Wikipedia.com, di awal kemunculannya, Double-Decker Tram ini masih belum menggunakan mesin atau bahkan tenaga listrik sekalipun, masih ditarik dengan menggunakan kuda. Ketika perkembangan jaman mulai merambah di Inggris, barulah Double-Decker Tram ini berevolusi menggunakan tenaga listrik pada tahun 1885, dan Blackpool menjadi kota pertama yang mengoperasikan sarana transportasi umum ini. Ternyata, trem ini digandrungi oleh banyak kalangan, sampai- sampai London Transport sebagai pemangku kepentingan transportasi warga Inggris mendapat julukan sebagai operator yang paling banyak mengoperasikan Double-Decker Tram. Namun sayangnya, kedigdayaan Double-Decker Tram di jalanan Inggris hanya bertahan hingga tahun 1952 saja.
Double-Decker Tram Listrik Pertama yang Disimpan si National Tramway Museum . Sumber: wikipedia
Walaupun bentuk dan modelnya beragam, namun secara keseluruhan desain dari trem bertingkat ini bisa dibilang sama persis dengan Routemaster, ikon bus tingkat asal London. Bedanya hanya terletak pada jalur yang dilaluinya. Secara harfiah, trem masuk ke dalam kelas Light Rapid Transit (LRT), dimana angkutan umum berbasis massal ini mampu untuk mengangkut penumpang dalam jumlah banyak, namun tidak melebihi kapasitas angkut dari Mass Rapid Transit (MRT). Baca Juga: Di Jakarta Segera Beroperasi MRT dan LRT, Tahukah Artinya? Nah, bagi Anda yang tertarik untuk melihat secara langsung Double-Decker Tram bertenaga listrik pertama seperti yang sudah disinggung di atas, Anda bisa mengunjungi National Tramway Museum yang terletak di Derbyshire, Inggris. Di sana, Anda bisa menjumpai berbagai jenis trem dari masa ke masa!

Airbus dan Audi Kolaborasi di Konsep “Pop.Up Next,” Konvergensi Kendaraan Darat dan Udara

Bukan suatu  hal yang baru ketika dewasa ini banyak manufaktur otomotif yang mulai berupaya mencari ceruk usaha lain. Pasalnya, para pengusaha menilai bahwa penjualan mobil konvensional sebentar lagi akan menemui ‘jalan buntu’. Ya, kondisi kemacetan yang semakin tidak bisa ditolerir belakangan ini membuat para pengguna jalan seolah enggan untuk menambah koleksi kendaraan mereka. Baca Juga: Berusaha Tetap di Arus Persaingan, Porsche pun Turut Luncurkan Taksi Udara Otonom! Ketika pemerintah sudah berusaha untuk memperbaiki sistem angkutan umum agar volume kendaraan di jalanan dapat berkurang, namun para pengguna kendaraan pribadi tetap enggan untuk beralih menggunakan moda transportasi berbasis massal tersebut. Walhasil, kemacetan pun semakin meradang. Sebagai salah satu perusahaan multi-nasional yang memiliki segudang pengalaman di dunia aviasi global, Airbus melihat kondisi ini sebagai satu keuntungan tersendiri untuk mereka. Dalam pemberitaan sebelumnya, Airbus diketahui tengah merancang sebuah drone otonom yang dimaksudkan sebagai angkutan futuristik. Dengan kondisi seperti yang sudah di jabarkan di atas, mereka memiliki kesempatan untuk merangkul manufaktur otomotif guna melancarkan misi bersama dan mengembangkan pasar drone. Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (7/3/2018), Airbus berkolaborasi dengan Audi untuk menghadirkan Pop.Up Next, sebuah moda yang dapat berjalan secara otonom di darat dan juga dapat mengudara. Ini merupakan kembangan dari konsep Pop.Up yang pernah dipamerkan Airbus di Geneva Motor Show pada tahun lalu. Di darat, mobil mini dengan kapasitas dua penumpang ini mampu meluncur hingga mencapai top speed 100 km per jam dengan menggunakan baterai bertenaga 15 kWh untuk jarak tempuh 130 km. Jika anda terjebak macet, Anda cukup memesan salah satu drone milik Airbus yang tersedia di stasiun pengisian daya terdekat melalui aplikasi. Di sana, mobil Pop.Up Next akan diangkut menggunakan drone Airbus dengan teknologi khusus. Ketika sudah bertransformasi  menjadi moda udara, Pop.Up Next mampu menempuh jarak 50 km dengan kecepatan 540 km per jam. Keren, bukan?
Sumber: newatlas.com
Di sini, Audi berperan sebagai ‘motor’ dari Pop.Up Next versi darat. Keahliannya di bidang otomotif tidak lagi diragukan oleh dunia, termasuk bagian interiornya. Berdasarkan peta konsep yang sudah di buat, Pop.Up Next rencananya akan menyematkan sebuah layar berukuran 49 inci yang menggabungkan teknologi eye-tracking dan speech and facial recognition. Penggunaan bahan dasar Pop.Up Next versi darat juga tidak sembarangan. Audi harus menggunakan bahan se-ringan mungkin namun tidak mengesampingkan kekuatannya. Baca Juga: Prototipe Taksi Drone Ehang 184, Sukses Uji Coba Dalam 1000 Kali Terbang Sehubungan masih berbentuk konsep dimana potensi perubahan di segala lini masih bisa terjadi, pihak Airbus sendiri mengatakan masih melakukan pertimbangan agar ‘moda dua alam’ ini mampu meningkatkan kinerja dan menekan daya. Kedua belah pihak masih enggan berkomentar mengenai waktu peluncuran dari moda futuristik ini. Jika sudah dipasarkan kelak, apakah Anda berencana untuk memilikinya?

Wakil Dubes Australia: Permohonan Visa Bagi Wisatawan Indonesia Kini Dipermudah

Sebagai negara benua, Australia jelas merupakan surga wisata yang menarik untuk dikunjungi oleh seantero pelancong, termasuk animo wisatawan Indonesia yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Namun dibalik daya pikat Australia, ada satu kendala yang membuat warga Indonesia ‘khawatir’ untuk berwisata ke Australia. Ini tak lain dan tak bukan karena ketatnya proses permohonan visa yang disyaratkan Imigrasi Pemerintah Australia. Baca juga: BCA Travel Fair 2018, Tawarkan Diskon Khusus ke Berbagai Destinasi di Australia Tak sedikit kabar permohonan visa wisata seseorang ditolak, meski dalam rombongan keluarga sekalipun. Dan alasan penolakan pun kadang tak diuraikan secara jelas, karena pemberian izin dan penolakan visa menjadi hak penuh Pemerintah Australia. Namun disisi lain, Australian Tourism Board, maskapai penerbangan dan agen wisata sangat gencar menawarkan iming-iming paket perjalanan wisata di Indonesia, termasuk promo tiket yang menggiurkan. Pun jika terjadi kasus penolakan visa, maka risiko yang dihadapi calon wisatawan tak bisa dibilang kecil, mulai dari ongkos pembuatan visa yang tak bisa dikembalikan, sampai tiket pesawat yang ‘hangus’ jika sudah terbeli lebih dahulu. Nah, menghadapi kegundahan sebagian kalangan wisatawan di Indonesia, KabarPenumpang.com yang datang ke BCA Australia Travel Fair 2018, menyempatkan diri bertemu Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, MR Allaster Cox untuk menanyakan terkait permohonan visa ke Australia. MR Allaster Cox yang sangat fasih berbahasa Indonesia ini mengatakan, saat ini pihak Kedutaan Besar Australia di Indonesia sudah memberikan kemudahan pada masyarakat Indonesia yang ingin mengunjungi Australia, baik itu hanya sekedar wisata atau berkunjung untuk bertemu sanak saudara yang menetap di sana. “Visa yang dibuat saat ini sudah bisa melalui online, jadi tidak lagi perlu datang ke kedutaan untuk mengurus. Dimudahkan seperti ini visa juga bisa selesai dalam beberapa hari saja,” ujar Allaster kepada KabarPenumpang.com di Senayan City, Kamis (8/3/2018). Dia mengatakan, dengan mempermudah pembuatan visa ini, memiliki alasan tersendiri yakni untuk mendorong minat kepariwisataan Indonesia ke Australia. Hal lainnya, Allaster menjelaskan, adanya kemudahan pembuatan visa secara online ini juga meminimalisir kegagalan dalam pembuatan visa itu sendiri. Allaster juga menegaskan, kemudahan ini diberikan kepada masyarakat Indoensia karena, warga Indonesia yang berkunjung ke Australia hampir 98 persennya kembali. “Untuk wisatawan Indonesia sendiri, kami mudahkan, karena bila bicara dunia, wisatawan dari India, Malaysia dan lainnya berbeda sekali dengan Indonesia. Kalau orang Indonesia, berkunjung mereka selalu kembali pulang dan tidak menetap,” jelasnya. Baca juga: Khusus ke Pulau Jeju, Bertandang ke Korea Selatan Memang Tak Perlu Visa Tak hanya itu, kini untuk visa yang diberikan Australia adalah multiple entry visa selama tiga tahun. Hal ini tentu sangat memudahkan kunjungan orang Indonesia ke Australia, apalagi bagi mereka yang memiliki anak dan sekolah di Australia.