Mau Jadi Masinis PT KAI, Baca Dulu Beberapa Persyaratannya!

Banyaknya lapangan pekerjaan di luar sana membuat kita kerap kali lupa dengan profesi yang satu ini, padahal perannya bisa dibilang sangat vital untuk tetap menjamin ritme mobilitas warga. Ya, masinis. Ironis memang tatkala mengingat tanggung jawabnya dalam bertugas tidaklah mudah. Tidak hanya menjaga penumpang agar selamat sampai tujuan, tapi masinis juga bertanggung jawab terhadap ular besi bernilai puluhan miliar yang ia kendalikan. Baca Juga: Mengenal Polsuska, Penegak Peraturan di Kereta Api Walaupun tanggung jawab tersebut tidak bisa dikesampingkan, tapi itu sama sekali tidak menyurutkan minat banyak orang untuk menjadi seorang masinis. Lalu, apa saja syarat dan ketentuan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang masinis? Diinformasikan sebelumnya, KabarPenumpang.com melansir dari laman detik.com (25/8/2017), Vice President Personel Administration PT KAI, Ana Diana mengatakan bahwa PT KAI tengah membuka lowongan pekerjaan sebagai masinis. “Sedang proses seleksi, tahun ini rencana buka lagi kalau ternyata masih kurang. Tahun lalu saja kita buka 600 orang. Karena kan kebutuhan juga semakin meningkat, ada kereta bandara, kemudian KRL juga bertambah, ada yang pensiun, dan sebagainya,” ujar Ana. “Yang daftar ribuan,” imbuhnya. Bicara soal gaji, seorang masinis akan ‘diupahi’ nominal yang bisa dibilang di atas rata-rata UMR suatu daerah. “Kalau masinis open (tahun pertama) saja sudah Rp 7,5 juta per bulan. Memang dibanding pegawai KAI lain, masinis gajinya tinggi. Alasannya, karena risiko pekerjaan juga tinggi. Untuk masinis senior bahkan bisa Rp 18 juta sebulan,” terang Ana. Melihat pendapatannya yang cukup besar, maka tidak heran banyak orang yang berbondong-bondong melamar menjadi seorang masinis. Untuk persyaratan umum menjadi seorang masinis tidaklah terlalu berat. Dikutip dari laman resmi PT KAI, syarat untuk menjadi seorang masinis adalah pria, lulusan SMA penjurusan IPA atau SMK jurusan listrik/mesin/otomotif, nilai UAN rata-rata minimal 6, usia 18 hingga 25 tahun, dan tinggi badan minimal 165 cm. Jika sudah memenuhi persyaratan tersebut, tidak lantas Anda dapat menjadi seorang masinis. Masih banyak serangkaian pelatihan serta tes yang harus dijalani sebelum akhirnya menyandang predikat resmi menjadi seorang masinis. Tahap selanjutnya yang menjadi momok menakutkan bagi para calon masinis adalah tes kesehatan, karena Ana sendiri mengaku bahwa pada tahapan ini banyak calon masinis yang ‘gugur’. “Biasanya banyak yang gugur di kesehatan, normal tapi ternyata jantungan, kesehatan mata, verises, dan lainnya. Kalau pendidikan minimal untuk mendaftar masinis, minimal SLTA IPA atau SMK listrik, mesin, atau elektro,” jelasnya. Masinis maupun Asisten Masinis jelas harus sehat jasmani maupun rohani, tidak buta mata, tidak buta warna, tidak tuli, tidak bisu dan memiliki postur fisik yang memenuhi syarat dan bebas dari narkoba. Meskipun ketika awal masuk menjadi masinis maupun asisten masinis sudah di tes kesehatan oleh PT KAI/ PT KCJ, namun secara berkala dan saat ujian sertifikasi Awak Sarana Perkeretaapian (ASP), mereka akan di tes ulang lagi. Dalam tes kesehatan, pemeriksaan medis meliputi : Riwayat Penyakit, Kondisi Umum, Tensi, THT, Leher, Thorax, Ekstremitas, Mata dan Urine. Selain serangkaian tes kesehatan di atas, para calon masinis juga akan melewati beberapa etape pelatihan. Salah satunya adalah Pelatihan Pembentukan Kepribadian atau yang sering disebut Diksarwira (Pendidikan Dasar Kewiraan). Di sini, para calon pegawai PT KAI termasuk masinis akan menjalani pelatihan semi militer selama kurang lebih dua minggu di lingkungan TNI. Para calon pegawai PT KAI tidak hanya ‘digembleng’, melainkan mereka juga akan mengenal rekan-rekan baru dengan karakter dan domisili yang berbeda. Baca Juga: Penumpang Ini Sama-Sama Terjepit Pintu Kereta, Namun Beda “Penderitaan” Di akhir pelantikan tersebut, seluruh calon pegawai PT KAI akan mendapatkan seragam resmi pegawai  PT. KAI yang disebut Seragam R6. Setelah proses pelatihan ini berakhir, para calon pegawai lalu dipulangkan ke wilayahnya masing-masing. Khusus untuk para calon masinis, biasanya mereka akan melanjutkan masa magang di Dipo Lokomotif atau Kantor UPT Crew Kereta Api selama beberapa waktu hingga ada panggilan untuk mengikuti pendidikan masinis di Balai Pelatihan Teknik Traksi (BPTT) Darman Prasetyo, Yogyakarta. Cukup rumit ya tahapan yang ditempuh untuk menjadi seorang masinis, tapi semua itu sudah ada standarnya yang sama sekali tidak bisa dilongkap, karena akan berdampak pada banyak orang di waktu yang akan datang jika salah satu tahapan tersebut dilewati.

Di Dubai Airshow 2017, Boom Technology Siap Goda Emirates dan Qatar Airways

Masih ingat dengan Boom Technology? Pesawat supersonik yang digadang sebagai pengganti Concorde ini juga diketahui turut mengambil bagian di perhelatan Dubai Airshow 2017. Boom Technology tengah berupaya untuk menarik minat maskapai penerbangan Timur Tengah dan beberapa investor lainnya untuk mendukung langkahnya dalam mengkomersialkan operasi pesawat supersonik tersebut. Mungkin beberapa tahun yang lalu, ide ini hanyalah sebatas impian. Tapi tengoklah sekarang, ide tersebut betul-betul akan direalisasikan. Baca Juga: Suksesor Concorde ini Tetap Dihantui Bayangan Kelam Pendahulunya Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (13/11/2017), pendiri sekaligus CEO Boom Supersonic, Mr Scholl mengatakan bahwa dirinya sudah memegang 76 catatan pre-order dari berbagai maskapai penerbangan dan pihaknya tengah melakukan perbincangan serius dengan 20 maskapai lainnya. Mantan eksekutif di Amazon ini juga yakin bahwa teknologi baru tersebut menggunakan material komposit yang akan berdampak pada pengoperasian mesin yang lebih tenang dan efisien. Dari situ, Mr Scholl optimis bahwa penerbangan supersonik bisa kembali meramaikan dunia aviasi global. “Awalnya saya sempat pesimis untuk terjun ke dunia penerbangan supersonik, tapi setelah saya meninjau langsung ke lapangan, ternyata pengaplikasian pesawat supersonik ini masih bisa diupayakan, walaupun sulit,” terang Mr Scholl. Mr Scholl tidak muluk-muluk dapat bernegosiasi dengan perusahaan penerbangan Gulf, namun ia mengatakan bahwa Emirates dan Qatar Airways merupakan dua contoh taget yang jelas. Dua operator ini selalu meng-upgrade armadanya sebagai bentuk persaingan memperebutkan hati penumpang. Poin tersebut diharapkan dapat menjadi celah untuk Mr Scholl dalam menawarkan produknya. “Tiap maskapai ingin selalu mengalahkan kompetitornya, dan selalu mencari cara untuk membedakan diri,” ungkapnya. “Ditinjau dari segi geografis, Timur Tengah bisa dibilang lokasi yang strategis, karena di sini bisa dibilang merupakan titik hubung ke seluruh dunia,” imbuh Mr Scholl. Baca Juga: Rilis Model Anyar, Boom Technology Kebanjiran Pesanan Untuk menguatkan tonggak proyeknya, Mr Scholl mengatakan bahwa yang menjadi pembeda antara produknya dan Concorde terletak dari penggunaan mesin. “Pembuat kebijakan tidak akan mengijinkan sebuah pesawat baru menimbulkan suara yang lebih berisik, maka dari itu kami berupaya keras untuk mengatasi masalah tersebut,” terangnya. Mr Scholl sendiri memperkirakan penjualan pesawat supersonik buatannya ini akan laku di pasaran sekitar 1.000 hingga 2.000 pesawat dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, dengan pesawat pertama memasuki masa operasinya pada tahun 2023 kelak. Sebagai informasi penutup, dengan menggunakan Boom Supersonic, Anda dapat mengudara dari New York City menuju London yang terpisah jarak 3.459 mil atau setara dengan 5.585 km hanya dengan memakan waktu tempuh 3 jam 15 menit saja!

Tanggapi Waktu Penumpang Yang ‘Terbuang,’ Deutsche Bahn Hadirkan Gym di Idea Train

Dimana Anda selama ini melakukan olahraga? Mungkin jawabannya akan beragam; mulai dari lapangan, hingga pusat kebugaran. Namun apa jadinya jika Anda bisa berolahraga di dalam kereta yang sedang bergerak? Tentu hal tersebut akan menjadi sebuah inovasi tersendiri dalam berkendara – Anda tidak hanya bisa tiba di tujuan dengan selamat, namun juga bisa menjadi lebih bugar dengan memaksimalkan layanan pusat kebugaran yang tersedia. Baca Juga: BEAM: Solusi Penat Saat Perjalanan Kereta Jarak Jauh Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman thelocal.de (10/11/2017), sebuah perusahaan kereta api milik Jerman, Deutsche Bahn meluncurkan “Idea Train” yang dicanangkan dapat merubah pengalaman perjalanan para penumpangnya. “Bagi jutaan orang yang menggunakan moda transportasi umum berbasis massal, mereka akan kehilangan banyak waktu produktifnya selama perjalanan, namun tidak untuk Idea Train ini,” tulis surat kabar setempat, Süddeutsche Zeitung.
Sumber: thelocal.de
Kereta ini nantinya akan dilengkapi dengan beragam alat penunjang kebugaran para penumpang, seperti exercise bikes, studio kebugaran, hingga TV yang menampilkan pelatihan secara digital. Nantinya ruang olahraga tersebut juga akan dilengkapi dengan sistem peredam suara, privacy pods, ruang untuk anak-anak, hingga televisi. Konsep kereta unik ini pertama kali muncul pada dua tahun yang lalu, dimana pada masa itu para pejabat dari Deutsche Bahn meyakini konsep tersebut akan memenuhi kriteria kendaraan masa depan. Idea Train juga memungkinkan penumpang untuk memutar kursinya apabila mereka tidak menyukai berjalan mundur saat di kereta. Hingga saat ini, keberadaan ruang olahraga tersebut hanya bisa diakses manakala kereta sedang berjalan.
Sumber: telegraph.co.uk
Namun seiring berjalannya waktu, perancang di Deutsche Bahn yakin bahwa industri kereta api mesti menawarkan lebih banyak fasilitas kepada para penumpangnya, yang tentu saja disesuaikan dengan pilihan para penumpangnya. Ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada para penumpangnya. Baca Juga: Virgin Trains Masih Gunakan Gelas kertas Daur Ulang Jika ditelusuri lebih jauh, sudah banyak operator kereta di berbagai pelosok dunai yang menyediakan layanan lebih kepada para penumpangnya. Sebut saja di Inggris, ada Virgin Trains yang meluncurkan armada terbarunya, Azuma. Azuma sendiri menyediakan layanan free Wi-Fi selama perjalanan hingga pencahayaan yang dapat menyesuaikan suasana hati para penumpangnya. Rencananya, Idea Train ini akan mulai diuji coba pada tahun 2018 mendatang di beberapa kota besar di Jerman, salah satunya adalah Hamburg.

Jadikan BRT Bogota Sebagai Benchmark, ‘Eksekusi’ TransJakarta Masih Jauh dari Harapan

Mundur ke belakang, tepatnya pada tahun 2001 saat Gubernur DKI Jakarta kala itu, Sutiyoso memperkenalkan sistem Bus Rapid Transit (BRT) yang dinilai mampu untuk mengatasi masalah kemacetan dan polusi udara yang kian hari kian meradang tersebut. Adapun Bogota, Ibukota Kolombia ini dijadikan panutan Jakarta dalam menghadirkan sistem transportasi massal. Pada saat itu, Bogota menuai pujian dari berbagai penjuru dunia karena kesuksesannya menghadirkan sistem BRT, padahal sistem tersebut barulah seumur jagung. Baca Juga: Scania K320IA: Bus TransJakarta Asal Swedia yang Canggih, Kokoh dan Nyaman Mungkin beberapa dari Anda bertanya-tanya, mengapa Jakarta menjadikan Bogota sebagai benchmark sistem yang kini lebih dikenal sebagai TransJakarta ini. Satu poin inti yang melatarbelakangi hal tersebut adalah Gubernur Sutiyoso ingin mengatasi masalah kemacetan yang ada secara efektif dan efisien. Ketika masalah kemacetan sudah bisa diatasi, secara otomatis tingkat pencemaran udara pun akan senantiasa menurun. Sayangnya, Jakarta kala itu belum bisa mencontoh Singapura atau negara-negara di Eropa yang sudah memiliki moda transportasi berbasis massal yang mengedepankan sistem otomatisasi. Maka dari itu, Gubernur yang akrab disapa Bang Yos ini menjadikan sistem BRT di Bogota sebagai benchmark mereka. Sistem BRT Bogota yang bernama TransMilenio ini pertama kali dikenalkan oleh walikota Bogota, Enrique Penalosa pada tahun 1998 yang akhirnya mulai dioperasikan pada Desember 2000. Penalosa mempunyai kemauan politik untuk menata transportasi massal sebagai bagian dari strategi pembangunan kota, dan bukan program yang parsial. Secara keseluruhan, pengaplikasian TransMilenio dan TransJakarta bisa dibilang hampir serupa, tapi tak sama. Titik vital yang menjadi pembeda dari kedua sistem BRT ini adalah kualitas individu para pengguna jalan, yang secara langsung bersinggungan dengan bus berjalur mandiri ini. Sterilisasi jalur BRT di kedua kota berkembang ini bisa dibilang sangat jomplang. Ketika di Bogota semua orang sudah memiliki kesadaran sendiri untuk tidak masuk ke dalam jalur TransMilenio, berbeda dengan warga Jakarta yang malah memanfaatkan jalur TransJakarta sebagai akses bebas hambatan. Ujung-ujungnya, TransJakarta yang digalang-galang sebagai solusi untuk masalah kemacetan di Ibukota tidak dapat memenuhi tugas awalnya sebagai bus yang berjalan di jalur steril. “TransJakarta masih jauh dari TransMilenio. TransMilenio dipersiapkan secara matang dan terintegrasi dengan tata kota secara keseluruhan,” tutur seorang pengamat ekonomi, Faisal Basri dikutip KabarPenumpang.com dari laman Kompas.com (3/10/2011). Baca Juga: Bus TransJakarta Zhongtong Terbaru Diklaim Ramah Lingkungan Alhasil, perbedaan kecil diantara dua sistem BRT beda negara tersebut menghasilkan perbandingan implentasi yang cukup signifikan. Pada tahun 2013, jumlah penumpang TransMilenio per harinya mencapai 1,7 juta orang, dan terbukti mengurangi niat warganya untuk menggunakan kendaraan pribadi yang secara otomatis mereduksi tingkat pencemaran udara di sana. Sedangkan TransJakarta masih berkutat dengan aturan pelarangan kendaraan pribadi masuk ke busway, padahal sistem ini sudah ada sejak 25 Januari 2004.

Hentikan Kebiasaan Tidur Saat Take-Off, Berbahaya!

Dapat dibayangkan bagaimana rasa kantuk menggelayuti mata ketika Anda dipaksa untuk melakukan penerbangan di pagi hari, padahal Anda baru saja beristirahat selama beberapa jam. Tentu ketika Anda diperbolehkan masuk ke dalam pesawat dan duduk di bangku yang sesuai, opsi yang anda lakukan adalah tidur. Memang, bagi sebagian orang tidur selama penerbangan merupakan salah satu opsi terbaik untuk menghabiskan waktu di udara, tapi tahukah Anda bahwa aktifitas tersebut berbahaya bagi kesehatan Anda? Baca Juga: Mulai Alergi Kacang Hingga Abu Jenazah, Inilah Deretan Peraturan Unik di Maskapai Pernyataan tersebut tercetus setelah sebuah studi yang dilakukan oleh Harvard University menemukan bahwa tidur di pesawat akan berdampak pada pendengaran Anda. Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, tidur selama penerbangan menjadi bahaya karena ada perubahan ketinggian secara mendadak, sehingga telinga Anda dituntut untuk menyamakan tekanan udara yang ada di telinga Anda. Inilah alasan dibalik dengungan yang terjadi pada telinga Anda mana kala pesawat baru saja mengudara. “Perubahan ketinggian secara drastis mempengaruhi tekanan udara di telinga. Hal ini menyebabkan vakum di tabung eustachius yang membuat telinga terasa tersumbat dan pendengaran agak sedikit terganggu,” tutur Angela Chalmers, seorang apoteker berkebangsaan Inggris. Jika Anda tertidur, Anda tidak dapat melakukan apapun untuk mengurangi atau menyamakan tekanan udara di dalam telinga. Telinga Anda akan tetap ‘tersumbat’, dan berpotensi menghadapi masalah kesehatan lainnya, seperti pusing, infeksi telinga, kerusakan gendang telinga, dan yang terburuk, mimisan hingga gangguan pendengaran. Tentu hal ini akan merusak semua rencana penerbangan Anda. Baca Juga: Anda Tak Nyaman dengan Penumpang di Kursi Sebelah? Ini Solusinya Lalu, apa yang harus dilakukan ketika pesawat baru saja mengudara agar terhindar dari gangguan pendengaran tersebut? Pertama adalah usahakan Anda tetap terjaga sampai pesawat berada di ketinggian yang stabil, ketika pesawat sudah berada di titik tersebut maka Anda yang sedang berjuang melawan rasa kantuknya diperbolehkan untuk beristirahat sejenak selama penerbangan. Kedua, usahakan untuk terus menghasilkan air liur, baik dengan cara minum, mengisap permen, atau mengunyah permen karet. Semakin sering Anda menelan air liur, maka itu akan membantu menstabilkan tekanan udara yang ada di telinga Anda. Jika cara tersebut masih kurang ampuh, cobalah untuk meniup udara melalui hidung yang tertutup, cara ini dinilai ampuh untuk mengurangi tekanan udara di dalam telinga. Tapi, Anda juga harus berhati-hati dalam melakukan tips yang ketiga ini, dikhawatirkan tekanan udara yang ‘terperangkap’ di dalam telinga akan berdampak buruk pada pendengaran.

VEMS, Tawarkan Efisiensi Pelayaran Lewat Monitoring dan Kendali Mesin

Dengan pemanfaatan teknologi kendali dan monitoring, kini setiap perusahaan transportasi punya peluang untuk melakukan langkah efisiensi di tengah tekanan biaya operasional yang terus meningkat. Setelah di moda darat dikenal sistem tracking, serta monitoring mesin berbasis seluler dan GPS (Global Positioning System), giliran teknologi yang hampir serupa diterapkan pada moda laut, yakni untuk memonitor kinerja mesin yang sedang berlayar lewat VEMS (Vessel Engine Monitoring System). Baca juga: Francisco, Kapal Ferry Wisata dengan Kecepatan 51,8 Knot! VEMS yang belum lama ini diperkernalkan oleh PT Diva Sinergi Adipradana (Mata Pensil Group) di Jakarta, menjadi teknologi terbaru di bidang sistem monitoring perkapalan yang dirancang dan diproduksi di Dalam Negeri. Sistem VEMS yang terdiri dari sensor, controller, safety device dan perangkat monitoring, nantinya akan digunakan pada beragam jenis kapal. Berkat kombinasi akses seluler dan satelit, maka VEMS tak mengalami kendala untuk memonitor kinerja mesin kapal meski posisi di tengah samudera sekalipun. Mengapa monitoring kondisi mesin kapal dianggap penting? Selain untuk urusan keselamatan dalam pelayaran, modul VEMS juga memungkinkan bagi operator jasa pelayaran untuk mengetahui prosedur penggunaan mesin dan jadwal perawatan. Sensor pada sistem VEMS ditempatkan secara khusus guna memantau kondisi mesin secara keseluruhan, mulai dari suhu gas buang, suhu oli mesin, suhu air pendingin, tekanan oli gearbox, dan masih banyak lainnya.
Modul VEMS yang dipasang pada kapal.
Informasi dari sensor-sensor tersebut kemudian diolah di controller dan dilakukan perbandingan data secara realtime dengan parameter-parameter dari setiap sensor yang dihubungkan. Secara keseluruhan, output dari aneka sensor ditampilkan dalam display di anjungan kapal, sehingga awak kapal dapat melakukan monitoring secara terpadu. Disisi lain, pihak operator di kantor pusat juga dapat melihat display monitor kinerja mesin lewat akses satelit atau seluler. “Kasus yang sering terjadi pada mesin kapal adalah putaran mesin yang melebihi ambang batas. Ketika mesin dipacu pada putaran tinggi dan melewati batas, maka akan mengakibatkan kerusakan yang sangat parah, dan tentunya dibutuhkan biaya perbaikan yang sangat mahal,” ujar Yudhi Asmara, Head of Product Development MP Group kepada KabarPenumpang.com. Ia bahkan menyebut, untuk alasan keselamatan bisa saja mesin kapal dimatikan secara remote dari kantor pusat. Baca juga: Kenapa Kapal Pesiar Bisa Tahan Terjangan Badai? Ternyata Jawabannya Sangat Sederhana! Adopsi VEMS juga tidak terpaku pada jenis mesin tertentu, solusi karya Anak Bangsa ini dirancang fleksibel untuk beragam tipe mesin dan kebutuhan yang diinginkan oleh klien. Setiap kinerja mesin akan terekam datanya secara berkala, dan otomatis masuk ke database aplikasi Vessel Management System. Dengan begitu, unit perbaikan, logistik dan pemeliharaan kapal dapat bekerja secara efektif dan efisien, termasuk dalam pengajuan rancangan anggaran di level korporasi.

Diterjang Cuaca Ekstrim, Bandara Syamsudin Noor Sigap Atasi Kerusakan Fasilitas

Wilayah Banjarbaru di Banjarmasin pada Senin, 13 November malam mulai pukul 21.00 hingga 22.00 WITA diguyur hujan yang disertai dengan angin kencang serta petir. Cuaca ekstrim yang berlangsung selama satu jam ini mengakibatkan terjadinya kerusakan pada sejumlah fasilitas di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin. Baca juga: Angkasa Pura I Gandeng KNKT dan Undip Kembangkan Aplikasi Monitoring Ketinggian Air di Runway Diketahui terjadi kerusakan pada plafond terminal kedatangan dan baliho iklan di area parkir yang tertiup angin kencang. Namun hal tersebut direspon dengan sigap dan cepat oleh seluruh pihak terkait baik dari internal maupun eksternal yang langsung melakukan perbaikan meski area terdampak masih diguyur hujan. “Dalam kondisi tersebut, Bandara Syamsudin Noor dapat merespon secara cepat dengan melakukan perbaikan terhadap seluruh fasilitas layanan bandara yang terdampak akibat cuaca ekstrim. Selain itu, tentunya berdasarkan standard operating procedure telah dilakukan pengecekan dan pembersihan terhadap seluruh fasilitas di sisi udara seperti runway, taxiway, dan apron yang dinyatakan clear and safety untuk operasional penerbangan,” terang Corporate Secretary PT Angkasa Pura I (Persero) Israwadi yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (14/11/2017). Cuaca ekstrim tersebut sempat mengganggu jarak pandang di bawah minimum yakni hanya 800 meter, sementara aerodrome ditutup sekitar satu jam. Namun operasional penerbangan sudah kembali normal sehingga tidak mengganggu pesawat yang mendarat. Semua penerbangan clear pada sekitar pukul 23.30 WITA pada Senin malam 13 November. Hari ini 14 November, pelayanan penumpang dan pesawat tidak terganggu. Manajemen AP I memastikan bahwa operasional Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin sudah kembali normal. Namun untuk beberapa waktu ke depan masih akan berlangsung perbaikan kerusakan pada fasilitas yang terdampak. Baca juga: Usai Kembangkan 9 Bandara, Angkasa Pura I Canangkan Benahi Infrastruktur di El Tari dan Frans Kaisiepo “Kami memohon maaf kepada para penumpang dan calon penumpang pesawat udara atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat kegiatan perbaikan tersebut,” kata Israwadi.

Tahun 2021, Kereta Bertenaga Hidrogen Siap Mengular di Rel Jerman

Tahun 2021 kereta bertenaga hidrogen akan mulai berjalan di rel Jerman. Dengan kereta hidrogen ini para penumpang yang tinggal di Jerman bagian utara bisa melakukan perjalanan pertama mereka di dunia. Padahal pada tahun 2016 lalu, Jerman mengatakan akan meluncurkan kereta bertenaga hidrogen ini pada Desember 2017 untuk pertama kali. Baca juga: Perangi Polusi, Australia Selatan Manfaatkan Energi Terbarukan dari Hidrogen KabarPenumpang.com melansir dari laman abcnews.go.com (9/11/2017), Alstom, perusahaan engineering asal Perancis mengatakan telah menandatangani sebuah kesepakatan untuk mengirimkan 14 kereta sel berbahan bakar ke LNVG yang merupakan perusahaan kereta api di negara bagian Lower Saxony, Jerman. Kereta api bertenaga hidrogen ini akan beroperasi di rute Cuxhaven, Bremerhaven, Bremervoerde dan Buxtehude dari bulan Desember 2021. Alstom mengatakan pada hari ini, bahwa kereta Coradia iLint akan memiliki jarak tempuh hingga seribu kilometer dengan kecepatan maksimum 140 km per jam. Dalam perjalanan dengan kecepatan tersebut, energi kimia hidrogen akan diubah menjadi listrik oleh sel bahan bakar. Sedangkan untuk energi yang tidak digunakan akan tersimpan dalam baterai Lithium yang terpasang di dasar kereta tersebut. Pengubahan energi ini tidak akan memghasilkan apa-apa selain uap air dan kereta akan berjalan dengan lebih tenang serta bersih daripada menggunakan mesin berbahan bakar diesel. Rencananya untuk menghasilkan hidrogen ini, akan menggunakan turbin angin yang banyak. Pihak Alstom mengakui produksi kimia semacam ini tidak selalu netral karbon, namun mengingat bahwa zat tersebut sudah di produksi. Maka proyek kereta setidaknya akan memastikan proses ini lebih produktif. Baca juga: Saatnya Maksimalkan Tenaga Surya untuk Energi Terbarukan di Kereta Api Teknologi baru ini benar-benar revolusioner bukan karena fakta yang sederhana, dimana kereta api yang didukung oleh sumber listrik konvensional tidak secara inheren kotor. Dampak lingkungan mereka pada dasarnya tergantung pada bagaimana listrik yang mereka hasilkan digunakan dengan demikian bisa dibilang lebih penting untuk fokus pada pembangkit energi hijau, bukan perubahan pada kereta api sebenarnya. Sehingga bisa dikatakan, kereta bertenaga hidrogen ini sangat cocok untuk digunakan pada jarak yang lebih pendek. Diketahui, kereta model pertama Jerman Coradia iLint saat pertama kali di ujicoba memiliki kecepatan 96,54 km per jamnya.

Ramaikan Jalanan di Las Vegas, Operator Mobil Otonom Ini Optimis ‘Sedot’ Banyak Penumpang

Sebentar lagi, kota Casino Las Vegas akan mengoperasikan salah satu moda futuristiknya yang sudah dinanti-nanti. Ini ditandai dengan diuji cobanya kendaraan otonom yang mampu berkomunikasi dengan sinyal lalu lintas, berbagi jalan dengan kendaraan lain, dan mampu memberi ruang bagi para pejalan kaki. Ini merupakan suatu terobosan yang mutakhir, mengingat sudah padatnya kondisi jalanan belakangan ini. Baca Juga: Catalyst E2, Bus Otonom Mampu Berjalan 966 Km Dalam Sekali Charge Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, kendaraan 11 penumpang yang berbentuk seperti telur ini akan mulai menghantam jalanan pada tahun depan secara cuma-cuma. Nantinya kendaraan otonom ini beroperasi di sekitaran Fremont East, dimana daerah tersebut pada tahun lalu dijuluki sebagai bagian dari distrik inovasi kota. “Orang-orang menggambarkan mobil sebagai simbol kebebasan dan memiliki banyak keuntungan, tapi sungguh menakjubkan melihat berapa banyak mobilitas yang dipengaruhi olehnya,” tutur John Moreno, public affairs manager dari AAA Nevada. “Kami sadar bahwa masyarakat kebanyakan skeptis dengan teknologi baru yang siap ‘menjajahnya’, tapi diharapkan ini akan memberikan kebahagiaan dan semakin membulatkan tekad mereka untuk menghadapi era modern,” imbuhnya. Sekedar mengingatkan bahwa pada bulan Januari silam, sebuah kendaraan otonom asal Perancis, Navya, baru saja melakukan uji coba dengan memblokir lalu lintas. Ini berbanding terbalik dengan AAA dimana dalam uji coba tersebut kendaraan otonom ini berbaur dengan kendaraan lain. Selain menguji coba, AAA sekaligus memperkenalkan teknologi otonom ini kepada masyarakat luas. Kendaraan ini bisa dibilang otonom secara keseluruhan, karena tidak ada bangku kemudi ataupun pedal rem, hanya ada kamera pada bagian depan dan belakang, sensor pendeteksi cahaya, GPS, dan teknologi mutakhir lainnya. Otoritas Las Vegas memasang sensor nirkabel yang memungkinkan AAA ‘berkomunikasi’ dengan traffic light, walaupun rute yang dilalui moda otonom ini terus berubah-ubah. Nantinya, di dalam moda ini akan diawasi langsung oleh seorang petugas ahli untuk mencegah kejadian di luar dugaan. Untuk soal kecepatan, moda otonom ini bisa dibilang cukup aman dengan kecepatan maksimum hanya 25 mph atau setara dengan 40 km per jam. Ketika perjalanan selesai, penumpang akan diminta untuk menilai kinerja dari mobil tersebut dengan penilaian bintang 1 sampai 5. Penilaian tersebut tentunya akan memberikan feedback kepada operator untuk semakin meningkatkan pelayannya. Baca Juga: Navya Arma, Bus Tanpa Awak Gambaran Transportasi Masa Depan Pejabat AAA sendiri telah menetapkan target ambisius sebanyak 250.000 pengendara selama periode tahun depan di bawah kemitraan dengan Las Vegas, Regional Transportation Commission of Southern Nevada, dan Keolis Transportation.

Kuburan Tak Selalu Seram, Stasiun Purwakarta Saksinya

Segala sesuatu yang terkait dengan kuburan umumnya membuat bulu kuduk menjadi merinding, tapi di Stasiun Purwakarta, Jawa Barat ada kuburan yang tak terlalu menyeramkan. Bahkan kuburan yang satu ini terbilang laris manis dijadikan spot foto pelancong, penumpang kereta api dan para seleb instagram. Baca juga: Mengenal Walahar Express, Kereta “Odong-Odong” dari Purwakarta Disebut sebagai kuburan kereta karena disini tempat peristirahatan terakhir bagi seluruh kereta rel listrik ekonomi non AC yang pernah beroperasi di lintas Jabodetabek sejak dihapuskannya KRL non AC 25 Juli 2013 lalu. Di sini terdapat KRL Rheostatik, BN-Holec, dan Hitachi. Tidak ketinggalan, sisa gerbong KRL AC seri Toy Rapid 1000 dan Tokyo Metro 5000 juga dikirim ke kuburan ini. Bagi Anda penumpang kereta yang akan ke Bandung, Purwokerto, Surabaya dan Semarang atau kereta lokal lain biasanya akan melewati Purwakarta, maka melihat tumpukan-tumpukan gerbong yang tersusun rapi layaknya kamar hotel dorm ataupun tumpukan lego raksasa yang unik dan tak biasa. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, tumpukan gerbong ini tingginya diperkirakan mencapai tujuh meter. Bukan hanya tinggi, jika dilihat gerbong-gerbong ini memiliki warna yang beragam dan menjadi pemandangan kontras sehingga mencuri perhatian penumpang kereta, warnanya perpaduan antara jingga, merah, putih dan beberapa warna lainnya. Sayangnya, kuburan kereta ini terletak di dalam stasiun Purwakarta, sehingga bagi Anda pecinta fotografi atau yang ingin berswafoto di kuburan kereta ini memang agak sulit. Biasanya hanya penumpang kereta yang bisa menikmati keindahan tumpukan gerbong-gerbong tua ini. Memang terlihat kumuh karena tak terawat, tetapi banyak penumpang yang tetap saja masih memfoto tumpukan gerbong-gerbong kereta tersebut. Baca juga: Jalur Stasiun Nambo Punya Pemandangan Yang Manjakan Mata Tak hanya penumpang, bagi pasangan pengantin yang akan melaksanakan foto prewedding juga dipersilahkan tetapi harus membawa surat pengantar dari pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI). Tahun 2016 lalu, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi berencana akan menyulap gerbong-gerbong tua ini menjadi tempat wisata kuliner. Namun hingga kini rencana tersebut belum terealisasikan bahkan masih seperti sebelumnya hanya teronggok dan menyeramkan jika malam tiba tanpa penerangan sedikitpun di gerbong berjumlah sekitar 50 ini. Ternyata tak hanya gerbong bekas yang berada di stasiun ini, balok kayu dan besi bekas rel yang sudah tak terpakai pun teronggok di stasiun ini. Diketahui stasiun Purwakarta berada di ketinggian +84 meter dan masuk dalam Daerah Operasional (DaOp) II Bandung.