Tak lama lagi , warga Dubai di Uni Emirat Arab bisa menikmati perjalanan udara mereka menggunakan drone penumpang yang selama ini digadang menjadi salah satu moda transportasi masa depan. Pada bulan Juni 2017 kemarin, Roads and Transportation Agency Dubai mengatakan layanan Autonomous Aerial Taxi (AAT) akan melakukan uji coba di beberapa titik di Dubai pada bulan Oktober hingga Desember 2017. Dalam pengoperasiannya kelak, Volocopter, yang merupakan mahakarya sebuah perusahaan penerbangan asal Jerman, dipercaya untuk mengangkut penumpang sesuai tujuan mereka.
Baca Juga: Juli 2017, Drone Penumpang Resmi Mengudara di Dubai
Namun, dalam usahanya untuk mengoperasikan sarana transportasi baru, otoritas Dubai nampaknya harus menahan keinginannya tersebut, mengingat penelitian yang dilakukan oleh sebuah firma riset pasar berbasis internet internasional yang beroperasi di Eropa, Amerika Utara, Timur Tengah dan Asia-Pasifik, YouGov, menyatakan bahwa konsumen belum terlalu yakin untuk menggunakan layanan drone sebagai sarana transportasinya dalam waktu dekat.
Penelitian ini dilakukan berdasarkan pada fakta di lapangan yang menyebutkan bahwa hanya seperempat warga Amerika yang mengetahui drone dapat dijadikan sebagai taksi udara, dan sisanya masih tidak mengetahui bahwa layanan tersebut akan mengambil alih dunia transportasi di masa yang akan datang. Lebih parahnya lagi, sebanyak 54 persen warga Amerika Serikat mengaku takut untuk menggunakan sarana transportasi modern ini, dan hanya 5 persen yang menyatakan siap untuk menggunakan drone penumpang ini. Kebanyakan, wanita lah yang merasa ketakutan untuk menaiki moda ini.
Baca Juga: Wow! Uber Canangkan Program Taksi Drone
Terlepas dari kekhawatiran ini, analis teknologi YouGov sendiri percaya bahwa pesawat penumpang otonom akan lepas landas hanya dalam waktu 5 tahun. Dilansir KabarPenumpang.com dari cnbc.com (10/7/2017), direktur riset YouGov, Tom Fuller mengatakan penetrasi pasar terhadap penumpang akan mempercepat proses adaptasi bagi siapapun yang merasa ketakutan untuk menggunakan drone. “Hal serupa juga terjadi pada perkembangan teknologi sebelumnya, terutama dari sektor dirgantara, namun mengingat keuntungan yang ditawarkan membuat ketakutan tersebut perlahan sirna,” tuturnya.
“Jika dilihat dari survei yang dilakukan, spekulasi kami mengarah kepada para penumpang yang sebenarnya kurang memahami seluk beluk dari drone penumpang tersebut, sehingga mereka ragu dan terkesan takut untuk menaikinya,” tambah Tom. Padahal, Tom melanjutkan, penggunaan drone ini sudah banyak ditemui di kehidupan sehari-hari, seperti untuk pengambilan gambar, mengantarkan paket, balapan dan beberapa aktivitas lainnya. “Kesadaran dan keakraban konsumen pada teknologi ini akan mendorong mundur ketakutan mereka,” pungkasnya.
Drone yang mengangkut hasil laboratorium di Swiss. Sumber: designboom.com
Tidak hanya menawarkan solusi bagi para penumpang yang hendak bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya, keberadaan drone juga terbukti ampuh untuk menunjang efektifitas di bidang lain, contohnya kesehatan. Salah seorang analis mengatakan penggunaan drone di bidang medis memberikan dampak tersendiri bagi kedua belah pihak. “Ini akan membantu memperbaiki citra drone yang selama ini dipandang sebelah mata oleh masyarakat,” ungkapnya.
Baca Juga: Swiss Manfaatkan Drone Untuk Antar Sampel Laboratorium
Tom menambahkan bahwa risiko yang mungkin dihadapi oleh drone penumpang sebenarnya lebih sedikit ketimbang yang mobil nirawak. Mobil tanpa pengemudi, seperti yang dikembangkan oleh Google dan Tesla harus bersaing dengan mobil, sepeda, dan pejalan kaki yang dioperasikan manusia. Sedangkan menurut Tom, ancaman yang mungkin terjadi untuk drone penumpang berasal dari serangan siber, seperti virus ransomware yang terjadi beberapa waktu ke belakang.
Di sisi lain, penelitian yang dilakukan oleh YouGov menunjukan sebanyak 62 persen masyarakat berencana untuk memiliki sebuah drone penumpang di masa yang akan datang, tentu saja jika mereka sudah tidak ketakutan untuk menaikinya, sedangkan 25 persen masyarakat menolak untuk memiliki “pod” modern ini. Sebanyak 4 persen lainnya mengatakan akan membeli drone bekas daripada harus menghabiskan lebih banyak uang untuk membeli yang baru.
Lalu, jika memang drone penumpang ini merupakan moda transportasi modern, akankah warga Indonesia siap untuk menerima perkembangan jaman semacam ini?
Kembali, perkeretaapian India membuat sebuah gebrakan dengan meluncurkan sebuah kereta yang menggunakan panel surya (solar cell) sebagai sumber energi terbarukan. Kehadiran teknologi ini disandingkan dengan fasilitas penyimpanan energi dalam sebuah baterai yang menjamin daya tersebut tetap memadai walaupun tidak ada sinar matahari. Namun, tentu saja energi ini tidak digunakan untuk menggerakkan kereta, melainkan sebagai salah satu solusi untuk menggantikan peran listrik yang dibutuhkan di kereta.
Baca Juga: Kementerian Kereta Api India Janji Sulap Gerbong Lama Jadi Lebih Modern
Sebagaimana KabarPenumpang.com wartakan dari laman thehindu.com (15/7/2017), seluruh kebutuhan listrik di setiap gerbong, meliputi lampu, kipas angin, dan layar penampil informasi akan digantikan perannya oleh sistem panel surya yang tertanam di atas kubah kereta Diesel Electric Multiple Unit (DEMU) tersebut.
Peluncuran ini dilakukan di stasiun Safdarjung yang dihadiri oleh Menteri Perkeretaapian, Suresh Prabhu. Dalam kesempatan tersebut, Suresh mengatakan peluncuran kereta ini merupakan batu loncatan menuju perkeretaapian yang lebih ramah lingkungan. Pengadaan kereta dengan energi terbarukan ini berlandaskan pada komitmen kereta api untuk menggunakan bahan bakar yang lebih bersih dan usaha untuk meningkatkan penggunaan sumber energi non-konvensional.
Tidak hanya menggunakan panel surya sebagai pengganti energi listrik di kereta, kereta DEMU juga menggunakan teknologi ramah lingkungan lainnya, seperti bio toilet, air daur ulang, penampungan limbah, Compressed Natural Gas (CNG), Liquefied Natural Gas (LNG), dan pemanfaatan energi angin.
Biasanya, rangkaian kereta DEMU digerakkan oleh mesin on-board yang terpasang di setiap gerbongnya, karena panel surya tersebut harus mengalirkan energi ke benda elektronik yang ada di setiap gerbongnya sehingga barang-barang elektronik tersebut bisa berfungsi.
Baca Juga: India Hadirkan Kereta Kubah Kaca Untuk Tarik Wisatawan
Untuk sementara, kereta akan mengular di jalur komersial yang menghubungkan daerah pinggiran dengan kota Delhi, mengingat belum ada rute spesifik untuk kereta DEMU ini. Adapun Integral Coach Factory dari Chennai yang menjadi produsen dari panel-panel surya tersebut. Sebelum dipasang di kereta berkekuatan 1.600tenaga kuda tersebut, panel-panel surya tersebut telah dikembangkan oleh Indian Railways Organization of Alternative Fuel (IROAF). Rencananya, dalam waktu enam bulan ke depan, otoritas setempat akan menghadirkan 24 gerbong serupa untuk mendukung sarana transportasi di negera yang terkenal dengan film Bollywoodnya tersebut.
“Kereta DEMU bertenaga surya ini akan menghemat sekitar 21.000 liter solar dan mengurangi emisi karbon 9 ton per tahunnya,” tutur salah satu sumber dari Kereta Api India.
Awalnya para ekspatriat yang tinggal di Uni Emirat Arab (UEA) mengeluhkan terkait masalah sabuk pengaman dan kursi duduk anak (car seat) di dalam mobil. Namun, sekarang ini justru berbalik, para ekspaktriat UEA tersebut justru merasa bahwa sabuk pengaman dan kursi anak dalam mobil adalah hal yang aman untuk digunakan.
Baca juga: Foto Viral Ini Ingatkan Pentingnya Car Seat Untuk AnakKabarPenumpang.com kemudian melansir khaleejtimes.com (6/7/2017), saat ini justru banyak ekspatriat UEA yang menginginkan adanya juga penerapan peraturan tersebut di negara asal mereka. Peraturan ini baru berlaku pada Sabtu (2/7/2017) dan banyak sekali manfaatnya.
Salah seorang warga Dubai, Amit Singh mengatakan bahwa dirinya mendukung inisiatif ini, dirinya berharap, di India negara asalnya juga ada peraturan seperti itu. Amit pun mengaku di awalnya tidak nyaman dengan peraturan tersebut karena belum terbiasa.
“Tapi perlahan mereka akan menyadari bahwa ini bermanfaat untuk keselamatan anak-anak dan juga untuk seluruh keluarga,” katanya.
Baca juga: Qantas dan JetStar Izinkan Car Seat Dibawa ke Dalam Kabin
Seorang ekpatriat asal Palestina, Rawan Al Hussain mengatakan, bahwa dengan peraturan sabuk ini maka pengamanan Dunia Arab perlu diubah. “Ini adalah aturan terbaik yang dibuat untuk keselamatan anak-anak. Sabuk pengaman menyelamatkan nyawa dan dalam kasus kecelakaan akibat benturan besar, penumpang di kursi belakang sering terlempar dari mobil jika sabuk pengaman tidak dipakai.”
Ahmed Lasheen seorang penduduk Mesir mengatakan, di negaranya sendiri peraturan penggunaan sabuk pengaman sudah ada. Tetapi belum berlaku untuk anak-anak dan penumpang mobil dan ini adalah suatu perubahan baru. Menurutnya, ini adalah hal positif terhadap undang-undang lalu lintas federal dimana pengemudi dan penumpang bisa terlindungi. Selain itu, ini juga memperbaiki tingkat disiplin saat mengemudi.
Baca juga: Lampu Sabuk Pengaman Mati, Waktu Yang Tepat Gunakan Toilet
Padahal di Eropa, Amerika dan Australia peraturan penggunaan sabuk pengaman dan tempat duduk anak sendiri sudah lama penerapannya. Hal ini pun dibenarkan oleh Jeff Price dan Zeyna Sanjania para ekspaktriat Inggris dan lama tinggal di UEA. “Saya mendukungnya 100 persen, kami selalu menerapkannya dan bagi mereka yang tidak setuju dengan hal itu, mereka perlu menyadari bahwa ini demi keselamatan anak-anak mereka dan orang lain,” ujar Price.
Baca juga: Untuk Penumpang Obesitas, Perpanjangan Sabuk Pengaman Belum Jadi Prioritas
“Sungguh mengejutkan bagi saya untuk melihat anak-anak di kursi depan duduk di pangkuan ibu mereka, tapi itu terjadi di sini. Namun, saya harap sistem denda dan poin yang parah merupakan inisiatif yang baik untuk mengubah pola pikir ini,” katanya.
Namun beberapa warga masih mendapati dampak finansial dari peraturan tersebut. Abdul Sharef yang berdomisili di Dubai mengatakan meskipun peraturan baru tersebut mempromosikan keamanan, tetapi menjadi beban bagi keluarga besar.
“Car seat masih sangat mahal dan beberapa keluarga tidak mampu membelinya. Bagi keluarga dengan beberapa anak yang berarti banyak unit harus dibeli.” Dan dia masih skeptis terhadap peraturan ‘sabuk pengaman untuk semua’. Sabuk pengaman untuk semua anggota keluarga besar tidak praktis. Ini adalah kebiasaan budaya, dan anak-anak yang tidak terlatih duduk di kursi atau memakai sabuk pengaman akan sulit menyesuaikan diri,” ujar Sharef.
Baca juga: Soal Keselamatan Penumpang, Moda Laut Seperti Dianaktirikan
Sementara itu ekspat Filipina, Richard Dela Cruz, setuju dengan peraturan pengaman menggunakan sabuk keselamatan, hukuman pelanggaran terhadap Dh400 “terlalu besar”.
Pembangunan layanan kereta cepat tak pelak menjadi landmark transportasi di suatu negara. Karena punya keunggulan dalam kecepatan dan keamanan, beberapa moda kereta cepat diluncurkan untuk menghubungkan akses antar negara, hal yang lumrah di Eropa Barat. Dan di Asia Tenggara nantinya bakal hadir kereta cepat lintas negara pertama, yakni antara Malaysia dan Singapura dalam proyek Kuala Lumpur–Singapore High Speed Rail (HSR).
Rencana implementasi Kuala Lumpur–Singapore HSR sebenarnya sudah disusun sejak tahun 2013, namun pengerjaan proyek baru di tandatangani pada 13 Desember 2016. Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (4/1/2017), kesepakatan bilateral yang bersejarah ini untuk membangun jalur kereta kecepatan tinggi dengan target operasi pada 1 Desember 2026 mendatang. Proyek ini sendiri sebenarnya untuk meningkatkan konektivitas dan memperkuat hubungan ekonomi dan menjalin hubungan yang lebih erat antara kedua negara yang bertetangga ini.
Baca juga: Johor Baru – Singapura via Rapid Transit System di Tahun 2022
Meski baru bisa dinikmati sembilan tahun lagi, ada poin-poin penting terkait proyek Kuala Lumpur–Singapore High Speed Rail .
1. Waktu permulaan
Layanan ekspres yang menghubungkan Singapura dan Kuala Lumpur ditargetkan mulai tanggal 31 Desember 2026.
2. Delapan stasiun
Jalur ini akan melalui sebanyak delapan stasiun dengan tujuh diantaranya ada di Malaysia dan satu berada di Singapura. Delapan stasiun tersebut yakni rencananya di Kuala Lumpur, Putra Jaya, Seremban, Ayer Keroh Muar, Batu Paha, Iskandar Puteri dan Jurong Timur.
Baca juga: Jepang Tawarkan Teknologi Kereta Cepat Malaysia – Singapura3. Panjang jalur 350 km
Proyek ini melibatkan pembangunan jalur baru (khusus), yang memungkinkan kereta mencapai kecepatan maksimum lebih dari 300 km per jam, 335 km jalur akan diatur di Malaysia, sementara jarak lintasan di Singapura hanya terbentang 15 km.
4. Waktu tempuh perjalanan singkat
High Speed Rail diharapkan mampu memangkas waktu tempuh dengan hanya 90 menit bila dibandingkan dengan perjalanan menggunakan mobil atau bus dari Singapura menuju Kuala Lumpur yang memakan waktu lima sampai enam jam.
Baca juga: Ingin Menikmati Sensasi Kereta Cepat, Bentang Lebar Rel Harus Diganti5. Tiga layanan dengan dua operator terpisah
Ada dua layanan ekspress antar dua stasiun Jurong East di Singapura dan Bandar Malaysia di Kuala Lumpur, layanan antar jemput lebih pendek yang menghubungkan Singapura dengan Iskandar Puteri di Johor dan layanan domestik yang menghubungkan tujuh stasiun di Malaysia. Ketiga layanan tersebut akan dipimpin oleh dua operator berbeda, OpCo International dan OpCo Domestic.
Layanan ekspres dan antar-jemput oleh OpCo International akan terdiri dari peregangan stasiun Kuala Lumpur sampai Singapura dan stasiun Iskandar Puteri dan Singapura masing-masing. Dinas dalam negeri (pemerintah) hanya terdiri dari stasiun-stasiun di Malaysia saja, dari Kuala Lumpur sampai stasiun Iskandar Puteri. Memiliki dua OpCos berbeda akan memungkinkan HSR untuk lebih memenuhi kebutuhan berbeda dari profil penumpang mereka. OpCo Domestic juga akan memberi Malaysia fleksibilitas lebih untuk mengatur layanan internalnya sendiri. Layanan ekspres dan antar jemput akan diberikan penjadwalan dan prioritas operasional untuk layanan domestik.
6. Setiap negara membiayai pembangunan infrastruktur masing-masing
Pemerintah masing-masing negara bertanggung jawab dalam mengembangkan, membangun dan memelihara infrastruktur sipil di negarnya. MyHSR Coroporation di Malaysia dan Land Transport Authority (LTA) di Singapura.
Baca juga: Melesat 200 Km Per Jam, Arlanda Express Kereta Bandara Tercepat7. Pelaksanaan Komite Bilateral
Komite bilateral akan mengawasi semua hal yang dapat mempengaruhi layanan kilat dan antar jemput. Tim gabungan tingkat kerja juga akan menangani semua hal yang memerlukan koordinasi dan keterlibatan bersama antara Singapura dan Malaysia.
8. Konsep CIQ Co-Located (Imigrasi)
Kedua negara telah sepakat bahwa fasilitas Customs, Immigration & Quarantine (CIQ) Singapura dan Malaysia akan berada di tiga lokasi – Kuala Lumpur, Iskandar Puteri dan Singapura. Penumpang yang terikat internasional harus melalui izin CIQ oleh pihak berwenang Singapura dan Malaysia hanya pada saat keberangkatan, memastikan perjalanan yang cepat dan mulus.
Baca juga: Rail Transit Suite, Solusi Untuk Penumpang Kereta Yang Lelah9. Jembatan penghubung Sigapura dan Malaysia
Jalur sepanjang 350 km, delapan stasiun akan menghubungkan kedua negara melalui sebuah jembatan di Selat Johor yang berada di atas permukaan air (tinggi 25 meter). Pada tanggal 4 Januari 2017 kemarin, Otoritas LTA dan Singapura menyatakan bahwa tanah yang menjadi tempat Raffles Country Club di Tuas akan dibebaskan, karena dianggap sebagai lokasi yang paling sesuai untuk menjalankan jalur High Speed Rail.
10. Yang harus dilihat pertama
Muar Otah, Mie Daging Sapi Seremban dan Hello Kitty Town pertama di luar Jepang akan lebih mudah diakses setelah High Speed Rail beroperasi. Layanan kereta api yang baru akan menjadi cara lain bagi wisatawan dari Singapura untuk menjelajahi kota-kota yang kurang terkenal di Malaysia.
Semakin hari penumpang yang menggunakan moda transportasi udara meningkat, sehingga bandara dan maskapai penerbangan melakukan investasi pada teknologi terkait penanganan (handling) bagasi untuk meningkatkan kemanan barang bawaan penumpang.
Dilansir KabarPenumpang.com dari airport-technology.com (10/7/2017), Frances Marcellin, jurnalis asal Inggris, melihat beberapa cara agar teknologi bisa membantu dalam perbaikan proses krusial masalah penanganan bagasi di seluruh dunia. Pengenalan teknologi yang bertahap pada dekade terakhir ini meningkatkan keberhasilan penanganan bagasi yang signifikan. Saat ini dari data yang ada menunjukkan selama sepuluh tahun terakhir penumpang meningkat sebesar 1,2 miliar dan tas yang ditangani turun jumlahnya menjadi 20 juta lebih.
Baca juga: Punya Implan MicroChip? Hati-Hati Ketika Anda Melewati Sistem X-Ray Bandara
Tak hanya itu untuk meningkatkan penanganan bagasi, 200 bandara dan 500 maskapai penerbangan yang menjadi anggota International Air Transport Association (IATA), bekerja untuk meningkatkan dan memenuhi resolusi 753 dari asosiasi ini. Dengan artian nantinya mulai Juni 2018, setiap barang bawaan akan dilacak dan dipertanggungjawabkanan mulai dari check ini hingga pengambilan barang oleh penumpang.
“Bandara, maskapai penerbangan dan ground handler berusaha keras untuk memastikan bagasi yang dipesan penumpang membuat perjalanan yang sama dan tiba dengan selamat di tempat tujuan. SITA’s BagJourney mendukung pengalaman ini dengan memastikan semua orang yang terlibat dalam proses bagasi memiliki informasi terbaru tentang lokasi yang tepat dari setiap tas yang ditangani, ,” kata Matthys Serfontein, wakil presiden Solusi SITA, selaku penyedia solusi sistem informasi dan komunikasi untuk bandara.
Serfontein mengatakan ini adalah gudang dari semua kejadian penanganan bagasi mulaai dari check ini sampai pengiriman tas ke penumpang di tempat tujuan. Menurutnya BagJourney juga dapat memberikan bantuan jika bagasi penumpang tidak sampai ke pesawat karena terhubung dengan sistem WorldTracer SITA yang melacak barang bawaan yang hilang atau salah penanganan.
Baca juga: Ini Dia Troika! Robot Canggih di Bandara Incheon, Korea Selatan
Sebagai contoh jika tas penumpang salah, sebuah permintaan dapat diproses saat naik pesawat dan sebelum sampai di tempat tujuan untuk menghindari penundaan. Menyusul pelaksanaan BagJourney, Etihad Airway yang membawa 24,5 juta tas setiap tahun dengan jadwal 8.500 penerbangan telah melaporkan penurunan 20 persen tas yang tidak sesuai dari tahun 2015 .
Menurut Survei Tren IT Pasar 2011 dari SITA, 91 persen penumpang yang menggunakan teknologi swalayan untuk check in akan terus melakukannya untuk interaksi tatap muka. Tahun lalu di Bandara Luton London, Rockwell Collins memperkenalkan tas tak berbentuk T-series, yang beralih ke instalasi permanen pada bulan November 2016. Bagian dari investasi £110 juta oleh bandara untuk meningkatkan pengalaman penumpang, konfigurasi dua langkah tersebut melihat penumpang menimbang Tas dan tag cetak sebelum tas dikirim secara otomatis, tanpa penumpang perlu menyentuh tombol atau layar.
“Ini adalah tas drop sentuh pertama di dunia. Dalam hal penggunaan, instalasi kami memproses lebih dari 200.000 kantong minggu lalu saja. Saat ini sudah berada di 26 lokasi,” kata Tony Chapman, direktur senior manajemen produk dan program strategis untuk Rockwell Collins.
Chapman menjelaskan bahwa manfaat bandara mencakup peningkatan efisiensi terminal dan throughput sistem bagasi, sementara keuntungan maskapai adalah peningkatan pendapatan tambahan, penurunan biaya penanganan dan peningkatan nilai kepuasan pelanggan. “Bagi penumpang, manfaat utamanya sangat mengurangi waktu antrian, pemrosesan cepat dan sederhana, dan pengalaman check-in bebas stres,” tambahnya.
Sementara jumlah tas yang tidak ditangani menurun, data dari 2016 menunjukkan bahwa 47 persen kesalahan penanganan terjadi saat transfer berlangsung. Bandara Kopenhagen yang memiliki banyak penerbangan penghubung telah berurusan dengan masalah tag yang menjadi kusut atau tidak terbaca, yang berarti tas tidak dapat diproses oleh sistem penanganan bagasi.
“Jumlah tipikal kami yang tidak membaca tag tas berjalan sekitar 2-3 persen, sehingga mengurangi jumlah ini adalah kunci untuk memberikan peningkatan nyata dalam efisiensi kapasitas penanganan dan sistem Baggage Handling System (BHS),” kata Karsten Madsen, Bandara Kopenhagen.
Bandara tersebut memperkenalkan sistem pengkodean video Beumer Group (VCS), yang menggunakan perangkat lunak serupa yang banyak digunakan di industri paket, dan kamera pembaca otomatis (ATR) kamera dalam sistem penanganan bagasi untuk memecahkan masalah tag yang tidak dibaca. Bila tag bagasi tidak dibaca terjadi, gambar dikirim ke operator yang akan memilih gambar terbaik untuk dilihat dan menyandikan informasi dari jarak jauh melalui workstation atau tablet. VCS memungkinkan operator, tidak peduli di mana mereka berada, zoom-in untuk melihat tag yang tidak dibaca, menggunakan layar sentuh, daripada harus secara fisik memutar atau mengangkat tas.
Baca juga: Ada Guratan “Abu-Abu” Pada Sistem Pemindai Wajah di BandaraRFID
Teknologi RFID (Radio Frequency Identification) diharapkan dapat lebih meningkatkan tingkat tag baca-baca di masa depan. Tag RFID bisa dimasukkan ke dalam tag tas dan track bawaan secara real-time. Dengan pembaca RFID membaca tag melalui gelombang radio, tag tersembunyi atau yang tidak terbaca tidak menimbulkan masalah, yang menyebabkan lebih sedikit tas yang salah penanganan. Sementara biaya disebut sebagai salah satu hambatan terbesar, SITA dan IATA menghitung bahwa RFID dapat diimplementasikan sekitar $0,10 per penumpang, sementara menghasilkan penghematan lebih dari $0,20 per penumpang.
Menurut sebuah studi oleh SITA, Delta Airlines, yang memproses 120 juta tas per tahun, menginvestasikan US$50 juta dalam teknologi RFID untuk membantu memenuhi Resolusi 753. Kini ditempatkan di 344 stasiun Delta di seluruh dunia, maskapai ini telah melaporkan tingkat keberhasilan pelacakan tas 99,9 persen. Untuk masa depan tas drop-off, bagaimanapun, mesin cerdas, seperti Leo, robot bagasi, bisa lepas landas di bandara. Leo adalah robot yang sepenuhnya otonom yang akan check-in dan mencetak label tas, dan kemudian mengangkut tas ke lokasi yang diinginkan sambil menghindari rintangan di bandara yang sibuk. Leo diujicobakan di Bandara Jenewa, Swiss tahun lalu dan saat ini merupakan bagian dari berbagai percobaan dan demonstrasi di seluruh dunia.
Dewasa ini, ada banyak perangkat sensor yang dikembangkan oleh pemasok komponen di industri kendaraan otonom untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang apa yang terjadi di luar mobil, namun sensor 3D yang dikembangkan oleh Vayyar memberikan tampilan lebih rinci di dalam mobil, termasuk informasi tentang penumpang. sensor 3D tersebut juga tidak menggunakan pengambilan gambar optik, jadi hasil yang didapatkan punjauh lebih baik daripada hasil kamera, dan juga dapat berfungsi walaupun pencahayaan kurang memadai.
Baca Juga: Fasilitasi Olimpiade 2020, Tokyo Canangkan Penggunaan Mobil Otonom
Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman techcrunch.com (13/7/2017), sensor tertanam ini juga memiliki bentuk yang kecil dan tidak terlalu menguras kocek dibandingkan dengan perangkat yang memiliki fungsi serupa lainnya, dan dapat memberikan info real time tentang apa yang terjadi di dalam mobil, termasuk memantau tanda vital penumpang, dan bahkan mencatat apakah pengemudi mengangguk di belakang roda. Melihat keunggulan ini, para produsen mobil otonom lalu mulai melirik sensor 3D milik Vayyar, karena dinilai dapat membantu memantau kondisi yang seharusnya dilakukan oleh seorang pengemudi.
Selain itu, mobil otonom juga bisa menggunakan teknologi ini untuk mengoptimalkan keamanan dan keselamatan penumpang, dan menjadi penanda lokasi kendaraan yang akurat jika terjadi kecelakaan. Layanan in-vehicle mobil otonom masa depan juga bisa memanfaatkan teknologi serupa,seperti menyesuaikan tampilan dan pengiriman info di display mobil dan memodifikasi kontrol lingkungan.
Vayyar juga mencatat bahwa sensor tersebut dapat digunakan secara otomatis untuk mendeteksi dan mengirim informasi tentang orang yang selamat di dalam kendaraan jika terjadi kecelakaan, yang berpotensi memberi respon darurat tahap awal. Selain pemantauan interior, sensor 3D yang dibuat oleh Vayyar juga memiliki aplikasi dalam hal pemantauan area yang berada disekitar kendaraan. “Menghapus semua blind spot” menurut salah satu sumber dari perusahaan tersebut. tanpa melibatkan soal tingkat cahaya yang biasanya menghambat, dan halangan yang berasal dari alam, seperti kabut atau panas yang ekstrim. Oleh sebab itu, perangkat ini dinilai lebih ampuh dan memantapkan keunggulan mereka dibandingkan perangkat penguat optik lain.
Baca Juga: Waymo Pastikan Penumpang Mobil Otonom Aman Dengan Teknologi Ini
Selain rentetan keunggulan yang sudah dijabarkan di atas,Vayyar juga memiliki orang-orang hebat yang berada di balik sejumlah keunggulan tersebut, salah satunya adalah CEO dan pendiri Raviv Melamed, yang sebelumnya merupakan VP Intel Architecture Groupu dan GM Worldwide Mobile Wireless Group.
Bagaimana perasaan Anda saat berada di pesawat dan meminum sampachampagne sisa dari gelas-gelas orang? Mungkin bila Anda mengetahuinya, Anda tidak akan meminum apalagi mencobanya.
Hal ini terjadi di sebuah maskapai terkenal yakni Emirates, dimana terekam dalam sebuah video seorang penumpang melihat awak kabin yang menuang sisa champagne dari gelas ke botolnya. Dilansir KabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk (14/7/2017), video ini sudah ribuan kali ditonton oleh netizen dan menyebutkan bahwa hal tersebut sangat menjijikkan.
Baca juga: Tanggapi Pelarangan Gadget di Kabin, Emirates Airlines Buat Iklan Lucu di YouTube
Diketahui, rekaman penuangan kembali sampanye bekas ke botolnya, diambil ada kelas bisnis Emirates yang direkam oleh seorang perempuan berkebangsaan Rusia yakni Yevgeny Kayumov di atas pesawat A380 dalam perjalanannya ke Dubai. “Saya secara tidak sengaja memfilmkan video ini, dan bahkan tidak menyadari saat ini saat ini, menuangkan Champagne yang belum selesai kembali ke dalam botol,” tulis Kayumov melalui instagramnya dengan tagging Emirates.
Dalam akunnya tersebut Kayumov juga menanyakan apakah ini adalah kebiasaan Emirates? Adanya postingan ini, beberapa pengikut Kayumov akhirnya berbagi keluh kesah dengan masalah champagne yang di isi ulang ke dalam botolnya dari gelas.
Baca juga: Emirates Hadirkan Aplikasi Augmented Reality di Udara, Bisa Diakses dari Smartphone Android dan iOS
Adanya hal ini, salah seorang juru bicara Emirates mengatakan, bahwa maskapai Emirates selalu berusaha memberikan layanan dengan kualitas terbaik. Tindakan yang terekam dalam video tidaklah sesuai dengan standar kualitas Emirates.
“Kami sedang menyelidiki kejadian ini,” ujar juru bicara tersebut. Insiden tersebut tempaknya melibatkan champagne gratis yang tidak disalurkan kepada penumpang setelah mereka naik pesawat. Beberapa komentar mengatakan, ada kemungkinan cara tersebut cara nyaman untuk membuang cairan yang tidak terpakai. Selain itu salah seorang awak kabin memberikan komentarnya terkait masalah tersebut.
Baca juga: Inilah 10 Penerbangan “Direct Flight” dengan Waktu Terlama di Dunia
“Saya adalah seorang awak kabin, apa yang saya pikirikan sedang terjadi di sini adalah bahwa petugas tersebut mungkin menuang champagne yang tidak terpakai dalam botol sesaat sebelum lepas landan dan kemudian di buang setelah lepas landas,” ujar awak kabin tersebut.
Yang lainnya mengatakan, bahwa, setiap awak kabin tak diizinkan membuang barang saat di lapangan. “Aku yakin mereka menuangkan semuanya kembali dalam botol seingga mereka kemudian mencurahkannya pada botol dan membuangnya ke tempat sampah sebelum lepas landas,” ujar awak kabin lainnya.
Dibanding Vietnam dan Kamboja, Myanmar jauh lebih sepi didatangi oleh tamu asing, lantaran pemerintahan yang masih dipimpin Junta Militer membuat iklim usaha dan wisata di Negeri asal Aung San Suu Kyi ini kurang menarik dan terlihat ‘mengerikan’ untuk didatangi. Namun perlahan, negara anggota ASEAN ini mulai berbenah, mulai ada sentuhan demokrasi dan berbagai sanksi internasional untuk Myanmar telah dicabut.
Menyikapi peluang Myanmar yang kini mulai membuka diri, pada 14 Juli 2015 lalu, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Dr Ito Sumardi mengatakan bila Myanmar Airlines International (MAI) dan Garuda Indonesia telah menandatangani kesepakatan kerjasama, namun sayangnya sampai saat ini tidak ada kelanjutan tentang langkah kerjasama tersebut.
Baca juga: Lakukan Go Around, Pilot Garuda Indonesia GA425 Selamatkan Penerbangan dari Petaka
“Sayangnya Myanmar belum siap untuk mengizinkan penerbangan langsung dari Indonesia ke Myanmar saat itu. Saya masih berusaha keras untuk meminta Myanmar, jika memungkinkan kita bisa mengatur penerbangan dari Jakarta ke Yangon karena di Indonesia banyak orang ingin berkunjung ke Myanmar,” kata Sumardi yang dikutip KabarPenumpang.com dari mmtimes.com (17/7/2017).
Sumardi menagatakan, dirinya akan mencoba untuk meminta pemerintah Myanmar agar memberi kesempatan bagi Indonesia bisa membuka penerbangan langsung ke Myanmar. Apalagi keadaan ekonomi Myanmar yang mulai berubah setelah pencabutan sanksi internasional tahun lalu dan Myanmar menawarkan potensi besar bagi investor asing yang akan merambah ekonomi negara yang dulu dikenal sebagai “Birma.”
Baca juga: Pulau Rote, Strategis Bagi Perbatasan, Inilah Keindahan di Ujung Selatan Indonesia
“Kedubes kami berupaya membawa delegasi bisnis Indonesia untuk melihat peluang investasi di sini (Myanmar). Semoga nanti salah satu organisasi dari Indonesia dapat mempromosikan bisnis pariwisata,” ujar Sumardi.
Hingga kini diketahui, jumlah kunjungan wisawatan Myanmar ke Indonesia meningkat. Wakil Direktur Kementerian pariwisata Indonesia, Pupung Thariq Fadhillah mengatakan, saat ini sudah ada sekitar 25.000 pelacong Myanmar ke Indonesia tahun 2015 lalu. Tak hanya itu, untuk pertama kalinya Kementerian Pariwisata Indonesia bersama dengan 10 operator berangkat ke Myanmar untuk mempromosikan kegiatan pariwisata antar kedua negara.
Baca juga: Desa Pelangi, Ubah Wilayah Padat dan Kumuh Jadi Tujuan Wisata
“Sebenarnya ini adalah acara singkat untuk promosi pariwisata, kami akan melakukan langkah demi langkah dalam jangka panjang. Dengan melakukan kegiatan ini kita bisa mendapatkan kontak bisnis dan mitra dari kedua negara, “kata Fadhillah. Dia menambahkan, Indonesia berencana untuk menyelenggarakan acara serupa di bulan September di Myanmar. Ini karena sangat penting untuk menghubungkan kedua negara, khususnya agar menuju Myanmar tak perlu harus transit di Bangkok (Thailand), Singapura ataupun Malaysia. “Saya harap frekuensi penerbangan akan meningkat sepanjang tahun, “katanya.
Hingga kini salah satu maskapai yang memiliki rute Indonesia menuju Yangon hanya Jetstar Airlines dan itupun tetap transit di Singapura. Managing Director Electra Tour, Robbie Arisutantyo mengatakan, bahwa masa depan pariwisata Myanmar sangat bagus, dan banyak hal menarik di dalmnya sehingga pihaknya bisa menjual paket wisata ke masyarakat di Indonesia.
Baca juga: Pulau Miangas, Garda Terdepan Yang Eksotis di Utara Indonesia
“Acara ini akan mendorong lebih banyak orang untuk melakukan perjalanan ke Indonesia dan beberapa di antaranya sudah berkunjung ke Indonesia,” ujar Robbie. Menurut data dari Kementerian Pariwisata Indonesia, mereka menerima lebih dari 12 juta turis internasional pada 2016, empat kali lebih banyak dari pendatang di Myanmar. Indonesia menargetkan meraup 15 juta wisatawan tahun ini.
Sebagai salah satu perusahaan startup yang tengah mencoba untuk merubah sistem transportasi menjadi lebih baik dan efisien, Hyperloop One kembali membuat sebuah pergerakan dengan melakukan uji coba skala penuh terhadap moda futuristiknya tersebut. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (12/7/2017), bersama dengan para kompetitornya, yaitu Hyperloop Transportation Technologies dan Arrivo, memiliki satu tujuan yaitu untuk membangun jaringan transportasi dengan media tabung dengan kecepatan supersonik.
Baca Juga: Hyperloop One Pamerkan Sembilan Rute Andalannya
Pada bulan Maret lalu, salah seorang dari Hyperloop One mengatakan telah melakukan uji coba jalur skala penuh di gurun Nevada, senada dengan dilakukannya studi kelayakan dengan pemerintah dari beberapa negara, seperti Rusia, Finlandia, dan Dubai, dimana negara-negara tersebut merupakan negara yang tertarik untuk menjadikan Hyperloop One sebagai moda transportasi masa depannya.
Ini merupakan wujud kesungguhan Hyperloop One dalam penyediaan moda angkutan berbasis massal. Dalam uji coba skala penuh tersebut, moda dapat melaju dengan kecepatan 70mph atau setara dengan 112 km per jam. Tentu angka tersebut masih jauh dari target kecepatan Hyperloop yang mencapai 1000 km per jam. Dalam kesempatan tersebut, tim juga menguji keseluruhan dari kesiapan moda di semua komponen sistem untuk pertama kalinya, seperti motor, suspensi kendaraan, teknologi levitasi magnetik, dan pemompaan vakum.
Baca Juga: Dubai, Amerika Serikat, dan Slowakia Saling Mengantri Realisasi Hyperloop
“Hyperloop One telah menyelesaikan apa yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yaitu berhasil menguji sistem Hyperloop skala penuh pertama,” ujar Shervin Pishevar, salah satu pendiri dan Chairman Eksekutif Hyperloop One, dilansir dari sumber yang sama. Lebih lanjut, entrepreneur berdarah Iran-Amerika ini juga menggambarkan kesungguhannya dalam memperkenalkan Hyperloop ke khalayak ramai. “Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu lebih dari 100 tahun, moda transportasi baru akan segera diperkenalkan,” tambahnya.
Dalam masa uji cobanya kemarin, kereta luncur itu “melayang” di atas jalur selama 5,3 detik dengan menggunakan levitasi magnetik, mencapai hampir 2G percepatan perjalanan menuju kecepatan target 70 mph (112 km per jam). Tim telah mengurangi tekanan di dalam tabung reaksi menjadi sekitar lima pascal, yang menjadikannya ruang vakum terbesar keempat di dunia dan yang terbesar di tangan swasta.
Baca Juga: Hyperloop, Tawarkan Kecepatan Supersonic Untuk Transportasi Indonesia
Tidak hanya jalur, Hyperloop One juga meluncurkan prototip pod penumpang dan kargo pada saat yang bersamaan. Dapat dilihat, pod tersebut terbuat dari aluminium struktural dan serat karbon, dengan panjang 28 kaki (8,5 m). Kedepannya, Hyperloop One akan menguji coba modanya tersebut hingga pod tersebut menyentuh kecepatan hingga 250 mph atau setara dengan 400 km per jam.
Seekor bebek ‘bernama’ Daniel Turducken Stinkerbutt atau biasa di panggil Daniel si bebek merupakan hewan pendukung untuk membantu penyembuhan emosional seorang perempuan berusia 37 tahun bernama Carla Fitzgerald.
Dilansir KabarPenumpang.com dari abcnews.go.com (18/10/2016), Fitzgerald selalu bersama Daniel si bebek karena sedang berjuang mengatasi gangguan stress pasca trauma kecelakaan parah yang dialaminya tahun 2013 lalu. Daniel si bebek ini pamornya menjadi naik semenjak menemani Fitzgerald dalam dua penerbangan dari Milwaukee ke Charlotte, North Carolina dan dari Charlotte menuju Ashevile, North Carolina.
Baca juga: Setelah 2 Jam Alami Guncangan Hebat, Airbus A330 AirAsia X Kembali ke Perth
“Semua orang hanya memperhatikannya dan jatuh cinta. Maksud saya, dia seperti pria kecil yang manis, lucu dan manis. Dia berperilaku sangat baik di bandara dan saat penerbangan,” ujar Fitzgerald.
Dia menambahkan, saat menemani dalam penerbangan tersebut, Daniel si bebek menggunakan sepatu merah kecil dan popok Captain America. Firzgerald mengakui, bersama Deniel saat itu menjadi penerbangan pertama kalinya semenjak kecelakan tahun 2013. Dia menambahkan, saat itu juga perasaannya campur aduk, gugup dan mengingat bahwa meninggalkan rumah adalah hal yang sangat mengerikan.
Daniel Turducken Stinkerbutt atau biasa di panggil Daniel si bebek (abcnews.go.com)
“Tapi pelukan dan ciuman Daniel yang memberiku kenyamanan dan keyakinan bahwa penerbangan ini bisa dilalui,” ujarnya.
Baca juga: Anda Takut Naik Pesawat Terbang? Mungkin Aerophobia Penyebabnya!
Fitzgerald mengatakan, selain pelukan dan ciuman, Daniel juga membantunya dengan cara lain yakni Daniel mengetahui kapan Fitzgerald akan mengalami serangan dan panik. Bahkan, Daniel si bebek sampai meletakkan kakinya di dada Fitzgerald sebagai isyarat untuk berbaring.
Dia menjelaskan bahwa dokternya telah menulis surat yang membuktikan bahwa Daniel merupakan bagian dari perawatan Gangguan Stress Pasca Trauma atau Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Dia menambahkan bahwa dia menggunakan surat tersebut untuk mendapatkan izin agar Daniel ikut dengannya dalam penerbangan terakhir mereka.
Daniel bersama Carla Fitzgerald saaat melewati pemeriksaan di bandara (abcnews.go.com)Baca juga: Cidera Otak, Penumpang Ini Gugat American Airlines Senilai US$10 Juta
“Beberapa orang memiliki anjing terapi, ada yang punya kucing, saya punya bebek. Saya berharap lebih banyak orang dapat menerima bahwa seekor bebek dapat membuat pendamping yang sangat baik, penuh kasih sayang, dan hewan pendukung,” kata Fitzgerald.