Mulai Hari Ini Kereta Pedagang dan Petani Beroperasi, Ini Aturan Barang Dagangan yang Bisa Dibawa

Yang ditunggu pun akhirnya tiba. Ya, rangkaian kereta petani dan pedagang resmi beroperasi melayani penumpang mulai dari Stasiun Rangkasbitung hingga Stasiun Merak pulang pergi. Kereta ini sudah bisa digunakan masyarakat per 1 Desember 2025 sebagai langkah dan terobosan baru dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI). Layanan kereta pedagang dan petani akan dirangkaikan pada KA Lokal/Commuter Line Merak dengan kapasitas 73 tempat duduk. Per hari akan ada 7 perjalanan bolak-balik, dari Merak dan Rangkasbitung. Jadwal disesuaikan dengan jadwal KA Lokal Merak dari Stasiun Rangkasbitung. Untuk bisa menikmati layanan ini, pengguna kereta petani dan pedagang hanya perlu datang ke loket registrasi yang sudah disiapkan dengan membawa kartu identitas dan mengisi formulir registrasi untuk diverifikasi petugas terlebih dahulu untuk mendapatkan kartu petani dan pedagang. Registrasi ini sudah bisa dilakukan sebelum jadwal hari keberangkatan dan pada saat akan menggunakan perjalanan kereta petani dan pedagang. Dengan memiliki kartu petani dan pedagang ini, pengguna dapat dengan menggunakan layanan perjalanan ke depan. Salah satunya pelanggan bisa melakukan pemesanan dan pembelian tiket kereta petani dan pedagang mulai H-7 keberangkatan di loket-loket stasiun Commuter Line Merak. Namun, perlu diketahui juga, tidak semua barang diperbolehkan untuk dibawa di kereta tersebut. KAI Commuter dalam keterangannya, Minggu (30/11/2025), merinci sederet barang yang tidak bisa dibawa pada layanan kereta khusus pedagang dan petani. Dilansir dari laman Detik menyebutkan: • Barang bawaan yang berbau menyengat dan barang yang mudah terbakar dilarang dibawa di kereta. • Hewan ternak juga dilarang dibawa di kereta. • senjata tajam atau senjata api dilarang dibawa di kereta. Dalam hal ini KAI Commuter juga memberlakukan aturan-aturan lainnya dalam layanan kereta petani dan pedagang ini, salah satunya barang dagangan yang bisa dibawa adalah sebanyak 2 koli atau 2 tentengan, dengan dimensi maksimal 100 cm x 40 cm x 30 cm per koli. Seperti layanan Commuter Line Merak, kereta petani dan pedagang ini dipatok tarif PSO sebesar Rp3.000. Diketahui, PSO adalah insentif berupa subsidi dari Pemerintah melalui DJKA yang ditujukan untuk menekan tarif layanan kereta api sehingga dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat dengan harga terjangkau. Pengujian dilakukan juga untuk memastikan pengoperasian Kereta Petani dan Pedagang ini dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan, keamanan, keandalan, kenyamanan, kemudahan, dan kesetaraan sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 63 Tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimum.
Inovasi Baru, Ternyata Ini Alasan KAI Membuat Kereta Petani dan Pedagang

Argo Wilis Masih ‘Tertinggal’ Gunakan Rangkaian Stainless Steel Biasa, Ini Alasannya

Memiliki julukan Si Raja Selatan. Ya, siapa lagi kalo bukan Kereta Api (KA) Argo Wilis. Rangkaian kelas eksekutif dan kelas wisata Panoramic ini digadang-gadang sebagai kereta kebanggaan masyarakat yang melintasi jalur selatan. KA Argo Wilis juga memiliki perjalanan yang mampu berkecepatan hingga 120 km/jam (Gapeka 2025). Kereta berusia 18 tahun ini menempuh jarak Bandung – Surabaya, atau sebaliknya, sejauh 699 kilometer dengan kecepatan rata-rata 70 – 100 kilometer per jam. Durasi perjalanan KA Argo Wilis adalah sekitar 11 jam 50 menit sampai 12 jam sekali jalan. KA Argo Wilis pertama kali beroperasi pada 8 November 1998. Sejak peluncuran perdananya, kereta ini sudah menggunakan rangkaian stainless steel dari PT INKA. Kereta ini adalah satu-satunya dari kereta kelas eksekutif argo yang melayani jalur di luar Jakarta. Hal tersebut menjadikannya ikon transportasi Surabaya – Bandung, dan sebaliknya. KA Argo Wilis yang saat ini beroperasi menggunakan Lokomotif CC206. Lokomotif yang terkenal nyaman dan minim getaran ini memiliki rangkaian yang terdiri dari satu kereta pembangkit listrik, satu kereta makan, serta tujuh hingga sembilan unit kereta kelas eksekutif dengan kapasitas masing-masing 50 penumpang. Selain hal tersebut ternyata KA Argo Wilis bisa dikatakan ‘tertinggal’ dari kawan-kawannya yang sesama brand ‘argo’ tersebut. Ya, karena KA Argo Wilis masih menggunakan rangkaian jenis stainless steel biasa, sedangkam yang lainnya mayoritas sudah berganti menjadi jenis stainless steel New Generation yang sama-sama di produksi dari PT INKA. Nah, sebenarnya rangkaian KA Argo Wilis sudah bisa diganti menjadi stainless steel New Generation lantaran rangkaiannya sedang digunakan oleh kereta lain. Ini karena imbas kejadian anjlok hebat pada rangkaian KA Argo Bromo Anggrek beberapa waktu lalu di Stasiun Pegadenbaru. Rangkaian stainless steel New Generation tersebut sempat digunakan sementara.
Rangkaian eksekutif New Generation yang terparkir di Stasiun Cimahi, digadang-gadang akan digunakan untuk KA Argo Wilis.
Lalu kira-kira kapan KA Argo Wilis bisa menggunakan rangkaian baru? Jawabannya adalah, segera. Banyak unggahan di media sosial bahwa ada rangkaian stainless steel New Generation (kelas eksekutif) yang stabling atau parkir di Stasiun Cimahi. Ya, rangkaian tersebut rencananya akan digunakan untuk KA Argo Wilis. Desas desus rangkaian KA Argo Wilis New Generation digadang-gadang akan digunakan pada Desember nanti terutama saat jelang Nataru 2025. Diharapkan saat menggunakan rangkaian baru ini, penumpang yang menggunakan KA Argo Wilis akan merasa lebih nyaman dengan fasilitas yang lebih modern.
Nge-Trip KA Serayu – Tiketnya Murah, Pemandangannya Pun Indah

Mengapa Pesawat Regional Turboprop Kurang Populer di Langit Amerika dan Eropa?

Pesawat komersial regional bermesin baling-baling (turboprop), seperti ATR 72 dan De Havilland Dash 8, adalah tulang punggung penerbangan jarak pendek di banyak negara, terkenal karena efisiensi bahan bakarnya. Namun, di Amerika Serikat (AS) dan sebagian besar Eropa Barat, popularitas mereka jauh tertinggal dibandingkan dengan jet regional kecil (regional jet). Analisis ini menguraikan alasan utama mengapa turboprop gagal mendominasi pasar penerbangan regional yang kompetitif di Barat. Alasan utama mengapa jet regional (seperti Embraer E-Jets dan CRJ Series) mengalahkan turboprop adalah faktor waktu tempuh dan persepsi kenyamanan. Turboprop terbang lebih lambat (sekitar 250–300 knot) dibandingkan jet regional (sekitar 400–450 knot). Di pasar AS yang didorong oleh konektivitas yang cepat, penumpang sering memilih penerbangan jet, bahkan jika perbedaannya hanya 15–20 menit pada rute pendek.
ATR-72 600, Pesawat Tercanggih Untuk Penerbangan Perintis Nasional
Secara historis, turboprop memiliki reputasi sebagai pesawat yang lebih bising dan lebih banyak getaran di kabin, meskipun teknologi modern (Active Noise and Vibration Suppression/ANVS) telah banyak meredam masalah ini. Namun, stigma “turboprop = pesawat kuno/kurang nyaman” sulit dihilangkan. Sebagian besar kontrak pilot maskapai utama AS (seperti Delta, United, American) mencakup Klausul Lingkup. Klausul ini membatasi ukuran dan berat pesawat yang boleh dioperasikan oleh maskapai regional afiliasi (seperti SkyWest atau Republic Airways). Secara historis, batasan kapasitas tempat duduk (misalnya, maksimum 76 kursi) sangat cocok dengan model jet regional yang lebih kecil (misalnya CRJ700 atau Embraer E175). Turboprop modern yang lebih besar (seperti Dash 8-Q400 atau ATR 72) sering kali memiliki kapasitas yang sama atau bahkan lebih besar, tetapi maskapai AS memilih jet untuk konsistensi operasional dan kenyamanan penumpang. Klausul ini secara efektif membatasi permintaan maskapai regional AS untuk model turboprop berkapasitas tinggi. Meskipun turboprop jauh lebih efisien bahan bakar per mil kursi terbang, maskapai besar AS dan Eropa mengutamakan efisiensi dalam hal waktu turnaround (waktu antara kedatangan dan keberangkatan) dan utilisasi blok waktu. Sebagian besar rute regional di AS adalah rute feeder (pengumpan) yang masuk ke hub besar (misalnya Chicago, Dallas, Frankfurt). Turboprop, yang bergerak lebih lambat, dapat mengganggu kelancaran lalu lintas jet yang padat di hub tersebut, menciptakan masalah slot waktu dan flow lalu lintas udara. Penghematan bahan bakar turboprop tidak selalu menutupi biaya operasional keseluruhan jika pesawat menghabiskan lebih banyak waktu di udara (karena lebih lambat), yang mengurangi jumlah penerbangan yang dapat dilakukan per hari. Popularitas turboprop di pasar lain membuktikan bahwa kelemahan di Barat adalah masalah strategis, bukan teknis, di pasar yang memiliki landasan pacu pendek, medan pegunungan, atau harga bahan bakar sangat tinggi (seperti Indonesia, Filipina, atau Australia), turboprop adalah pilihan logis karena kemampuan lepas landas dan mendarat yang lebih baik di landasan pendek (Short Takeoff and Landing/STOL).
Arah Baling-baling pada Mesin Pesawat Turbopropeller Ada Dua Jenis, Co-rotating dan Counter Rotating

Hari Ini 17 Tahun Lalu, COMAC ARJ21 Terbang Perdana, Tandai Kebangkitan Jet Regional Pertama Buatan Cina

Tepat 17 tahun lalu, pada tanggal 28 November 2008, prototipe jet regional COMAC ARJ21 Xiangfeng (Flying Phoenix) lepas landas dari Lapangan Udara Dachang, Shanghai, menandai penerbangan perdananya yang sukses. Momen ini adalah titik balik penting dalam ambisi Cina untuk menjadi pemain utama dalam industri kedirgantaraan global. Program ARJ21 (Advanced Regional Jet for the 21st Century) dimulai pada awal tahun 2002 di bawah konsorsium ACAC (kemudian diakuisisi oleh Commercial Aircraft Corporation of China – COMAC). Desain ARJ21 banyak mengambil inspirasi dari pesawat McDonnell Douglas MD-90 yang pernah diproduksi di Cina di bawah lisensi. Ini terlihat dari penempatan mesin ganda di bagian belakang badan pesawat (aft-fuselage mounted engines). Meskipun diklaim sebagai desain mandiri, ARJ21 mengandalkan komponen kritis dari Barat, termasuk mesin General Electric CF34-10A dan avionik dari Rockwell Collins. Pesawat ini dirancang khusus untuk memenuhi kondisi geografis Cina yang beragam, terutama rute dengan suhu tinggi dan ketinggian (hot and high), seperti di Cina bagian barat.
35 Persen Saham Dikuasai Perusahaan Cina, Jadi Alasan TransNusa Gunakan Pesawat Cina ARJ21?
Penerbangan perdana seharusnya dilakukan pada tahun 2005, tetapi mengalami penundaan besar selama tiga tahun karena kompleksitas perancangan dan proses sertifikasi. Pada hari bersejarah 28 November 2008, prototipe ARJ21-700 berhasil lepas landas dan terbang selama sekitar satu jam, mencapai ketinggian 9.000 kaki. Penerbangan tersebut diklaim sangat sukses oleh COMAC dan memulai program uji coba penerbangan yang panjang. Namun, uji coba penerbangan dan proses sertifikasi oleh Otoritas Penerbangan Sipil Tiongkok (CAAC) berlangsung selama enam tahun tambahan, yang membuat pesawat ini baru mendapatkan Sertifikasi Tipe CAAC pada Desember 2014. ARJ21-700 secara resmi memasuki layanan komersial pada 28 Juni 2016 dengan maskapai peluncur (launch customer) adalah Chengdu Airlines. ARJ21 kini menjadi tulang punggung penerbangan regional di Cina, menghubungkan kota-kota kecil dan menengah. Pesawat ini telah mencatat keberhasilan ekspor perdananya ke Asia Tenggara, dengan maskapai TransNusa (Indonesia) menjadi pelanggan internasional pertamanya pada akhir 2022. Hingga saat ini (akhir tahun 2025), COMAC telah mengirimkan lebih dari 170 unit ARJ21 kepada maskapai domestik dan internasional. Jumlah ini terus bertambah seiring peningkatan kapasitas produksi COMAC.
Gallop Air dari Brunei, Jadi Maskapai Internasional Kedua Pengguna COMAC ARJ21 Setelah TransNusa

Arab Saudi Bangun Terminal Baru Berkapasitas 40 Juta Penumpang di Bandara King Salman

Arab Saudi terus mempercepat laju modernisasi infrastruktur nasionalnya. Rencana ambisius terbaru mengungkapkan pembangunan terminal penumpang baru di Bandara Internasional King Salman (King Salman International Airport – KSIA) di Riyadh, dengan kapasitas penanganan hingga 40 juta penumpang setiap tahunnya. Terminal ini akan menjadi fase awal dari mega-proyek Bandara King Salman, yang bertujuan menjadikan Riyadh sebagai global logistics and aviation hub yang kompetitif. Detail mengenai terminal berkapasitas 40 juta penumpang ini dikonfirmasi oleh CEO sementara KSIA, Marco Mejia, dan dilaporkan secara luas oleh media regional dan internasional pada 26–27 November 2025. Proyek KSIA secara keseluruhan dikembangkan oleh Public Investment Fund (PIF), dana kekayaan kedaulatan Arab Saudi, dan diluncurkan secara resmi oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman pada November 2022. Konstruksi untuk fase baru ini, termasuk terminal 40 juta, hanggar pesawat baru, dan infrastruktur sisi udara (airside), dijadwalkan dimulai pada 2026 dan Terminal baru ini diharapkan mulai beroperasi pada 2029. Proyek Bandara King Salman yang baru ini dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 57 kilometer persegi dan direncanakan akan memiliki enam landasan pacu paralel serta beberapa terminal baru untuk melayani penerbangan internasional, regional, dan domestik. KSIA akan menjadi markas utama (home base) bagi maskapai penerbangan nasional baru Saudi, Riyadh Air, yang diluncurkan untuk bersaing di rute-rute internasional. Proyek ini diharapkan menyumbang sekitar SR27 miliar (sekitar US$7,2 miliar) setiap tahun untuk Produk Domestik Bruto (PDB) non-minyak Saudi, sejalan dengan tujuan diversifikasi ekonomi. KSIA dirancang sebagai “aerotropolis” yang mencakup fasilitas pendukung bandara, area komersial, fasilitas rekreasi, dan logistik, menciptakan pusat perkotaan baru di sekitar bandara. Dengan dimulainya pembangunan terminal berkapasitas 40 juta ini, Saudi Arabia menegaskan keseriusannya untuk mengubah Riyadh menjadi salah satu dari sepuluh kota ekonomi teratas dunia.
Sukseskan Visi 2030, Arab Saudi Bangun Bandara Baru di Riyadh: Tampung 185 Juta Penumpang-Punya 6 Runway

Naik Kereta Api Cuma Rp3.000, Sudah Bisa Menikmati Pemandangan Eksotik nan Bersejarah

Masih banyak transportasi kereta api yang bisa dinikmati masyarakat, khususnya untuk semua kalangan. Dengan harga yang murah, siapa yang tak mau? Apalagi ditambah dengan pemandangan yang super indah di tanah Sunda (Jawa Barat). Ya, kali ini kabarpenumpang akan mengajak kalian semua untuk menikmati panorama pedesaan menggunakan KA Siliwangi. Jika kalian pernah melewati Kota Sukabumi hingga Cianjur, tentu tahu ada rangkaian kereta api yang melintasi antar kota tersebut. Eits, ini bukan sembarang jalur kereta api pada umumnya, lho, tapi jalur ini sudah kita dengar dari berbagai media atau platform digital bahwa jalur ini memiliki segudang sejarah.
Terungkap! Kereta Wisata Gambir – Cianjur Bakal Diberlakukan, Ini Jadwalnya
Mulai dari jalur pertama yang dibagun menghubungkan Jakarta – Bandung via Sukabumi, stasiun-stasiun yang dilewati memiliki bangunan cagar budaya, terowongan yang legendaris, hingga jembatan yang membentang menyeberangi sungai yang digadang-gadang memiliki kisah mistis. Dari nama kereta api tersebut kata ‘Siliwangi’ berasal dari seorang Prabu Siliwangi yang merupakan tokoh legendaris pemimpin Kerajaan Pajajaran yang memiliki nama asli Sri Baduga Maharaja. Pemilihan nama ini ditujukan untuk menghormati sosok raja terkenal dari tanah Sunda tersebut. Masyarakat yang terbiasa menggunakan Kereta Api Siliwangi, tentu merasa terbantu dengan waktu yang terjangkau dan praktis. Apalagi diketahui hingga saat merupakan kereta lokal yang bertarif sangat murah. Ya, hanya dengan Rp3.000 saja rute dari Stasiun Sukabumi – Staaiun Cianjur dan Rp5.000 hingga Stasiun Cipatat masyarakat sudah bisa melakukan perjalanan selama 1 setengah hingga 2 jam.
Healing ke Pantai Anyer, Ternyata Bisa juga Naik Kereta Api, Begini Caranya
Rute Kereta Api Siliwangi dimulai dari Stasiun Sukabumi hingga Stasiun Cipatat. Kereta lokal ini melewati beberapa stasiun kecil dan satu stasiun besar, seperti Gandasoli, Cireungas, Lampegan, Cibeber, Cianjur, Ciranjang, Cipeuyeum, dan terakhir di Cipatat. Ada beberapa halte atau perhentian yang bangunannya masih utuh, namun belum bisa digunakan, seperti Halte Maleber dan Rajamandala. Bagi kalian yang ingin mencoba KA Siliwangi atau bahkan belum sama sekali mencoba jalur pertama kereta api yang terhubung Jakarta – Bandung ini, bisa melakukan pemesanan tiket melalui aplikasi Access by KAI atau laman resmi kai.id. Perjalanan KA Siliwangi saat ini masih berakhir di Stasiun Cipatat dan belum bisa melanjutkan hingga ke Stasiun Padalarang karena efek jalur yang terjal. Jadi bagi kalian yang ingin merasakan sensasi perjalanan kereta lokal yang tentunya berhenti di setiap stasiun ini, bisa dicoba, ya. Tarifnya murah meriah dengan kursi yang selayaknya kereta ekonomi subsidi. Meski begitu, kereta ini selalu dipadati penumpang karena aksesnya yang terjangkau dari jauhnya jarak jalan raya utama.
Alas Roban, Jalur Tengkorak Penuh Mistis di Jawa Tengah

Masih dalam Kajian, Ini Dampak Jika KRL Beroperasi Hingga Stasiun Karawang

Sempat batal mengenai pengoperasian Kereta Rel Listrik (KRL) sampai dengan Stasiun Karawang. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyebut keterbatasan anggaran sebagai penyebab utama keputusan tersebut. Menurut kabar pada September lalu mengenai perjalanan KRL yang membuat masyarakat sangat setuju dengan rencana tersebut namun sempat pupus karena anggaran. Dilansir dari laman Kompas mengutip bahwa Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Kemenhub, Arif Anwar, menegaskan bahwa kapasitas fiskal pemerintah belum memungkinkan untuk membiayai proyek elektrifikasi jalur tambahan tersebut. Namun menanggapi hal ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan akan segera berkoordinasi dengan Kemenhub guna mencari solusi. Saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang terus mendorong percepatan pengoperasian Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line hingga ke wilayah Karawang sebagai upaya meningkatkan konektivitas dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Polemik Stasiun Cikarang jadi ‘Hotel Darurat’, Masyarakat: Berharap KRL Beroperasi 24 Jam
KRL merupakan transportasi yang diharapkan warga Karawang karena berbeda dengan Kereta Walahar yang biasanya mereka gunakan sehari-hari harus memesan tiket terlebih dahulu. Bahkan jika tiket habis, penumpang mau tidak mau harus memesan tiket oada jam berikutnya dengan jeda waktu lebih dari satu jam. Menggunakan KRL tentu tak harus memsan tiket melalui aplikasi yang menurut masyarakat agak merepotkan. Hanya tinggal tap in/out menggunakan kartu elektronik maka mereka bisa langsung naik tanpa dibatasi jumlah penumpangnya. Bahkan jika perjalanannya cukup banyak, tentu menambah kemudahan bagi penumpang yang naik dan turun di Stasiun Karawang. Kehadiran KRL di Karawang akan memberikan dampak signifikan terhadap mobilitas masyarakat, sekaligus mengurangi kepadatan lalu lintas di koridor Karawang–Bekasi–Jakarta yang mengalami peningkatan volume kendaraan setiap tahun. Tentu dengan hadirnya KRL sampai Karawang, masyarakat akan memiliki pilihan transportasi yang lebih cepat, lebih murah, dan lebih nyaman. Hingga kini perjalanan KRL hingga Stasiun Karawang masih terus dikaji mengingat jalur yang dilewati merupakan jalur yang butuh tenaga listrik yang banyak juga memerlukan kecepatan yang signifikan agar tak mengganggu perjalanan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) pada jalur yang sama. Hingga kini perjalanan KRL hanya sampai Stasiun Cikarang dengan volume penumpang yang selalu ramai pada jam-jam tertentu.
Usianya Lebih dari Satu Abad, Stasiun Karawang Masih Terlihat Megah dan Makin Eksis

Pemerintah Sambut Kehadiran Kereta Wisata Jaka Lalana ke Cianjur, Ini Jadwalnya

Siapa yang tak tertarik dengan kereta wisata yang memiliki fasilitas mewah selama perjalanan. Terlebih jika kereta tersebut melintasi pemandangan tanah sunda yang luar biasa. Ya, informasi mengenai kereta wisata dengan rute Jakarta – Cianjur sepertinya sudah hampir didepan mata. Kereta Wisata Jaka Lalana merupakan nama kereta wisata baru yang akan melayani rute Jakarta–Bogor–Sukabumi–Cianjur, yaitu “Jakalalana.” Nama tersebut merupakan singkatan dari Jakarta–Lalalana, yang diambil dari kata lalalana dalam bahasa Sunda yang berarti berjalan-jalan atau berwisata. Nama ini menggambarkan semangat perjalanan santai sekaligus menjadi simbol penghubung wisata antarkota di Jawa Barat. Jadwal dan pemberangkatan perdana kereta wisata ini sudah tersebar di media sosial. Untuk perjalanan perdananya saja rencana akan dilakukan pada 14 Desember 2025 dengan keberangkatan dari Stasiun Gambir pada pukul 08.00 WIB dan keberangkatan dari Stasiun Cianjur pukul 16.00 WIB. Jadwal tersebut dirasa sangat terjangkau dan efisien karena selain bisa menikmati fasilitas kereta api tentu bisa menikmati pemandangan sekitar. Diketahui bahwa jalur Bogor – Cianjur merupakan jalur yang paling bersejarah. Karena jalur tersebut merupakan rute penting di masa kolonial Belanda, terutama untuk mengangkut hasil alam. Sejak pertengahan abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda telah membangun jalur kereta api di Priangan yang melewati Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan Bandung dari Batavia. Selain melewati jalur dan stasiun yang tentunya bersejarah dan bersifat cagar budaya, tak lupa kereta wisata pun akan melewati terowongan yang legendaris, yakni Terowongan Lampegan. Terowongan yang dibangun pada 1879 – 1882 tersebut merupakan terowongan satu-satunya yang tertua di jalur Sukabumi – Cianjur.
Terowongan Lampegan yang nantinya akan dilewati rangkaian Kereta Wisata Jaka Lalana. (Foto: Dok. Istimewa)
Tak hanya masyarakat yang menunggu kehadiran Jaka Lalana sebagai terobosan baru yang digagas PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) dan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, namun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur menyambut positif bakal adanya Kereta Wisata Jaka Lalana. Kereta api tersebut melayani rute dari Stasiun Gambir Jakarta-Bogor-Sukabumi-Cianjur. Pemkab Cianjur ingin memaksimalkan berbagai potensi di daerah. Pemerintah daerah sedang memikirkan untuk memperkenalkan berbagai potensi itu di setiap stasiun di jalur Cianjur yang nanti dilintasi kereta api sekaligus menata infrastruktur. Termasuk nanti ketika para wisatawan turun di Stasiun Cianjur, Pemkab tentu harus sudah mempersiapkan berbagai infrastruktur, terutama tempat-tempat yang nanti bakal dikunjungi wisatawan. Pemkab Cianjur berharap, beroperasinya Kereta Wisata Jaka Lalana bisa berdampak terhadap berbagai sektor di daerah. Terutama mendongkrak kunjungan wisatawan sehingga berdampak terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Hingga saat ini masih belum diketahui rangkaian apa yang akan digunakan untuk kereta wisata ini.
Lampegan, Terowongan Tertua di Indonesia, Abadikan Misteri Nyi Ronggeng

KAI Lengkapi Sistem Keamanan LRT Jabodebek dengan 1.129 Unit CCTV di Rangkaian Kereta dan Stasiun

KAI melengkapi sistem keamanan dan keselamatan pengguna melalui pemasangan 1.129 unit CCTV yang tersebar di seluruh rangkaian kereta dan stasiun. Penguatan pengawasan ini menjadi bagian dari komitmen KAI menghadirkan layanan transportasi yang aman, nyaman, dan tertib. Total 434 unit CCTV terpasang di seluruh rangkaian kereta LRT Jabodebek. Setiap rangkaian kereta LRT Jabodebek memiliki 14 unit CCTV, terdiri dari 2 CCTV di setiap kereta (car) yang ditempatkan di ujung depan dan belakang untuk memantau situasi, ditambah 2 CCTV tambahan di area kabin untuk memantau petugas train attendant serta kondisi jalur. Sementara itu, 695 unit CCTV lainnya dipasang di 18 stasiun LRT Jabodebek dengan cakupan area yang luas dan strategis, mulai dari pintu masuk, loket, area parkir, peron, jalur evakuasi, hingga titik-titik rawan yang membutuhkan pengawasan khusus. Semua unit CCTV tersebut, terhubung secara real time dan diawasi selama 24 jam dari Operation Control Centre (OCC) sehingga memungkinkan seluruh insiden dapat dideteksi dan ditangani lebih cepat oleh petugas keamanan stasiun maupun petugas di rangkaian kereta. Pengawasan CCTV juga berperan penting dalam menjaga kelancaran arus naik-turun penumpang di peron. Rekaman CCTV membantu petugas memastikan proses naik-turun penumpang berlangsung tertib, terutama saat jam sibuk. Selain itu, bukti rekaman juga sangat membantu dalam penyelidikan jika terjadi insiden, baik terkait keamanan maupun operasional,” lanjutnya. Penempatan CCTV di stasiun dan rangkaian kereta LRT Jabodebek ini merupakan bagian dari sistem pengamanan objek vital nasional dengan memanfaatkan teknologi sehingga membantu petugas keamanan untuk bekerja lebih efektif.
KCI Langgar Aturan Terkait CCTV di KRL? Belajar dari Kasus Pemerkosaan Wanita di Kereta Komuter AS

Dubai Metro: Efisiensi Transportasi Driverless dari Gurun ke Kota Global

Dubai Metro adalah backbone dari sistem transportasi publik di Uni Emirat Arab, terkenal sebagai jaringan kereta metro tanpa masinis (driverless) terpanjang dan tersibuk di kawasan Timur Tengah. Dibangun sebagai respons terhadap kemacetan yang meningkat pesat, metro ini melambangkan lompatan Dubai menuju kota masa depan yang efisien dan berkelanjutan. Proyek Dubai Metro diprakarsai oleh Otoritas Jalan dan Transportasi (RTA) Dubai pada pertengahan tahun 2000-an. Tujuan utamanya bukan hanya mengurangi kemacetan, tetapi juga mendukung visi Dubai sebagai pusat bisnis dan pariwisata global. Pekerjaan konstruksi Dubai Metro dimulai pada tahun 2005. Dubai Metro dirancang sebagai sistem Automated Train Operation (ATO) atau tanpa masinis sepenuhnya, yang mengoptimalkan efisiensi dan mengurangi biaya tenaga kerja. Jaringan ini sebagian besar berada di atas tanah, menawarkan pemandangan kota yang spektakuler. Jalur Merah (Red Line) diresmikan pada 09 September 2009 (09/09/09) oleh Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, menandai dimulainya era baru transportasi massal di Dubai.
Saat ini, jaringan Dubai Metro terdiri dari dua jalur utama yang melayani kawasan lama dan kawasan modern di Dubai. Jalur Merah (Red Line) diresmikan tahun 2009, melintasi Dubai dari Timur Laut ke Barat Daya, sebagian besar mengikuti jalan raya Sheikh Zayed Road. Jalur ini merupakan jalur metro tanpa masinis terpanjang di dunia (sekitar 52 km). Stasiun ikonik pada jalur ini adalah Burj Khalifa/Dubai Mall, Mall of the Emirates, Dubai Marina, dan Bandara Internasional Dubai (DXB). Jalur Hijau (Green Line) diresmikan tahun 2011, melayani area Dubai yang lebih tua, termasuk Deira dan Bur Dubai. Stasiun ikonik pada jalur ini adalah Al Ghubaiba (pusat transportasi air), Gold Souk, dan Creek.
Kedua jalur ini bertemu di dua stasiun transfer utama: Union dan BurJuman. Selain itu, pada tahun 2021, Red Line diperpanjang melalui Route 2020 untuk melayani kawasan Expo 2020. Kereta yang digunakan di Dubai Metro dirancang untuk menghadapi kondisi iklim panas gurun, dengan mengedepankan efisiensi, kenyamanan, dan tampilan futuristik. Keretanya diproduksi oleh konsorsium kontraktor yang dipimpin oleh Mitsubishi Corporation, bersama Kinki Sharyo, Thales, dan Kajima. Setiap rangkaian kereta terdiri dari lima gerbong, sementara kapasitas mampu menampung sekitar 643 penumpang per rangkaian kereta. Dubai Metro bukan hanya solusi kemacetan, tetapi juga tolok ukur global untuk integrasi teknologi mutakhir dalam transportasi massal perkotaan.
Hubungkan Abu Dhabi – Dubai dengan Kereta Cepat, Etihad Rail Mulai Layani Penumpang di Tahun 2026