Fakta Dibalik Sejarah Nama-nama Kereta Api yang Dimiliki Wilayah Daop 7 Madiun

Banyak kereta api yang melintas di Jawa maupun Sumatera memiliki rute menarik bahkan sejarah dari nama yang dimiliki. Seperti diketahui nama-nama kereta api tersebut diambil dari pegunungan, sungai, bahkan dari legenda pewayangan dan makhluk mitologi. Khususnya kereta api di jalur Pulau Jawa ada 9 wilayah Daerah Operasi (Daop) yang tersebar dari barat hingga timur. Beberapa kereta api yang dimiliki wilayah daop tersebut sangatlah beragam. Nah, saat ini kabarpenumpang akan membahas nama-nama kereta api yang dibaliknya mengandung fakta sejarah. Kereta api ini dimiliki wilayah Daop 7 Madiun. • KA Brawijaya Dikutip dari civitasbook.com nama Brawijaya berasal dari kata Bhra Wijaya. Gelar bhra adalah singkatan dari bhatara, yang bermakna “baginda”. Sedangkan gelar bhre yang banyak dijumpai dalam Pararaton berasal dari gabungan kata bhra i, yang bermakna “baginda di”. Dengan demikian, Brawijaya dapat juga disebut Bhatara Wijaya. Meskipun sangat populer, nama Brawijaya ternyata tidak pernah dijumpai dalam naskah Pararaton ataupun prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, perlu diselidiki dari mana para pengarang naskah babad dan serat. • KA Brantas Nama kereta api ini identik dengan nama sungai terpanjang di Jawa Timur. Sungai yang berhulu di Kota Batu ini menyimpan sejarah peradabahan besar di Jawa Timur. Apalagi dahulu fungsinya sebagai jalur transportasi yang diandalkan masyarakat. • KA Majapahit Kereta ini mengambil nama kerajaan terbesar di Nusantara yakni Majapahit atau Wilwatikta. Dikutip dari direktorimajapahit.id Kerajaan Majapahit (1293-1527) adalah kerajaan Hindu terbesar di Nusantara yang mencapai masa kejayaan pada abad ke-13 hingga 14 Masehi. Ibukota kerajaannya diintepretasikan terletak di Trowulan, Jawa Timur berdasarkan pertimbangan sebaran temuan arkeologis. • KA Matarmaja Dari situs KAI diketahui jika ini merupakan akronim atau singkatan nama kota yang dilintasi kereta api ini. Yakni Malang Blitar, Madiun, dan Jakarta. • KA Gajayana Nama Gajayana berasal dari nama yang diambil dari gelar raja Kerajaan Kanjuruhan bernama Sang Liswa yang memerintah sekitar 760–789. Raja tersebut terkenal di kalangan brahmana maupun rakyat untuk mampu membawa ketentraman di seluruh negeri. Adapun pusat Kerajaan Kanjuruhan berada di wilayah Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. • KA Kertanegara Kertanegara meninggal tahun 1292, adalah raja terakhir yang memerintah Kerajaan Singhasari dengan gelar Śrī Mahārājadhiraja Kṛtanāgara Wikrama Dharmmottunggadewa. Masa pemerintahan Kertanagara dikenal sebagai masa kejayaan Singhasari. Ia sendiri dipandang sebagai penguasa Jawa pertama yang berambisi menyatukan wilayah Nusantara. Menantunya, Raden Wijaya, selanjutnya mendirikan Kerajaan Majapahit sekitar 1293 sebagai penerus Wangsa Rajasa dari Singhasari. • KA Singasari Kereta api ini mengambil nama dari kerajaan bercorak Hindu Buddha di Jawa Timur. Kerajaan Singhasari didirikan Ken Angrok pada 1222 M. Lokasi kerajaan ini sekarang diperkirakan di daerah Singasari, Kabupaten Malang. Kerajaan Singhasari hanya sempat bertahan 70 tahun sebelum mengalami keruntuhan. • KA Malioboro Ekspres Penamaan kereta api ini mengambil nama jalan legendaris di Kota Jogja yakni kawasan Malioboro. Secara kereta api ini melayani relasi Malang-Purwokerto pergi pulang dan dioperasikan pertama kali pada 21 September 2012. • KA Malabar Nama Malabar diambil dari Gunung Malabar yang terletak di selatan Stasiun Bandung, tepatnya di Pengalengan, Kabupaten Bandung. Meski demikian, bisa juga ini merupakan akronim dari relasi Malang-Bandung Raya. • KA Kahuripan Nama Kahuripan diambil dari nama suatu kerajaan di Jawa Timur. Kerajaan ini didirikan Airlangga pada 1009 dan merupakan kelanjutan dari Kerajaan Medang yang runtuh tiga tahun sebelumnya atau 1006. • KA Madiun Jaya Adalah rangkaian kereta api antarkota yang melayani rute Pasar Senen–Madiun (via lintas selatan Jawa) dan kini menjadi kereta pilot Eksekutif New Generation. Layanan ini kembali beroperasi pada 1 Februari 2025 setelah hiatus, dengan rincian perjalanan dan fasilitas yang telah diperbarui. Itulah berbagai macam nama-nama kereta api yang rutenya hingga memasuki wilayah Daop 7 Madiun. Dari segelintir sejarahnya yang melegenda, nama-nama kereta api tersebut pasti bakal teringat juga akan sejarah panjang di Indonesia bahwa pengambilan nama kereta api tak sekadar dibuat-buat tapi mengandung makna yang memiliki arti tersendiri.
Ternyata Ini Satu-satunya Perjalanan KA BIAS yang Paling Lama dari Biasanya, Kenapa?

Kisah Jalur Trem yang Berdampingan Jalur SS di Kota Malang, Kini Tinggal Cerita

Jalur trem yang kita ketahui pastinya selalu melewati pusat kota besar di Pulau Jawa. Jalur trem memang selalu tersebar di kota-kota besar tersebut untuk mengurangi dampak kemacetan lalu lintas jalan raya. Bahkan disisi lain dengan adanya trem malah berisiko sebaliknya. Saat ini jalur trem banyak yang sekadar tinggal cerita. Jejak peninggalan bangunan maupun jalurnya ada yang masih terlihat hingga saat ini. Meski sudah tidak terawat, namun dilihat dari sejarahnya saja sepertinya tentu sudah sangat melegenda. Nah, kabarpenumpang akan membahas salah satunya trem yang menjelajah di Kota Malang, nih. Seperti yang kita tahu, bahwa dahulu Malang memiliki jalur kereta api yang sebagian besar dilewati kereta uap. Namun ternyata khususnya pada wilayah utara Malang juga memiliki jalur trem yang berada di Stasiun Jagalan – Singosari yang sekarang tinggal cerita.
Stasiun Singosari yang dahulu terhubung dengan jalur trem menuju Kota Malang. (Foto: Dok. Istimewa)
Menurut catatan sejarah, jalur trem dari Malang menuju Blimbing sejauh 6 kilometer dibuka pada tanggal 15 Februari 1903. Selain untuk mendukung aktivitas masyarakat Kota Malang pada waktu itu, jalur ini juga terhubung dengan jalur kereta utama milik SS yaitu Stasiun Blimbing SS dan Stasiun Singosari SS. Dari Stasiun Jagalan hingga Stasiun Singosari sendiri terdapat 11 pemberhentian trem. Di antaranya Jagalan – Alun-alun – Zigweg Naar Batu (pertigaan menuju Batu di Celaket) – Rampal – Lowokwaru – Glintung – Blimbing MS – Arjosari – Karanglo – Mondoroko – Singsari SS – Singasari Pasar – Singasari MS. Jalur-jalur trem juga terhubung ke Pabrik Gula Krebet sehingga pengangkutan hasil tebu jadi lebih efisien. Ada pula jalur trem yang membelah alun-alun Kota Malang. Semua Lokomotif trem Malang Stoomtrem Mattschappij (MSM) dibeli dari perusahaan asal Jerman bernama Hohenzollern. Trem uap MSM digerakkan oleh tenaga kayu bakar dari pohon jati yang padat keras sehingga awet dan tidak mudah menjadi abu saat dibakar. Jalur trem juga terkoneksi dengan jalur kereta api Staatspoorwagen (SS) yang makin memudahkan penumpang untuk beralih dari kereta api Staatspoorwagen (SS) ke kereta api trem dan sebaliknya. Ada tiga stasiun SS kala itu, yakni Malang SS, Singosari, dan Kepanjen. Kini, trem di Kota Malang hanya menyisakan kenangan. Sisa-sisa kejayaannya masih dapat dilihat dari rel-rel di bahu jalan raya. Tak semuanya lengkap, karena sebagian besar sudah tertutup oleh trotoar dan aspal jalan. Selain bangunan stasiun dan halte-halte pemberhentian trem yang sudah tidak terawat, kini yang bertahan hanyalah stasiun-stasiun besar yang melayani kereta jarak jauh SS, yakni stasiun Kota Lama, stasiun Singosari, dan stasiun Kepanjen.
Jejak Kereta Api Masa Kolonial: Stasiun Tulungagung dan Kisah Jalur Cabang Trem ke Trenggalek dan Tugu

Korean Air Menjadi Pelanggan Baru Airbus A350F

Korean Air menjadi pelanggan baru untuk satu-satunya pesawat kargo besar baru di dunia, setelah tujuh pesanan pesawat penumpang A350-1000 yang ada dikonversi menjadi A350F. “Korean Air adalah salah satu operator kargo terbesar di dunia,” ujar Benoît de Saint-Exupéry, EVP Penjualan Airbus untuk bisnis Pesawat Komersial. “Keputusan untuk menambahkan A350F ke dalam armadanya merupakan dukungan yang sangat signifikan terhadap kemampuan unik pesawat ini. A350F akan memberikan solusi paling efisien bagi Korean Air di segmen pesawat kargo besar.” A350F memiliki pintu kargo dek utama terbesar di industri, dengan panjang dan kapasitas badan pesawat yang dioptimalkan berdasarkan palet dan kontainer standar industri. Lebih dari 70% badan pesawat terbuat dari material canggih, menghasilkan bobot lepas landas 46 ton lebih ringan dibandingkan produk pesaingnya. A350F juga merupakan satu-satunya pesawat kargo yang sepenuhnya memenuhi standar emisi CO₂ ICAO yang telah ditingkatkan, yang akan berlaku efektif pada tahun 2027. Saat ini sedang dalam tahap pengembangan, A350F dapat mengangkut muatan hingga 111 ton dan akan terbang hingga 4.700 mil laut/8.700 kilometer. Ditenagai oleh mesin Rolls-Royce Trent XWB-97 terbaru, pesawat ini akan menghasilkan pengurangan konsumsi bahan bakar dan emisi karbon hingga 40% dibandingkan dengan pesawat generasi sebelumnya dengan kemampuan jangkauan muatan yang serupa. Pada akhir September 2025, generasi terbaru pesawat berbadan lebar A350 Family telah memenangkan 1.445 pesanan dari 63 pelanggan di seluruh dunia, termasuk 65 pesanan untuk A350F baru dari 10 maskapai kargo dan satu lessor. Korean Air telah memesan total 33 pesawat A350. Jumlah ini kini terdiri dari 20 unit A350-1000, tujuh unit A350F, dan enam unit A350-900, yang dua unit pertama telah dikirimkan. Selain itu, maskapai ini memiliki pesanan 39 pesawat lorong tunggal A321neo yang masih belum terkirim.
Cathay Group Borong Enam Unit Pesawat Kargo Airbus A350F, Mampu Bawa Payload 111 Ton

Lika-liku Kereta Penolong yang Legendaris, Peran Besar Tangani Tragedi Kereta Api di Indonesia

Tak hanya manusia yang butuh pertolongan saat terjadi musibah atau tragedi yang tidak diduga, tapi transportasi kereta api juga butuh kereta penolong jika mengalami Peristiwa Liar biasa Hebat (PLH) yang sewaktu-waktu menimpa. Ya, keberadaan kereta penolong ini ternyata punya sejarah panjang sejak era kolonial Belanda. Dulu, kereta penolong ini menggunakan jenis gerbong bekas angkutan barang yang didesain khusus dengan warna yang berbeda. Warna yang identik kuning tersebut, mencerminkan bahwa gerbong tersebut ‘diperlakukan’ secara khusus jika adanya musibah atau kecelakaan kereta api. Pastinya barang bawaan didalam kereta penolong tersebut sangat lengkap, yakni peralatan khusus untuk menanggulangi akibat musibah yang sewaktu-waktu terjadi. Nah, gerbong penolong atau NR ini tentu berkaitan erat dengan awal mula si ulat besi beroperasi di Indonesia. Jalur Semarang – Tanggung merupakan lintas pertama di tahun 1867. Kemudian berkembang hingga Solo dan Yogyakarta. Adapun Balai Yasa Yogyakarta (Pengok) posisinya berada di sisi utara Stasiun Lempuyangan. Inilah stasiun kereta api pertama di Ngayogyakarta Hadiningrat yang mulai beroperasi tahun 1872 sebagai terminus.
Gerbong NR yang kini berada di Museum Kereta Api Ambarawa (Foto: Dok. Istimewa)
Balai Yasa Pengok mulai beroperasi tahun 1914 yang saat itu dimiliki oleh perusahaan kereta api swasta bernama Nederlandsh Indische Spoorweg Maastschaapij (NISM). Lalu NISM membuat atau mengadakan kereta penolong atau gerbong NR khusus untuk melakukan pertolongan ketika terjadi PLH. Gerbong NR telah mengambil banyak peran untuk pertolongan kereta api yang mengalami PLH. Beberapa diantaranya adalah Tragedi Kebasen yang terjadi pada tahun 1981. Waktu itu terdapat rangkaian kereta api mengalami ‘adu banteng’ antara kereta api (KA) Senja IV dengan KA Maja (cikal bakal sebagai KA Matarmaja) dekat dengan lembah Sungai Serayu. Saat itu gerbong NR dikirim dari Balai Yasa Pengok menuju lokasi kejadian antara petak Stasiun Kebasen dengan Stasiun Notog tersebut. Sejarah mencatat bahwa gerbong NR ini menjadi peran penting dalam menanggulangi PLH pada Tragedi Kebasen pada Januari 1981. Beberapa tahun berikut, tepatnya pada 19 Oktober 1987, peran gerbong NR pun tak luput dari tugasnya sebagai sarana penolong PLH Tragedi Bintaro. Namun gerbong NR ini didatangkan langsung dari Balai Yasa Manggarai yang saat itu juga tersedia sarananya. Diketahui Tragedi Bintaro merupakan tragedi terbesar dalam sejarah kecelakaan kereta api di Indonesia yang terjadi di Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan. Dalam kejadian ada dua rangkaian KA Lokal Rangkasbitung bernomor 225 jurusan Stasiun Jakarta Kota bertabrakan (adu banteng) dengan KA Patas Merak bernomor 220 tujuan Merak. Dalam kecelakaan tersebut memakan korban sangat banyak, yakni hingga 150 korban yang meninggal dunia. Dalam kecelakaan tersebut evakuasi dilakukan dengan mengirim kereta penolong dari Balai Yasa Manggarai. Kereta penolong tersebut melakukan pembersihan sisa-sisa rangkaian kereta yang mengalami kecelakaan maut tersebut. Berbagai peran penting kereta penolong memang sudah dijalankan sejak era Kolonial Belanda. Bahkan hingga kini tiap wilayah Daerah Operasi (Daop) sudah memiliki kereta penolong. Ini berguna agar jika terjadi PLH atau anjlok di wilayah tertentu, pengiriman kereta penolong bisa cepat dikirim dan ditangani. Saat ini kereta penolong jenisnya ada yang menggunakan bekas kereta api penumpang biasa maupun jenis Kereta Rel Diesel (KRD). Selebihnya gerbong NR yang menggunakan bekas angkutan barang sudah jarang dipakai. Bahkan kebanyakan gerbong tersebut sudah dipamerkan di Museum Kereta Api di Ambarawa dan Taman Mini Indonesia Indah.
Yuk, Kenalan dengan Djoko Tingkir – Sang Kereta Penolong

Google Maps Kini Dapat Digunakan dalam “Power Saving Mode”, Solusi Navigasi Darurat Super Hemat Daya

Aplikasi navigasi sejuta umat, Google Maps, meluncurkan pembaruan, yakni dapat digunakan pada ponsel atau smartphone Android dalam mode hemat daya (power saving mode). Fitur ini ditemukan dalam aplikasi Google Maps versi beta, yang mengindikasikan bahwa Google sedang mengujinya sebelum dirilis secara resmi. Mode ini dirancang untuk mengatasi situasi darurat di mana baterai ponsel Anda hampir habis, tetapi Anda masih membutuhkan navigasi. Tujuannya adalah memperpanjang daya tahan baterai selama mungkin saat Anda sedang dalam perjalanan, atau kondisi darurat. Untuk menghemat energi secara maksimal, mode ini akan membuat tampilan navigasi menjadi sangat sederhana. Seperti warna monokrom, layar Maps akan menjadi hitam-putih atau minim warna, karena tampilan berwarna membutuhkan daya yang jauh lebih besar. Dalam power saving mode, hampir semua elemen antarmuka (UI) dan label peta yang tidak penting akan dihilangkan. Layar hanya akan menampilkan informasi terpenting, yaitu arah belokan berikutnya. Menurut kode yang ditemukan, pengguna dapat mengaktifkan mode ini secara manual, bahkan terpisah dari mode hemat baterai bawaan ponsel. Cara mengaktifkannya cukup unik, Anda cukup menekan tombol daya fisik ponsel saat Anda sedang menggunakan navigasi di Google Maps. Karena fokusnya pada penghematan daya, ada beberapa batasan yang ditemukan, mode ini tidak akan bisa digunakan jika ponsel diposisikan dalam mode horizontal (landscape). Anda harus menggunakan mode potret (portrait). Kemudian mode ini mungkin tidak berfungsi untuk navigasi transportasi umum (bus, kereta) karena navigasi jenis itu membutuhkan lebih banyak informasi teks (seperti nomor bus atau nama halte yang harus dituju), sementara mode ini sangat minim teks. Karena tampilan visualnya sangat minim, fitur ini sangat bergantung pada petunjuk suara untuk memandu Anda. Jadi, intinya, fitur ini adalah upaya Google untuk memberikan solusi navigasi darurat yang super-hemat daya, meskipun dengan mengorbankan detail visual peta yang biasa Anda lihat.
Google Maps Hadirkan Fitur yang Siap Dukung Kaum Difabel

Seperti Tak Kenal Waktu, Aktivitas Langsir Kerap Kali Dilakukan di Stasiun yang Dijuluki ‘Stasiun BBM’ Ini

Puluhan gerbong ketel/angkutan Bahan Bakar Minyak (BBM) pun berjajar di jalur stasiun ini. Menggunakan lokomotif langsir yang dikirim dari Stasiun Kroya, rangkaian gerbong BBM pun kerap kali keluar dan masuk Depo Pertamina. Ya, inilah Stasiun Maos yang dijuluki stasiun BBM berada di Kabupaten Cilacap ini.
Rangkaian gerbong BBM berjejer di area Stasiun Maos.
Stasiun ini juga memiliki peran penting dalam jaringan transportasi kereta api di Indonesia karena menjadi salah satu penghubung utama bagi perjalanan kereta api di wilayah selatan Pulau Jawa. Stasiun Maos berada pada ketinggian +8 meter di atas permukaan laut dan termasuk dalam Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto. Dilihat dari sejarahnya, Stasiun Maos pertama kali dibuka pada 20 Juli 1887, bersamaan dengan peresmian jalur kereta api yang menghubungkan Cilacap dengan Yogyakarta. Awalnya, bangunan stasiun ini mengusung gaya arsitektur Indische Empire yang khas pada masa kolonial Belanda. Namun, pada 15 Mei 1923, gempa bumi dahsyat mengguncang daerah tersebut dan menyebabkan bangunan stasiun mengalami kerusakan parah. Sebagai upaya pemulihan, stasiun ini kemudian dibangun kembali, meskipun beberapa bagian asli tetap dipertahankan, seperti atap overcapping yang berbentuk melengkung. Selain stasiun, bangunan unik lainnya yang dimiliki Maos khususnya peninggalan era Kolonial Belanda adalah rumah sinyal A dan B. Rumah sinyal di Stasiun Maos terletak disebelab barat dan timur yang hingga kinj masih terlihat dan kokoh. Tak seperti rumah sinyal yang terkadang dialihfungsi salah satunya sebagai pos perlintasan, di Stasiun Maoa rumah sinyal tersebut tidak digunakan sama sekali. Atap dan tiang penyangga stasiun, terlihat masih asli. Ukiran-ukiran besi asli membuat penumpang yang naik dan turun kereta atau bahkan di dalam interior saat kereta berhenti membuat seakan kembalk ke masa lalu. Tak hanya itu, ternyata pintu baja tebal yang masih digunakan hingga kini pada ruang telegraf juga dipertahankan hingga kini. Selain BBM, tentu saja Stasiun Maos melayani angkutan penumpang terutama di jalur selatan seperti dari arah Bandung maupun Cilacap dan dari arah Yogyakarta dan Surabaya. Semua kereta api yang singgah mayoritas dari dan ke arah Cilacap. Namun kereta api yang mengarah ke Bandung maupun sebaliknya hanya Kereta Api Argo Wilis saja yang melintas langsung. Kini berbagai fasilitas di Stasiun Maos sudah memenuhi kebutuhan penumpang. Seperti pada area parkir yang sangat luas bisa menampung puluhan kendaraan bermotor. Hanya saja kekurangan pada ruang tunggu dekat area boarding yang cukup minimalis. Namun penumpang bisa langsung memasuki area peron setengah jam sebelum keberangkatan kereta api yang sesuai dengan tiket penumpang.
Usianya 108 Tahun, Stasiun Kebasen Tetap Ramai Sejak Berhentinya Dua Kereta Api Ini

Vietjet Pesan 100 Unit Airbus A321neo, Total Pesanan Mencapai 280 Unit

Vietjet, maskapai swasta terbesar di Vietnam, telah menandatangani pemesanan (firm order) untuk 100 pesawat A321neo kepada Airbus, setelah mengonversi nota kesepahamannya (Memorandum of Understanding/MoU) yang ditandatangani pada Juni lalu. Finalisasi kontrak tersebut menggarisbawahi komitmen Vietjet terhadap strategi perluasan jaringan serta modernisasi armada mereka, menjadikan total pemesanan A321neo kini mencapai 280 unit pesawat. Kesepakatan bersejarah ini menyusul pemesanan 20 pesawat A330neo berbadan lebar pada bulan Mei lalu, memperkuat kemitraan strategis jangka panjang antara Vietjet dan Airbus. “Efisiensi dan fleksibilitas pesawat A321neo yang teruji dan efisien menjadikannya platform ideal untuk mendukung ekspansi ambisius Vietjet.” ungkap Benoît de Saint-Exupéry, Airbus EVP Sales of the Commercial Aircraft business. “Bersama pesawat A330neo yang telah dipesan sebelumnya, armada ini akan menghadirkan efisiensi ekonomi terbaik serta keseragaman operasional yang menjadi ciri khas dari keluarga produk Airbus.” sambungnya. A321neo, anggota dengan ukuran paling besar dari Keluarga A320neo terlaris milik Airbus, menawarkan jangkauan dan kinerja yang tak tertandingi. Dengan menggabungkan mesin generasi terbaru dan ujung sayap (Sharklets), pesawat ini mampu mengurangi kebisingan hingga 50 persen, dan bahan bakar serta emisi CO₂ hingga 20 persen dibandingkan pesawat lorong tunggal generasi sebelumnya, seraya memaksimalkan kenyamanan penumpang. Hingga akhir September 2025, lebih dari 7.100 unit pesawat A321neo telah dipesan oleh hampir 100 pelanggan di seluruh dunia. A321neo mampu beroperasi menggunakan hingga 50 persen bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF), dengan target untuk mencapai kemampuan hingga 100% SAF pada tahun 2030. Hal ini secara langsung mendukung tujuan keberlanjutan dari industri penerbangan.
Vietjet Jalin Kesepakatan Strategis dengan CFM International untuk Penyediaan Mesin Airbus A321neo

Palang Pintu Malioboro: Unik, Langka dan Satu-satunya yang Tersisa Aktif Hingga Kini

Bukan Yogyakarta namanya jika tak identik dengan keunikan. Betul, siapapun pasti setuju bila Kota Yogyakarta memiliki seribu keunikan, mulai dari kulinernya, lokasi wisata, hingga rambu lalu lintas. Tak salah bila band asal Indonesia bernama Kla Project dalam liriknya menyebut bahwa Yogyakarta “kota yang penuh nuansa selaksa makna.” Nah, jika mampir ke Yogyakarta tentu tahu dengan perlintasan kereta api yang paling unik dan merupakan satu-satunya yang tersisa dan hingga kini masih aktif digunakan. Ya, persis 15p meter timur dari Stasiun Tugu Yogyakarta ini memang tiada duanya di Indonesia. Baik dari bentuknya, cara mengoperasikannya, hingga bunyi sirinenya. Palang pintu jenis ini pun bukan palang pintu berstandar PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) yang sering dijumpai di banyak tempat. Namun demikian, dari segi keselamatan dan keamanan nyaris tiada cela. Bagi masyarakat pecinta kereta api, palang ini biasa disebut “Palang Pintu Geser”. Dinamai seperti itu karena dioperasikannya secara digeser saat pintu dibuka dan ditutup.
Kereta api di perlintasan palang pintu geser, Yogyakarta. (Foto: Dok. Tangkapan Layar Youtube/Maulana Mahendra)
Nah, pada tahun 1970-an palang pintu tersebut digeser secara manual oleh petugas penjaga perlintasan. Caranya saat kereta api akan melintas, para petugas tersebut bersamaan menutup pintu dengan cara ditarik dan didorong atau dibuka setelah kereta api melintas. Keadaan ini berlangsung hingga akhir dekade 1990.-an. Selang beberapa waktu belakangan ini, pengoperasian palang pintu perlintasan tersebut sudah tak lagi dioperasikan secara manual alias sudah elektrifikasi. Adapun pengendaliannya pada gardu/pos penjaga pintu perlintasan dengan nomor yang terpampang yaitu 3A dan 3B. Semakin canggih dan teknologi semakin berkembang, dengan kemudahan yang dilakukan petugas palang pintu perlintasan otomatis ini. Mereka yang sedang bertugas dikabarkan terlebih dahulu oleh Pemimpin Perjalanan Kereta Api (PPKA) dari Stasiun Tugu. Jika ada kereta yang akan melintas setelah berbunyi sirine genta, petugas langsung memencet tombol penutup palang. Perlintasan sebidang ini juga terbilang sangat sibuk. Selain karena banyak Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) dan lokal yang melintas, kegiatan langsir lokomotif maupun rangkaian dari Depo Yogyakarta menuju peron selatan Stasiun Tugu maupun Lempuyangan juga kian menambah kepadatan. Sebab langsiran tersebut harus melewati pintu perlintasan tersebut. Hingga kini palang pintu dengan cara digeser ini masih menjadi ikonik Kota Gudeg saat masyarakat melewatinya dengan berjalan kaki di Jalan Malioboro. Perlintasan ini tentu dikhususkan untuk pejalan kaki sekaligus menikmati suasana kota yang begitu ramai setiap harinya.
Ternyata Nama Jembatan Kewek di Yogyakarta Diambil dari Bahasa Belanda, Berikut Penjelasannya

Bawa Powerbank Saat Naik Kereta Api? Ini Aturannya Agar Terhindar dari Risiko Bahaya

Bepergian dengan kereta api dan membawa barang-barang penting agar tetap ready, pasti sudah menjadi kewajiban. Selain ponsel atau sejenisnya, salah satu yang sering dibawa oleh penumpang kereta api adalah alat pengisi daya portable atau biasa disebut powerbank. Membawa powerbank memang sudah kewajiban masyarakat untuk mengisi daya ponsel jika tidak menemukan stop kontak. Nah, ternyata ada aturan bagi penumpang pengguna kereta api yang membawa powerbank agar tetap aman selama di perjalanan. PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) pastinya selalu mengimbau seluruh penumpang untuk memperhatikan ketentuan baru terkait membawa dan menggunakan powerbank di dalam perjalanan kereta api. Tentunya langkah ini untuk menjaga keselamatan, keamanan, dan kenyamanan perjalanan seluruh penumpang.
Gambaran informasi mengenai aturan membawa powerbank saat naik kereta api. (Foto: Dok. KAI)
Powerbank kini menjadi kebutuhan penting bagi banyak penumpang untuk mengisi daya perangkat elektronik seperti ponsel atau tablet. Namun, penggunaan dan penyimpanannya yang tidak sesuai ketentuan dapat menimbulkan potensi bahaya, termasuk risiko kebakaran di dalam kereta. Mengutip dari unggahan akun Instagram KAI (@kai121_), agar penumpang tetap aman jika membawa powerbank, inilah aturan yang harus dipatuhi saat perjalanan di kereta api: • Selama dalam perjalanan dengan kereta api, penumpang diperbolehkan menggunakan powerbank untuk mengisi daya perangkat pribadi. • Pelanggan diperbolehkan membawa powerbank dengan kapasitas maksimal 100 Wh (Watt-hour). • Pastikan kondisi powerbank dalam keadaan baik dan memiliki label kapasitas. • Pelanggan dilarang mengisi daya ulang powerbank di kereta api. Selain hanya membawa, larangan yang harus dipatuhi jika ingin mengisi daya powerbank di kereta api. Diketahui fasilitas didalam kereta api semakin lengkap dengan hadirnya stop kontak yang berada di samping kursi dibawah jendela. Namun, sangat tidak dianjurkan untuk mengisi daya powerbank di stop kontak tersebut. Stop kontak di kereta api hanya boleh digunakan untuk perangkat-perangkat dengan konsumsi daya rendah, seperti: earphone, ponsel, tablet, dan laptop. Aturan tersebut juga sejalan dengan upaya KAI untuk meningkatkan kesadaran keselamatan di antara pelanggan. Pihak KAI berharap kepada para penumpang agar dapat mendukung terciptanya perjalanan yang aman dan nyaman dengan menggunakan perangkat elektronik secara bertanggung jawab, termasuk powerbank. Serta terus berkomitmen menghadirkan perjalanan yang nyaman, aman, dan berkeselamatan bagi seluruh pelanggan.
Yuk Disimak, Ini yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Kita Naik Kereta Api

Bukan di Kota Malang? Menguak Sejarah Stasiun Curahmalang dan Hubungannya dengan Stasiun Malang

Kesamaan nama-nama stasiun kereta api (KA) di Indonesia memang benar adanya. Yang membedakan pastinya hanyalah di wilayah tersebut. Kesamaan nama stasiun tersebut salah satunya adalah Karangsari yang berada di wilayah Garut, Jawa Barat dan Banyumas, Jawa Tengah. Keduanya merupakan stasiun paling aktif yang hingga kini melayani perjalanan KA. Nah, disisi lain ada juga stasiun yang memiliki kesamaan yang mirip dengan nama stasiun besar di wilayah Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya. Stasiun ini adalah Malang dan Curahmalang. Keduanya memang berada dj wilayah Daop 8 Surabaya, tapi kira-kira apa hubungannya dengan kedua stasiun tersebut? Mari kita cari tahu bersama. Nama Stasiun Curahmalang yang terletak di Kabupaten Jombang memang sering bikin orang bertanya-tanya, karena mengandung kata “Malang,” yang biasanya diasosiasikan dengan Kota atau Kabupaten Malang.
Stasiun Curahmalang dengan bangunan yang modern. (Foto: Dok. Istimewa)
Perlu diketahui, bahwa Curahmalang adalah nama desa, bukan gabungan nama dua tempat berbeda. Stasiun ini terletak di Desa Curahmalang, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Sedangkan, nama “Curahmalang” tidak ada hubungannya langsung dengan wilayah Malang. Kata “Curah” dalam bahasa Jawa atau Madura sering merujuk pada tempat yang rendah, dataran, atau aliran air (seperti curah hujan). Sedangkan “Malang” bisa jadi berasal dari kata dalam bahasa Jawa kuno atau lokal yang memiliki makna tersendiri—bukan nama daerah. Ada versi yang mengatakan bahwa nama “Curahmalang” bisa berasal dari kisah atau sejarah lokal terkait desa itu, misalnya tempat yang dulunya dianggap “terlindung” (malang dalam arti halangan/pelindung) atau memiliki medan yang berliku. Berdasarkan informasi dari versi lain yang tersedia, nama desa ini kemungkinan berasal dari kondisi geografisnya. Di sebelah utara masjid Dusun Gumawang, terdapat dua sungai yang saling melintang satu sama lain, yang mungkin menjadi dasar penamaan “Curahmalang”. Menariknya, desa ini juga merupakan tempat kelahiran Semaoen, tokoh pergerakan nasional dan Ketua Umum pertama Partai Komunis Indonesia (PKI), yang lahir pada tahun 1898. Nah, itulah asal usul penamaan Curahmalang yang hingga kini keberadaan khususnya stasiun dengan nama tersebut masih aktif melayani KA yang salah satunya adalah Commuter Line Dhoho/Penataran.
Yuk, Jelajahi Stasiun Lawang yang Merupakan Stasiun ‘Tertinggi’ di Wilayah Malang