Stasiun Kasugihan: Semua KA dari Cilacap Wajib Berhenti Disini, Kenapa?

Berlokasi di Jalan Kemerdekaan, Kecamatan Kasugihan, Cilacap. Jawa Tengah. Stasiun Kasugihan berada di Km 1+966 ini merupakan stasiun kecil yang memiliki 3 jalur tersedia. Uniknya, stasiun ini berada dengan posisi jalur kereta dengan posisi menikung. Stasiun Kasugihan juga termasuk berada dekat dengan jalur cabang menuju Maos dan Bandung. Diketahui bangunan stasiun persimpangan ini terletak sedikit masuk ke arah Cilacap dari arah timur setelah melintasi jembatan Kali Serayu dan dihubungkan dengan wesel pemisah. Wesel pemisah stasiun itu sendiri berada di luar emplasemen stasiun dan persinyalan di percabangan (persimpangan) itu dikendalikan dari stasiun ini.
Persimlangan jalur KA antara menuju Cilacap (kiri) dan Bandung (kanan).
Stasiun yang tidak begitu besar ini memang tak ada kereta api yang berhenti dari arah utara. Namun disisi lain jika kereta api datang dari selatan atau dari arah Stasiun Cilacap, semua kereta api waijb berhenti. Dan beberapa kereta api yang berhenti tersebut selama 2 menit. Menurut kabar dari berbagai sumber bahwa kereta api yang berhenti ini merupakan sesuai aturan dari Gapeka 2025 yang mewajibkan kereta api berhenti di stasiun persimpangan Kasugihan. Ini karena Pemimpin Perjalanan Kereta Api (PPKA) Stasiun Kasugihan juga memastikan jalur menuju Stasiun Maos aman untuk dilewati dan tidak ada kereta yang melintas. Ada 1 perjalanan kereta api penumpang di Stasiun Kasugihan yang mengharuskan menunggu pergantian jalur dari Stasiun Maos atau dengan istilah perkeretaapiannya adalah persilangan. Ya, kereta tersebut adalah KA 194 Kamandaka rute Cilacap – Kroya – Purwokerto – Tegal – Semarang Tawang bersilang dengan KA 69 Malabar rute Malang – Bandung. Dulu Stasiun Kasugihan juga memiliki rumah sinyal yang posisinya berada di jalur simpang tersebut. Rumah sinyal ini dikendalikan untuk memantau kereta api baik dari arah Stasiun Maos, Stasiun Lebeng, dan Stasiun Kasugihan. Tak heran, dulu Stasiun Kasugihan tak memiliki alat pengatur sinyal atau wesel, jadi semua dikendalikan pada rumah sinyal tersebut. Posisi rumah sinyal pun sebenarnya sangat baik, karena bisa terlihat dari arah Stasiun Maos. Hingga kini Stasiun Kasugihan masih aktif melayani perjalanan kereta api baik yang berhenti ataupun melintas langsung. Stasiun yang berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto ini menjadi stasiun persimpangan dari dan ke Cilacap walaupun tidak melayani naik dan turun penumpang.
Naik Kereta Api ke Cilacap Mulai dari Rp20 Ribu Aja, Begini Caranya

Naik Kereta Api ke Cilacap Mulai dari Rp20 Ribu Aja, Begini Caranya

Jalur kereta api (KA) di jalur selatan memang menawarkan pemandangan dan destinasi yang menawan. Apalagi saat di stasiun tujuan berbagai wisata yang tersedia sangat terjangkau. Seperti kota yang berada di selatan Pulau Jawa ini. Ya, Kota Cilacap saat ini menjadi destinasi masyarakat untuk menghabiskan waktu luang, apalagi setelah menggunakan kereta api. Menggunakan kereta api hingga Stasiun Cilacap banyak pilihan dari berbagai arah. Mulai dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Ada berbagai kereta api yang memiliki tujuan hingga Kota Cilacap, seperti KA Kamandaka, KA Joglosemarkerto, KA Wijayakusuma, KA Sancaka Utara, dan KA Purwojaya. Diketahui, Cilacap merupakan kota tempat keberangkatan sekaligus kedatangan sejumlah Kereta Api dari Surabaya dan Jakarta. Stasiun Cilacap masuk kategori kelas I yang terletak di Kelurahan Tambakreja, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Juga merupakan stasiun paling ujung di jalur percabangan Kroya – Cilacap dari lintas selatan dan tengah Pulau Jawa.
Stasiun Cilacap. (Foto: Dok. Istimewa)
Harga tiket dari maupun menuju Stssiun Cilacap pun ada yang relatif murah. Harga tiket yang disediakan mulai dari Rp20.000 untuk jarak dekat yakni rute Cilacap – Kroya. Sedangkan rute Cilacap – Kroya – Purwokerto dimulai dari Rp25.000. Harga ini cukup murah bagi masyarakat yang ingin berwisata di Kota Cilacap. Bagi masyarakat yang ingin memesan tiket KA dengan harga murah tersebut bisa melalui aplikasi online seperti Access by KAI atau bisa pembelian langsung di stasiun dengan waktu 2 jam sebelum keberangkatan. Tak cuma destinasi wisata yang dihadirkan di Cilacap namun saat turun dari kereta api, melihat bangunan Stasiun Cilacap saja sudah termasuk wisata edukasi sejarah. Bangunan stasiun Cilacap yang didirikan pertama kali telah rusak, kemudian dibangunlah bangunan stasiun yang baru pada tahun 1943 yang dapat dilihat sampai sekarang. Bangunan stasiun yang baru dibangun kembali oleh arsitek Thomas Nix. Arsitektur bangunan Stasiun Cilacap yang pertama bergaya neo-klasik Empire seperti stasiun-stasiun perusahaan kereta api negara Staatspoorwegen (SS) yang lain di masa itu, yakni pintu masuk dan aula utama dengan langit-langit tinggi berada tepat di tengah-tengah, diapit ruang tunggu dan ruang-ruang lain di kiri dan kanannya serta peron dinaungi atap dengan kuda-kuda Polonceau dari besi.
“Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar Budaya

Stasiun Pemberhentian Ditambah, KA BIAS Jadi Satu-satunya Kereta Lokal yang Makin Diminati Penumpang

Menggunakan jenis Kereta Rel Diesel (KRD), Kereta BIAS atau dikenal dengan Bandara Internasional Adi Sumarmo akhir-akhir ini makin ramai dengan penumpang. Ya, perjalanan rata-rata 1-2 jam ini ternyata memberi dampak yang baik. Dengan rute Solo – Madiun – Caruban pp. tersebut sebagai pengguna setia kereta api, penumpang meanfaatkan kereta ini baik perjalanan jauh dan dekat. Pemberhentian Kereta BIAS pun sangat strategis. Karena singgah di beberapa stasiun dengan kawasan yang ramai. Apalagi rata-rata penumpang yang naik itu beragam, mulai dari pekerja hingga wisatawan. Tak heran kereta ini dipilih karena tarif yang dikenakan relatif murah, yaitu mulai dari Rp20.000 sampai dengan Rp40.000 Sebelumnya Kereta BIAS melayani rute Bandara Adi Soemarmo sampai dengan Stasiun Madiun. Namun pada Agustus 2025 lalu, kereta ini diperpanjang rutenya hingga Stasiun Caruban. Dipilihnya Stasiun Caruban karena berdekatan dengan akses terminal bus antar kota serta berbagai destinasi lainnya di kawasan Caruban.
Rangkaian KA BIAS di Stasiun Madiun. (Foto: Dok. KAI)
Selain perpanjangan perhentian Stasiun Caruban, Kereta BIAS juga melayani pemberhentian di Stasiun Palur yang juga merupakan pemberhentian perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) di wilayah Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta. Perpanjangan itu terhitung mulai Minggu, 17 Agustus 2025, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Setiap harinya ada 10 perjalanan Kereta BIAS yang melayani naik-turun penumpang di Stasiun Palur dan 4 KA diantaranya mengakhiri perjalanan di Stasiun Caruban. Penambahan pemberhentian ini dilakukan seiring dengan makin berkembang dan meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat. Penambahan pemberhentian di Stasiun Palur ini juga untuk meningkatkan konektivitas antarmoda. Serta akses masyarakat menuju Bandara Adi Soemarmo maupun ke berbagai kota tujuan di lintas Jawa semakin mudah, terjangkau, dan tepat waktu. Sejak hadirnya Kereta BIAS hingga saat ini, tentunya sebagai solusi transportasi yang efektif dan terjangkau. Dan menjadi pilihan utama bagi para komuter, pelajar, dan masyarakat umum yang membutuhkan akses cepat dan mudah untuk bepergian. Kedepannya masyarakat berharap PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan, termasuk ketepatan waktu, kebersihan, dan kenyamanan. Dengan adanya dukungan masyarakat itulah layanan dari KAI diharapkan bisa terus berkembang. Tidak hanya sebagai m9da transportasi, tetapi juga sebagai motor penggerak pembangunan dan konektivitas di wilayah Madiun.
Ternyata Ini Satu-satunya Perjalanan KA BIAS yang Paling Lama dari Biasanya, Kenapa?

Belasan Perjalanan Kereta Api Diputar, Jalur Semarang Masih Sulit Dilewati

Banjir yang menggenangi wilayah Semarang belum juga surut. Tak hanya lalu lintas jalan raya yang saja, perjalanan kereta api juga terganggu. Seperti petak antara Semarang Tawang – Alastua yang merupakan langganan banjir, meskipun rel kereta api sudah ditinggikan. Hingga saat ini beberapa pengerjaan masih dilakukan seperti penambahan batu balas. Perjalanan kereta api pun sementara tak bisa dilewati dan harus memutar. Menurut kabar dari berbagai sumber, Sebanyak 16 rute kereta api diputar imbas ada genangan air jalur KA KM 2+8/9 antara Stasiun Semarang Tawang – Stasiun Alastua. Selain itu, penumpang di beberapa perjalanan KA juga dipindahkan.
Rangkaian kereta melewati area banjir. (Foto: Dok. KAI)
Rekayasa pola operasi jalan memutar bagi KA dilakukan untuk mengurangi dampak kelambatan lebih tinggi lagi. Seluruh rute dialihkan melewati jalur alternatif seperti Cirebon, Purwokerto, Solo, Gundih, hingga Gambringan. Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Franoto Wibowo, mengatakan pihaknya telah mengerahkan lokomotif diesel hidrolik BB 304 agar perjalanan masih bisa melintas di area yang tergenang. Namun, karena ketinggian air terus meningkat, rekayasa pola operasi akhirnya menjadi opsi terbaik agar perjalanan tetap dapat dilanjutkan dengan aman. Sebanyak 16 KA yang diputar untuk menghindari genangan air. Berikut daftar nya: • KA 146 Blambangan Ekspres relasi Pasar Senen – Surabaya Pasarturi – Banyuwangi memutar lewat Tegal – Prupuk – Solobalapan – Gundih – Gambringan • KA 271 Airlangga relasi Surabaya Pasarturi – Pasar Senen memutar lewat Gambringan – Gundih – Solobalapan – Cirebon Prujakan • KA 152 Brantas relasi Pasar Senen – Blitar memutar lewat Cirebon Prujakan – Purwokerto – Solobalapan • KA 254 Kertajaya relasi Pasar Senen – Surabaya Pasarturi memutar lewat Cirebon Prujakan – Solobalapan – Surabaya Pasarturi • KA 151 Brantas relasi Blitar – Pasar Senen memutar lewat Solobalapan – Purwokerto – Cirebon Prujakan. • KA 163 Gumarang relasi Surabaya Pasarturi – Pasarsenen memutar lewat Gambringan – Gundih – Solobalapan – Cirebon • KA 32 Pandalungan relasi Gambir – Jember memutar via Cirebon – Solo – Surabaya Pasarturi • KA 4 Argo Bromo Anggrek relasi Gambir – Surabaya Pasarturi memutar via Cirebon – Solo – Surabaya Pasarturi • KA 30 Anjasmoro relasi Gambir – Surabaya Pasarturi memutar via Cirebon – Solo – Surabaya Pasarturi • KA 92 Jayabaya relasi Pasarsenen – Malang memutar via Cirebon – Solo – Gundih – Gambringan • KA 38 Brawijaya relasi Gambir – Malang memutar via Cirebon – Purwokerto – Solo • KA 91 Jayabaya relasi Malang – Pasarsenen memutar lewat Cirebon – Solobalapan – Gundih – Gambringan • KA 31 Pandalungan relasi Jember – Gambir memutar lewat Surabaya Pasarturi – Surabaya Gubeng – Solobalapan – Cirebon • KA 3 Argo Bromo Anggrek relasi Surabaya Pasarturi memutar lewat Surabaya Pasarturi – Surabaya Gubeng – Solobalapan – Cirebon • KA 253 Kertajaya relasi Surabaya Pasarturi memutar lewat Surabaya Pasarturi – Surabaya Gubeng – Solobalapan – Cirebon • KA 37 Brawijaya relasi Malang – Gambir memutar lewat Solobalapan – Purwokerto – Cirebon Tentunya, dampak perubahan jalur ini merupakan bentuk adaptasi operasional untuk mengurangi dampak keterlambatan yang lebih besar. KAI pun memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan oleh pelanggan dan kami sedang berupaya secara maksimal agar seluruh perjalanan KA dapat kembali normal.
Yuk, Kenalan dengan Djoko Tingkir – Sang Kereta Penolong

Mulai Januari 2026, Trip.com Jual Tiket Kereta Cepat Whoosh

Trip.com, salah satu penyedia layanan perjalanan online global, hari ini mengumumkan kerja sama strategis dengan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator kereta cepat Indonesia; Whoosh, untuk mengintegrasikan penjualan tiket ke platform Trip.com. Mulai Januari 2026, wisatawan dari seluruh dunia dapat memesan tiket Whoosh secara langsung melalui aplikasi dan situs web Trip.com. Kolaborasi ini bertujuan untuk menghubungkan wisatawan internasional dengan layanan kereta cepat di Indonesia sekaligus meningkatkan kenyamanan perjalan secara signifikan, khususnya bagi traveler dari target pasar utama, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Dalam kolaborasi ini, Trip.com berperan sebagai penyedia layanan terintegrasi yang siap memenuhi seluruh kebutuhan wisatawan saat bepergian, mulai dari tiket kereta cepat hingga tiket pesawat, hotel, atau atraksi wisata lokal. Whoosh telah mentransformasi perjalanan antara Jakarta dan Bandung karena mampu menempuh jarak 142 kilometer hanya dalam waktu 45 menit. Popularitasnya kian meroket setelah berhasil melayani lebih dari 6 juta penumpang pada tahun 2024, serta lebih dari 3 juta penumpang pada paruh pertama tahun 2025. Untuk merayakan peresmian kerja sama ini, Trip.com dan KCIC akan memberikan promosi eksklusif dan paket perjalanan spesial menjelang tanggal peluncuran layanan. Selain itu, Trip.com juga baru saja membuka kantor baru di BSD City, Tangerang, yang berfungsi sebagai pusat operasional lokal untuk memperkuat kolaborasi dengan instansi pemerintah, maskapai penerbangan, grup hotel, serta mitra pembayaran.
Shanghai Maglev – Kereta Bandara Tercepat di Dunia, Bisa ‘Ngewhoosh’ Sampai 500 Km per Jam

Tragedi Lion Air JT 610: 13 Menit Maut di Udara dan Drama Pencarian Kotak Hitam

Tujuh tahun telah berlalu sejak musibah dirgantara yang tidak terlupakan dalam sejarah penerbangan di Indonesia. 29 Oktober 2018 menjadi tanggal kelam bagi sejarah penerbangan Indonesia. Boeing 737 MAX 8 milik maskapai Lion Air, dengan nomor penerbangan JT 610 dan rute Jakarta–Pangkal Pinang, menghilang dari radar dan jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat. Insiden yang menewaskan 189 orang ini tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga membuka kotak pandora yang mengguncang industri aviasi global. Pesawat PK-LQP yang mengalami kecelakaan adalah armada Boeing 737 MAX 8 yang tergolong baru, baru beroperasi selama kurang dari tiga bulan. Pagi itu, penerbangan JT 610 lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada pukul 06.20 WIB. Namun, hanya berselang 13 menit kemudian, tepat pukul 06.33 WIB, kontak dengan pesawat tersebut hilang secara tiba-tiba. Data penerbangan menunjukkan pola pergerakan yang tidak normal: pesawat berjuang dengan fluktuasi kecepatan dan ketinggian. Pilot sempat meminta izin kembali ke bandara (return to base), tetapi permintaan tersebut tidak sempat terealisasi. Investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kemudian mengungkap bahwa pesawat telah mengalami masalah teknis yang sama—ketidaksesuaian data sensor—pada penerbangan sebelumnya, namun perbaikan yang dilakukan tidak optimal.
Bingung dengan ‘Bahasa Teknis’ di Laporan Akhir KNKT Seputar JT-610? Ini Penjelasannya!
Setelah laporan hilang kontak, Basarnas mengumumkan bahwa pesawat dipastikan jatuh dan hancur berkeping-keping di Laut Jawa, sekitar 30-35 meter di bawah permukaan laut. Tidak ada satu pun dari 189 orang di dalamnya (181 penumpang dan 8 awak pesawat) yang ditemukan selamat. Korban jiwa terdiri dari penumpang sipil, termasuk ASN dari berbagai kementerian dan lembaga yang bertugas di Pangkal Pinang, serta anggota keluarga. Proses identifikasi massal dilakukan secara dramatis di Jakarta untuk memberikan kepastian kepada keluarga yang menunggu dalam ketidakpastian. Drama Pencarian Kotak Hitam Mencari bangkai pesawat yang tenggelam di dasar laut yang berlumpur bukanlah pekerjaan mudah. Operasi pencarian menjadi sorotan nasional, terutama untuk menemukan dua “kotak hitam” yang menyimpan kunci misteri: Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR).
Hasil CVR Lion Air JT-610 Bocor ke Publik, KNKT Tegaskan Datanya Tidak Sama
Tiga hari setelah kecelakaan, pada 1 November 2018, tim penyelam gabungan berhasil menemukan FDR. Penemuan ini penuh perjuangan. Penyelam harus melawan arus bawah laut yang kencang dan jarak pandang yang minim. Beberapa penyelam menceritakan bagaimana mereka harus menggali ke dalam lumpur di dasar laut setelah alat pendeteksi sinyal ping memberikan indikasi kuat. Namun, CVR, yang merekam percakapan di kokpit, baru berhasil ditemukan pada 14 Januari 2019 atau tiga bulan setelah insiden. Bagian penting kedua ini juga ditemukan terkubur di dasar laut. Kesimpulan yang Mengguncang Dunia Data dari kotak hitam akhirnya menguak penyebab utama: cacat pada desain sistem MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System) di pesawat Boeing 737 MAX. MCAS dirancang untuk mencegah hidung pesawat terangkat terlalu tinggi (stall). Namun, sistem tersebut mengandalkan satu sensor Angle of Attack (AoA) saja. Ketika sensor AoA rusak (akibat salah kalibrasi pasca perbaikan) dan memberikan data yang salah, MCAS secara otomatis dan berulang kali memaksa hidung pesawat menukik tajam ke bawah.
Serupa Kasus Lion Air JT-610, Kuat Dugaan Sensor Angle-of-Attack Ethiopian Airlines ET-302 Juga Bermasalah
Pilot berjuang keras selama penerbangan 13 menit untuk mengangkat hidung pesawat, tetapi ketidaktahuan mereka akan keberadaan MCAS (yang tidak ada dalam manual pelatihan) membuat perjuangan tersebut sia-sia. Tragedi Lion Air JT 610 ini menjadi peringatan keras pertama tentang bahaya 737 MAX, yang kemudian disusul oleh kecelakaan Ethiopian Airlines ET 302. Insiden ini mengubah regulasi penerbangan, memaksa penarikan global (grounding) seluruh armada Boeing 737 MAX, dan menekankan pentingnya transparansi desain pesawat kepada pilot.

Keadaan Darurat, Jalur Cabang Kereta Api Jadi Solusi Tepat, Ini Lokasinya

Jalur kereta api di Indonesia khususnya di Pulau Jawa masih ada beberapa jalur pintas (shortcut). Jalur pintas ini merupakan jalur cabang yang berada di beberapa wilayah yang fungsinya bisa digunakan dalam keadaan darurat. Jalur kereta api mulai dari barat hingga timur Pulau Jawa memiliki 2 wilayah yaitu wilayah utara dan selatan. Nah, jalur cabang tersebut hingga kini masih aktif dan dilewati kereta api reguler setiap harinya. Selain itu jalur cabang juga digunakan kereta api untuk jalur alternatif. Tak hanya jalan raya yang memiliki jalur alternatif, begitu pun dengan kereta api. Misalnya pada jalur utama terjadi masalah atau tragedi rintang jalan, seperti kecelakaan atau musibah dari bencana alam. Lokasi-lokasi jalur cabang kereta api yang biasa digunakan untuk perjalanan memutar tersebut adalah Stasiun Cikampek, Stasiun Cirebon Prujakan, Stasiun Kroya, Stasiun Tegal, Stasiun Prupuk, Stasiun Brumbung, Stasiun Solo Balapan, Stasiun Kertosono, Stasiun Tarik, Stasiun Sidoarjo, Stasiun Bangil, dan Stasiun Wonokromo.
Ilustrasi percabangan jalur kereta api. (Foto: Dok. Istimewa)
Kereta api yang mengalami Peristiwa Luar Biasa Hebat (PLH) yang hingga menutup jalur lainnya, pastinya membuat kereta api lainnya harus melewati jalur alternatif (memutar). Jalur cabanglah yang menjadi acuan utama untuk tetap melancarkan perjalanan kereta api meski waktu tempuh lebih lama. Selanjutnya baru-baru ini jalur kereta api menghadapi cuaca yang tidak bersahabat di wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Ya, banjir yang merendam wilayah tersebut membuat jalur kereta api ikut terendam akibat hujan yang mengguyur lebat. Akibatnya kereta api yang melewati wilayah Semarang terpaksa harus memutar melewati Surabaya dan Tegal. Bahkan sebelumnya kereta api mengalami keterlambatan bahkan dibatalkan. Sebanyak empat kereta perjalanannya dibatalkan yaitu KA 189 Joglosemarkerto batal sepanjang relasi Alastua-Semarang Tawang KA 262, Blora Jaya batal sepanjang relasi Semarang Poncol-Alastua, KA 265 Ambarawa Ekspres batal sepanjang relasi Alastua-Semarang Poncol KA 231/232 Banyubiru batal sepanjang relasi Solo-Semarang Tawang. Beberapa kereta api lainnya tetap melakukan perjalanan dengan dialihkan ke jalur memutar atau shortcut. Alasannya supaya penumpang tetap melanjutkan perjalanan walaupun alami keterlambatan. Karena faktor alam pun terkadang tidak diprediksi.
Hampir Punah! KAI Gandeng Komunitas Kereta Api Rawat Cagar Budaya Corong Air

Ini yang Terjadi Jika Jalur KA Rangkasbitung – Pandeglang Kembali Dioperasikan

Masyarakat khususnya yang berdomisili di Provinsi Banten, pasti sudah tak sabar menunggu pengoperasian kereta api (KA) di jalur Rangkasbitung – Pandeglang. Diketahui kawasan Pandeglang sudah sangat lama tak tersentuh kereta api lagi. Saat ini hanya ada beberapa rel yang tersisa dan bangunan stasiun di Pandeglang yang masih berdiri kokoh termasuk corong air bekas pengisian lokomotif uap yang saat ini sudah terawat. Jalur kereta api Rangkasbitung – Labuan yang dibangun pada tahun 1908 ini memang berencana akan kembali dibuka dan mendapatkan sambutan baik dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat hingga kepala daerah, khususnya warga Kabupaten Pandeglang. Pasalnya, reaktivasi jalur kereta tersebut diyakini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Nah, inilah dampak yang terjadi jika kereta api beroperasi di jalur tersebut. Reaktivasi jalur KA ini diperkirakan akan meningkatkan konektivitas di beberapa titik, meski dampaknya terhadap angkutan barang dari Rangkasbitung–Pandeglang tidak signifikan. Jalur reaktivasi juga direncanakan mencakup beberapa titik stasiun, mulai dari Rangkasbitung, Kadomas, Pandeglang, Saketi, hingga Labuan. Meski begitu, sejumlah lahan jalur kereta saat ini sudah beralih fungsi, bahkan terdapat pemukiman di atas rel milik PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI).
Seorang warga berjalan diatas Jembatan Cirende yang merupakan jalur kereta api non aktif Rangkasbitung – Pandeglang. (Foto: Dok. Antara)
Pemprov Banten akan memulai tahapan persiapan pada tahun 2026, yang meliputi sosialisasi kepada masyarakat, sterilisasi jalur, serta kajian teknis. Semua langkah tersebut merupakan bagian penting dalam merealisasikan proyek reaktivasi yang sempat lama tertunda. Adapun reaktivasi jalur kereta api Rangkasbitung – Pandeglang akan memasuki tahap konstruksi pada tahun 2027. Sistem persinyalan yang nantinya digunakan adalah mencakup secara elektrifikasi. PT KAI juga akan meningkatkan sistem persinyalan di jalur Tanah Abang–Rangkasbitung. Gubernur Banten Andra Soni menyambut baik langkah ini dan berharap teknologi modern terus diterapkan di Banten. Digunakannya sistem elektrifikasi tersebut merupakan bagian dari transformasi transportasi nasional menuju moda yang lebih ramah lingkungan. Dari berbagai sumber mengabarkan, jalur sepanjang 19 kilometer dari Rangkasbitung ke Pandeglang tersebut masuk dalam program reaktivasi jangka menengah. Proses reaktivasi ini telah ditunda dari target awal 2025 dan diharapkan dimulai pada tahun 2026, dengan dimulai dengan pembebasan lahan. Berharap, reaktivasi jalur kereta ini diharapkan dapat segera terwujud guna meningkatkan mobilitas dan distribusi logistik, serta pemerataan pembangunan di Banten. Dan juga menjadi perjalanan singkat menuju sentra wisata yang ada di Pandeglang.
Menyusuri Sejarah Kereta Api: Prasasti Corong Air, Bukti Kokoh Jalur Kuno Rangkasbitung–Pandeglang

Stasiun Soka: Dulu Tempat Persilangan, Sekarang Jadi Tempat Kulineran

Destinasi wisata ke Kota Kebumen menjadi daya tarik masyarakat untuk berkunjung. Apalagi masyarakat dari berbagai daerah di Pulau Jawa menggunakan sarana transportasi kereta api. Kota Kebumen yang dijuluki Kota Beriman ini, menawarkan tempat-tempat menarik khususnya kuliner. Beragam khas kuliner yang disajikan membuat masyarakat yang berkunjung makin penasaran dan menambah pengalaman dalam berwisata. Beragam lokasi kuliner tentu sudah biasa menjajakan dipinggir jalan raya. Tapi bagaimana mencoba kuliner yang dulunya merupakan stasiun kereta api (KA) yang dulunya sempat aktif? Ya, masih si wilayah Kota Kebumen, ada sebuah stasiun yang dijadikan tempat kuliner unik yang dulunya tempat beroperasi kereta api untuk kedatangan dan keberangkatan. Namanya Stasiun Soka. Nah, stasiun ini merupakan stasiun kecil yang sudah tidak aktif digunakan untuk operasional KA. Tak cuma bangunannya yang kecil, ternyata stasiun ini juga terkenal dengan lokasinya yang memiliki ciri khas daerah tersebut. Masyarakat sekitar sangat kenal dengan Stasiun Soka ini yang lokasinya dekat dengan kawasan industri genting yang dinamakan Genting Soka. Saat ini Stasiun Soka yang sudah tidak melayani operasional KA disulap menjadi tempat kuliner yang bernama Warung Sepur. Ya, lokasi yang digunakan adalah Stasiun Soka itu sendiri. Tak Cuma menikmati hidangan, pengunjung yang datang juga bisa menikmati pemandangan lajunya kereta api yang melintas dari barat maupun timur stasiun.
Stasiun Soka yang diubah menjadi tempat kuliner.
Dengan lahan yang disulap menjadi area tempat makan, Warung Sepur memiliki tempat yang lebih nyaman dan ramaah bagi pengunjung yang menikmatinya. Tak hanya itu, rimbunan pohon jati menambah suasana menjadi lebih terlihat hijau. Bagi penikmat hobi kereta api, sepertinya tempat ini sangat cocok untuk mengabadikan KA yang lewat sekaligus icip-icip makanan khas Warung Sepur dengan harga yang cukup terjangkau. Diketahui, Stasiun Soka bisa dikatakan masuk kategori kecil. Namun, fungsi dan peranannya sangat besar di zaman Kolonial Belanda hingga tahun 2019. Nuansa bangunan era Kolonial masih begitu terasa. Kokoh, dinding tebal, pintu dan jendela campuran model krepyak dan lokal. Bangunan Stasiun Soka juga memiliki bentuk dan modelnya tidak jauh beda dengan stasiun kecil lain, salah satunya di Wonosari. Bentuk bangunan utamanya memanjang persegi empat, lengkap dengan pintu-jendela yang masih cukup kuat. Atapnya terbuat dari kayu sebagai penopangnya. Selain itu, saat Stasiun Soka masih beroperasi, banyak kereta api yang singgah untuk pergantian jalur. Karena waktu itu jalur kereta api di sepanjang Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto masih menggunaka satu jalur (single track). Tak heran, KA yang berada di Stasiun Soka harus berhenti untuk pergantian jalur. Diketahui Stasiun Soka saat itu hanya memiliki dua jalur aktif yang tersedia.
“Baso,” Bukan Cuma Makanan, Tapi Juga Nama Bekas Stasiun di Sumatera Barat

Anjlok Terus Berulang, Pemerintah Mewajibkan KAI untuk Lakukan Audit Para Pekerjanya

Sabtu (25/10) kemarin, publik dikejutkan dengan adanya peristiwa yang tidak diduga pada perjalanan kereta api. Peristiwa anjloknya kereta api (KA) Purwojaya Fakultatif rute Gambir ~ Cilacap di Stasiun Kedunggedeh ramai di media sosial. Berbagai gambaran video dan foto yang berkaitan dengan tragedi anjloknya KA tersebut telah tersebar di masyarakat.
Rangkaian KA Purwojaya yang anjlok di Stasiun Kedunggedeh. (Foto: Dok. KAI)
Mengejutkan sekaligus tak disangka akibat peristiwa tersebut perjalanan KA terganggu hingga berjam-jam lamanya. Bahkan hingga menggunakan rangkaian darurat karena kereta api yang semestinya datang tepat waktu, ternyata terlambat hingga di stasiun tujuan. Pun berbagai stasiun yang searah dengan lokasi anjlok dipenuhi dengan kereta api jarak jauh yang menunggu giliran untuk berjalan. Akibat peristiwa tersebut, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta menyampaikan permintaan maaf atas anjloknya kereta Purwojaya relasi Gambir – Kroya saat melintas di Emplasemen Stasiun Kedunggedeh km 56+1/2, pada Sabtu (25/10) pukul 14.14 WIB. Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta, Ixfan Hendriwintoko menjelaskan bahwa informasi pertama anjloknya KA tersebut karena adanya laporan dari masinis KA 58F yang melaporkan adanya anjlokan dua kereta bagian belakang sesaat setelah melintas di jalur emplasemen Kedunggedeh, adapun stamformasi rangkaian KA purwojaya 1 Lokomotif 8 K1 (kelas ekskutif) 1KM (Kereta Makan) dan 1 Kereta Pembangkit Dengan volume sebanyak 232 penumpang. Selain kejadian yang menimpa KA Purwojaya, sebelumnya di bulan yang tepatnya pada Rabu (22/10) Kereta Rel Listrik (KRL) juga mengalami peristiwa anjlok di rel wesel Stasiun Rangkasbitung. Peristiwa itu terjadi ketika KRL dengan tujuan Tanah Abang bertolak dari Stasiun Rangkasbitung. Namun, beberapa saat kemudian kereta mengalami anjlok. Imbas dari insiden itu, perjalanan Commuter Line dari dan menuju Stasiun Rangkasbitung sementara hanya bisa dilayani melalui satu jalur. Dalam laman Instagram @commuterline juga menjelaskan bahwa KAI commuter akan melakukan rekayasa perjalanan untuk mengurangi keterlambatan. Dari dua kejadian tersebut ternyata disorot Wakil Ketua Komisi V DPR Syaiful Huda. Ia mendesak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan audit keselamatan independen untuk memastikan objektifitas rekomendasi perbaikan layanan kereta api di tanah air. Seperti pada Agustus lalu setidaknya ada tiga kasus yakni anjloknya KA Argo Bromo di Subang, KRL di Stasiun Jakarta Kota, lalu ada Kereta Kuala Stabas di Lampung. Bulan ini kembali terjadi yakni Kereta Purwojaya di Kedunggedeh Bekasi. Dia menegaskan tingginya intensitas kereta anjlok merupakan bentuk krisis keselamatan transportasi di tanah air. Menurutnya ada tiga masalah utama yang seringkali menjadi pemicu kecelakaan kereta api di Indonesia yakni usia prasarana, akumulasi kerusakan sarana, dan adanya cacat prosedur operasional. Langkah tersebut di antaranya melakukan peremajaan infrastruktur dengan teknologi terbaru. Jalur rel yang berusia tua harus diremajakan. Selain itu harus ada teknologi pengawasan rel seperti track geometry measurement system untuk memindai kerusakan rel secara otomatis.
Usianya Lebih dari Satu Abad, Stasiun Karawang Masih Terlihat Megah dan Makin Eksis