Era kemajuan kereta api di Indonesia memang sudah terlihat dari berbagai infrastruktur dan bangunan. Seperti rangkaian kereta yang sudah di modifikasi menjadi tingkat kenyamanan yang tinggi, fasilitas di kereta maupun stasiun yang modern, serta jalur ganda kereta api yang sudah tersebar di berbagai wilayah.
Dari berbagai kemajuan pembangunan tersebut ternyata masih ada yang mempertahankan keasliannya, seperti bangunan stasiun yang kental akan cagar budaya dan jalur tunggal kereta api di beberapa wilayah. Nah, ternyata masih ada wilayah kereta api yang masih dipertahankan jalur tunggalnya, padahal disaat wilayah lain sudah harus menggunakan jalur ganda.
Stasiun Ketapang merupakan stasiun ujung timur Pulau Jawa, yang memasuki wilayah Daop 9 Jember. (Foto: Dok. Istimewa)
Wilayah ini berada di Daerah Operasi (Daop) 9 Jember. Bagi kalian yang pernah naik kereta api ke wilayah tersebut mungkin tahu bahkan hafal sekali bahwa jalur tersebut hanya memiliki jalur tunggal. Stasiun yang dilewati wilayah Daop 9 Jember ini meliputi:
• Stasiun Pasuruan
• Stasjun Rejoso
• Stasiun Grati
• Stasiun Bayeman
• Stasiun Probolinggo
• Stasiun Leces
• Stasiun Malasan
• Stasiun Ranuyoso
• Stasiun Klakah
• Stasiun Randuagung
• Stasiun Jatiroto
• Stasiun Tanggul
• Stasiun Bangsalsari
• Stasiun Rambipuji
• Stasiun Mangli
• Stasiun Jember
• Stasiun Arjasa
• Stasiun Kotok
• Stasiun Kalisat
• Stasiun Ledokombo
• Stasiun Sempolan
• Stasiun Garahan
• Stasiub Mrawan
• Stasiun Kalibaru
• Stasiun Glenmore
• Stasiun Sumberwadung
• Stasiun Kalisetail
• Stasiun Temuguruh
• Stasiun Singojuruh
• Stasiun Rogojampi
• Stasiun Banyuwangi Kota
• Stasiun Argopuro
• Stasiun Ketapang
Uniknya, stasiun-stasiun yang dilewati kereta api di Daop 9 Jember ini mayoritas masih menggunakan persinyalan mekanik. Selain itu kebanyakan bangunan stasiunnya pun masih tergolong cagar budaya PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI).
Seperti beberapa area di wilayah Daop 2 Bandung, jalur ini masih menggunakan jalur tunggal. Mengingat area yang dilewati masih memiliki bukit terjal dan terdapat terowongan yang mungkin sulit untuk ditembus jika membuat jalur ganda. Selain itu kereta api yang melintas juga tergolong sedikit dibanding wilayah lain yang memiliki perjalanan kereta apinya lebih ramai.
Meski begitu, wilayah Daop 9 Jember masih memiliki panorama yang menawan. Justru dari pengalaman masyarakat penggemar kereta api, walaupun masih memiliki jalur jalur tunggal tapi momen terbaiknya adalah saat di berhenti di stasiun untuk menunggu pergantian jalur (bersilang) dengan kereta api yang berlawanan arah.
Kamar kecil atau toilet merupakan bagian yang tak bisa ditiadakan pada kereta penumpang. Fasilitas yang dibutuhkan penumpang ini tentu memiliki bentuk dan desain interior yang berbeda sesuai kelas keretanya. Seperti pada toilet kelas ekonomi dan eksekutif yang didesain berbeda.
Toilet kereta api yang saat ini semakin nyaman digunakan semula merupakan terobosan bagus saat Ignasius Jonan yang saat itu menjabat sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Kereta Api Indonesia (KAI). Ia menginginkan toilet khususnya di kereta tidak boleh kalah dengan toilet bandara.
Upaya PT KAI untuk menerapkan Toilet Ramah Lingkungan (TRL) juga menjadi sisi perubahan yang positif. Hingga saat ini penumpang yang menggunakan toilet sudah merasa nyaman, rapi dan bersih. Karena petugas kebersihan diatas kereta acap kali membersihkan toilet saat setelah penumpang menggunakannya.
Karena merupakan fasilitas umum, perlu adanya kesadaran dan tanggung jawab dalam diri penumpang saat menggunakannya. Beberapa aturan tertulis tentang menjaga kebersihan juga sudah dipajang di sana. Sayangnya, tak sedikit orang yang masih kurang memerhatikan hal tersebut.
Toilet kereta api.
Nah, supaya toilet tetap bersih dan nyaman, berikut kabarpenumpang memberikan tips saat menggunakan toilet, berikut ini:
1. Tutup dan kunci pintu dengan benar
Pintu toilet kereta didesain khusus, agar mudah dibuka dan ditutup penumpang. Saat masuk ke dalamnya, pastikan sudah menutup dan mengunci pintu dengan baik. Jika menutupnya dengan baik, tanda bahwa toilet sedang digunakan akan menyala dan terlihat dari dalam ruangan penumpang (pada kereta eksekutif/ekonomi premium). Orang lain pun tahu dan tidak akan membuka pintu toilet sembarangan.
2. Jangan merokok di dalam toilet
Semua perjalanan kereta api harus bebas rokok, termasuk di dalam toilet. Banyak kejadian penumpang yang tidak tahan, akhirnya merokok di dalam toilet. Jika ketahuan, petugas akan menurunkan penumpang tersebut langsung di stasiun selanjutnya tanpa ada toleransi. Selain itu, merokok di dalam toilet juga akan membuat baunya menempel di ruangan dan membutuhkan waktu lama untuk menghilangkannya. Penumpang berikutnya akan merasa terganggu saat hendak menggunakan toilet tersebut.
3. Hindari menggunakan toilet saat kereta berhenti
Ada aturan tertulis yang biasanya dipajang di pintu toilet tentang waktu yang tepat untuk menggunakannya, yakni saat kereta berjalan. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan. Dahulu, sebagian besar kereta menggunakan sistem pembuangan kotoran langsung.
Meskipun sudah menerapkan teknologi TRL, penumpang tetap diimbau untuk tidak menggunakan toilet saat kereta berhenti di stasiun. Salah satu alasannya adalah lubang ventilasi atau jendela toilet cukup rendah, sehingga ada kemungkinan terlihat dari luar, jika tidak ditutup dengan baik.
4. Pastikan toilet dalam keadaan bersih setelah digunakan
Setelah menggunakan toilet, pastikan kondisinya bersih. Kloset dalam keadaan sudah di-flush, tidak ada sampah tisu di wastafel atau lantai, serta pembalut atau kotoran lainnya sudah dibuang di tempat sampah. Hal ini merupakan bentuk tanggung jawab saat menggunakan fasilitas umum. Setelah melakukan kebersihan toilet, membuat penumpang selanjutnya nyaman saat hendak menggunakannya.
5. Gunakan fasilitas dengan bijak
Di dalam toilet kereta api, terdapat berbagai fasilitas umum yang bisa digunakan. Mulai dari sabun cuci tangan, tisu, kantong plastik, dan air. Gunakan fasilitas tersebut dengan bijak dan tidak boros. Selesai menggunakan tisu, plastik, atau pembalut, langsung buang ke tempat sampah yang disediakan.
Itulah tips cara menggunakan toilet kereta api agar baik dan benar. Dengan mengikuti tips-tips di atas, pengalaman menggunakan toilet selama perjalanan kereta bisa jadi lebih nyaman dan aman.
Stasiun Purwokerto merupakan stasiun besar yang sangat ramai didatangi wisatawan dari berbagai wilayah. Apalagi kereta api yang singgah di stasiun ini memang wajib untuk berhenti.
Tak hanya itu, dari segi harga tiket kereta api menuju Stasiun Purwokerto pun bervariasi. Mulai dari harga yang terendah dari subsidi pemerintah, hingga harga yang paling mahal sekelas eksekutif dan wisata.
Stasiun Purwokerto terletak di pusat Kota Purwokerto, Jawa Tengah. Lokasinya menjadikan stasiun ini sebagai titik transit strategis untuk menjangkau berbagai destinasi populer dan fasilitas kota.
Sejarah pun menyebutkan bahwa Stasiun Purwokerto merupakan salah satu stasiun kereta api utama di Jawa Tengah yang mulai beroperasi sejak tahun 1916. Dibangun oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), stasiun ini awalnya dirancang sebagai penghubung jalur selatan Pulau Jawa.
Arsitektur khas kolonial yang masih terjaga hingga kini menjadi daya tarik tersendiri bagi para penumpang dan pengunjung. Selain nilai historisnya, stasiun ini memiliki fasilitas modern yang menunjang kenyamanan perjalanan penumpang.
Ya, kenyamanan inilah yang membuat Stasiun Purwokerto kini akan memiliki wajah baru. Wajah baru yang membuat penumpang merasa mudah saat naik dan turun kereta api. Karena bagian peron stasiun ini akan di tinggikan.
Pengerjaan peron tinggi di Stasiun Purwokerto. (Foto: Dok. KAI)
Hingga pertengahan Oktober 2025, proyek peningkatan fasilitas tersebut telah mencapai 66,5 persen dan ditargetkan rampung pada 14 Desember 2025. Manager Humas PT Kereta Api Indonesia Persero (KAK) Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto, Krisbiyantoro yang dikutip dari laman RRI, menjelaskan bahwa pembangunan peron tinggi ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan pelanggan saat naik dan turun kereta api.
Peron tinggi tersebut dirancang dengan standar ketinggian 100 sentimeter dari kop rel, menyesuaikan dengan desain pintu kereta jarak jauh dan menengah. Selama proses pembangunan, KAI memastikan pelayanan kepada pelanggan tetap berjalan normal.
Peningkatan jumlah pelanggan juga mencerminkan kepercayaan masyarakat yang semakin tinggi terhadap layanan KAI. Faktor pendukungnya antara lain peningkatan kualitas layanan, keandalan waktu tempuh, serta kenyamanan fasilitas stasiun dan rangkaian kereta yang terus diperbarui.
Setelah memperkenalkan rangkaian baru hasil kinerja Balai Yasa Surabaya Gubeng pada tanggal 28 September 2025 lalu, kereta pedagang dan petani sepertinya dalam waktu dekat akan dioperasikan untuk umum. Ya, kereta jenis ini memang diperuntukkan bagi kaum pedagang dan petani sesuai dengan tulisan yang ada di bodi kereta.
Kereta dengan warna dasar hijau ini sangat identik dengan warna kesejukan yang merupakan warna identik Indonesia yang penuh dengan penghijauan. Selain itu interior juga dibuat sedemikian rupa yang tentunya berbeda dengan kereta penumpang lain pada umumnya. Kereta pedagang dan petani ini dibuat kursi dengan posisi menyamping agar lebih leluasa untuk menaruh barang bawaan.
Nah, beberapa rangkaian kereta ini sudah dikirim ke berbagai wilayah, salah satunya yang sangat dibutuhkan adalah wilayah Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta. Rencana rangkaian kereta ini akan digunakan di jalur Merak – Rangkasbitung. Rencana pengoperasian tersebut rasanya sudah hampir didepan mata. Pasalnya pemerintah akan membuka dan menjalankan kereta pedagang dan petani sesegera mungkin.
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Allan Tandiono mengungkapkan bahwa PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) akan mengoperasikan 8 kereta khusus untuk petani dan pedagang. Namun, saat ini KAI sendiri masih sedang menguji coba empat kereta.
Kereta pedagang dan petani. (Foto: Dok. Istimewa)
Rencana tahun ini rangkaian kereta tersebut akan dioperasikan. Tinggal menunggu hasil keputusan dari pemerintah untuk menjalankan secara reguler sepenuhnya. Ada yang mengatakan bahwa kereta ini tengah diuji pertama kali bersamaan dengan kereta api rute Merak – Rangkasbitung.
Mengenai informasi yang beredar, bahwa juga rencana pengoperasian kembali kereta api dengan rute Jakarta – Merak seperti era tahun 2010. Ya, rencana tersebut kemungkinan akan dijalankan mengingat penumpang yang mayoritas membawa dagangannya baru-baru ini viral di media sosial saat menaiki Kereta Rel Listrik (KRL) di Stasiun Parungpanjang.
Penumpang tersebut rela menunggu dari subuh untuk naik ke KRL pada jam pertama beroperasi. Tak hanya itu, disisi lain penumpang yang hendak aktivitas lainnya merasa terganggu dengan barang bawaan para pedagang tersebut. Berharap ada kereta api khusus untuk mereka yang bisa memuat barang dagangannya. Pengoperasian kereta rute Jakarta – Merak pp ini direncanakan berjalan 2 kali sehari, yakni pagi dan siang hari.
Berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya, Stasiun Tarik merupakan stasiun percabangan yang mengarah ke Stasiun Tulangan dan Stasiun Krian. Stasiun Tarik disinggahi kereta api lokal yaitu Commuter Line Dhoho dan Jenggala. Stasiun Tarik yang terletak di wilayah pinggiran kabupaten Sidoarjo, dulunya merupakan stasiun kecil dengan fasilitas terbatas yang melayani penduduk setempat.
Walaupun begitu, stasiun ini memiliki keunikan sejarah yang pastinya sedikit mengherankan. Ya, layaknya stasiun modern yang sudah memiliki atap atau biasa disebut kanopi yang berada di setiap peron. Ternyata Stasiun Tarik sudah memiliki kanopi sejak dulu.
Dikutip dari laman Indonesian Railway Praservation Society (IRPS), sejarah Stasiun Tarik bermula saat pemerintah kolonial berencana menyambungkan Solo dan Surabaya dengan kereta api. Pemerintah kolonial memberikan konsesi pada Staasspoorwegen pada tahun 1873, dan pembangunan tahap pertama selesai pada tahun 1880 menghubungkan Sidoarjo dan Mojokerto lewat Tulangan dan Tarik.
Di tahun 1881, jalur KA tersambung hingga Kertosono. Kemudian di tahun 1882, jalur KA telah mencapai Madiun. Diikuti dengan sampainya jalur KA di Ngawi pada tahun 1883, dan akhirnya di Solo pada tahun 1884. Dengan jalur seperti ini, maka dulunya jalur cabang Tarik-Sidoarjo lewat Tulangan adalah jalur utama Solo-Surabaya.
Di masa lalu, Stasiun Tarik yang bangunannya masih eksis hingga sekarang memiliki kanopi dengan arsitektur kaca di sampingnya. Kanopi tersebut bukanlah bagian asli dari Stasiun Tarik. Kanopi yang memiliki kemiripan dengan Stasiun Sidoarjo maupun Stasiun Semarang Poncol tersebut merupakan pindahan dari Stasiun Surabaya Kota generasi pertama.
Stasiun Tarik era tahun1945. (Foto: Dok. Maritiem Digitaal)
Seiring dengan perkembangan modern serta beroperasinya jalur ganda, Stasiun Tarik kini lebih luas untuk kenyamanan penumpang kereta api. Revitalisasi stasiun Tarik memiliki dampak sosial yang signifikan meningkatkan mobilitas masyarakat. Modernisasi stasiun membuat masyarakat lokal lebih percaya diri dan senang dengan kemajuan wilayah mereka.
Saat ini, Stasiun Tarik melayani KA Commuter Line Dhoho dan juga KA Commuter Line Jenggala. Sedangkan KA jarak jauh melintas langsung di stasiun ini. Stasiun Tarik merupakan stasiun kelas II yang memiliki 5 jalur. Jalur 1-3 melayani kereta api dari dan ke Surabaya, dan jalur 4-5 melayani kereta api dari dan ke Sidoarjo.
Siapa yang tak kenal Stasiun Purwakarta? Ya, stasiun yang merupakan paling besar di Kota Purwakarta ini merupakan stasiun berikutnya yang nantinya akan memiliki bangunan kanopi. Bagi masyarakat, stasiun yang dijuluki sebagai ‘kuburan kereta api’ tentu mendapat respon positif khususnya penumpang kereta api.
Seperti diketahui bahwa Stasiun Purwakarta sama sekali tak memiliki atap yang terpasang di peron. Atap yang terpasang hanya berada dan tersambung pada stasiun saja. Jadi jika dalam keadaan cuaca sedang hujan, tentu sangat merepotkan bagi penumpang yang hendak naik dan turun kereta api.
Penumpang memadati Stasiun Purwakarta.
Tak hanya pembangunan kanopi pada peron stasiun, bagian peron di Stasiun Purwakarta pun diperpanjang. Mengingat kereta api yang datang dan berhenti di stasiun besar ini biasanya melebihi peron dan cukup kesulitan tentunya kepada penumpang.
Terlihat saat ini pembangunan kanopi Stasiun Purwakarta masih tahap pengerjaan namun tiang dan besi penyangga sudah terpasang dengan rapi dan sempurna. Belum diketahui, setelah kanopi selesai dibangun apakah peron dibuat tinggi atau tidak. Namun yang jelas, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) yang menunjuk Stasiun Purwakarta untuk fokus menyelesaikan pembangunan kanopi sebagai prioritas utama.
Hingga kini Stasiun Purwakarta masih digemari masyarakat yang ingin destinasi dengan lokasi yang terjangkau atau sekedar menikmati kuliner di pusat kota. Tak heran, banyak kereta api dengan rute Bandung – Cikampek atau pun sebaliknya singgah di stasiun yang memiliki cagar budaya ini.
Selain itu, jika mengingat Stasiun Purwakarta, pasti benak yang terlintas adalah ‘kuburan kereta’. Bagaimana tidak, stasiun ini juga dijuluki masyarakat sebagai stasiun yang memiliki keunikan.
Sebab, kawasan tersebut merupakan kuburan gerbong dan kereta. Kuburan ini menyimpan ratusan gerbong kereta berwarna-warni yang ditumpuk hingga ketinggian 7 meter di salah satu sisi pinggiran rel kereta. Gerbong dan kereta yang dimakamkan di sini merupakan bekas dipo lokomotif dan KRL Ekonomi Non-AC yang sudah tidak beroperasi. Karena keunikannya, kuburan kereta ini sering menjadi lokasi foto-foto wisatawan maupun warga sekitar.
Menggunakan kereta api (KA) melintasi antara Stasiun Yogyakarta dan Lempuyangan pasti melewati jembatan yang dibawahnya terpampang sebagjan Kota Yogyakarta. Ya, jembatan tersebut dikenal dengan nama Jembatan Kewek yang membentang di atas Jalan Abubakar Ali. Jembatan sekaligus viaduct yang melintas di atas Kali Code ini juga merupakan salah satu ikon Yogyakarta.
Nsh, sebagian masyarakat khususnya diluar Yogyakarta bertanya-tanya, mengapa dinamakan Jembatan Kewek? Ternyata ada penjelasannya. Sebab saat era Kolonial Belanda pernah ada jembatan jalan menuju gereja di seberangnya Kali Code. Dan orang Belanda menyebutnya jalan tersebut dengan sebutan Jalan Kerkweg. Kemudian orang Jawa terbiasa dengan menyebutnya secara mudah adalah Jembatan Kewek.
Perpaduan Jembatan Kewek dulu dan sekarang. (Foto: Dok. Istimewa)
Jembatan tersebut adalah tanda dari wilayah strategis untuk menuju pusat kota dan pusat pemerintahan di Yogyakarta. Karena sebagai penghubung antara Jalan Malioboro dengan Jalan Mangkubumi yang mampu menampilkan wajah Kota Yogyakarta.
Dalam wilayah perkeretaapian, jembatan ini ternyata cukup istimewa. Pasalnya berdiri antara Stasiun Tugu Yogyakarta dengan Stasiun Lempuyangan di Kilometer 166+500. Selain itu, penumpang kereta api (KA) akan sadar dengan sendirinya bahwa saat itu sedang melintas di Yogyakarta
Sejarah menyebutkan pada tahun 1872, NIS membangun jembatan KA yang berada di utara jembatan kembar tersebut. Namun pada tahun 1976, jembatan baru telah terbangun di selatannya, dan menyusul pembangunan jalur ganda pada tahun 2005 lalu. Sementara itu, jembatan NIS tersebut pun mangkrak.
Akan tetapi saat ini, bagian sisi barat tiang pangkal dari jembatan yang masih tersisa tersebut dirobohkan karena akan dipakai untuk jembatan kendaraan jalan raya. Jembatan jala raya tersebut kini berfungsi untuk mengurai kemacetan Jalan Malioboro.
Bentang Jembatan Kewek ini memiliki panjang mencapai 72 meter, terdiri dari 32 meter bagian jembatan yang membentang di atas sungai dan 20 meter yang membentang di atas jalan raya bagian barat serta 20 meter di atas jalan raya bagian timur.
Saat ini kondisi jembatan tersebut dengan pilar penyangga terlihat kondisi masih sangat dengan perawatan rutin oleh petugas jalan rel dan jembatan di wilayah Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta. Mengingat makin banyak perjalanan KA yang melintas di Jembatan Kewek.
Diketahui bahwa Kali Code merupakan aliran yang berhulu di Gunung Merapi yang pada beberapa tahun lalu mendapat tumpahan material vulkanik atau banjir lahar yang cukup banyak. Namun meskipun adanya kejadian tersebut, jembatan kembar ini tetap kokoh dan terus dilewati KA baik dari barat maupun timur Pulau Jawa.
Jelajah perjalanan di Jawa Barat menggunakan kereta api tentu sangat menyenangkan hati saat menikmatinya. Tak Cuma menawarkan pemandangan yang super indah, namun masyarakat juga merasakan akan kampung halaman. Jalur kereta api (KA) di wilayah Provinsi Jawa Barat sangat lengkap dengan pemandangan alamnya, seperti hamparan sawah, bukit dan gunung yang menjulang, deretan rumah dipedesaan dan masih banyak lagi.
Tak hanya panorama yang menawan, jalur KA yang dilewati pun tak luput dari peninggalan sejarah perkeretaapian yang tinggi. Beberapa contohnya adalah bangunan stasiun, terowongan, jembatan, dan jalur kereta itu sendiri. Adanya kereta api yang melintasi jalur di kawasan Jawa Barat, tentunya menambah pengalaman dan sensasi yang luar biasa. Seperti pada jalur utara yang terkenal dengan hamparan sawah, tambak, dan ladang. Sedangkan jalur selatan memiliki pemandangan yang lebih indah, salah satunya pegunungan.
Nah, baru-baru ini ada peluncuran program baru yang dikemas mengasyikkan dalam melakukan perjalanan menggunakan kereta api. Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) berkolaborasi dengan sejumlah pihak termasuk PT. Kereta Api Indonesia (KAI) menghadirkan program West Java Traincation. Inovasi ini bagian dari upaya mengembangkan sektor pariwisata di Jabar.
Interior kereta Panoramic. (Foto: Dok. KAI)
Bentuk kerja sama Pemprov Jabar dan KAI pada program West Java Traincation, meliputi penyediaan sarana kereta api wisata, integrasi tiket dan paket perjalanan, peningkatan fasilitas layanan di stasiun, serta promosi bersama di tingkat nasional hingga internasional.
West Java Traincation merupakan salah satu upaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar yang mengemas program wisata berbasis jalur KA. Program ini juga diproyeksikan menjadi motor penggerak ekonomi lokal di sepanjang jalur KA.
Soft Launching West Java Traincation dilakukan pada Selasa, 14 Oktober 2025. Wisatawan peserta West Java Traincation akan diajak menikmati keindahan pesona alam dari balik jendela kereta api dan dapat turun di beberapa titik pemberhentian. Wisatawan akan diajak mengenali budaya serta kuliner khas dari masing-masing daerah yang disinggahi.
Selain wisata alam dan budaya, melalui program ini, Pemprov Jabar juga menawarkan wisata sejarah perkeretaapian. Program ini menjadi langkah awal dalam mewujudkan visi besar menjadikan Jawa Barat sebagai epicentrum wisata berbasis rel di Indonesia, dengan menggabungkan kekuatan potensi alam, budaya, dan sejarah yang berada di sepanjang jalur kereta api.
Dalam kegiatan Famtrip, Disparbud Jabar memperkenalkan empat rute utama wisata berbasis rel:
• High-Speed Railway Trip – Karawang–Purwakarta–Subang
Mengangkat tema wisata industri, sejarah, dan budaya di jalur cepat KCIC Whoosh.
• Railways Heritage – Bogor -Sukabumi
Menghadirkan pengalaman wisata sejarah dan alam di kawasan Situ Gunung, Kampung Eling, dan Museum Prabu Siliwangi. (Soft Launching West Java Traincation dilakukan di rute ini, di Stasiun Bogor Paledang).
• Railways Unveiling Culture – Jakarta–Cirebon–Kuningan
Menelusuri jejak budaya dan sejarah klasik melalui Keraton Kasepuhan, Goa Sunyaragi, dan Batik Trusmi.
• Railways Scenic Panoramic – Bandung–Garut–Tasikmalaya
Menawarkan panorama alam dan pengalaman budaya seperti Kampung Naga, Candi Cangkuang, hingga Jembatan Cirahong.
Keempat rute tersebut dirancang untuk menghubungkan destinasi wisata dengan sistem transportasi berbasis rel yang aman, berkelanjutan, dan mudah diakses. Mendorong Pergerakan Wisatawan dan Ekonomi Lokal. Selain itu, kolaborasi dengan masyarakat lokal juga diharapkan mampu menciptakan peluang ekonomi kreatif baru.
Pembangunan Stasiun Rangkasbitung yang digadang-gadang menjadi lebih luas dan megah sudah pasti mengalami perubahan untuk naik dan turun kereta api. Penumpang pun selalu di himbau oleh petugas stasiun untuk diarahkan agar tidak terjadi salah naik dan turun kereta. Tak hanya itu, saat ini pembangunan bagian peron membuat jalur kereta api yang seharusnya disinggahi, kini bakal ada perubahan.
Diketahui perubahan ini dilakukan seiring dengan pelaksanaan switch over tahap kedua dalam proses pembangunan Stasiun Rangkasbitung. Hal ini membuat jalur pemberangkatan Commuter Line tujuan Tanah Abang dari Stasiun Rangkasbitung akan berpindah ke jalur 4 dan 5 yang baru mulai hari ini, Jumat (17/10).
Ilustrasi KRL Commuter Line.
KAI Commuter yang bekerja sama dengan DJKA dan Balai Teknik menyelenggarakan switch over tahap dua tersebut mencakup proses pekerjaan seperti persinyalan, jalur rel, dan fasilitas layanan pengguna di area stasiun. Pembangunan Stasiun Rangkasbitung ini telah mencapai progres fisik sebesar 92 persen per 16 Oktober 2025.
Pemberangkatan Commuter Line tujuan Tanah Abang dilayani pada peron jalur 4 dan 5. Sebelumnya, perjalanan tersebut menggunakan peron sementara pada jalur 5 dan 7 yang kini tidak dipakai. Sementara itu untuk flow pengguna Commuter Line yang akan masuk ke area peron stasiun masih menggunakan akses eksisting yang saat ini telah digunakan.
Lalu bagi penumpang pengguna kereta lokal menuju Stasiun Cilegon, Serang, hingga Merak masih tetap di jalur 2 Stasiun Rangkasbitung. Termasuk pada boarding pass stasiun, penumpang masih diarahkan di jalur yang sama. Karena pengerjaan tahap selanjutnya tidak mempengaruhi jalur kereta Commuter Line Merak tersebut.
KAI Commuter optimis pembangunan stasiun ini diharapkan dapat melayani hingga 83 ribu pengguna Commuter Line setiap harinya. Angka tersebut melonjak dibanding rata-rata harian sebelumnya yang hanya mencapai 24 sampai 26 ribu orang.
Saat ini, Stasiun Rangkasbitung melayani 120 perjalanan Commuter Line Jabodetabek serta 14 perjalanan Commuter Line Merak setiap harinya. KAI Commuter mengimbau para pengguna yang naik atau turun di Stasiun Rangkasbitung agar menyesuaikan peron keberangkatan dan kedatangan sesuai jalur yang baru.
KAI Commuter terus mendukung upaya pemerintah dalam mengembangkan infrastruktur perkeretaapian agar perjalanan kereta semakin lancar dan dapat melayani lebih banyak pengguna Commuter Line.
Hampir semua masyarakat tahu bahwa stasiun tertinggi yang dimiliki berada di wilayah Kabupaten Bandung yaitu Stssiun Nagreg. Stasiun aktif ini letaknya pada ketinggian +848 meter yang merupakan satu-satunya di wilayah Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung.
Sebenarnya ada stasiun yang dicap oleh PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) sebagai stasiun paling tinggi di Indonesia yaitu Stasiun Cikajang. Stasiun ini memiliki ketinggian +1.246 meter, namun sudah tidak beroperasi sejak November 1982.
Nah, ternyata Stasiun Nagreg ada saingannya untuk ketinggian tersebut. Bahkan pemandangannya lebih bagus dan jauh dari keramaian jalan raya. Stasiun di wilaysh ini pun terkenal cukup dekat dan memilki nama yang sama sebagai cagar budaya oleh PT KAI. Stasiun ini bernama Stasiun Mrawan.
YA, menurut kabar dari sumber, ternyata Stasiun Mrawan merupakan stasiun tertinggi yang dimiliki wilayah Daop 9 Jember. Namun kalau ditanya soal ketinggian, jelas masih rekor dipegang oleh Stasiun Nagreg. Nah, Stasiun Mrawan ini lokasinya berada di ketinggian +524 meter di atas permukaan laut.
Stasiun kecil ini memiliki 2 jalur yang tersedia. Namun karena semua kereta api (KA) tidak berhenti disini, jalur yang sering digunakan adalah jalur 2 saja. Wilayah Daop 9 Jembet rata-rata memiliki sistim persinyalan secara mekanik (manual) termasuk Stasiun Mrawan ini.
Meski bangunannya kecil, namun peran stasiun ini tak main-main, lho. Stasiun Mrawan ternyata menjadi penggerak roda perekonomian wilayah Jember dan Banyuwangi. Sejak awal, stasiun itu menjadi jalur utama pengangkutan hasil perkebunan seperti kopi, gula, dan beras ke berbagai daerah di Indonesia.
Nama Mrawan berasal dari nama sebuah sungai yang mengalir di dekat kompleks stasiun mrawan maupun terowongan. Selain ketinggian stasiun, masyarakat yang biasa melakukan perjalanan dengan KA baik dari Banyuwangi maupun sebaliknya pun pasti melewati Terowongan Mrawan yang tentunya sangat legendaris.
Terowongan Mrawan dibangun sejak tahun 1902 dan selesai pada 1910 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Belanda. Pembangunan dimulai dengan mendirikan tembok di kedua sisi terowongan pada periode 1901-1902, kemudian dilanjutkan dengan konstruksi lengkung penutup yang memakan waktu delapan tahun.
Terowongan Mrawan. (Foto: Dok. Istimewa)
Terowongan itu berada di antara Stasiun Mrawan dan Stasiun Kalibaru. Tepatnya di KM 30+777. Sampai saat ini, Terowongan Mrawan merupakan terowongan aktif terpanjang kedua di Indonesia, Cuma kalah dari terowongan Sasaksaat, bagian dari jalur kereta api yang menghubungkan Padalarang – Purwakarta – Cikampek, yang memiliki panjang 949 meter.
Setiap perjalanan di jalur ini tentunya membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi serta mempertegas kontribusi KAI terhadap pengembangan wilayah. Dengan nilai sejarah yang kuat, lanskap alam yang memukau, dan potensi peran strategis dalam pergerakan ekonomi, Stasiun Mrawan berdiri sebagai simbol harmoni antara transportasi modern, potensi lokal, dan kebanggaan nasional.