Ngeri, di Bandara Dubai, Mata Jadi Paspor Wisatawan!

0
Seorang penumpang hendak melakukan pemindaian iris mata saat boarding di Bandra Dubai, Uni Emirat Arab. Foto: AP

Bandara tersibuk di dunia untuk perjalanan internasional, Bandara Dubai, sangat familiar dengan pendingin udaranya yang sangat dingin bak kutub utara, air terjun dan pohon palem buatan, hingga desain terminal ciamik. Tak berhenti sampai di situ, baru-baru ini, bandara yang dibangun pada 1960 itu mulai menerapkan iris scanner alias pemindai iris untuk memverifikasi identitas atau pengganti paspor.

Baca juga: Keren, Dubai Gunakan Teknologi Kecerdasan Buatan, Pastikan Sopir dan Penumpang Pakai Masker

Laporan Associated Press menyebut, teknologi biometrik yang menjadi bagian dari program kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan ini tercipta berkat dorongan lebih untuk mengurangi interaksi antar manusia. Itu dilakukan untuk membantu mencegah penularan virus Corona.

Program pemindai selaput pelangi atau iris mata di Bandara Dubai dimulai sejak bulan lalu. Setelah check-in, wisatawan diminta untuk melewati iris scanner dan bila tak ada kendala, pemeriksaan paspor tuntas hanya dalam hitungan detik, tak seperti di bandara lain yang masih mengharuskan wisatawan untuk menunjukkan paspor fisik dan lain sebagainya.

Cara kerjanya, data iris wisatawan mancanegara maupun domestik nantinya akan terhubung langsung dengan database face recognition Uni Emirat Arab tanpa mengharuskan mereka menunjukkan identitas masing-masing. Dengan begitu, check-in dan boarding jauh lebih cepat dibanding sistem face recognition sekalipun.

“Masa depan akan datang. Sekarang, semua prosedur menjadi ‘pintar’ (membutuhkan waktu) sekitar lima hingga enam detik,” kata Mayor Jenderal Obaid Mehayer Bin Suroor, wakil direktur Direktorat Jenderal Karesidenan dan Luar Negeri.

Teknologi biometrik atau iris scan ini belakangan memang menggema di seluruh dunia seiring penilaian buruk tentang keakuratan teknologi face recognition.

Meski dianggap lebih akurat dan cepat, namun, iris scan dinilai sama saja dengan teknologi biometrik lain yang mengancam privasi pengguna. Biometrik iris dinilai menargetkan para jurnalis dan aktivis hak asasi manusia sedunia untuk diawasi tanpa persetujuan yang bersangkutan.

Jonathan Frankle, seorang mahasiswa doktoral dalam kecerdasan buatan di Institut Teknologi Massachusetts, menyebut, “Segala jenis teknologi pengawasan menimbulkan tanda bahaya, terlepas dari negaranya seperti apa. Tapi di negara demokrasi, jika teknologi pengawasan digunakan secara transparan, setidaknya ada peluang untuk melakukan percakapan publik tentang itu.”

Terlepas dari kekhawatiran itu, Emirates, salah satu maskapai yang telah mengintegrasikan data pribadi penumpang, seperti paspor dan KTP, data penerbangan, data pengenal wajah atau face recognition, dan lain sebagainya, memastikan bahwa data penumpang digunakan dengan wajar sesuai kebutuhan penerbangan tanpa ada satupun pihak lain yang bisa mengakses.

Baca juga: Dubai Pasang ‘Mata-mata’ Canggih untuk Monitor Suhu dan Physical Distancing

Uni Emirat Arab memang terkenal dengan teknologi kamera canggih yang tersebar di seluruh penjuru kota.

Tak seperti di negara Komunis seperti Cina, negara Islam itu mengklaim menyebar banyak kamera pengawas untuk membuat aman dan nyaman masyarakat, termasuk memantau penggunaan masker, physical distancing, dan lain sebagainya terkait penanganan Covid-19. Saking banyaknya kamera pengawas, negara itu disebut menjadi negara dengan kamera pengawas terbanyak di dunia bila dihitung berdasarkan per kapita.

Leave a Reply