Pandemi Covid-19 Bikin Pelajaran Berharga Bagi Bandara dalam Ketahanan Operasional dan Finansial

0
(passengerterminaltoday.com)

Tahun 2020 menjadi sangat sulit untuk dunia penerbangan dan pariwisata, pasalnya Covid-19 memiliki efek yang menghancurkan bisnis perjalanan udara. Yang kemudian membuat bandara dan maskapai penerbangan mendapat beberapa pelajaran berharga untuk mempersiapkan diri kedepannya jika ada hal tak terduga seperti ini kembali terjadi.

Baca juga: Pandemi Tak Kunjung Berakhir, Bandara Changi Mulai Hadapi Masa Sulit

Selain itu juga mengajarkan untuk beradaptasi dengan cepat dan fleksibel terhadap perubahan yang tiba-tiba dan tidak dapat diubah. Keduanya ini dapat diringkas dalam satu konsep yakni ketahanan. Dirangkum KabarPenumpang.com dari passengerterminaltoday.com (4/11/2020), sejak awal, perjalanan udara telah menjadi industri yang tidak stabil.

Di mana pada awal dekade penerbangan sipil ketika teknologi dan model bisnis maskapai masih bermula di mana kedelakaan pesawat dan kebangkrutan menjadi hal biasa. Kemudian pada abad ke-20, industri ini semakin matang yang mana menghadapi banyak tantangan atas ulah manusia seperti terorisme dan deregulasi, yang keduanya secara mendasar mengubah cara kami merancang dan mengoperasikan bandara.

Sebaliknya, sejak 11 September 2001, sebagian besar gangguan berasal dari alam, kemudian letusan gunung berapi pada tahun 2010 menutup wilayah udara Eropa selama berminggu-minggu. Peristiwa cuaca ekstrem yang terkait dengan perubahan iklim yang semakin sering terjadi dan semakin merusak berpotensi melumpuhkan bandara dengan sedikit peringatan dini.

Krisis kesehatan masyarakat, seperti wabah SARS tahun 2003, dapat sangat merugikan seluruh jaringan transportasi global. Melihat ke belakang, SARS ternyata merupakan pratinjau diam-diam dari epidemi, ekonomi dan tantangan operasional yang saling terkait yang dihadapi bandara saat ini.

Tetapi pada pandemi Covid-19 telah menunjukkan pentingnya ketahanan. Ini juga menyoroti kesenjangan yang dalam antara pemain industri yang dapat beradaptasi dan mereka yang tidak. Bandara yang kurang berhasil menanggapi krisis dengan menyangkal hal itu terjadi, melanjutkan bisnis seperti biasa meski menjadi sangat jelas bahwa itu bukanlah pilihan.

Sebaliknya, bandara yang sukses menyadari bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi, dan mereka perlu beradaptasi dengan cepat untuk bertahan hidup. Sementara virus menyerang seluruh industri saat ini, beberapa bandara bekerja jauh lebih baik daripada yang lain. Itu karena mereka membuat rencana darurat dan mentalitas tempat kerja yang menempatkan ketahanan di depan dan di tengah.

Dalam ketahanan operasional ini mengacu pada kemampuan bandara untuk mempertahankan operasi setelah kejadian tak terduga. Hal tersebut bergantung pada dua jenis fleksibilitas yakni perangkat keras fleksibel. Di mana fleksibilitas yang dibangun ke dalam infrastruktur fisik bandara dan perangkat lunak fleksibel, yaitu kemampuan untuk dengan cepat menyesuaikan prosedur operasional saat terjadi gangguan.

Sebelum virus Corona, banyak bandara tidak memperhitungkan pandemi kesehatan sebagai risiko potensial, atau mereka menganggapnya sangat mustahil. Akibatnya, sebagian besar bandara tidak memiliki rencana permainan operasional ketika Covid melanda. Mereka berjuang dengan persyaratan jarak sosial, yang membatasi kapasitas antrian dan membatasi penjualan dari konsesi pada waktu yang paling buruk.

Beberapa dipersiapkan untuk logistik yang terlibat dalam pemasangan fasilitas pengujian Covid di tempat dan bandara lain beralih ke mode panik, memasang teknologi tanpa sentuh yang sangat mahal tanpa menganalisis bagaimana hal itu akan memengaruhi operasi atau keuntungan finansial mereka.

Itu menjadi ide yang bagus, tapi itu tidak bagus. Sebaliknya, bandara yang berhasil akan menyiapkan rencana darurat yang menekankan fleksibilitas operasional berfokus pada kemungkinan hasil, daripada kemungkinan penyebab, gangguan di masa depan.

Pada ketahanan finansial Covid-19 adalah krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Di mana dengan memakai masker dan mempraktikkan jarak sosial, dapat melindungi diri dari virus. Jauh lebih sulit untuk melindungi diri dari kejatuhan finansial Covid. Pengangguran dan setengah pengangguran meroket tahun ini, serta lebih banyak orang akan kehilangan pekerjaan di bulan-bulan mendatang.

Bandara dan maskapai penerbangan menghadapi pertanyaan sulit dari pemegang saham, regulator, dan pemberi pinjaman. Beberapa secara terbuka skeptis tentang kemampuan jangka panjang industri untuk bertahan hidup. Ketahanan finansial bandara mengacu pada kemampuannya untuk terus menghasilkan pendapatan dalam menghadapi gangguan ekonomi, dan untuk mengumpulkan cadangan uang tunai yang dibutuhkan untuk melihat organisasi melalui siklus yang tidak menguntungkan. T

Sayangnya, pandemi mengungkapkan bahwa banyak bandara tidak memiliki pijakan finansial yang kuat untuk mempertahankan arus kas selama periode ketidakpastian yang berkepanjangan. Bandara yang sangat bergantung pada satu sumber pendapatan misalnya, biaya penumpang dan maskapai yang berasal dari satu maskapai penerbangan bernasib jauh lebih buruk tahun ini dibandingkan dengan bandara yang memiliki portofolio sumber pendapatan yang luas.

Itu karena bandara yang berhasil mencapai keseimbangan antara pendapatan terkait penumpang dan pendapatan non-penumpang. Seperti namanya, sumber pendapatan terkait penumpang seperti biaya fasilitas orang, parkir, sewa mobil, dan ritel perjalanan bergantung pada pertumbuhan pelancong udara. Ketika penumpang menghilang, pendapatan itu juga hilang. Sebaliknya, sumber pendapatan non-penumpang seperti kargo dan real estat kebal terhadap perubahan mendadak dalam jumlah penumpang. Ketika para pelancong menguap, mereka terus menghasilkan pendapatan untuk bandara.

Baca juga: Hindari Tatap Muka, Bandara Incheon Korsel Kerahkan Robot Canggih Pengukur Suhu dengan Sederet Kemampuan

Sehingga bisa dikatakan, ketahanan operasional dan finansial sama-sama penting untuk menjamin kemampuan bandara dalam menghadapi periode penuh tekanan yang tak terduga. Tetapi ketahanan bandara juga bergantung pada pelatihan tenaga kerja yang baik, dan pada kemampuan memelihara hubungan yang harmonis dengan mitra utama di sektor publik dan swasta.

Leave a Reply