Penumpang dari Indonesia Tiba di Changi ‘Tak Lagi’ Dilayani dengan Garbarata, Ini Sebabnya!

0
Ilustrasi, Boeing 737 Singapore Airlines dengan tangga manual. (Foto: imtmonline.com)

Apapun maskapai yang Anda tumpangi, baik full service maupun low cost carrier (LCC), saat tiba di Bandara Changi pastinya akan merasakan pelayanan yang elegan khas Singapura. Keluar dari kabin pesawat, Anda akan dilayani menggunakan akses aero bridge (garbarata) menuju terminal kedatangan, seolah Singapura tak rela tamu asingnya kepanasan atau letih.

Baca juga: Bepergian ke Singapura Saat PPKM Level 4-Pembatasan Sosial (Di Singapura), Ini Tahapannya

Namun, kondisi di atas berbalik 180 derajat, di masa pandemi Covid-19 yang belum memperlihatkan perlambatan, penumpang pesawat dari Indonesia untuk sementara harus rela mendapatkan perlakuan yang tidak biasa saat tiba di Changi. Setiap penumpang dari Indonesia, menggunakan jenis maskapai apa saja dan dari kelas apa pun, kini harus menggunakan tangga manual untuk turun dari pesawat.

Seperti dikisahkan kontributor KabarPenumpang.com yang saat ini sedang menjalani masa karantina 14 hari. Saat tiba di Changi menggunakan Boeing 777 Singapore Airlines dari Soekarno-Hatta, ia bersama empat penumpang lain harus turun menggunakan tangga manual. Sesuatu hal yang menurutnya mengagetkan, pasalnya ia merupakan penumpang yang duduk di kelas bisnis, tapi harus turun menggunakan tangga.

Sebagai catatan, turun dengan tangga untuk kemudian dijemput shuttle bus lazim terjadi, umumnya karena gate/terminal penuh, ada kerusakan teknis atau memang bandaranya tak mempunyai garbarata. Tapi setelah dicermati, keluar pesawat menggunakan tangga manual di Changi ternyata sudah menjadi SOP di masa pandemi, khususnya bagi penumpang yang berasal dari high risk country penyebaran Covid-19.

Dengan turun menggunakan tangga di apron, sudah barang tentu penumpang harus menerima suara bisingnya mesin pesawat. Belum lagi bila cuaca buruk, mulai dari angin kencang hingga kehujanan kerap kali menjadi satu permasalahan yang serius.

Untungnya di malam kedatangan, shuttle bus posisinya tidak jauh dari titik turun tangga. Dan jangan salah kira, shuttle untuk penumpang dari high risk country tidak dibawa ke terminal konvensional yang identik dengan penyejuk ruangan dan pernak-pernik kelontong khas Changi.

Justru bus yang membawa penumpang dari Indonesia masuk ke sisi pelataran parkir Terminal 4, yang memang dikhususkan untuk melayani penumpang dari negara-negara dengan risiko tunggi penularan Covid-19. Dan di area semi outdoor inilah penumpang harus duduk antre dalam jarak aman untuk menuju konter imigrasi. Pemandangan seperti apa suasana di area imigrasi Changi dapat dilihat pada postingan foto-foto dan video di Instagram di bawah ini.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang)

Sekilas ada lima tahapan yang harus dilalui sebelum Anda bisa meninggalkan bandara untuk menuju lokasi karantina mandiri. Pertama, Anda harus menutaskan tahapan immigration clearance seperti biasa. Kedua, payment confirmation, disini Anda harus melakukan pembayaran untuk test PCR dan antigen, biayanya dipatok S$220. Tahap berikutnya dilanjutkan dengan registasi dan melaksanakan swab PCR test di bilik yang telah ditentukan. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk mengetahui hasilnya.

Baca juga: Bukti Ketatnya Karantina Mandiri di Singapura, Swab Antigen Sendiri dan Ditelepon Petugas Tiap Hari

Dan bila semuanya beres dan Anda dinyatakan negatif Covid-19, perjalanan berlanjut untuk menuju bus khusus yang disediakan untuk membawa ke masa karantina 14 hari di hotel yang telah ditentukan oleh otoritas setempat. Jadi singkat cerita, memang bukan perkara mudah dan murah untuk bertandang ke Singapura saat ini.