Pesawat Taxiing dengan Dua Mesin, Pilot Qatar Airways Terancam di PHK

0
Ilustrasi taxiing. Foto: Forbes

Pilot-pilot Qatar Airways terancam mendapat sanksi tegas berujung PHK lantaran kerap taxiing dengan dua mesin. Padahal, standar operasional prosedur (SOP) maskapai mengharuskan (taxiing) hanya dengan satu mesin pasca mendarat. Hal ini dimaksudkan agar penerbangan lebih hemat bahan bakar dan tentu guna menekan biaya operasional.

Baca juga: Tanpa Sadar, Tingginya Frekuensi Penerbangan Giring Pesawat Sipil Lakukan “Elephant Walk”

Sejak akhir September lalu, Chief Flight Operations Officer Qatar Airways, Captain Jassim Al-Haroon, rutin melayangkan teguran keras kepada pilot atas ketidakpatuhan terhadap SOP. Betapa tidak, dari target kepatuhan 95 persen (terkait penggunaan satu mesin saat taxiing), hanya 55 persen pilot yang mematuhi kebijakan tersebut dalam tiga bulan terakhir.

Di masa kritis akibat pandemi virus Corona seperti sekarang ini, upaya penghematan sekecil apapun akan berdampak besar bila dilakukan secara konsisten dan massif. Karenanya, maskapai tak segan-segan menindak tegas pilot yang masih membandel dengan mem-PHK atau sanksi tegas lainnya.

“Karena maskapai ini sedang melewati masa-masa yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat krisis saat ini, saya berharap Anda semua sebagai profesional membuat semua tindakan yang diperlukan untuk menghindari biaya operasional yang tidak perlu,” kata Captain Jassim Al-Haroon, seperti dikutip dari onemileatatime.com.

Selain menghemat bahan bakar dan uang, Qatar Airways menegaskan, taxiing dengan satu mesin juga baik untuk lingkungan (mengurangi emisi karbon dioksida). Upaya mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas penerbangan memang sudah menggeliat di dunia; baik oleh maskapai, bandara, pabrikan mesin, dan pihak-pihak terkait lainnya.

Untuk maskapai, Wizz Air, misalnya, belum lama ini resmi meluncurkan carbon offsetting program atau penggantian kerugian karbon. Program tersebut memungkinkan penumpang untuk memasukkan detail penerbangan, mendapatkan jejak karbon, dan membayar ganti rugi atas karbon yang dihasilkan dari perjalanan mereka. Dana tersebut kemudian disalurkan ke dua proyek carbon-reducing masyhur di dunia.

Program carbon offsetting belakangan memang cukup populer di industri penerbangan global efek dari tingginya keinginan maskapai untuk memerangi emisi CO2. Saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia.

Lewat program tersebut, penumpang nantinya akan difasilitasi untuk mengeluarkan sejumlah uang pengganti atas emisi CO2 dihasilkan dari perjalanan mereka. Uang tersebut akan disalurkan Wizz Air ke dua lembaga kenamaan dunia dalam memerangi emisi gas buang, yakni CHOOOSE dan Norwegian Climate Action.

Di kategori bandara, skema Akreditasi Karbon Bandara (ACA) jelas jadi indikasi kuat atas upaya tersebut. Pada 2009 lalu, Airports Council International (ACI) Eropa mengusulkan dibentuknya skema Akreditasi Karbon Bandara (ACA). Tahun 2011, ACA diadopsi oleh bandara-bandara di Asia-Pasifik. Tiga tahun berselang, Amerika Utara dan Afrika menyusul dan mengukuhkan ACA sebagai gerakan global. Saat ini, sekitar 312 bandara terlibat dalam Akreditasi Karbon Bandara.

Baca juga: 5 Kesalahan Populer Pilot Pemula Saat Taxi, Nomor Tiga Butuh Insting Tajam

Di tahun pertama ACA diimplementasikan, penurunan emisi CO2 bisa dibilang sukses. Data menunjukkan, antara Juli 2009 dan Juni 2010, ACA berhasil membebaskan atmosfer dari CO2 sebanyak 56.633 ton, setara dengan jumlah CO2 yang diserap dari sekitar 399 hektar hutan.

Di periode antara Juli 2018 dan Juni 2019 hasilnya lebih menakjubkan lagi. Gerakan ACA berhasil membebaskan sebanyak 322.297 ton CO2 atau setara dengan emisi yang dibutuhkan untuk memberi daya 767 juta jam streaming video HD.

LEAVE A REPLY