Rute Penerbangan Terpendek Lufthansa Setara Jakarta-Bandung Kini Dilayani Pakai Bus

0
Lufthansa kini mengoperasikan rute Munich-Nurenberg menggunakan bus, bukan pesawat. Foto: Lufthansa via Simple Flying

Lufthansa menyetop penerbangan di rute terpendeknya sejauh 86 mil (138 km) antara Munich dan Nuremberg. Sebagai gantinya, maskapai terbesar di Eropa itu mengerahkan armada busnya untuk melayani royal customer.

Baca juga: Emirates Operasikan A380 dengan Rute Terpendek di Dunia, Jaraknya Setara Jakarta – Pangandaran!

Selama ini, Lufthansa memang dikenal memiliki jejaring kuat bukan hanya regional Eropa dan internasional, tetapi juga domestik. Saking banyaknya, beberapa di antara mereka bahkan bisa dibilang sangat dekat, salah satunya rute Munich-Nuremberg.

Sebetulnya, rute tersebut masih tak lebih pendek dibanding rute terpendek Garuda Indonesia, yaitu Denpasar – Lombok sejauh 76 mil. Hanya saja, rute tersebut terpisah oleh perairan, tak seperti rute Lufthansa. Karenanya, tak heran bila maskapai yang didirikan pada 6 Januari 1953 itu sampai mengganti layanan tersebut dari semula menggunakan pesawat menjadi bus.

Laporan aeroTELEGRAPH, Lufthansa Express Bus atau Layanan Bus Express Lufthansa waktu tempuhnya sudah pasti lebih lambat ketimbang pesawat. Sudah begitu, jarak tempuhnya juga bertambah, dari semula hanya 86 mil menjadi sekitar 100 mil (167 km) setara Jakarta-Bandung, selama kurang lebih 1 jam 38 menit.

Dari data internal perusahaan, di 2018 lalu, tiga persen dari penumpang tercatat ingin mengakhiri perjalanan di Munich. Sedangkan sisanya, sebanyak 97 persen adalah connecting passengers.

Lufthansa sendiri tak mengungkap dengan detail alasan di balik keputusan ini. Sebab, rute lain yang tergolong pendek, yaitu Munich ke Frankfurt sejauh 118 mil (190 km), tetap dipertahankan dan tentu saja mendapat kecaman dari German Green Party.

Menurut partai yang pernah berkuasa di Jerman itu, penerbangan di bawah dua jam setengah, sebagaimana kebijakan di Perancis, tidak sejalan dalam langkah memangkas emisi karbon yang dihasilkan dari perjalanan udara.

Maka dari itu, penerbangan di bawah rentang waktu tersebut didorong untuk menggunakan kereta. Terlebih Komisi Eropa berniat menjadikan tahun 2021 sebagai “Tahun Kereta Eropa” sebagai wujud dari dukungan untuk Kesepatan Hijau Eropa (European Green Deal).

Tujuan besar dari langkah-langkah di atas tentu mengarah pada turunnya emisi gas rumah kaca (netralitas iklim) pada 2050 mendatang.

Bila berhasil, Uni Eropa akan menjadi benua “blok netral-iklim” pertama di dunia, mengalahkan paket stimulus Green New Deal yang diusulkan Amerika Serikat. Target terdekat dalam Kesepatan Hijau Eropa terjadi pada 2030 mendatang, dimana emisi gas rumah kaca diproyeksikan turun hingga 55 persen.

Baca juga: Gegara Covid-19, Kereta Jadi Pilihan Favorit Berlibur Ketimbang Pesawat! Ini Alasannya

Uni Eropa saat ini tercatat menyumbang seperempat dari emisi gas rumah kaca dunia dari seluruh jaringan moda transportasi mereka. Tak ayal, dengan catatan tersebut, mereka bertekad untuk mengejar laju dekarbonisasi -salah satunya memasifkan penggunaan kereta api- sambil terus meningkatkan laju pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

Sayangnya Lufthansa tak bergeming. Melalui CEO-nya, perusahaan mengaku tetap akan terus maju dan mengoperasikan rute tersebut.

LEAVE A REPLY