Sama-sama Jatuh Dirudal, Inilah Persamaan dan Perbedaan Insiden Malaysia Airlines MH17 dan Ukraine International PS752

0

Sejak tahun 1973, tercatat ada sekitar enam pesawat komersial yang jatuh ditembak rudal. Alasannya pun beragam, mulai dari ketidaksengajaan hingga keadaan genting yang mengharuskan operator pertahanan udara menembakkan rudal sekalipun dengan berbagai pertimbangan. Umumnya, titik tertembaknya pesawat-pesawat nahas tersebut berada di wilayah konflik.

Beberapa waktu lalu, peristiwa kelam di dunia penerbangan kembali terulang. Konflik berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) sejak dekade 80-an kembali memakan korban. Kali ini korbannya justru berasal dari kalangan sipil yang tak berdosa.

Baca juga: Mengacu Data Intelijen, AS dan Kanada Yakin Boeing 737 Ukraine International Ditembak Rudal

Genderang perang Iran-AS dimulai ketika serangan drone MQ-9 Reaper milik AS menewaskan pemimpin Garda Revolusi Iran Jenderal Qasem Soleimani. Tak tinggal diam, Iran pun membalas dan menghujani pangkalan militer AS di Irak dengan rudal. Namun nahas, beberapa jam setelah serangan rudal tersebut sebuah pesawat Boeing 737-800 yang diduga terkena sistem anti rudal buatan Rusia milik Iran, Tor M-1, jatuh dan menewaskan seluruh penumpang dan awak kabin.

Disebut nahas, selain karena menewaskan seluruh penumpang dan awak kabin sebanyak 176 orang, di saat yang bersamaan, tak jauh dari lokasi tertembaknya pesawat Ukraine International PS752 tersebut ada beberapa pesawat lain yang juga tengah melintas. Beruntung pesawat-pesawat tersebut tidak mengalami nasib serupa.

Beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada 17 Juli 2014 silam, sistem rudal buatan Rusia juga pernah menjatuhkan sebuah pesawat komersil. Kali ini korbannya adalah Malaysian Airlines MH17. Dalam insiden tersebut, sedikitnya 298 orang tewas. Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, berikut rangkuman persamaan dan perbedaan insiden jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 dengan Ukraine International PS752.

Boeing 737-800 milik Ukraine International Airlines. Sumber: Airline Ratings

Boeing
Walaupun berbeda secara waktu, insiden rudal yang menjatuhkan Malaysia Airlines MH17 dengan Ukraine International PS752 sama-sama menggunakan pesawat buatan Boeing. Bedanya, jika Malaysia Airlines MH17 menggunakan jenis Boeing 777-200ER, maka Ukraine International PS752 menggunakan jenis 737-800.

Selain menjadi pukulan telak bagi kedua maskapai, jatuhnya kedua pesawat nahas tersebut juga menjadi pukulan telak bagi Boeing. Betapa tidak, selama beberapa dekade terakhir, puluhan armadanya berkali-kali harus kandas. Bahkan, yang paling menyeramkan dan menjadi misteri terbesar di dunia penerbangan adalah ketika pesawat Boeing jenis 777-200ER milik maskapai Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 hilang bak ditelan bumi. Meskipun hingga kini berbagai upaya masih terus dilakukan, namun, hal tersebut tetap tidak menggeser insiden tersebut sebagai sebuah misteri besar di era penerbangan modern.

Terlepas dari semua hal di atas, pesawat-pesawat Boeing tersebut, khususnya Boeing 777-200ER dan jenis 737-800 sama-sama tidak memiliki fitur sistem pertahanan. Peneliti di Middlebury Intitute of International Studies Michael Duitsman menyebut mustahil awak pesawat punya waktu untuk bereaksi terhadap rudal apapun.

(Pamper.My)

Sistem Pertahanan Udara Buatan Rusia
Sistem anti pesawat atau biasa disebut juga rudal sistem pertahanan udara buatan Rusia lagi-lagi menjadi biang keladi dari jatuhnya pesawat komersial. Dalam kasus jatuhnya pesawat Ukraina International PS752, sistem rudal Tor M-1 diduga digunakan untuk menembak jatuh pesawat pabrikan Boeing tersebut. Adapun pesawat Malaysia Airlines MH17 ditembak jatuh diduga menggunakan sistem rudal BUK yang juga buatan Rusia.

Baik sistem rudal Tor-M1 maupun sistem rudal BUK keduanya sama-sama memiliki kemampuan yang mengerikan. Dikutip dari laman The Moscow Times, Federasi Ilmuan Amerika pernah meneliti serta menganalisis ancaman yang dihasilkan dari sistem rudal tersebut. Hasilnya, sistem rudal Tor M-1 diprediksi dapat mematikan target pada ketinggian hingga 6.000 meter dan jarak 12 kilometer.

Sedangkan sistem rudak BUK, yang notabene lebih dahulu hadir yakni sejak 1979, juga memiliki kemampuan yang tak kalah mengerikan. Bahkan dari sisi jangkauan, lebih unggul dibanding sistem rudal Tor M-1. Disebutkan, rudal tersebut mampu menjatuhkan sasaran dengan tepat pada radius 20 kilometer. Selain itu juga memiliki daya jelajah hingga 500 kilometer dari lokasi peluncuran. Jarak tersebut masuk dalam kategori menengah sehingga biasa digunakan untuk pertempuran darat. Tiap satu kendaraan Buk memiliki empat rudal yang siap diluncurkan. Tiap rudal itu memiliki hulu ledak seberat 180 kilogram dan dapat menembakkan hingga 24 target sekaligus.

sumber: wikipedia

Wilayah Konflik
Dari serangkaian kasus tertembaknya pesawat komersial, baik kargo maupun pesawat penumpang, pada umumnya terjadi di wilayah-wilayah yang sedang berseteru. Tak terkecuali dengan Malaysia Airlines MH17 dan Ukraine International PS752.

Beberapa jam sebelum pesawat Ukraine International PS752 melintas, langit ibu kota Irak, Baghdad, memang sedang dihiasi oleh rudal-rudal kiriman Iran. Namun, siapa nyana, Iran yang pada umumnya aman dari serangan milliter justru menjadi negara terakhir yang disinggahi. Sejak hubungan antara Iran dan AS menagang, otoritas militer Iran memang tengah mengaktifkan sistem pertahanan udara mereka.

Setelah kejadian tersebut, berbagai maskapai dari berbagai penjuru dunia menyatakan bahwa pihak mereka akan mengalihkan rute penerbangan mereka agar tidak melewati langit Iran dan Irak. Salah satu maskapai tanah air yang menyatakan tersebut adalah Garuda Indonesia.

Baca juga: Imbas Konflik AS vs Iran, Garuda Indonesia Gunakan Rute Mesir-Yunani untuk Ke Eropa

Senada dengan Ukraine International PS752, Malaysia Airlines MH17 tujuan Kuala Lumpur – Amsterdam juga melintas di tengah ketegangan yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Kala itu, gelombang separatisme pro-Rusia tengah melancarkan berbagai serangan terhadap pemerintah Ukraina yang tujuan akhirnya adalah menyatukan kembali imperium Uni Soviet yang telah lama runtuh.

Meskipun sempat saling tuduh, penyidik internasional yang terdiri dari Belanda, Australia, Belgia, Malaysia dan Ukraina melaporkan bahwa banyak temuan yang mengarah pada rudal buatan Rusia. Selain itu, sadapan telepon juga menunjukkan bahwa Rusia mengarahkan separatis pro-Rusia.

Leave a Reply