Scoot dan Otoritas Bandara Changi Selidiki Tindak Percaloan ‘Kelebihan Bagasi’

ilustrasi kelebihan barang bawaan di bandara (ezibag.com)

Praktik kecurangan di bandara terkait masalah kelebihan bagasi kembali mencuat. Dimana para calo menawarkan potongan harga lebih rendah dibanding semestinya. Ini membuat maskapai Scoot bersama otoritas keamanan Bandara Changi Singapura melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Baca juga: Tiga Inovasi ‘Otonom’ di Bandara Internasional Changi Tuai Banyak Pujian

Baru-baru ini seorang pria dengan destinasi Chennai, India mengaku didekati seorang calo. Sang calo mendekati kepada kedua orang temannya yang kelebihan bagasi saat berada di Terminal 2 Changi. Calo tersebut mengatakan namanya Raju dan bisa membantu kedua penumpang untuk mengatur kelebihan bagasi mereka.

Raju mengatakan akan mengenakan S$5 atau setara dengan 53 ribu per kg dan lebih rendah dari yang semestinya. Padahal maskapai berbiaya rendah Scoot mengenakan tarif S$20 atau Rp212 ribu per kg.

“Dia mengatakan dirinya hanya akan menerima S$1 atau Rp10 ribu per kg, sedangkan S$4 atau Rp42 ribu lainnya untuk petugas di konter 10,” ujar pria yang tak mau disebutkan namanya tersebut.

KabarPenumpang.com melansir dari laman tnp.sg (13/7/2018), saat mereka menuju konter 10 dan menyebutkan nama Raju, petugas check ini kemudian memasukkan barang mereka tanpa membebani keduanya. Mereka kemudian membayar Raju S$65 atau Rp690 ribu untuk kelebihan 13 kg.

Setelah diselidiki para calo ini ternyata bekerja dalam kelompok kecil. Ada sekitar selusin pria yang diyakini pekerja asing dan terlihat mendekati penumpang Scoot saat mengemasi barang bawaan mereka.

Dalam praktik percaloan ini, ketika penumpang menerima tawaran para calo, satu dari mereka akan menimbang bagasi dan mengetik sesuatu dalam ponsel pintarnya. Nantinya seorang pria lain akan membantu penumpang dalam pengecekan bagasi dan penumpang memberikan uang sesuai dengan jumlah kelebihan bagasi kepada pria itu.

Juru bicara Scoot mengatakan, maskapai mereka tengah menyelidiki klaim dengan mitra layanannya yang menangani layanan darat dan bagasi bersama Bandara Changi.

“Mitra layanan kami akan mengingatkan staf mereka tentang beratnya sanksi dari kegiatan percaloan ilegal ini. Scoot menerima pelanggaran ini dengan serius dan akan melakukan tindakan disiplin dan hukum yang diperlukan jika klaim itu benar,” ujar juru bicara Scoot.

Bahkan, pihak Bandara Changi mengatakan, tindakan percaloan tidak akan diampuni. Mereka juga mengatakan, akan mengeluaran Prohibition Order (PO) dan tindakan sipil diambil terhadap pelaku percaloan.

“Tahun lalu pihak Bandara Changi mengeluarkan dua orang dengan PO,” ujar Bandara Changi.

Gloria James, kepala pengacara litigasi Gloria James Civetta & Co, mengatakan bahwa mereka yang dikeluarkan dengan PO tidak akan diizinkan untuk melakukan tindakan tertentu sebagaimana ditentukan dalam PO untuk jangka waktu tertentu, yang dapat berkisar dari beberapa tahun hingga larangan seumur hidup. Pengacara kriminal Ravinderpal Singh dari Kalco Law mengatakan bahwa di bawah Undang-Undang Otoritas Penerbangan Sipil Singapura, orang-orang yang tertangkap di bandara bisa didenda hingga S$2 ribu atau Rp21 juta.

Pakar penerbangan, Gerry Soejatman, mengatakan bahwa kegiatan menjilat ini bukanlah hal baru. “Jenis operasi ini sudah ada sejak lama. Hal ini diketahui di industri bahwa staf check in telah melakukan ini dari waktu ke waktu”.

Kasus terakhir tentang bagasi yang dilaporkan di Bandara Changi adalah pada tahun 2011. Gerry mengatakan, ini mengejutkan dirinya bahwa media menangkap adanya tindak percaloan dan menimbulkan pertanyaan pada pengawasan dan kontrol internal perusahaan itu sendiri.

Baca juga: Pilah-Pilih Vendor, Bandara Internasional Changi Siap ‘Pekerjakan’ Facial Recognition

Tak hanya itu, ahli anti terorisme Ivor Terret mengatakan keberadaan operasi semacam itu di Bandara Changi mengkhawatirkan. Karyawan bandara yang bersedia membengkokkan aturan untuk keuntungan finansial juga rentan terhadap manipulasi oleh kelompok teroris.

“Ini bisa menimbulkan ancaman yang lebih besar daripada penipuan bagi penumpang untuk menghindari membayar tarif penuh untuk kelebihan bagasi. Staf bandara yang korup dengan akses ke bagasi penumpang dapat memungkinkan teroris untuk menanam alat peledak baik dalam struktur bandara dan pesawat penumpang,” ujar Terret.