Sebelum Israel Menjajah, Palestina Pernah Punya Jaringan Kereta Api Terbesar

0
Kereta ORANGE WAGONS saat melintas di Stasiun Rehovot, barat Yerusalem, Palestina. Foto: railwaywondersoftheworld.com

Sebelum era kendaraan bermotor datang, di masa lalu, negara-negara di dunia mengandalkan kereta api sebagai moda transportasi utama di darat, baik itu untuk pertukaran barang maupun orang. Tak terkecuali di Palestina, di bawah Kekaisaran Ottoman.

Baca juga: Bukan Cuma Bisa Mengecam, Indonesia Pernah Larang Pesawat PM Israel Lintasi Ruang Udara Indonesia

Jaringan kereta api yang dioperasikan oleh Palestine Railways itu bukan hanya melayani relasi lokal, melainkan juga internasional atau lintas negara, dalam hal ini menghubungkan Mesir, Transjordan atau Yordania, Suriah, Hijaz atau Arab Saudi, dan Lebanon, menjadikannya salah satu yang terbesar di Timur Tengah.

Sejarah pembangunan jaringan kereta api di Palestina tentu tak terlepas dari campur tangan Perancis pada tahun 1888. Ketika itu, Kota Mode itu memenangkan konsesi pembangunan jaringan perkeretaapian dari Jaffa ke Yerusalem, Palestina, oleh Kekaisaran Ottoman.

Setelah tiga tahun atau pada 1892, jalur sepanjang 54 mil pun rampung. Saat itu, Palestine Railways belum lahir. Karenanya, relasi Jaffa-Yerussalem dioperasikan oleh perusahaan Perancis, Société du Chemin de fer Ottoman de Jaffa à Jerusalem et Prolongements, sebagaimana dikutip dari railwaywondersoftheworld.com.

Dirasa belum cukup, jaringan perkeretaapian Kekaisaran Ottoman berkembang dengan dimulainya pembangunan Kereta Api Hijaz atau Hejaz Railway.

Peta jaringan perkeretaapian Palestine Railways. Foto: railwaywondersoftheworld.com

Semula, jaringan kereta Hejaz Railway ini dicanangkan untuk bisa mengular dari Damaskus sampai ke Laut Merah, namun rencana ini gagal karena Amir Mekkah kala itu mengatakan bahwa jaringan perkeretaan bakal mematikan bisnis transportasi unta yang menjadi salah satu tulang punggung transportasi di Jazirah Arab.

Pembangunan jalur kereta api ini sendiri sudah dilakukan pada tahun 1840 namun baru direalisasikan pada tahun 1908 – atau pada masa pemerintahan Usmaniyah Turki pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II.

Pembangunan jaringan kereta api ini tidak hanya memudahkan sarana transportasi di sana saja, melainkan menjadi salah satu program Pan Islamisme yang dilancarkan oleh Sultan Abdul Hamid II. Pan Islamisme merupakan paham politik yang lahir pada saat Perang Dunia II mengikuti paham yang tertulis dalam al-a’mal al-Kamilah dari Jamal-al-Din Afghani – seorang aktivis politik dan nasionalis Islam.

Meski konstruksi pembangunan jalur ini cukup sulit, karena melalui daerah kawasan gurun pasir yang memiliki rintangan cukup tinggi, namun, jalur kereta Hejaz Railway sepanjang 1.320 km akhirnya rampung pada 1908.

Usai wilayah Suriah-Lebanon-Yordania-Palestina-Hijaz atau Arab Saudi terhubung, Kekaisaran Ottoman mulai melirik jaringan perkeretaapian ke wilayah Terusan Suez yang dikuasai Inggris.

Baca juga: Bandara Gush Katif, Bandara Satu-satunya di Jalur Gaza yang Hanya Tinggal Cerita

Kendati penuh dengan perjuangan, jaringan kereta api yang menghubungkan Palestina dengan Mesir pun terwujud, dimulai dari Jaffa, Gaza, Rafah, El Arish, Kantara Timur, Port Said, Ismailia, Great Briter Lakes, Geneffe, dan berakhir di Suez.

Walaupun jalur kereta di Palestina, Hejaz, dan Transjordania sempat dioperasikan oleh beberapa operator berbeda, namun, pasca kehadiran Palestine Railways, seluruh jaringan perkeretaapian Kekaisaran Ottoman, dalam hal ini menghubungkan Mesir, Palestina, Arab Saudi, Yordania, Suriah, dan Lebanon mulai dioperasikan oleh operator ini mulai dari tahun 1920 hingga 1948.