Siap Hadapi Perang, Stasiun MRT Singapura Punya Fungsi Ganda Sebagai Bunker Berkapasitas Besar

0
Stasiun MRT Singapura bisa jadi tempat perlindungan masyarakat di masa darurat seperti perang (thekopi.co)

Dengan luas wilayah yang hanya sebesaran DKI Jakarta, Singapura tak pelak adalah negara pulau yang sangat rentan terhadap perang, terorisme, perang kimia hingga biologi. Apalagi Negeri Singa ini tidak memiliki daerah pedalaman untuk melarikan diri para penduduknya untuk evakuasi serta tempat perlindungan. Namun, Singapura memiliki stasiun MRT yang ternyata bisa menjadi tempat evakuasi serta lokasi berlindung (bunker).

Baca juga: Punya Bunker, Inilah Kisah Balai Besar Bandung yang Menjadi Kantor Pusat PT KAI

Mungkin ini dipikir hal yang mustahil, namun nyatanya ada dan cukup besar untuk menampung penduduk Singapura. Dirangkum KabarPenumpang.com dari thekopi.co, ada 49 stasiun MRT yang dibangun untuk fungsi ganda sebagai tempat perlindungan sipil. Inisiatif tersebut dimulai tahun 1983, di mana sembilan stasiun MRT bawah tanah di jalur Utara-Selatan dan Timur-Barat diperbaharui untuk memenuhi persyaratan tersebut. Ke 49 stasiun MRT ini, masing-masing dapat menampung sejumlah besar orang ketika diaktifkan sebagai tempat perlindungan.

Contohnya Stasiun Bishan yang mampu menampung 4000 orang saat dioperasikan sebagai bunker, sedangkan Stasiun Woodlands yang baru masuk dalam daftar pertahanan sipil bisa menampung hingga 9.000 orang. Beberapa stasiun bahkan memiliki kapasitas untuk menampung 19 ribu orang. Bahkan di tahun-tahun mendatang Pasukan Pertahanan Sipil Singapura (SCDF) telah mengumumkan bahwa bakal lebih banyak stasiun MRT yang dibangun di sepanjang Jalur Thompson-East Coast yang akan berfungsi sebagai tempat perlindungan sipil.

Masyarakat akan menggunakan tempat perlindungan pertahana supil ketika Sistem Peringatan Publik (PWS) diaktifkan untuk menghasilkan sinyal “Alarm”. Sinyal ini dibunyikan ketika serangan udara atau penembakan akan segera terjadi, yang dapat membahayakan nyawa dan harta benda. Guna menunjang ribuan orang di dalam bunker bawah tanah, stasiun pertahanan sipil MRT dilengkapi dengan fasilitas untuk memastikan lingkungan hidup yang aman dan nyaman selama keadaan darurat.

Dinding, lantai dan pelat atap dikeraskan dengan beton bertulang yang memungkinkan stasiun menahan ledakan tinggi dan efek fragmentasi yang disebabkan oleh ledakan bom di permukaan. Kemudian semua pintu pelindung ledakan dibangun dari bahan kokoh baik baja maupun beton. Secara kolektif, desain ini mengurangi jumlah kerusakan struktural pada stasiun.

Desain tersebut mencegah puing-puing terbang dan kaca pecah selama ledakan bom, yang secara signifikan akan mengurangi jumlah korban selama masa darurat. Stasiun juga dirancang dengan fasilitas dekontaminasi yang dapat digunakan untuk memfasilitasi prosedur dekontaminasi jika terjadi serangan bahan kimia. Penting untuk diketahui bahwa serangan terhadap Singapura dapat bersifat beragam, dan negara harus siap menghadapi semua skenario.

Dalam hal ini, individu akan diperiksa dan dirawat untuk setiap paparan bahan kimia yang biasanya dalam bentuk pancuran dekontaminasi, pakaian ganti baru dan pembilasan udara sebelum diizinkan masuk ke area penampungan utama.

Baca juga: Pasca Peniadaan Mudik, PT KAI Telah Operasikan 144 Kereta Api Jarak Jauh

Udara yang ada di stasiun bawah tanah juga bisa tersirkulasi karena terhubung ke sistem ventilasi yang menyediakan sumber udara segar yang andal dan stabil sehingga menciptakan lingkungan yang bernapas serta layak huni di bawah tanah. Sistem toilet kering juga dipasang di tengah platform untuk penggunaan umum dan beroperasi tanpa membutuhkan sumber air yang konstan untuk keperluan pembilasan.






















Leave a Reply