Sokong Sektor Pariwisata, Cina Siap Hadirkan Kereta Peluru dengan Terowongan Bawah Laut

Fuxing, Kereta Peluru Cina. Sumber: nydailynews.com

Kendati menghadapi sejumlah masalah, ambisi Cina untuk menyaingi Jepang dalam urusan kereta cepat sama sekali tidak mengalami perlambatan, bahkan, baru-baru ini, pihak Beijing baru saja ‘menyalakan’ proyek kereta peluru bawah laut pertama yang akan dimiliki oleh Cina. Adapun kereta peluru ini akan menghubungkan Ningbo, sebuah kota pelabuhan di sebelat Selatan Shanghai, ke Zhoushan, sebuah kepulauan di lepas pantai Timur.

Baca Juga: Kereta Peluru Fuxing Akhirnya Kembali Merajai Dunia Kereta Api Cina

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman wtvr.com (28/11/2018), sebuah terowongan bawah laut menjadi bagian dari proyek kereta peluru ini – dengan panjang kurang lebih 16,2 km. Adapun tujuan utama dari pembangunan proyek ambisius ini adalah untuk meningkatkan sektor pariwisata dan membuat zona dua jam perjalanan di antara Provinsi Zhejiang. Adapun jarak total dari jalur kereta cepat ini adalah 77 km.

Pertama kali rencana ini diutarakan dalam rencana transportasi pemerintah pada tahun 2005 silam, dan studi kelayakan rencana Kereta Api Ningbo – Zhoushan disetujui oleh Beijing pada bulan November 2018 kemarin. Dari total panjang lintasan 77 km, sepanjang 70,92 km merupakan jalur baru. Kelak ketika rampung, kereta ini mampu melesat dengan kecepatan maksimum 250 km per jam. Dengan begitu, estimasi perjalanan dari Hangzhou – Ningbo – Zhoushan hanya 80 menit saja.

Tercatat, perjalanan dengan menggunakan bus dari Hangzhou menuju Zhoushan bisa mencapai 4,5 jam dan 2,5 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi. Direncanakan akan ada tujuh stasiun untuk rute ini, termasuk empat stasiun baru dan tiga stasiun yang dikembangkan kembali. Selain terowongan bawah laut, akan ada juga jembatan-jembatan yang menghubungkan kepulauan tersebut.

Baca Juga: Gegara Semprotan Tabir Surya, Kereta Cepat Cina Harus Berhenti Mendadak

Menurut laman sumber, proyek ini sendiri menelan dana sekira USD$3,6 miliar atau yang setara dengan Rp51,4 triliun dan dijadwalkan akan mulai pengerjaan pada awal tahun 2019 mendatang. Estimasi pengerjaan proyek ini mencapai lima tahun. Kepulauan Zhoushan sendiri masih belum banyak terjamah oleh wisatawan asing, maka tidak heran jika Pemerintah Cina dan seluruh pemangku kepentingan terkait ingin lebih mengembangkan kepulauan yang baru saja mendapatkan predikat sebagai National Scenic Asia di Cina.