Stasiun Tempeh, Sisakan Bangunan Tanpa Jejak Jaringan Kereta

0
Stasiun Tempeh. Foto: Wikipedia

Indonesia memiliki jalur kereta api yang sudah dibangun sejak jaman Kolonial Belanda. Bahkan bukan hanya di Pulau Jawa tetapi juga di Sumatera. Nama stasiunnya pun cukup unik dan ada yang sama seperti nama makanan padahal itu adalah nama daerah di mana stasiun tersebut di bangun.

Baca juga: “Baso,” Bukan Cuma Makanan, Tapi Juga Nama Bekas Stasiun di Sumatera Barat

Penasaran? KabarPenumpang.com pernah menulis beberapa di antaranya yakni Stasiun Baso dan Stasiun Warung Bandrek. Namun kali ini yang akan dibahas adalah Stasiun Tempeh. Yang mana ini merupakan nama makanan dengan protein nabati asli Indonesia.

Tapi, yang akan dibahas bukanlah makanan atau kandungan di dalamnya, melainkan sejarah keberadaannya. Ini adalah sebuah stasiun yang terletak di desa Tempeh Lor, Kecamatan Tempeh, Lumajang di Jawa Timur.

Stasiun bernama Tempeh ini adalah stasiun kereta non aktif dan letaknya berada di ketinggian +93 meter di atas permukaan laut dan masuk dalam wilayah aset IX Jember. Kehadiran Stasiun Tempeh, ternyata tak lepas dengan peresmian jalur kereta api dari Klakah ke Lumajang hingga di Pasirian.

Stasiun ini berdiri bersamaan dengan peresmian jalur tersebut pada tanggal 16 Mei 1896 silam. Kemudian ditutup setelah 92 tahun beroperasi atau tepatnya pada 1 Februari 1988. Penutupan ini terjadi karena seiring waktu jumlah penumpang yang mulai berkurang, baik dari Klakah maupun Lumajang.

Meski mulai berkurang kapasitas penumpangnya, stasiun ini masih menaik dan menurunkan penumpang. Penurunan jumlah penumpang terjadi karena kereta api kalah saing dengan angkutan umum dan mobil pribadi yang akhirnya membuat stasiun dan layanan kereta api di jalur di wilayah Lumajang hingga ke Balung–Rambipuji ditutup semuanya.

Baca juga: “Warung Bandrek,” dari Tempat Minum Sampai Jadi Nama Stasiun Kereta

Saat ini kondisi Stasiun Tempeh tinggal bangunan utama, yang dijadikan sebagai rumah walet dan tempat bermain kanak-kanak. Sementara jaringan rel beserta kelengkapan wesel dan persinyalannya telah habis tak bersisa. Bekas jalur relnya kini menjadi jalan kecil atau gang antarkampung.