Studi Terbaru: Teknologi 5G Bahayakan Radar Altimeter Pesawat Sipil

0
Ilustrasi dampak 5G pada pesawat. Foto: Inside Telecom

Studi terbaru oleh Radio Technical Commission for Aeronautics (RTCA), mitra penerbangan swasta-publik yang memberi masukan kepada Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA), memperingatkan bahwa teknologi 5G dapat menimbulkan risiko besar atau gangguan berbahaya terhadap radar altimeter pesawat sipil.

Baca juga: Pernah Dengar Cara Kerja Radar Cuaca di Pesawat? Simak Di Sini Jika Belum

Dilansir robbreport.com, makalah tersebut dirilis bulan lalu menyusul persetujuan oleh Komisi Komunikasi Federal (FCC) terhadap provider telekomunikasi untuk menggunakan spektrum frekuensi 3,7-3,98 GHz. Keputusan ini dinilai berbahaya mengingat spektrum tersebut biasa digunakan oleh pesawat sipil.

Jika sistem telekomunikasi 5G diizinkan untuk menggunakan pita frekuensi itu, risikonya akan sangat besar dan berdampak pada operasional penerbangan di AS; termasuk adanya kemungkinan kegagalan katastropik (keretakan atau biasa juga disebut kegagalan struktural) yang berdampak cukup besar, bila tak dibarengi dengan mitigasi dini.

Altimeter radar banyak digunakan oleh pesawat-pesawat sipil di dunia. Altimeter radar merupakan satu-satunya sensor pesawat yang mengukur ketinggian pesawat di atas medan dan objek. Menurut Flight Safety Foundation, altimeter radar memberikan informasi penting terkait terrain awareness and warning systems (TAWS), sistem peringatan lalu lintas dan pencegah tabrakan (TCAS), wind shear detection systems, sistem kontrol penerbangan, dan sistem autoland.

Tak hanya itu, fitur pengukur ketinggian dari altimeter radar juga digunakan oleh sistem electronic centralized aircraft monitoring (ECAM) serta engine-indicating and crew alerting systems (EICAS).

“Kegagalan sensor-sensor ini karenanya dapat menyebabkan insiden besar,” kata laporan itu. Lebih lanjut, dalam laporan tersebut, industri penerbangan juga telah memperingatkan FCC awal tahun ini, bahwa studi tambahan diperlukan untuk mengevaluasi efek gangguan frekuensi potensial dari jaringan 5G pada altimeter radar.

Baca juga: Airbus dan M1 Singapura Uji Coba Jaringan 5G untuk Drone

“Mengingat sejauh mana batas interferensi aman terlampaui dan luasnya dampak terhadap keselamatan penerbangan, risiko interferensi berbahaya pada altimeter radar tidak dapat diselesaikan sendiri oleh industri penerbangan,” bunyi lain dari laporan itu.

Meski demikian, RTCA, mengatakan bahwa mereka bersedia bekerja sama dengan industri nirkabel seluler untuk melakukan penelitian lanjutan, baik secara mandiri ataupun bersama-sama.

Leave a Reply