Tak Hasilkan Laba Banyak, Rasa Menu “Santan” AirAsia Berlebih dan Membuat Pengunjung Angkat Bicara

0
Restoran Santan AirAsia (Bussines Insider Malaysia)

Restoran cepat saji yang bernama Santan milik AirAsia di Mid Valley Megamall di Kuala Lumpur belum bisa menghasilkan banyak. Padahal Santan yang dijual oleh maskapai berbiaya hemat (LCC) yang paling sukses di Malaysia ini cukup laku dalam penerbangan.

Baca juga: AirAsia Buka Restoran Darat di Mall Kuala Lumpur dengan Menu di Penerbangan

Karena laba yang dihasilkan oleh restoran Santan tersebut menurun, perusahaan ingin melakukan diversifikasi dan mengurangi bisnis penerbangan dari 80 persen menjadi 40 persen tahun 2025 mendatang. Kemudian akan menghadirkan makanan pesawat terbang menjadi inti visi yang dijual di darat. Bahkan AirAsia beberapa tahun ke depan berencana membuka lebih dari 100 restoran Santan baru.

“Setahun yang lalu, ketika saya pertama kali menyulap gagasan untuk mengubah pilihan makanan dalam penerbangan kami menjadi restoran cepat saji, semua orang berpikir saya gila. Ini juga seperti yang mereka pikirkan 18 tahun lalu ketika saya memulai maskapai,” ujar CEO AirAsia Tony Fernandes yang dikutip KabarPenumpang.com dari gulfnews.com (2/1/2020).

Ia mengatakan gagasan waralaba makanan cepat saji Asean pertama ini pada dasarnya tidak gila. Sebab kelas menengah Asia Tenggara yang berkembang semakin tertarik pada pilihan makanan yang beragam. Seperti gerai makanan cepat saji yakni McDonald dan KFC yang sudah menjamur dimana-mana.

Di Malaysia sendiri KFC dan Pizza Hut bahkan sudah membuka lebih dari seribu outlet dan menjadikan mereka sukses di kawasan ini. Masalahnya bagi AirAsia sendiri adalah pelanggan menang dalam industri restoran Asia Tenggara akan jauh lebih sulit untuk memenangkan penumpang dengan pesawat murah.

Bisa dikatakan dalam satu hal, Tony bisa saja salah membaca kompetisi. Gerai makanan cepat saji Amerika menjadi bagian kecil dari 167 ribu bisnis makanan dan minuman di Malaysia yang sebagian besar melayani makanan lokal.

Tak hanya itu, jika Santan ingin bersaing dengan makanan cepat saji lokal di Asia Tenggara banyak yang harus diperbaiki. Pasalnya sebuah keluarga dengan yang pada Sabtu kemarin memesan tiga hidangan Santan.

Baca juga: Dengan Santan, AirAsia Tawarkan ‘Restoran’ Cepat Saji dalam Penerbangan

Pengunjung tersebut ketika makan Laksa Nyonya Kari mengatakan, hidangan itu memiliki rasa yang diluar cabai, Nasi ayam Paman Chin terlalu asin dan berminyak. Sedangkan sate ayam saus kacang terasa kurang matang. Bahkan harga makanannya pun bisa dikatakan terlalu mahal yakni sekitar 16 Ringgit Malaysia atau US$3,26 dengan minuman atau lebih mahal 25 persen dari kombo ayam dan nasi di KFC.

Leave a Reply